|
 Selamat Datang ... Situs ini diperuntukkan bagi masyarakat awam yang ingin mengenal Islam dan Kristen secara benar. Pada umumnya, para ustadz dan guru-guru agama Islam selalu mengajarkan Islam sebagai agama yang cinta damai, agama yang benci kekerasan, agama yang toleransi, agama surgawi, agama yang memperlakukan wanita secara wajar, dan masih banyak lagi kebohongan-kebohongan lainnya. Klaim-klaim mereka seringkali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.  Wajah Asli Islam: "Binatang Buas" Dan sesungguhnya, semua sepak terjang mereka memang didukung oleh ajaran murni mereka (Quran & Hadist). Jadi, bukan salah orangnya atau oknum di dalam agama tersebut, melainkan memang agamanya yang tidak benar. Bila kita tidak mencoba untuk mengenal sendiri Islam dari dekat terutama dengan membaca langsung kitab Alquran dan sumber-sumber tersembunyi mereka, kita tidak akan bisa mengerti dan memahami mengapa umat Islam cenderung kasar dan bertabiat pemarah, enggan menerima kritik, angkuh pantang dihina, suka membuat kerusuhan massal, beringas dengan perampokan dan penjarahannya sambil memperkosa, suka teriak-teriak "Allahuakbar". Dari kitab Alquran, setidaknya, kita bisa mengerti mengapa mereka seperti itu. Di samping itu, para Ustadz dan Ulama-ulama kampungan seringkali menyebarkan fitnah dan mengajarkan Kristologi yang keliru kepada umat Islam terutama Islam kalangan bawah. Di situs ini kita jawab tuduhan-tuduhan mereka terhadap ajaran kekristenan. Lewat situs ini pula, mari kita singkap kebohongan-kebohongan mereka! Mari kita bongkar kedok Syaitan yang suka mengatasnamakan agama di zaman akhir ini. Situs ini bukan bermaksud menjelek-jelekkan agama Islam, tetapi secara jujur hendak mengungkap kebenaran tentang apa dan bagaimana Islam itu yang sebenarnya. Situs ini 100% dikelola oleh pribadi, tidak bersangkut paut dengan organisasi atau lembaga manapun. Kebebasan berpendapat adalah juga kebebaan untuk mengkritik tokoh dan agama yang dimuliakan seseorang. Tanpa kebebasan seperti itu tidak akan ada kebebasan. Kepercayaan tidak harus dihormati. Mereka harus dikritisi, dicermati, dipertanyakan dan jika kekurangan bukti, harus dibuang. Banyak terdapat segala macam kepercayaan. Jika seseorang harus menjaga mulutnya agar tidak berkata apapun yang mungkin melukai kepercayaan orang lain, maka orang itu tidak bisa berkata apa-apa sama sekali. Banyak orang yang memuja Hitler. Apa kita menyarankan orang jangan bicara apapun yang melawan Hitler karena mungkin akan ada orang yang terlukai hatinya? Saat ini orang-orang Korea Utara percaya bahwa Kim Jung Il adalah semacam dewa. Haruskah kita jaga lidah kita dan menghormati monster sadis ini karena ada orang yang mencintai dia dan akan sakit hati jika kita kritik dia? Para pengikut Jim Jones memuja psikopat itu sedemikian sehingga ketika beberapa orang berhasil kabur dari kelompok itu dan menulis hal-hal yang menentangnya, pemuja-pemuja yang lain membunuh mereka. Ini juga terjadi dalam kasus kelompok pemujaan lain. Para pemuja mencinta pemimpin mereka hingga mereka mendewakannya dan sangat sakit hati jika ada orang mengritik pemimpinnya. Bahkan inilah perbedaan besar antara 'sebuah kelompok pemujaan' dan agama. Yesus sering dijelek-jelekkan. Seseorang dengan pemikiran aneh menempatkan salib di dalam botol berisi air kencing dan menyebutnya karya seni. Kristen marah, tapi ini hanya karena kota New York mengijinkan penyimpangan ini dipertunjukkan di museum kota yang dibayar dari uang pajak mereka. Protes dilakukan terhadap museum, tidak terhadap ‘artis’ idiot itu. Artis itu tidak pernah diancam dan tidak takut kehilangan nyawanya. Sebaliknya para muslim membuat kerusuhan dan membunuhi orang-orang tak bersalah ketika beberapa kartun tentang Muhammad dibuat. Ini saja cukup bukti bahwa Islam adalah 'sebuah sekte pemujaan', bukan sebuah agama. Siapa bilang kepercayaan harus dihargai? Hanya mereka yang tidak bisa membela kepercayaannya secara rasional yang ingin perlindungan terhadap kritik kepercayaan mereka. Karena kepercayaan mereka begitu menjijikan, mereka ingin memaksa orang lain untuk menghargai kepercayaan mereka melalui undang-undang. Jika para muslim dapat menjawab kritik yang diangkat terhadap Islam, mereka tidak akan bertingkah begitu sadis. Mereka melakukan sensor dan kekerasan persisnya karena mereka gagal dalam hal penggunaan akal. Kenapa para pengikut agama lain tidak bertingkah seperti ini dan kenapa para pengikut aliran pemujaan melakukan hal ini? Karena kebiasaan ini adalah kebiasaan kelompok pemujaan. Islam bukanlah agama tapi adalah sebuah kelompok pemujaan yang berkembang lebih luas. Alasan kenapa Islam bertahan selama ini persisnya karena strategi fallacy (buah pikiran yg keliru). Para muslim akan mengeluarkan ancaman-ancaman mereka untuk mengintimidasi para pengritik mereka dan membungkam mereka lalu mengumumkan kemenangan. Ini sebabnya diskusi sungguhan antara akademisi muslim dan para pengritik Islam tidak pernah terjadi. Alasannya adalah para muslim tidak tahan terhadap kritik akan nabi mereka. Kenapa? Apa karena mereka tidak bisa menjawabnya? Segera setelah mereka sadar akan posisi mereka yang tersudut dan dalam bahaya mereka mencari alasan-alasan untuk kabur. Menghargai kepercayaan yang salah bukan sebuah kebaikan sama sekali. Malah sebenarnya sebuah fallacy. Apa definisi dari kepercayaan? Kepercayaan artinya menerima sebuah dalil tanpa bukti. Sekali anda punya bukti, maka bukan lagi sebuah kepercayaan tapi sebuah fakta. Seorang anak bisa saja percaya jika dia memakan biji semangka, maka tanaman semangka akan tumbuh di perutnya. Kepercayaan ini tidak harus dihargai. Tentu saja, anda akan tersenyum dan mungkin mendengarkan keseluruhan ceritanya dg penuh perhatian. Anda tidak mengejeknya atau membuat dia sedih. Lagipula dia cuma anak-anak. Anda cinta anak ini tapi adalah menggelikan jika kita katakan kita harus hargai kepercayaannya yang lucu itu juga. Jika dia bertumbuh besar dan dapat mengerti lebih baik, anda jelaskan padanya bahwa semangka tidak dapat tumbuh di dalam perut. Jika sebuah agama mengajarkan: bunuh kafir di mana pun kau temukan; mereka najis, jangan berteman dengan mereka, tuhan membenci mereka dan mereka adalah bahan api neraka, agama seperti ini berbahaya. Umat manusia harus bersatu memusnahkan agama setan ini. Doktrin kebencian yang sama membawa banyak kematian dan kehancuran pada abad terakhir. Setiap orang harus bergabung untuk melawannya. Kita jangan biarkan hal ini terjadi lagi. Kita harus memusnahkan setiap doktrin jahat. Kepercayaan yang tidak toleran jangan diberi toleransi. Ketika kemanusiaan melawan dan mengakhiri doktrin jahat Nazisme, setiap orang berjanji ‘tidak akan lagi’, tapi sebuah doktrin yang mirip atau bahkan lebih berbahaya sedang mengangkat kepalanya lagi. Orang tidak melawannya karena menyamar sebagai agama. Kita harus membuka topengnya dan bilang TIDAK. Islam membawa lebih banyak kematian dan kehancuran dari Nazisme. Harus dihentikan sebelum membakar dunia. Satu orang mengulang dengan persis perkataan-perkataan Hitler. Dia menyangkal holocaust sementara menjanjikan melakukan holocaust lain. Buku Hitler menjadi buku paling laris di Turki selama beberapa tahun ini. Hitler jadi pahlawan dari muslim. Quran lebih jahat dari Mein Kamph. Kita jangan biarkan muslim melakukan apa yang Nazi lakukan. Jangan lagi, kita biarkan kejahatan menjadi bertambah kuat. Kita harus sadarkan para muslim! Dalam hal ini menjadi tanggung jawab negara untuk menahan kelompok ini dengan maksud melindungi yang lain. Intoleransi bukan sebuah hak. Anda punya hak untuk mengritik kepercayaan manapun tapi anda tidak punya hak untuk tidak toleran, menimbulkan kebencian dan membuat kekerasan. Mereka yang melakukannya harus dihentikan dengan hukum. Jika mereka tidak mengerti dengan logika maka harus dihentikan dengan kekuatan. Kebebasan anda berakhir pada kebebasan orang lain. Ini batas dari kebebasan dari masyarakat yang bebas di mana setiap orang bebas. Islam Jahat sangat khas. Satu-satunya agama yang menganjurkan intoleransi dan kebencian.
Muhammad tidak menghargai kepercayaan orang lain. Bukan untuk ini kita menyalahkannya. Kita menyalahkan dia karena dia tidak toleran pada kepercayaan-kepercayaan orang lain itu. Bukankah para muslim membakar gereja-gereja dan sinagoga-sinagoga? Bukankah mereka menghina dewa-dewa Hindu? Bukankah mereka merusak patung-patung Buddha di Bamian? Mungkin anda akan berkata bahwa para muslim itu tidak tahu, tapi bagaimana mengenai Muhammad? Bukankah dia (Muhammad) menghina kepercayaan trinitas dari Kristen, yang sebenarnya tidak dimengerti oleh dia sendiri? Bukankah dia menghina dan akhirnya menghancurkan patung-patung kaum Quraish? Yang dipelajari Muslim tentang Islam di mesjid2 dan forum2 Islam hanyalah kebaikan2 Muhammad saja. Tidak pernah dibahas bagaimana Muhammad memancungi kafir, memperkosa kafir, menjarah kafir demi makanan, uang, tanah, wanita2. Mana pernah kalian dengar tentang hal itu di mesjid? Justru mesjid2 di tetangga pada sibuk jerit2 menghina kafir tanpa malu2 pakai megaphone segala. Teman-teman Muslim saya tidak pernah tahu bahwa Muhammad mengawini anak perempuan kecil usia 6 tahun. Mereka tidak tahu kalau Muhammad cekcok sama Hafsa gara2 Muhammad meniduri babunya Hafsah (Mariyah) di ranjang Hafsa. Mereka tidak tahu kalau Muhammad memancung 900 Yahudi usia 13 tahun ke atas yang sudah tidak berdaya lagi selama sehari semalam. Mereka tidak tahu kalau tentara Muslim suka memperkosa tawanan wanita kafir di hari yang sama sanak keluarga wanita2 kafir itu dibunuh. Yang jelek2 sih disembunyikan terus oleh para ustad dan imam. Yang bagus2 saja yang terus dikeluarin dan ditunjukan pada Muslim. Lihat foto atau gambar yang berkaitan dengan Islam dan Kristen, seperti foto Kaabah, foto berhala Hajar Aswad yang bentuknya menyerupai vagina, foto teroris, foto fragmen Injil, foto gereja-gereja yang dibakar dan dirusak oleh anak-anak setan, foto korban-korban kekerasan Islam di negara-negara Timur Tengah, dan masih banyak lagi.
Inikah agama suci dari surga?

 Benda apakah yang sedang disembah oleh Muslim di Mekkah ini?
| BERITA | | PENGANTIN ANAK-ANAK MUSLIM!! SEKARANG KALIAN BISA LIHAT! | Roshan Qasem, 11, will join the household of Said Mohammed, 55; his first wife; their three sons; and their daughter, who is the same age as Roshan.
Ghulam Haider, 11, is to be married to Faiz Mohammed, 40. She had hoped to be a teacher but was forced to quit her classes when she became engaged.
New York Times article:
In many societies, the term "child bride" calls to mind impetuous sweethearts, a ladder cautiously positioned beneath a bedroom window, a silent kiss in the moonlight and a young couple making an anxious getaway to a justice of the peace. But this is not a ready image the world over. In Afghanistan, a child bride is very often just that: a child, even a preteen, her innocence betrothed to someone older, even much, much older.
Rather than a willing union between a man and woman, marriage is frequently a transaction among families, and the younger the bride, the higher the price she may fetch. Girls are valuable workers in a land where survival is scratched from the grudging soil of a half-acre parcel. In her parents' home, a girl can till fields, tend livestock and cook meals. In her husband's home, she is more useful yet. She can have sex and bear children.
Afghanistan is not alone in this predilection toward early wedlock. Globally, the number of child brides is hard to tabulate; they live mostly in places where births, deaths and the human milestones in between go unrecorded. But there are estimates. About 1 in 7 girls in the developing world (excluding China) gets married before her 15th birthday, according to analyses done by the Population Council, an international research group.
In the huge Indian states of Rajasthan and Uttar Pradesh, the proportion is 36 percent; in Bangladesh, 37 percent; in northwest Nigeria, 48 percent; in the Amhara region of Ethiopia, 50 percent. Tens of millions of girls are having babies before their bodies are mature enough, increasing the likelihood of death from hemorrhaging, obstructed labor and other complications.
Stephanie Sinclair's striking photographs of child brides in Afghanistan remind me of my own travels over remote landscapes during the time of the Taliban, when recurring years of drought had parched the final resources from millions of the destitute. Fathers then were especially keen to convert their daughters into brides. It was a way to deliver the girl from hunger — and a way to at least temporarily ward off famine for the rest of the family. Young boys were sold into bondage with the same painful practicality. Rarely have I seen anything more heartbreaking than the tears of a relinquished child.
The drought has since passed, but the poverty remains, as does the widespread custom of early marriage. Some Afghans readily use their daughters to settle debts and assuage disputes. Polygamy is practiced. A man named Mohammed Fazal, 45, told Sinclair that village elders had urged him to take his second wife, 13-year-old Majabin, in lieu of money owed him by the girl's father. The two men had been gambling at cards while also ingesting opium and hashish.
But the practice of early marriage stems as much from entrenched culture as from financial need. Bridal virginity is a matter of honor. Afghan men want to marry virgins, and parents prefer to yield their daughters before misbehavior or abduction has brought the family shame and made any wedding impossible.
Unfortunately, there are no reliable data about the age of Afghans at marriage. Husbands are not ordinarily old enough to be their wives' fathers or grandfathers, but such February-September couples as those pictured here are hardly rare either. In such marriages, the man is likely to view the age difference as a fair bargain, his years of experience in exchange for her years of fecundity. At the same time, the girl's wishes are customarily disregarded. Her marriage will end her opportunities for schooling and independent work.
On the day she witnessed the engagement party of 11-year-old Ghulam Haider to 40-year-old Faiz Mohammed, Sinclair discreetly took the girl aside. "What are you feeling today?" the photographer asked. "Nothing," the bewildered girl answered. "I do not know this man. What am I supposed to feel?"
http://www.nytimes. com/2006/ 07/09/magazine/ 09BRI.html? _r=1&oref=slogin http://www.voices- unabridged. org/article. php?id_article= 111&numero=7
Fatima carries her three-month- old infant on her back. Still a child herself, Fatima was forced to marry when she was nine years old. Both Fatima and her mother are slaves in Niger (muslim country).Singapura akan menaikkan batas usia minimum utk nikah Muslim Mar-9-2007
Singapura : setelah diadakan studi diantara masyarakat Islam disana, pemerintah mempertimbangkan utk menaikkan batas usia nikah.
Ini demi menanggulangi problema perkawinan dgn anak2 dibawah umur yg kemungkinan dua kali lebih besar berakhir dlm kegagalan, dibandingkan dgn perkawinan normal.
Saat ini, dibawah the Administration of Muslim Law Act (AMLA), batas usia minimum adalah 16 tahun bagi pasangan Muslim.
Ini lebih rendah dari usia minimum 18 tahun yg ditetapkan dlm Piagam Wanita yg BERLAKU BAGI NON-MUSLIM (lagi2 NONMuslim yg lebih tahu bgm menyukseskan perkawinan! ).
Jumlah perkawinan anak2 Muslim turun sebanyak 25 % setelah adanya upaya utk mencegah angka perceraian dlm masy Muslim. Antara 2004 - 2006, jumlah pengantin wanita dibawah umur berkurang dari 564 - 422, sementara pengantin pria turun dari 159 - 118.
Islam ... islam ... salah melulu ente !!!
A BRIDE-to-be peers shyly through her veil – at the age of just THREE.
Little Sunam is among the 16 per cent of Afghan children married before they reach 15.
Her dad Parvez promised Sunam to her seven-year-old cousin Nieem. It was a gift to the lad's mum, Parvez's sister, who wanted a daughter.
The children, from Kabul, will probably marry when they are 14 or 15. Their aunt Najiba says the match is "unbreakable" and they will not be able to divorce under tribe traditions.
The minimum legal age of marriage in Afghanistan is 16 for girls and 18 for boys.
But many wed earlier, as a bride can fetch twice the average yearly salary for her family.
Human rights groups are calling for the practice to end. Manizha Naderi, of Women for Afghan Women, said: "It's barbaric."
Volume 7, Book 62, Number 88:
Narrated 'Ursa:
The Prophet wrote the (marriage contract) with 'Aisha while she was six years old and consummated his marriage with her while she was nine years old and she remained with him for nine years (i.e. till his death). Yang penting mah sudah akil baligh... 4 tahun juga gpp koq...
 Edisi Senin, 28 Januari 2008
Kesetaraan Gender Diminta Dihapuskan di Aceh Banda Aceh, (Analisa)
Ribuan santri dayah dari sejumlah kabupaten/kota di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menggelar aksi unjuk rasa di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Minggu (27/1) pagi.
Dalam aksinya tersebut, para santri yang datang dari daerahnya dengan menggunakan puluhan bus dan truk mendesak agar keseteraan gender harus dihapuskan di Aceh karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, meskipun itu diperjuangkan banyak orang selama ini.
Selain itu, Pemerintah Aceh dibawah pimpinan Gubernur Irwandi Yusuf dan Wagub, Muhammad Nazar juga diminta untuk serius dalam pelaksanaan ajaran syariat Islam secara kaffah di berbagai sektor kehidupan masyarakat, tidak hanya kalangan bawah saja.
Dalam unjuk rasa tersebut turut dibacakan enam rekomendasi yang ditandatangani oleh Teungku Hasballah Ali Keutapang, Teungku Ali Mahmud Bancut, Teungku Muhammad Ali, dan diketahui oleh Teungku Muhibbuddin Waly.
Perwakilan santri dan ulama dayah, Muslim At-Tahiri yang membacakan sejumlah rekomendasi meminta Pemerintah Aceh membuat sebuah qanun yang mengatur tentang paham Sunni di Aceh.
“Itu harus diatur dalam bentuk qanun. Akidah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tidak diperbolehkan di Aceh,” kata Muslim At Tahiri.
Harus Serius
Selanjutnya, tuntutan lain adalah meminta paham sekularisme dan pendangkalan akidah Islam diberangus. “Pemerintah Aceh harus serius dalam menjalankan amar makruf nahi munkar dan mengalokasikan dana bagi upaya meningkatkan penegakan syariat Islam,” ujar Tahiri.
Dalam mengefektifkan pelaksanaan syariat Islam, Pemerintah Aceh diminta meningkatkan kapasitas personil Wilayatul Hisbah (WH) atau pengawas syariat. Dan disetarakan seperti polisi yang mempunyai wewenang luas.
Rekomendasi tersebut selanjutnya diserahkan kepada seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tgk Harmen Nuriqmar, yang hadir dalam kesempatan tersebut .
Menurutnya, syariat Islam harus dijalankan di Aceh. Sebab, Undang Undang No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh (UU-PA) telah memberikan keleluasan kepada masyarakat untuk menjalankan syariat.
“Dalam UU-PA, syariat Islam adalah prioritas utama. Jadi kalau tidak menjalankan syariat Islam, maka mereka telah melanggar dan mengkhianati Undang Undang itu,” kata Harmen yang juga seorang ulama muda ini.
Terhadap tuntutan dan rekomendasi santri dan ulama dayah tersebut, Harmen Nuriqmar menyatakan, ia akan menyerahkannya kepada Gubernur Aceh. “Saya akan meneruskan rekomendasi ini kepada rapat paripurna DPRA, selain kepada gubernur untuk ditindaklanjuti,” sebutnya. (mhd)
Sumber: http://www.analisadaily.com/ Mesir Putuskan "Mualaf" Kristiani Harus Tetap Menjadi Muslim
Tuesday, Feb. 5, 2008 Posted: 4:35:20AM PST
Pengadilan Mesir, dalam sebuah kasus yang pertamakalinya terjadi, memutuskan minggu lalu kalau seorang Muslim yang pindah ke ke-Kristenan tidak dapat mengganti status agamanya secara legal, meskipun dapat mempercayai apapun yang ia inginkan.
Muhammad Hegazy, 25, kalah dalam kasusnya Selasa lalu saat Hakim Muhammad Husseini dari salah satu pengadilan di Kairo menyatakan bahwa menurut Syariah, Islam adalah agama final dan yang paling sempurna dan karena itulah umat Muslim telah mempraktekkan kebebasan penuh dari agama dan tidak dapat pindah ke kepercayaan yang lebih tua (ke-Kristenan atau Yudaisme), seperti dilaporkan organisasi Christian Solidarity Worldwide.

"Dia (Hegazy) boleh percaya apapun yang dia inginkan, tapi di atas kertas dia tidak bisa pindah agama," kata Husseini dalam pengadulan adminitratif itu, menurut seorang anggota tim hukum Hegazy kepada Compass Direct.
Hakim Husseini mendasarkan keputusannya pada Artikel II dari konstitusi Mesir, yang menjadikan syariah sumber dari hukum di Mesir.
Hegazy menyatakan keputusan itu "melanggar" hak asasinya.
"Apa kaitannya negara dengan agama yang saya anut?" tanya Hegazy, menurut United States Copts Association setelah pengadilan selesai.
Tim pembela Hegazy juga kecewa dengan putusan tersebut.
"Hakim tidak mau mendengarkan pembelaan kami, dan bahkan kami tidak punya kesempatan untuk berbicara dalam pengadilan," kata Gamel Eid, ketua Arab Network for Human Rights Information (ANHRI) kepada U.S. Copts Association.
Pada Agustus yang lalu, Hegazy melayangkan kasus yang bersejarah untuk mendapat pengakuan resmi dari pemerintah atas kepindahannya dari Islam ke ke-Kristenan. Karena penganiayaan, seorang yang pindah agama ke ke-Kristenan biasanya menutupi kepercayaan baru mereka dan mempraktekkan iman dengan rahasia.
Namun Hegazy adalah orang pertama yang menggugat Mesir karena menolak aplikasinya untuk mengubah agamanya di surat-surat pengenal resmi. Ia menjelaskan kalau istrinya, yang dulunya Muslim namun pindah ke ke-Kristenan, sedang mengandung dan mereka ingin anak mereka dibesarkan di lingkungan Kristiani secara terbuka.
Di Mesir, seorang anak agamanya terdaftar sesuai iman resmi sang ayah. Karena itu, karena Hegazy secara resmi adalah Muslim, anak perempuannya tidak akan bisa masuk kelas agama Kristiani di sekolah, menikah di gereja, atau menghadiri kebaktian di gereja secara terbuka tanpa dihambat hukum Mesir.
Hegazy dan istrinya, Zeinab, harus bersembunyi sejak melayangkan gugatannya karena banyaknya ancaman kematian yang mereka terima, termasuk dari ayah Hegazy jika dia tidak mau kembali ke Islam. Sementara dalam persembunyian, Zeinab melahirkan anak perempuan mereka pada 10 Januari, menurut CSW.
"Kami kaget atas keputusan hakim yang menolak hak Muhammad Hegazy untuk mengubah agamanya," kata kepala eksekutif CSW Mervyn Thomas. "Konstitusi Mesir nampaknya membolehkan kebebasan beragama, dan Mesir telah meratifikasi piagam hak asasi manusia internasional yang memberikan setiap individu hal untuk memeluk agama yang mereka pilih." ANGGOTA PARLEMEN BELANDA MENYERUKAN AGAR QURAN DILARANG! By Agencies
Geert Wilders menyerukan agar Belanda melarang beredarnya Quran, menggambarkannya sbg sebuah "buku fasis" yg menyerukan agar Muslim membunuh orang-orang yg tidak se-agama dan memperkosa para perempuan.  Geert Wilders, pemimpin partai sayap kanan, The Freedom Party. Dlm suratnya, Wilders membandingkan Quran dgn Mein Kampf, otobiografi Adolf Hitler, dan mengatakan bahwa Quran "tidak punya tempat dlm negara konstitusional kita".
"Saya sudah mengatakannya selama bertahun-tahuh: tidak ada yg namanya Islam moderat," tulis Wilders.
Partainya memegang 9 kursi dari 150 kursi parlemen.
Wilders juga mengatakan, banyak bab Quran "memerintahkan Muslim agar menindas, menekan atau membunuh Kristen, Yahudi, pemberontak dan orang-orang tidak seagama dan memukul serta memperkosa wanita dan ingin mendirikan negara Islam secara paksa".
Penerbitan surat ini datang setelah serangan pada Eshan Jami (mantan muslim), seorang politisi Belanda yg mendirikan kelompok Ex Muslim Belanda, yg akhir pekan ini diserang sampai babak belur oleh para pemuda Muslim. Jami kini harus dijaga 24 jam.
"Larang buku penuh kebencian ini, spt dilarangnya Mein Kampf ! Kirim tanda kpd para penyerang Jami dan para radikalis Islam lainnya bahwa Quran tidak dapat digunakan di Belanda sbg inspirasi ataupun sbg alasan utk melakukan kekerasan," kata Wilders.
Wilders mengakui bahwa rencananya ini tidak akan mendapatkan dukungan mayoritas parlemen Belanda. "Saya muak dgn Islam di Belanda: Hentikan imigran Muslim. Saya muak dgn pemujaan kpd Allah dan Muhammad di Belanda: hentikan pembangunan mesjid," demikan suratnya. Aku telah terus-menerus berteriak selama bertahun-tahun: Islam moderat itu tidak ada. Bagi yang tidak percaya silakan baca tulisan pidato penulis Italia Oriana Fallaci, yang sayangnya telah meninggal dunia tahun lalu. Dia menyampaikan pidato ini pada tanggal 28 November, 2005 di New York, ketika dia menerima penghargaan atas usahanya melawan Islamofasisme dan perjuangannya untuk kemerdekaan: "Moderat Islam itu tidak ada. Hal ini tidak ada karena tidak ada perbedaan antara Islam yang Baik dan Islam yang Jahat. Yang ada hanyalah Islam dan hanya Islam itu saja. Islam itu terdapat dalam Qur'an, dan hanya dalam Qur'an saja. Qur'an sendiri adalah Mein Kempf (buku petunjuk Nazisme karangan Hitler) agama yang tujuannya adalah untuk menumpas orang lain, yakni non-Muslim, yang disebut juga sebagai kafir anjing, makhluk rendah. Silakan baca hal itu dalam Qur'an, dalam Mein Kamp, dan banyak lagi. Dalam versi Qur'an apapun, kau akan lihat bahwa segala kejahatan yang dilakukan budak-budak auwloh terhadap kita dan terhadap diri mereka sendiri, semuanya bersumber dari buku Qur'an itu." (Oriana Fallaci, The Force of Reason, post-script, p. 305, Feb. 2006).'
Ehsan Jami adalah anjing kafir, Muslim murtad yang berani menyebut sang Nabi Muhammad sebagai kriminal dan berani menyatakan perlunya dibuat undang-undang yang menentang keterbelakangan Qur'an. Dia juga bahkan berani mengumpulkan anjing-anjing kafir lainnya dan mendirikan perkumpulan Murtadin segala. Allah berpikir bahwa kemurtadan harus dihukum mati. Hari Sabtu lalu, hal ini hampir saja terjadi: kafir Jami diserang oleh dua orang Maroko dan seorang Somalia sampai dia berdarah-darah.
SUDAH CUKUP. Kita harus hentikan sikap PC (political correctnes = membenarkan hal yang salah untuk cari aman) yang menyesatkan ini. Sungguh baik bahwasanya Jami sekarang dilindungi dan sungguh memalukan bahwa hal ini tidak terjadi sebelumnya. Tapi bukan ini akar masalahnya. Akar masalahnya adalah fasis Islam, yakni ideologi jahat auwloh dan Muhammad seperti yang dijabarkan dalam Mein Kampf Islam yakni Qur'an. Ayat-ayat Qur'an sudah jelas menyatakan hal itu.
Dalam berbagai Sura, Muslim diperintahkan untuk menindas, memerangi, dan membunuh orang-orang Yahudi, Kristen, semua yang menganut agama lain dan para kafir, memukuli dan memperkosa wanita dan menggunakan kekerasan untuk mendirikan kerajaan Islam. Banyak sura-sura yang memanggil dan membujuk Muslim untuk melakukan pembunuhan dan penghancuran.
Larang buku sialan itu, sama seperti melarang buku Mein Kampf! Beri pesan ini kepada mereka yang menyerang Jami dan Muslim lain bahwa Qur'an tidak akan boleh dipergunakan untuk alasan melakukan kekerasan di tanah kita (Belanda).
Sungguh aku malu terhadap para politikus Belanda. Sikap naif dan angan-angan sakit jiwa mereka tentang Islam moderat hanya akan membuat Belanda jadi neraka dan negeri yang terkutuk. Betapa malunya aku terhadap mereka yang menjabat di Kabinet dan Parlemen Negara yang menolak menghentikan invasi Islam di Belanda. Betapa malunya aku terhadap para politikus Belanda yang setiap hari menerima saja para imigran kriminal dan tidak membuat jalan ke luar apapun.
The Hague (Parlemen Belanda) penuh dengan para pengecut. Orang-orang pengecut yang terlahir sebagai orang-orang pengecut dan bakal mati sebagai pengecut pula. Yang berpikir dan promosi budaya Belanda akan berdasarkan tradisi Yudaisme-Kristen- Islam. Mereka sudi memberi maaf pada para pembohong dan kriminal. Mereka tidak peduli kaum homoseks dipukuli setiap hari. Mereka ingin memperkenalkan hukum Sharia di tanah ini.
Mereka sudi bertemu dengan wakil-wakil teroris Hamas. Mereka bekerja secara efektif bagi kepentingan raja Maroko yang diktator. Mereka menganggap ektrimis Muslim Brotherhood sebagai rekan diskusi. Mereka mengijinkan pria Muslim menolak perawatan bagi istri-istri mereka yang sakit yang dirawat dokter-dokter pria. Mereka tidak peduli dengan keinginan warga negara Belanda dan malah bekerja sama untuk mengubah Belanda jadi Belanda-Arab, dan menjadi propinsi Islam di Eurobia (Eropa Arabia).
Aku sudah muak melihat Islam di Belanda: tidak boleh lagi ada imigran Muslim yang masuk sini. Aku sudah muak dengan penyembahan terhadap Allah dan Muhammad di Belanda: tidak boleh lagi ada mesjid di sini. Aku sudah muak dengan Qur'an di Belanda: larang buku fasis itu di sini!
Ada Pangkalan Pelacur Indonesia di Jeddah!!! Jika ingin membuktikan adanya jaringan pelacuran gelap warga negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi, ialah Anda menunggu di sekitar Toko Bandung atau Restoran Bali di distrik Syarafiyyah, Jeddah, sekitar pukul 23.00 hingga dini hari. atau tiga rombongan perempuan Indonesia akan keluar mengenakan pakaian abaya terbuka menunggu pelanggan datang. Di sini tidak ada wanita keluar malam tanpa didampingi muhrim kalau bukan pelacur," tutur Ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa Arab Saudi, Habib Sayed Mochsin Alhabshy, suatu ketika kepada Duta di Jeddah.
Semula tidak sedikit pun terlintas dalam benak ada jaringan pelacuran gelap dinegeri petrodolar Arab Saudi. Terlebih kabar tersebut melibatkan ratusan wanita asal Indonesia. Namun, malam itu juga Duta membuktikan. Dari sebuah apartemen milik seorang kawan tidak jauh dari tempat yang dimaksud, wartawan harian ini menunggu detik-detik keluarnya perempuan sebangsa menjajakan cinta sekejap kepada bangsa lain di negeri orang. Malam itu sudah menunjukkan pukul 23.30 Waktu Arab Saudi (WAS), namun baru muncul seorang wanita ditemani seorang pria.
Keduanya berumur sekitar 25 tahun. Wanita berkaca mata itu membuka penutup kepalanya dan tampak jelas berambut cekak seleher. Sementara abaya hitamnya dibiarkan terbuka sebagai tanda dia sedang mengundang para calon pelanggan. Sambil melintas di sekitar remang "Pohon Soekarno" tidak jauh dari lokasi, sayup-sayup terdengar logat dialek wanita itu berasal dari sebuah daerah di Jawa Barat.
Duta terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari mobil yang diparkir sekitar 300 meter dari lokasi. Tidak lama kemudian muncul lagi dua wanita sejenis dari sebuah taksi. Persis seperti wanita pertama, keduanya juga mengenakan pakaian abaya hitam dengan penutup kepala dibiarkan terbuka. Malam semakin larut. Pagi pun datang. Satu persatu wanita Indonesia itu habis dibawa oleh seseorang yang entah berkebangsaan apa. Yang jelas, wanita Indonesia di Arab Saudi terkenal tidak berharga alias murah.
Mereka yang ingin menyalurkan hasrat biologisnya dengan cepat, cukup menyediakan dana 50 real saja sudah dapat mengambil dari lokasi. Karena saking tidak berharganya wanita Indonesia di Arab Saudi, hingga muncul istilah "Abu Khomsin" atau "wanita seharga 50 real" untuk sekali pakai. Di Arab, untuk menyebut harga sesuatu, misalnya menanyakan jam tangan yang seharga 160 real, cukup dengan menyebut "Abu Miah wa Sittin", maka dihadapan Anda akan tersedia beberapa merek jam seharga yang dimaksud. Demikian juga berlaku untuk wanita Indonesia yang dihargai hanya 50real.
Pada hari berikutnya, Duta sengaja berkeliling dengan taksi di daerah penampungan yang banyak dihuni oleh para tenaga kerja wanita Indonesia (TKW) yang melarikan diri dari majikannya. Dari daerah seperti inilah, menurut kesaksian sejumlah mukmin Indonesia di Jeddah, biasanya banyak wanita penjajah cinta lahir. Para wanita penghibur di Arab Saudi biasanya disebut dengan panggilan "Sarmud" alias WTS.
Indonesia shaghir…. suwayya…. (maaf, "barangnya" wanita Indonesia kecil-kecil dan permainannya pelan," ujar sopir taksi yang mengaku dari Benggali itu. Bahkan pada kesempatan lain ada sopir taksi dari Pakistan menanyakan stok wanita panggilan dari Indonesai yang siap dikencani.
Pelacuran terselubung wanita Indonesia di Jeddah ternyata sudah bukan rahasia lagi, mulai dari bisik-bisik sesama TKI hingga bangsa negara lain turut membicarakan wanita Indonesia. Bahkan ketika Duta bertemu dengan Ustazd Fudoili, seorang aktivis Partai Keadilan Arab Saudi, dia menunjukkan foto seorang wanita Indonesia sedang setengah telanjang digandeng dua pria Benggali. "Foto ini sudah pernah saya kirim ke Habib Riezik Shihab (komandan FPI) di Jakarta agar menekan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan baru dalam pengiriman TKW," ujarnya.
Kurang Pendidikan
Menurut mukimin ini, banyak wanita Indonesia jatuh ke dalam lembah nista di Arab Saudi karena sebagian besar TKW yang dikirim pemerintah kurang berpendidikan dan berangkat tidak disertai suami. Peran suami bagi seorang TKW dirasakan sangat berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang jatuh dalam lingkaran setan pelacuran gelap. Sebab, para hidung belang tidak akan memiliki kesempatan menjebak TKW jika jelas ada suaminya.
"Ada seribu alasan wanita Indonesia menjadi sarmud di negeri orang. Sebagian besar mengaku pada awalnya melarikan diri alias kabur dari majikan karena mengalami pelecehan seksual. Jumlahnya mungkin 60 % hendak diperkosa, 20% over time tidak sesuai dengan perjanjian kerja, ada lagi karena gaji tidak dibayar sekitar 20%. Lari dari majikan bagi TKW kita sama dengan masuk ke mulut singa. Oleh karena pendidikannya rendah, mereka tidak mengetahui prosedur melapor ke perwakilan RI, dan memilih minta tolong kepada sembarang orang, terutama tukang taksi. Tragisnya, dari kasus yang sering terjadi, TKW ini tidak dibawa ke KJRI, tapi diboyong ke flat sopir taksi tersebut kemudian di sana dikerjain," tutur Ustazd Fudoili.
Masih menurut keterangan pengurus Islamic Center Indonesia di Jeddah itu, berdasarkan pengalaman di lapangan, TKW yang berangkat bersama suami biasanya bekerja serumah atau di lain tempat, tapi jika ada masalah, keadaannya tidak pernah separah nasib TKW yang sendirian. Yang menyedihkan, wanita-wanita Indonesia yang malang tersebut terkenal paling mudah dikerjai oleh para pecundang, sementara para tukang taksi sendiri sudah mengetahui persis posisi sulit yang sedang dihadapi oleh TKW tersebut. Apalagi jika diketahui mereka berangkat ke Saudi tidak disertai suaminya, semakin terbuka jalan menjadikan TKW tersebut sebagai "barang simpanannya" .
Biasanya, tukang taksi yang paling sering menyimpan stok wanita Indonesia berasal dari Benggali dan Pakistan, meski tidak sedikit juga sopir taksi dari negeri sendiri yang tega menjadikan mereka sebagai barang simpanannya. Belakangan ada kecenderungan oknum sopir taksi Indonesia yang justru mencari TKW kaburan untuk diperdagangkan kembali dengan harga mahal.
Menyimpan wanita bukan muhrimnya di flat atau apartemen adalah perkara mudah. Sebab, peraturan pemerintah setempat yang mensyaratkan penyewaan flat harus dengan bukti surat keluarga (Ailah) tidak berlaku ketat. Terlebih tidak ada kontrol kuat dari pemilik imarah (apartemen, mirip rumah susun di Indonesia) sehingga para penyewa dapat dengan mudah memasukkan orang lain kapan saja tanpa diganggu tetangga sebelah. Kesaksian wartawan harian ini selama menelusuri tempat-tempat yang diduga kuat dijadikan sebagai tempat pelacuran gelap dan terselubung membuktikan bahwa pasangan kumpul kebo bebas kencan di flat-flat yang disewakan di Jeddah.
Di tempat ini, jika mata kita jeli dan rajin "belanja" akan menjumpai beberapa wanita Indonesia berpakaian seronok nan menantang.
Lalu bagaimana nasib wanita malang yang "ditolong" sopir taksi itu? Ternyata mereka dijadikan simpanan selama berbulan-bulan. Diberi makan, difasilitasi tempat tinggal dan diberi uang pegangan. "Setelah kenyang, dijual ke temannya dengan harga 50 real untuk sekali pakai. Mengenaskan sekali nasib TKW kita.
Apalagi sebagian besar sopir taksi dari Benggali dan Pakistan di sini tidak datang dengan istri, persis seperti TKW kita yang tidak didampingi suami. Cerita ini benar-benar banyak terjadi. "Sampai ada pembicaraan, umpama hadis, pasti kabar ini sahih (valid)," kata Ustad Fudoili.
Inikah yg kau sebut fitnah ? Inikah yg kau sebut aku penghasut?? Bercerminlah ! Jgn berpangku tangan saja! Mana suaramu dalam membela bangsamu yg tertindas? Maaf aku bukanlah bangsa Indonesia yg tunduk oleh anjing2 arab laknatullah! Tapi anjing2 arab laknatullah lah yg bakalan su'jud dihadapanku soon or later! Korban Perkosaan Dihukum Cambuk, Arab Saudi Dikritik [RIYADH] Pengadilan Arab Saudi pada Selasa (20/11) tetap bersikukuh pada putusan yang kontroversial untuk menghukum korban perkosaan selama enam bulan penjara dan hukum cambuk 200 kali.
Pekan lalu Pengadilan Umum Kota Qatif, Arab Saudi, menjatuhkan hukuman cambuk 200 kali dan penjara enam bulan kepada seorang perempuan korban perkosaan berusia 19 tahun. Dengan demikian, hukumannya digandakan dari tuntutan awal yang diajukan jaksa. Pengadilan juga melarang pengacara korban membela kliennya, membekukan izin praktiknya dan memanggilnya akhir bulan ini untuk mendengar kesaksiannya tentang tindakan indisipliner. "Saya menjelaskan bahwa saya melakukan segala sesuatu yang legal untuk membela klien saya. Tetapi mereka tidak mau mendengar," tutur pengacara korban, Abdul Rahman al-Lahem.
Pengadilan menggandakan hukuman terhadap tujuh pelaku perkosaan, dari dua hingga sembilan tahun penjara. Sebelumnya antara 10 bulan hingga lima tahun penjara.
Kasus ini sejak tahun lalu mengundang perdebatan tentang sistem peradilan Arab Saudi. Putusan Pengadilan Qatif itu pun mengejutkan masyarakat.
Pemberitaan situs Arab News menyebutkan perempuan yang tidak disebut identitasnya itu berasal dari kelompok Syiah.
Perkosaan itu terjadi tahun 2006 di Qatif. Tiga hakim di Pengadilan Qatif awalnya mengenakan hukuman 90 cambuk kepada gadis itu karena dia berada di dalam mobil milik seorang pria yang bukan keluarganya pada saat perkosaan terjadi. Hukum Arab Saudi menerapkan segregasi yang ketat antara perempuan dan lelaki. Perempuan tidak diperkenankan di muka umum tanpa didampingi anggota keluarganya.
Tidak dijelaskan bagaimana korban bisa berada di dalam mobil lelaki yang kemudian memperkosanya. Menurut berita Arab News, pengadilan memberitahu korban bahwa hukumannya diperberat karena dia "berupaya mempengaruhi pengadilan melalui media."
Hakim-hakim ditentukan oleh raja. Mereka memiliki keleluasaan menentukan hukuman. Seorang pemerkosa bisa mendapatkan hukuman sangat ringan bahkan tidak dihukum sama sekali.
Sementara itu, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Sean McCormack mengatakan putusan itu sungguh mengejutkan dan menimbulkan keheranan. "Tetapi itu menjadi wewenang Pemerintah Arab Saudi untuk meninjau kembali dan mengubah putusannya," jelasnya berusaha untuk tidak ikut campur.
Pemerintah Kanada juga menyuarakan kritik serupa. Menteri urusan Perempuan Jose Verger menilai hukuman itu menggambarkan putusan yang barbar terhadap korban perkosaan.
Sedangkan lembaga pemantau hak asasi di New York, Human Rights Watch menegaskan putusan Pengadilan Arab Saudi mengirimkan pesan bahwa korban kekerasan seksual tidak boleh menuntut keadilan. Bahkan mereka memberi perlindungan dan impunitas bagi pelaku-pelakunya.
Departemen Hukum Arab Saudi menyatakan pihaknya menyambut kritik konstruktif yang tidak emosional. Bahkan pernyataan itu juga menandaskan dakwaan itu terbukti bahwa perempuan yang bersangkutan berada di dalam mobil dengan orang yang bukan anggota keluarganya. [AP/Y-2] | Barangsiapa Bisa Membuktikan Muhammad Bukan Orang Jahat, Admin Akan Menghapus Situs Ini Untuk Selamanya | | Islam tidak diciptakan untuk mengajar manusia secara spiritual, tidak juga membuat mereka dicerahkan. Pesan spiritual dalam Islam hanya sampingan atau hampir-hampir tidak ada. Kesalehan dalam Islam berarti harus meniru Muhammad, seorang manusia yang jauh dari saleh. Ritual-ritual seperti sholat dan puasa hanya pakaian belaka untuk memancing orang-orang bodoh agar masuk, hanya untuk memberi islam penampilan luar, jadi seakan terlihat keramat dan penuh spiritualitas. | |
Seminar : DISKRIMINASI GENDER dan ISLAM Oleh Jamie Glazov FrontPageMagazine.com | December 31, 2004 Apakah Islam memberi kebebasan bagi perempuan dalam struktur sosial Muslim? Untuk membicarakan masalah ini adalah beberapa pembicara terkemuka. PRO: (Pembicara yang mendukung kemungkinan adanya Islam feminis adalah): 1. Mohamed El-Mallah, anggota pengurus Mesjid Al-Ittihad di Vista, bekas anggota pengurus Pusat Islam di San Diego, dan anggota perkumpulan Muslim American Society. Beliau lahir di Mesir dan pindah ke AS tujuh tahun yang lalu. Beliau aktif bergerak di badan Muslim Community of San Diego dan telah memberi banyak ceramah tentang sejarah Islam. dan 2. Julia Roach, mahasiswi UCSD, saat ini sedang mengambil gelar sarjana muda di bidang sastra dunia, dengan spesialisasi masalah gender dan sastra perempuan. Dia masuk Islam (mualaf) tahun 2003.
KONTRA: (Pembicara yang beranggapan Islam tidak mendukung hak-hak perempuan adalah): 3. Ali Sina, pendiri Faith Freedom International - FFI (www.faithfreedom.org), yakni gerakan ex-Muslim yang mendukung mereka yang ingin meninggalkan Islam dan memberikan informasi yang sebenarnya mengenai Islam, dan 4. Robert Spencer, direktur Jihad Watch (Pengawasan Jihad) dan pengarang “Onward Muslim Soldiers: How Jihad Still Threatens America and the West” (Regnery Publishing) dan “Islam Unveiled: Disturbing Questions About the World’s Fastest Growing Faith” (Encounter Books). ---------------------------------------------------------------------- --------------
(FrontPageMagazine.com, slanjutnya disebut FP): Bpk. El-Mallah, Robert Spencer, Julia Roach and Ali Sina, selamat datang di Seminar Frontpage..
Pak El-Mallah, mari memulai dengan anda. Dapatkah Islam memberi kebebasan dan persamaan hak bagi perempuan? Ataukah Islam bertentangan dengan kesamaan hak perempuan?
El-Mallah: Terima kasih atas undangannya, Jamie. Untuk menjawab pertanyaanmu, aku mundur ke tahun 1425. Seorang perempuan datang pada sang Nabi dan bertanya padanya: “Mengapa kaum perempuan tidak disebutkan (dalam kitab Islam seperti Qur’an dan Hadis) sebanyak kaum pria?” Tahukah Anda apa jawaban Nabi? Dia menjawab pertanyaan perempuan ini di muka umum, dia langsung pergi ke mesjid, dan minta semua orang untuk berkumpul dan dari atas podium dia memberi penjelasan dengan mengutip ayat Q33:35 yang mengatakan: “Bagi pria dan wanita Muslim, bagi pria dan wanita yang beriman, bagi pria dan wanita yang alim, bagi pria dan wanita sejati, bagi pria dan wanita yang sabar dan taat, bagi pria dan wanita yang merendahkan diri sendiri, bagi pria dan wanita yang bersedekah, bagi pria dan wanita yang berpuasa (dan menyangkal diri mereka sendiri), bagi pria dan wanita yang menjaga kesucian, dan bagi pria dan wanita yang memegang pujian Allah, bagi mereka Allah mempersiapkan pengampunan dan hadiah yang besar.”
Ayat ini menjelaskan aturan jika kata ganti pria (“he”) digunakan, kata itu dapat digantikan dengan kata benda perempuan (“she”) dengan beberapa perkecualian, yang dengan jelas diterangkan di ayat-ayat lain di Qur’an dan perkataan sang Nabi.
Saya ingin menunjukkan bahwa orang pertama yang menerima Islam adalah seorang perempuan, martir Islam pertama adalah seorang perempuan, salah satu bab terpanjang di Qur’an berjudul “Perempuan,” dan bab lain berjudul “Mariam”. Kita perlu memisahkan apa yang dipraktekkan Muslim dan apa yang sebenarnya diperintahkan Islam. Kita tidak dapat menghakimi Islam karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang-orang yang tinggal di negara-negara yang tidak pernah mengajarkan mereka tentang Islam. Kebanyakan tindakan-tindakan salah yang kau lihat dilakukan oleh orang-orang Muslim terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang Islam.
Dari penjelasan di atas, kita dapat mengelompokkan alasan-alasan di belakang pengertian yang salah tentang kaum perempuan dalam Islam ke dalam dua kelompok: (1) kurangnya pengetahuan tentang pengajaran Islam, dan (2) niat buruk dari orang-orang yang mencerca Islam.
FP: Nn. Roach?
Roach: Pertama-tama aku ingin mengawali komentarku tentang fakta menyedihkan yang ada pada keadaan Ummah atau komunitas Islam seluruh dunia saat ini. Sayang sekali Islam tidak dipraktekkan di seluruh bagian dunia oleh semua Muslim seperti yang diterapkan auwloh dalam Qur’an dan dicontohkan oleh Muhamad.
Baik Kristen atau Budha tidak selalu dipraktekkan oleh umatnya secara betul. Akan tetapi, jika kita mengamati tata cara orang Muslim yang berusaha untuk mencari pengetahuan seperti yang diperintahkan Tuhan mereka, kita melihat orang-orang ini mempraktekkan Islam secara benar berdasarkan teks suci dan tradisi sang nabi. Dari perilaku mereka terbukti bahwa persamaan hak kaum perempuan dan Islam tidak bertentangan.
Aspek yang pertama dan mungkin terpenting adalah kesamaan spiritual atau iman: jiwa perempuan punya nilai yang sama dengan jiwa pria dan ini dibuktikan dalam beberapa ayat dalam Qur’an di mana auwloh menghubungkan pria beriman dan perempuan beriman dengan kepentingan dan tanggung jawab agama yang sama seperti derma, puasa, sembahyang, kerendahan hati, dll. Tidak seperti tradisi yang dipraktekkan oleh sebagian orang Kristen di mana perempuan tunduk pada suami dan kemudian suami tunduk pada Tuhan, kaum perempuan Muslim tunduk pada auwloh dulu dan yang paling penting, mereka tidak butuh wakil bagi diri mereka.
Muslimah dapat sembahyang sendiri atau dalam suatu kelompok tanpa dihadiri pria dan doanya akan diterima Tuhan sama seperti doa orang lain (insya auwloh). Dosa seorang perempuan dihitung sama dengan dosa pria. Hak-hak perempuan dilindungi, seperti hak untuk hidup dan ini tidak ada sebelum jaman Arab Islam (banyak bayi perempuan dibunuh karena bayi pria lebih didambakan, Islam menghapus praktek ini dan auwloh menyebut kesaksian seorang anak perempuan yang dibunuh sebagai satu tokoh di hari Penghakiman). Apakah ada hak yang lebih serius daripada hak untuk bertempur dan mati di peperangan?
Para Muslimah punya hak untuk berperang dan mati di peperangan sejak 1400 tahun terakhir. Hak seperti ini baru saja dimiliki oleh perempuan Amerika. Kematian seorang perempuan di medan pertempuran dihargai sama dengan kematian seorang pria. Perempuan yang gugur ini jadi martir dan layak masuk surga. Martir pertama dalam Islam adalah seorang perempuan. Para perempuan bertempur bersama sang Nabi di banyak peperangan, beberapa menderita luka parah. Perempuan Muslim punya hak untuk memberi suara dan suara mereka bernilai sama dengan suara pria, hak untuk memiliki dan melepaskan harta benda tanpa butuh izin dari saudara lelaki, hak untuk bekerja di luar rumah, hak untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan gaji yang sama, hak untuk menyimpan sendiri gaji mereka, hak untuk menikah dengan siapa saja yang dia inginkan dan menolak siapapun, hak untuk dapat kepuasan seksual di perkawinannya (jika tidak puas dia bisa minta cerai), dll, dll.
Saya tidak perlu menjelaskan lebih jauh (sebenarnya masih banyak kelebihan Islam bagi perempuan!). Sayangnya banyak orang tidak mengerti arti jilbab dan bertanya pada kami kenapa kami bangga mengenakannya? Ini karena kami adalah Muslim dan kami bahagia dengan auwloh dan hidup kami, kami tidak menderita diskriminasi gender kala kami membela hak-hak kami.
Oh, satu lagi, perempuan Muslim diharuskan untuk belajar dan dianjurkan untuk memperoleh pendidikan formal, menempatkan diri dengan kemampuan daya pikir yang sama di berbagai bidang.
FP: Baiklah. Pak Spencer, Anda ingin menjawab? Ini banyak berhubungan dengan definisi kita tentang “persamaan hak” dan “kebebasan”, bukan? Apa yang kita (Barat) anggap sbg “kebebasan” perempuan di sini (dunia Barat) mungkin tidak sama dengan definisi kebebasan bagi perempuan Muslim, bukan?
Spencer: Engkau benar, Jamie. Masalah pengertian istilah ini sama dengan kata “terorisme”: sebagian Muslim saat ini mengutuk terorisme, tapi tidak berpendapat bahwa pemboman bunuh diri di Israel atau bahkan 9/11 adalah serangan terorisme sama sekali.
Dan ngomong-ngomong tentang istilah, sesungguhnya yang diungkapkan Pak El-Mallah tentang 'salah satu bab terpanjang di Qur’an berjudul "Perempuan", bab lainnya berjudul “Mariam”', tidak berarti apapun. Ada banyak bab lain di Qur’an yang berjudul “Rampasan Perang” (8), “Tawar Menawar” (64), “Cerai” (65), “Pencabut Nyawa” (79), “Penipu” (83), “Gempa Bumi” (99), “Bencana” (101), “Pelanggar” (104), dan “Kafir” (109). Ini bukan berarti Qur’an menganggap kaum perempuan sama dengan menanggapi bencana atau gempa bumi, tapi ini hanya nama surah di Qur’an dan bukan berarti tanda peranannya dihormati. (Di Quran jg ada bab “Sapi”, dan ini tidak ada hubungannya bahwa islam menghormati sapi sebagaimana perempuan, bukan? – admin).
Dan meskipun benar yang Pak El-Mallah katakan, “Kita harus membedakan antara yang dipraktekkan kaum Muslim dengan apa yang diajarkan Islam," saya berharap dia akan membahas lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya diajarkan Islam tentang perempuan.
Bukankah pertanyaan seminar ini sendiri adalah “Apakah Islam punya jalan ke luar untuk memberi kebebasan bagi kaum perempuan dalam struktur sosial Muslim?” Untuk menjawab pertanyaan ini dengan lengkap, halangan bagi kebebasan ini harus dipaparkan: ayat-ayat Quran seperti 4:34 (pemukulan istri) dan hak --bersaksi atau memberikan-- kesaksian perempuan (2:282) dan hak atas warisan (4:11), hak perempuan cuma separuh dari hak lelaki memang diajarkan dalam Islam, dan bukan hanya praktek-praktek budaya belaka. Juga ada banyak sekali hadis yang memperlakukan kaum perempuan begitu buruk. Contoh, apa yang dikatakan Muhamad sendiri bahwa kebanyakan orang yang masuk neraka adalah perempuan, dan perempuan kurang dalam kecerdasan dan keagamaan (deficient in intelligence and religion) [Bukhari, I:6:304].
Sura 4:34, yang akhir-akhir ini disahkan oleh muslim di Turki, muslim di Spanyol dan dimana-mana, mengakibatkan menjangkitnya kasus-kasus pemukulan (aniaya) terhadap perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
Institut Sains Kedokteran Pakistan, misalnya, telah menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh istri di Pakistan telah dihajar, dipukuli, atau disakiti secara seksual karena membuat kesalahan seperti masak makanan yang kurang enak. Karena pemukulan ini adalah mandat Qur’an, sukar bagiku untuk setuju dengan pendapat Pak El-Mallah yang berkata bahwa banyaknya perempuan yang menderita di dunia Islam adalah karena “kurangnya pengertian yang baik tentang Islam.”
Nn. Roach juga sama sekali tidak menyinggung hal ini. Sebaliknya, dia malah mengalihkan perhatian terhadap agama Kristen yang katanya lebih jelek. Tapi sebenarnya, tidak ada perintah di dalam Alkitab (Bible) seperti di Qur’an 4:34, dan bahkan jikalau pun ada, bukan ini titik persoalannya. Pertanyaan di muka kita adalah apakah Islam, bukan Kristen, memerdekakan kaum perempuan.
Orang Muslim yang peduli akan kesamaan martabat dan hak azasi bagi kaum perempuan harus mengakui adanya ayat-ayat Qur’an dan Sunnah yang saya sebutkan tadi dan mencari jalan ke luar untuk mengurangi akibat jeleknya diantara orang-orang Muslim. Aku harap Pak El-Mallah dan Nn. Roach bersedia menerima tantangan ini.
FP: Pak Sina?
Sina: Halo Jamie! Pak El-Mallah mengutip ayat 33:35 di mana kaum pria dan perempuan disebutkan dan tanggung jawab dan hadiah mereka dijabarkan. Sungguh sukar kumengerti bagaimana Pak El-Mallah mengambil kesimpulan bahwa ayat ini menegakkan kesamaan kedudukan antara pria dan perempuan. Jika aku berkata padamu bahwa kamu dan anjingmu tidak boleh jalan di rumput, harus melakukan ini dan itu, apakah ini berarti kamu dan anjingmu itu sederajat? Aku tidak melihat sedikitpun kesamaan hak di ayat ini.
Marilah kita lihat apa yang Qur’an katakan tentang kaum perempuan. Qur’an berkata “kaum pria punya kelebihan dari mereka (kaum perempuan)” 2:228; bahwa kesaksian perempuan hanya berharga separuh kesaksian pria 2:282; bahwa perempuan mewarisi separuh dari yang diwarisi saudara lelakinya, 4:11-12; bahwa seorang pria boleh menikahi dua atau tiga atau empat perempuan sekaligus sebagai istri 4:3; bahwa jika seorang perempuan tertangkap dalam perang, majikan Muslimnya diperbolehkan untuk memperkosanya 33:50; bahwa jika seorang istri tidak taat sepenuhnya pada suaminya, dia akan masuk Neraka 66:10; bahwa istri adalah ladang tempat bercocok tanam bagi suaminya 2:223; bahwa perempuan harus takluk pada suaminya atau kalau tidak akan diperingatkan (lewat kata-kata), pisah ranjang (penindasan psikologis), atau dipukul (penindasan fisik) 4:34. Ayat-ayat ini menjelaskan kedudukan kaum perempuan dalam Islam.
“Bukti” lain yang dipaparkan Pak El-Mallah untuk membuktikan kedudukan perempuan yang tinggi dalam Islam adalah satu dari surah-surah panjang di Qur’an yang berjudul “Kaum Wanita.” Pak Spencer sudah menjawab hal ini dengan tepat. Ijinkan aku untuk mengingatkan Pak El-Mallah bahwa surah terpanjang di Qur’an berjudul “Sapi” (286 ayat). Surah “Kaum Wanita” hanya berisi 176 ayat. Mengikuti logika Pak El-Mallah, sapi mestinya dapat kedudukan yang lebih tinggi daripada kaum perempuan. Surah besar yang lain adalah “Ternak”. Surah ini terdiri dari 165 ayat. Surah Wanita hanya 11 ayat lebih banyak daripada Surah Ternak tapi 110 ayat kurang dari surah sapi. Bahkan kenyataannya sama dan serangga seperti lebah, semut, dan laba-laba punya surah-surah yang dinamai nama binatang-binatang itu. Haruskah kaum perempuan senang kalau ada sebuah surah yang dinamakan atas kaum mereka jikalau laba-laba pun punya surah?
“Bukti” lain yang dipaparkan oleh Pak El Mallah adalah orang pertama yang percaya akan Muhamad adalah seorang perempuan. Kenapa ini jadi tanda bahwa kaum perempuan punya persamaan hak? Apa hubungannya? (Jaka sembung bawa golok.., deh.. –admin).
“Bukti” berikutnya yang dia sebutkan adalah martir pertama Islam adalah seorang perempuan. Orang Muslim mestinya berpikir ini bukti yang meyakinkan karena ini pun disebut oleh Nn. Roach. Ini sama sekali tidak menunjukkan persamaan hak perempuan dalam Islam. Selain itu, cerita ini pun diragukan kebenarannya. Rekan-rekan Muslim kita ini bicara tentang Summayyah. Ibn Sa’d adalah satu-satunya ahli sejarah yang mengatakan Summayyah mati sebagai martir di tangan Abu Jahl. Jika martirdom ini benar-benar terjadi, hal ini tentunya akan digembar-gemborkan oleh semua penulis biografi Muhammad dan akan dikabarkan di banyak tradisi Islam. Ini hanyalah satu contoh kisah hiperbolis (yang dilebih-lebihkan) yang memang biasa dilakukan oleh orang Muslim sejak awal.
Pada kenyataannya, penulis biografi yang sama (Ibn Sa’d) juga mengakui bahwa Bilal adalah juga martir pertama, meskipun dia dapat bertahan hidup cukup lama dari luka yang dialaminya. Dia kembali ke Mekah dan melafalkan Azan dari puncak atap Ka’bah setelah Muhamad menaklukkan kota itu dan Bilal meninggal secara alami.
Ibn Sa’d menulis bahwa Summayyah, suaminya Yasir dan anak mereka Ammaer dianiaya di Mekah (hal. 227). Tapi setelah Yasir (yang meninggal secara alami), Summayyah menikahi budak Yunani bernama Azrak dan mendapat seorang anak laki bernama Salma. Lalu bagaimana kita tahu dia mati di bawah penyiksaan? Majikan Azrak adalah Taif dan Azrak adalah satu dari beberapa budak yang ketika kota itu diserbu (sekitar 15 tahun kemudian), lari ke pusat pertahanan Muhammad. Sudah sewajarnya untuk dimengerti bahwa setelah kematian Yasir, Summayyah menikah dengan Azrak dan hidup di tempat Taif.
Nn. Roach mengeluh bahwa Islam TIDAK dipraktekkan di seluruh bagian dunia oleh kaum Muslim sesuai dengan standar yang ditetapkan auwloh dalam Qur’an. Untuk itu, kita harus berterima kasih pada Tuhan! Bayangkan jika semua Muslim melakukan hukum rajam atau gantung korban-korban perkosaan (yg tidak mampu menghadirkan saksi) atau mencambuki perempuan untuk berbagai pelanggaran sepele seperti memperlihatkan sebagian rambutnya. Kenyataannya, negara-negara yang mempraktekkan Islam secara penuh (murni dan konsekwen) adalah negara-negara yang benar-benar barbar. Coba lihat penderitaan kaum perempuan di Afghanistan di bawah rezim Taliban. Kaum perempuan tidak diijinkan pergi ke luar rumah atau bekerja. Dokter pria tidak diperkenankan mengunjungi (menangani) pasien perempuan. Jadi kalau perempuan sakit, tidak ada orang yang dapat merawatnya dan lalu dia mati. Negara yang semakin Islami akan jadi semakin mendekati neraka!
Nn. Roach menghibur dirinya sendiri dengan berpikir bahwa setelah perempuan mati, dia akan diperlakukan sama dan katanya “Jiwa perempuan bernilai sama dengan jiwa pria”. Dengan kata lain, yang dikatakannya adalah jika perempuan hidup seperti budak, didera dan dicabut hak-haknya di dunia ini, mereka dapat bersukacita karena setelah mati mereka akan diperlakukan sama. Meskipun kupikir ini omong kosong, sebenarnya bahkan janji ini pun tidak benar. Kaum perempuan di Islam tidak diperlakukan secara sama, bahkan setelah mati (di akhirat).
Untuk pria dijanjikan banyak perawan setelah mereka mati. Apa yang didapat perempuan? Dia dapat suaminya yang tua dan harus membaginya pula dengan 72 bidadari perawan yang menggairahkan. Dengan banyaknya bidadari menggairahkan itu, mana mau lekaki menghabiskan waktu semalam saja bersama istri tuanya? Apakah perempuan dapat para malaikat perjaka untuk melakukan pesta seks bersama? Tidak. Perempuan harus terus mempertahankan “kesederhanaannya” bahkan setelah mati. (Oalaahh wong wedok... gak di dunia, gak di akhirat, podo wae nasibmu... –admin). Yang benar adalah dalam Islam, pria dan perempuan tidak diperlakukan secara sama bahkan setelah kematian mereka.
Lagipula, menurut Muhamad hanya sedikit perempuan yang bakal masuk surga. Kebanyakan perempuan masuk neraka. Marilah kita lihat apa yang sang Nabi katakan tentang hal ini. Di sini dia menggambarkan khayalannya ketika mengunjungi neraka dan surga: “Lalu kulihat Api (neraka), dan aku belum pernah melihat sebelumnya pemandangan yang sangat mengerikan, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah WANITA.” Orang-orang bertanya, “O Rasul Allah! Mengapa begitu?” Dia menjawab, “Karena mereka tidak bersyukur.” Dikatakan, “Apakah mereka tidak percaya pada Allah (apakah mereka tidak bersyukur pada Allah)?” Dia menjawab, “Mereka tidak berterima kasih kepada suami mereka dan tidak bersyukur untuk kebaikan yang dilakukan pada mereka. Bahkan jika kau berbuat baik pada satu diantara mereka seumur hidupmu, jika dia menerima kekerasan darimu, dia akan berkata, “Aku tidak pernah melihat satu pun hal yang baik darimu.’ “ Bukhari 7.62.125
Nn. Roach berkata perempuan Muslim dapat berdoa sendiri. Apakah ini tanda kesamaan hak dan kemerdekaan? Memangnya perempuan yang beragama lain tidak boleh sembahyang sendirian? Apakah Tuhan tidak menerima doa-doa mereka?
Nn. Roach berkata bahwa di jaman sebelum Islam, bayi-bayi perempuan Arab dibunuhi dan Islam melarang hal ini. Orang Muslim benar-benar percaya bahwa ini tindakan yang umum dilakukan. Kalau ini benar, dari mana datangnya para perempuan Arab itu (jatuh dr langit, kali?!). Orang Muslim juga mengaku bahwa Muhamad mengangkat status perempuan dengan memberi batasan seorang pria tidak boleh punya lebih dari empat istri. Bagaimana para lelaki Arab punya begitu banyak istri kalau bayi-bayi perempuan dibunuhi?
Mungkin beberapa orang biadab membunuh bayi perempuan mereka yang baru saja lahir, tapi ini tidak bisa disebut sebagai tindakan yang umum dilakukan. Pembunuhan bayi itu bagaimana pun juga bertentangan dengan naluri alamiah manusia. Lagi pula, orang Arab pun manusia juga. Mereka mestinya juga punya naluri orang tua seperti yang kita punya. Bahkan binatang pun punya naluri itu. Memang perkecualian selalu muncul. Bahkan hari ini pun pembunuhan bayi perempuan terjadi di Cina dan India. Tapi tindakan yang biadab ini dikecam oleh masyarakat dan dihukum oleh undang-undang. Kasusnya sangat jarang terjadi. Jaman sebelum Islam di Arabia pun begitu pula. Kalau Muhamad melarang pembunuhan bayi perempuan, itu adalah aturan yang lumrah dan disetujui oleh setiap orang (karena memang hati nurani manusiawi mereka berkata bahwa itu adalah hal yang salah).
Contoh: Kita baca di koran ada orang membunuh istrinya. Seringkah tindakan ini terjadi? Ini sangat jarang. Tapi jikalau saya (Ali Sina) mengumumkan diri saya sebagai nabi dan diantara beberapa yang saya umumkan salah satunya adalah pelarangan pembunuhan istri. Ini bukan berita besar: setiap orang tahu membunuh istri itu salah. Seribu tahun dari sekarang pengikut saya yang amat setia mengaku bahwa di jaman sebelum “Nabi Sina,” orang-orang biadab mempraktekkan pembunuhan istri dan Nabi Sina (SAW) menghapuskan praktek biadab ini. Betapa konyol kedengarannya, bukan? Nah, ini pun sama konyolnya dengan pernyataan orang Muslim bahwa Muhamad menghapus pembunuhan bayi perempuan.
Diantara ‘hak-hak” perempuan Muslim, Nn. Roach menyatakan “hak” untuk bertarung di peperangan adalah yang paling penting. Dia katakan “Apa ada hak yang lebih serius daripada hak untuk bertempur dan mati di medan perang?”
Apakah ini betul? Bukankah akan lebih baik jika bukannya mendatangkan perang tapi Muhamad mendatangkan kedamaian di dunia dan memberi perempuan (dan juga pria serta anak-anak) hak untuk hidup damai? Dia memanggil Muslim untuk melakukan peperangan atas nama Tuhan dan mengucurkan darah sesama manusia 2:216, 9:39. Apakah ini baik? Tidakkah manusia sudah cukup banyak merasakan peperangan? Apakah mereka butuh seorang Nabi dari Tuhan untuk memberikan mereka “ijin” membunuh dan mati? Muhamad merampas hak berpikir, hak memilih kepercayaan, hak menentukan nasib sendiri dan sebaliknya dia malah memberikan hak untuk menciptakan perang, untuk membunuh, untuk membenci, untuk “memasukkan teror di dalam hati para musuhnya” 8:12, untuk menghancurkan dunia ini dan untuk mati. Apakah ini ajaran yang benar? Ini sama saja dgn Muhamad memberi hak orang Muslim untuk hidup di neraka, hak untuk jadi budak, hak untuk didera dan disiksa.
Di Amerika dan negara-negara beradab lainnya, orang punya hak untuk dapat kebebasan, hidup dan mengejar kebahagiaan. Dalam Islam, orang Muslim punya hak untuk berperang dan mati. Apakah kita masih harus percaya bahwa Islam ini agama dari Tuhan?
Masalahnya dengan Islam adalah, Islam menghancurkan nilai-nilai yang ada. Yang betul jadi salah dan kejahatan dipuji-puji sebagai kebaikan. Nah sekarang pertanyaan yang serius nih: bagaimana seorang perempuan Muslim berperang dengan burqa (baju Muslimat yang seperti karung menutupi seluruh bagian tubuh) yang menyelubungi badannya? Ini benar-benar menarik dan seru untuk ditonton.
Lagipula, apakah para perempuan non-Muslim dilarang berperang jika mereka mau? Apakah kita tahu perempuan mana di masyarakat mana yang tidak punya “hak” untuk berperang dan mati?
Mungkin Nn. Roach harus baca riwayat hidup nabinya sekali lagi. Dia nanti akan tahu bahkan masyarakat penyembah berhala sekalipun biasa membawa para istri mereka ke medan perang. Di pertempuran Uhud, istri Abu Sofyan yang bernama Hind mengaum bagaikan singa betina dan menyemangati kaum pria untuk maju berperang. Pada waktu itu kaum perempuan biasa menemani para suaminya ke medan perang untuk menyediakan logistik dan merawat yang terluka. Muhamad berbuat sama seperti bangsa Arab ini. Akan tetapi, setelah Islam, ketika orang Muslim mulai mempraktekkan ajaran nabinya, mereka jadi tidak memberikan kesempatan bagi perempuan di bidang manapun -- termasuk di medan perang – karena itu kaum perempuan lalu disingkirkan dan ditempatkan sebagai warga negara kelas dua.
Nn. Roach berkata, “Perempuan Muslim selalu punya hak untuk memberi suara dalam pemilu”. Bagaimana ini bisa benar jika bahkan kaum pria Muslim saja tidak punya hak memberi suara? Dalam Islam tidak ada demokrasi! Bagaimana kamu bisa memberi suara jika tidak ada demokrasi? Tidak adanya demokrasi dalam Islam bisa jadi pokok pembahasan yang menarik pula.
Nn. Roach berkata kaum perempuan dalam Islam punya hak untuk memiliki dan membuang barang miliknya tanpa harus dapat ijin dari anggota keluarga pria. Apakah dia lupa bahwa Khadijah, sebelum menikahi Muhamad adalah seorang wanita karir yang kaya raya melalui usaha perdagangannya dan memiliki banyak karyawan pria yang membantunya? Dapatkah para perempuan sukses di negara Islam sama seperti Khadijah sukses di masyarakat penyembah berhala? Apakah ada seorang perempuan di negara Islam selama 1400 tahun terakhir ini yang bisa menyamai sukses Khadijah? Jawabnya adalah TIDAK! Bukankah ini bukti bahwa lebih sedikit kesempatan di dunia Islam bagi perempuan dibandingkan kesempatan yang dimiliki Khadijah di dunia penyembah berhala? Sudah jelas bahwa kaum perempuan sudah kehilangan hak-haknya setelah Islam dan tidak dapat apa-apa dari Islam.
Nn. Roach berkata perempuan Muslim punya hak untuk bekerja di luar rumah. Saya heran kenapa dia tidak berkata begitu pada para Talibaners. Mereka melarang perempuan untuk bekerja di luar rumah. Lalu saya juga ingin bertanya padanya bagaimana seorang perempuan dapat bekerja di luar rumah jika dia tidak bisa berada di kamar dengan seorang pria dan tidak boleh bepergian sendirian tanpa saudara lelaki (mahram/muhrim). Muhamad tidak mendukung perempuan untuk ke luar dari rumahnya dan sebenarnya dia berkata bahwa lebih baik perempuan sembahyang sendirian di dalam rumahnya (seperti penjara) daripada sembahyang di mesjid. Di beberapa negara Islam, kaum perempuan tidak diperbolehkan menyetir mobil. Bagaimana mereka bisa pergi kerja jika mereka bahkan tidak bisa datang ke tempat kerja kecuali kalau seseorang menyetirkan mereka pulang balik?
Nn. Roach berkata kaum perempuan Muslim punya hak untuk menikah dengan siapapun yang mereka sukai. Aku bertanya padanya, bagaimana mungkin seorang anak perempuan berusia 9 tahun memutuskan untuk menikah (merujuk kasus Aisyah)? Bagaimana seorang perempuan Muslim bisa bebas untuk memilih calonnya jika dia dilarang pacaran dengan pria untuk mengenalnya lebih baik sebelum menikah? Bagaimana dia bisa memilih kalau tahu orangnya juga tidak? Pilihan apa yang dimilikinya? Bagaimana kamu bisa membuat keputusan yang baik dan tepat jika kamu tidak tahu calon suamimu? Pilihan buta bukanlah suatu pilihan.
Dia juga bilang bahwa perempuan Muslim punya hak untuk dapat kepuasan seksual dalam pernikahannya dan menyatakan “jika perempuan tidak puas, dia bisa minta cerai”. Apakah ini benar? Di bawah hukum Sharia, kaum perempuan tidak boleh minta cerai, juga bahkan jika suami memukulinya. Keputusan untuk cerai hanya hak bagi kaum pria saja. Sekarang bayangkan seorang perempuan menghadap hakim untuk minta cerai karena suaminya impoten. Bagaimana kau dapat menghina ego raksasa seorang pria Muslim dan berharap dapat hidup setelah itu? Perempuan itu akan mati keesokan harinya. Jika dia selamat dan bisa cerai, dia akan dianggap sebagai wanita jalang oleh siapapun. Perempuan yang bercerai tidak punya tempat di negara Islam. Perempuan Muslim tidak boleh punya gairah seks. Tidaklah suci bagi perempuan untuk punya perasaan seksual. Bahkan sunat perempuan dibuat untuk mengambil kenikmatan seksual dari perempuan. Kaum perempuan tidak seharusnya menikmati seks. Jika mereka punya gairah, ada bahaya kemungkinan berzinah dan berbuat dosa. Kaum perempuan hanya diharuskan untuk menyediakan kepuasan bagi para suami mereka dan menyangkal segala kebutuhan seksual mereka sendiri. Menurut tradisi: Rasul Allah berkata, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan seks) dan istri menolak dan menyebabkan suami tidur dalam kemarahan, para malaikat akan mengutuki sang istri sampai pagi” Bukhari 4.54.450
Sungguh menggelikan jika kita membayangkan para malaikat tidak punya kerjaan lain yang lebih baik daripada duduk di sekitar dan mengutuki perempuan malang itu sepanjang malam karena para malaikat itu jadi tidak bisa nonton pertunjukan porno live. J Jika auwloh harus menghukum perempuan karena tidak memuaskan nafsu seks suami, kenapa auwloh perlu para malaikat untuk melakukan hal ini? Bukankah ini menyia-nyiakan kemampuan para malaikat?
Di satu pihak ini semua benar-benar lucu. Tapi di pihak lain, dalam pengertian yang lebih luas, ini adalah suatu tragedi.
FP: Pak. El-Mallah?
El-Mallah: Pak Spencer dan Pak Sina telah mengutarakan pandangan salah yang paling banyak diulang-ulang tentang peranan kaum perempuan di Islam. Pak Spencer dan Pak Sina gagal untuk mengerti logika penamaan bab Qur’an. Bab “Kaum Perempuan” menjabarkan banyak topik-topik perempuan dan topik lainnya. Bab ini dinamakan “Kaum Perempuan” , meskipun sebenarnya dapat diberi judul yang berbeda dari topik lain yang dibicarakan dalam bab itu. Jika Islam memandang rendah perempuan, bab ini tidak akan disebut “Kaum Perempuan” atau setidaknya kau akan menemukan bab lain yang berjudul “Kaum Pria.”
Aku ingin meluruskan pandangan Pak Sina tentang bab terpanjang di Qur’an yang berjudul “Sang Sapi,” dan bukan “Sapi.” Ada perbedaan besar diantara kedua kata ini. Kata “Sang Sapi” berhubungan dengan sapi tertentu, yang ceritanya dijabarkan di bab itu dan ada pelajaran berharga yang dapat ditarik dari cerita itu.
Ayat 33:35 tidak hanya menyebutkan tanggung jawab dan hadiah bagi pria dan perempuan, tapi juga dengan jelas membuktikan bahwa tidak ada Gender yang lebih tinggi, dan aturan-aturan umum berlaku pada pihak pria dan perempuan. Aku tidak tahu apa definisi kesamaan hak bagi Pak Spencer dan Pak Sina. Tapi bagiku ayat di atas jelas membuktikan kesamaan hak, dan jika Q33:35 tidak cukup bagi mereka, ayat 3:135 menekankan pengertian yang sama ketika auwloh berkata: “Tidak akan Kubiarkan hilang satu pun dari amalmu, baik lelaki atau perempuan.” Q4:124: “Dan siapapun yang melakukan kebaikan, baik pria maupun perempuan, jika ia seorang yang beriman, dia akan masuk Surga, dan tidak akan disalahkan (meskipun hanya sebanyak) sebintik di biji korma” Hal yang sama ditekankan di Q16:97 dan Q40:40.
Ayat-ayat dan Hadis-hadis yang dikutip Pak Spencer dan Pak Sina bukanlah halangan bagi kemerdekaan perempuan, mungkin memang begitu tampaknya bagi mereka, karena mereka melihatnya di luar konteks (dan di beberapa kasus, salah diartikan sama sekali oleh keduanya, seperti yang akan kubuktikan, insya auwloh). Menarik disimak bahwa Pak Spencer bertanya mengapa kami tidak menyebutkan ayat-ayat yang disebutkannya, dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah: Mengapa Pak Spencer dan Pak Sina tidak menghiraukan lebih banyak lagi ayat dan Hadis yang memuji kaum perempuan, memerintahkan pria untuk memperlakukan perempuan dengan baik, hormat dan penuh kasih sayang.
1) Q2:228 “laki-laki punya beberapa kelebihan daripada perempuan.” Pak Spencer dan Pak Sina tak menyebutkan bahwa dalam Islam suami bertanggung jawab secara finansial bagi keluarga; pihak istri tidak diharuskan untuk menyumbang sepeserpun dari uang penghasilannya sendiri. Ayat ini bukan berarti superioritas dan bukan berarti keunggulan apapun dari pihak suami di hukum Islam.
Islam menekankan pentingnya untuk bertukar pendapat dan mencapai persetujuan bersama dalam mengambil keputusan dalam keluarga. Qur’an memberi contoh: “Jika mereka (suami istri) ingin menyapih anak dengan persetujuan bersama dan (setelah) berembuk, maka mereka tidak bersalah” (Q 2:233). Allah menyatakan: “Dan bergaulah dengan mereka dengan baik, karena jika kamu membenci mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Q4:19. Nabi Muhammad berkata: “Yang terbaik darimu adalah terbaik bagi keluarganya dan akulah yang terbaik diantara kamu bagi keluargaku. Muslim yang paling sempurna adalah yang paling baik kelakuannya dan yang terbaik darimu adalah mereka yang paling baik pada istri2mu.” (Ibn-Hanbal, No. 7396)
Ayat di atas menunjukkan kelebihan (kedudukan) bukanlah suatu hak istimewa tapi suatu tanggung jawab, yang menuntut pemeliharaan dan perlindungan dan pencegahan tindakan semena-mena.
2) Q4:11-12 perempuan hanya mewarisi separuh dari yang diwarisi saudara pria. Ini sama sekali bukan berarti bahwa seorang saudara perempuan berharga separuh dari saudara lakinya. Perbedaan warisan ini sesuai dengan perbedaan tanggung jawab keuangan. Di Islam, suami bertanggung jawab penuh bagi kebutuhan istri, anak-anak, dan di kasus tertentu sanak keluarganya yang membutuhkan, terutama kaum perempuan. Tanggung jawab ini tidak dihilangkan atau dikurangi karena kekayaan istri atau karena penghasilan istri sendiri dari kerja, sewa, keuntungan, dan kegiatan kerja legal lainnya. Bagian istri itu milik istri sendiri dan tak seorang pun dapat mengambilnya dari dia, termasuk ayahnya, saudara laki atau suami, tidak peduli berapa kaya atau miskinnya dia dan keluarganya. Jika dia, karena keinginan sendiri, menggunakan uangnya untuk keluarganya, Allah akan memberinya hadiah di Hari Akhir. Dia berhak mendapat mas kawin dari suaminya pada saat menikah. Dan jika terjadi perceraian, dia akan dapat uang tunjangan istri dari bekas suaminya.
3) Q33:50 bahwa jika seorang perempuan jadi tawanan perang, majikan Islamnya berhak memperkosanya. Ayat ini tidak ada hubungannya dengan pemerkosaan sama sekali, saya tidak tahu terjemahan atau interpretasi apa yang Pak Sina gunakan.
4) Q66:10 bahwa jika seorang perempuan tidak taat total pada suaminya, dia akan masuk Neraka. Ayat ini bicara tentang kisah istri Nuh dan Lut, dan bagaimana mereka tidak menuruti pesan nabi itu sehingga mereka dihukum. Ini jelas di kisah Lut dan bagaimana istrinya tidak turut perintah Allah.
5) Q2:223 bahwa perempuan adalah ladang cocok tanam bagi suaminya. Kata Arab yang digunakan Qur’an adalah “Harth,” yang berarti menanam di ladang. Sebenarnya Hart adalah kata lain dari kemaluan perempuan. Kesamaan antara ‘ladang’ dan ‘kemaluan perempuan’ adalah pria menaburkan benihnya di dalam kemaluan perempuan. Benih ini akan tumbuh sampai jadi seorang anak. Hal yang sama terjadi jika petani menabur benih di ladang! Penggunaan persamaan kata di bahasa Arab sangat umum bahkan sebelum Qur’an diturunkan. Ayat ini diturunkan karena orang Yahudi biasanya mengatakan pada orang Muslim di Medina bahwa jika suami bersetubuh (melalui vagina) dengan posisi menghadap punggung perempuan, maka anak yang lahir akan jadi juling. Qur’an menggunakan kiasan yang indah ini untuk mengatakan pada Muslim bagaimana pun benih ditanam di ‘ladang’, hasilnya akan sama.
6) Q4:34 yang berhubungan dengan pemukulan istri. Bagian ini penting untuk dibaca secara menyeluruh dan dimengerti melalui penjelasan ayat-ayat lain dan Hadis. Jangan ambil satu bagian ayat dan menggunakan itu untuk mensahkan perbuatan salah yang dilakukan seseorang. Persoalannya dengan orang-orang yang mencerca Islam adalah mereka mengalihkan matanya dari Hadis-hadis lain yang menjelaskan masalah-masalah tertentu di ayat-ayat Qur’an. Ayat yang di atas adalah contoh jelas dari kasus ini. Ayat ini tidak mengijinkan atau melarang pemukulan itu. Kata “pukul” digunakan di ayat ini, tapi ini bukan berarti “pemukulan secara fisik”. Sang Nabi menjelaskan dalam bahasa Arab "dharban ghayra mubarrih," yang berarti “tepukan ringan yang tidak meninggalkan bekas.” Dia lalu berkata bahwa wajah harus dihindari. Terkadang tidak boleh lebih daripada sentuhan ringan pakai siwak, yaitu sikat gigi. Ini tidak boleh dilakukan dalam persoalan rumah tangga ringan. Ini harus digunakan untuk kasus-kasus berat seperti “ketidaksetiaan dan perbuatan jahat.” Ini adalah pilihan akhir setelah semua usaha gagal.
Istri tidak punya kewajiban untuk menerima pemukulan. Dia bisa minta dan dapat ijin cerai di waktu kapanpun. Sebenarnya Islam mengijinkan istri untuk menceraikan suaminya melalui apa yang dikenal sebagai “khole”. Pak Sina berkata: “Di bawah Sharia kaum perempuan tidak diperbolehkan untuk minta cerai meskipun jika suami memukuli mereka. Keputusan cerai hanya ada di tangan pria.” Ini jelas salah sama sekali.
Dalam Islam, jika suami memukul istri tanpa mengindahkan batasan yang diberikan Qur’an dan Hadis, maka istri bisa membawa suami ke pengadilan dan, jika dia menang perkara, dia diberi hak untuk membalas dan memukul suami sebagaimana suami memukul dia. Menarik untuk dilihat berapa agama lain yang memberi hak seperti itu pada istri? Sebenarnya, untuk perbandingan singkat di Alkitab hal yang serupa dapat kita lihat bahwa jika istri membujuk suami untuk menyembah tuhan lain, maka suami harus menghukum dia mati (Deuteronomy 13:7-12). Tapi kukira tujuan beberapa orang adalah untuk menyerang Islam dan hanya Islam.
7) Tentang Hadis yang mengatakan kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan, Pak Sina hanya menunjukkan sebagian fakta saja. Kaum perempuan tidak hanya penghuni mayoritas di Neraka, berdasarkan sumber-sumber sama yang dapat dipercaya, juga menyatakan bahwa kaum perempuan akan jadi menjadi penghuni mayoritas di Surga, lihat Sahih Muslim, Kitaab al-Jannah, 4/2179, no. 2834. Mudahnya, dengan menghitung jumlah perempuan dari seluruh umat manusia, mereka akan jadi kelompok mayoritas. Jika Hadis menyatakan jumlah perempuan masuk Neraka dan jumlah perempuan masuk Surga dan membandingkan angka atau persentasi ini dengan jumlah pria.
Tentang martir pertama Islam, hal yang luput dari pengamatan Pak Sina adalah sejak jaman awal Islam sampai sekarang, para perempuan tidak merasa Islam mengandung unsur-unsur yang menekan mereka, kalau tidak mereka tidak akan berkorban begitu banyak bagi Islam, apalagi sampai mengorbankan nyawa mereka.
9) Lagi-lagi Pak Sina menelaah bidang yang jelas tidak dia ketahui secara luas dengan menyatakan bahwa hanya Ibn Saad saja yang mengisahkan martirdom Summayyah. Nah, ini dari Al-Bayhaqi “Abu Jahl menusuk dia di kemaluannya.” (Al-Dalaa’il, 2/282) dan lalu didukung oleh Ibn Katheer ketika dia mengatakan: “Ketika Abu Jahl dibunuh di perang Badr, sang Nabi berkata (pada ‘Ammaar, anak Summayyah): ‘Allah telah membunuh orang yang membunuh ibumu.’ “(al-Isaabah, 4/327; al-Bidaayah wa’l-Nihaayah by Ibn Katheer, 3/59).
Aku harus menekankan bahwa di seminar ini kita membicarakan “Apakah Islam punya jalan ke luar…” Maka kalau kita mengungkapkan suatu pandangan, maka harus dibicarakan pula ajaran Islami yang benar. Contoh dari negara-negara modern yang tidak mempraktekkan Islam sejati bukan pokok pembicaraan utama di seminar ini. Tapi karena Pak Spencer dan Pak Sina memberi diri mereka sendiri hak untuk membicarakan masalah-masalah ini, aku akan membuktikan kesalahan beberapa hal yang mereka ungkit. Aku tidak bisa membahas semua hal karena terbatasnya waktu:
10) “Bayangkan jika semua Muslim merajam atau menggantung korban-korban pemerkosaan atau mencambuk perempuan untuk pelanggaran ringan seperti memperlihatkan sebagian rambutnya.”
Tidak ada perintah Allah seperti itu, dari mana Pak Spencer dapat pernyataan seperti itu? Dalam Islam, korban perkosaan tidak dihukum bagaimana pun juga. Mereka itu korban! Islam memerintahkan kita untuk merajam baik LAKI maupun PEREMPUAN yang melakukan perzinahan kalau mereka menikah. Jika mereka menikah, mereka BERDUA dicambuk.
11) Anggaplah sebentar saja bahwa sembilan dari sepuluh istri di Pakistan telah dianiaya oleh suami mereka. Ini tidak berarti banyak kecuali kita menetapkan bahwa contoh yang dipilih adalah orang Muslim yang alim. Sekali lagi, banyak pria Muslim di seluruh dunia tidak tahu akan apa yang diperintahkan Islam tentang memperlakukan istri-istri mereka. Bagaimana mereka dapat tahu, jika Pemerintah mereka secara sengaja menyingkirkan pendidikan agama yang berguna di sekolah-sekolah umum.
Akan sangat menarik untuk mengetahui berapa banyak pria yang dianiaya oleh istri mereka (membentak dan berteriak termasuk penganiayaan dalam survei yang dikatakan oleh Pak Spencer)? Lebih penting lagi, mari lihat kekerasan rumah tangga di U.S. Apakah Pak Spencer tahu bahwa di akhir 4 tahun pendidikan perguruan tinggi, 88% wanita telah mengalami setidaknya satu kecelakaan fisik atau jadi korban seksual di dalam hidupnya (riset U.S. Dept. of Justice di November 2004)? Dan hal terakhir yang penting adalah untuk bisa mencapai sebuah kesimpulan dari penelitian tadi, engkau perlu mengetahui berapa persentasi di dunia non-Muslim di negara ketiga seperti India, dan saya tidak heran, ternyata persentasinya hampir sama dengan yang di Pakistan! Haruskan kita menyalahkan Islam untuk apa yang pria Kristen lakukan di U.S. dan pria Hindu di India, belum lagi di Filipina, Chili, dll?
FP: Nn. Roach?
Roach: Aku ingin menyatakan suatu hal, sejelas mungkin, bahwa aku adalah seorang perempuan Muslim, menikah dengan pria Muslim, berpendidikan, dan pada saat ini menyanggah pandangan orang di forum umum untuk membuktikan bahwa Islam tidak menekan perempuan, tapi ketidakpedulianlah yang menekan perempuan. Aku setuju bahwa sekarang sedikit sekali yang melaksanakan hukum Islam sebenarnya yang menegaskan terpenuhinya hak-hak kaum perempuan sebanyak hak-hak kaum pria. Tentang kritikan terhadap negara tertentu seperti Pakistan, tidak ada alasan untuk perlakuan biadab oleh beberapa orang di sana atau di mana saja berkenaan dengan pendiskriminasian dan penganiayaan perempuan. Aku juga menganjurkan agar para pengritik memeriksa jumlah penganiayaan pasangan hidup di Amerika. Kenyataannya adalah kaum perempuan dipukuli di mana pun di bawah berbagai selubung yang ada. Tidak ada alasan bagi perempuan yang menderita perlakuan seperti ini dan tidak melawan balik, jika tidak karena kurang tahu aturan Qur’an dan Sunnah, maka setidaknya ke luar dari martabat mereka sendiri sebagai manusia. Jika aku dipukuli oleh siapapun, suami atau bukan, kamu boleh bertaruh dengan nyawamu bahwa aku akan melawan balik!
Hukum-hukum Islam tidak dibuat untuk memenjarakan orang tapi untuk membebaskan mereka dari ketidakpedulian. Tidak ada satu pun ayat yang mengatakan perempuan harus menerima pukulan dari siapapun, dan orang yang menggunakan Hadis tertentu untuk melakukan pemukulan dan penyiksaan akan mereka hukuman mereka sendiri karena menambah dan mengurangi iman Islam dari Hakim yang terbaik. Aku menghibur hatiku dengan pandangan ini, bahwa mereka yang memfitnah Islam secara tidak adil akan dihukum di dunia dan akhirat, sebagaimana layaknya untuk kebohongan apapun. Muslim, baik pria atau perempuan tidak boleh ditekan, ini mungkin bisa menjelaskan tekananku pada kisah martirdom perempuan dan hak untuk berperang dan mati bagi Allah (jihad). Jika kaum perempuan mati saat melawan penekanan, kau akan diberi anugrah masuk dalam surga insha Allah, tujuan bagi semua Muslim, karena itu tidak ada alasan bagi pria atau perempuan untuk menerima perlakuan seperti itu dari siapapun! Tidak ada masyarakat Islami sejati saat ini di tingkat nasional, tidak ada penerapan hukum Sharia yang benar dan lengkap, karena itu bagaimana mungkin seseorang bisa mengritik hukum Sharia! Jika mereka sendiri belum pernah melihat bagaimana hukum itu seharusnya dilaksanakan?
Aku akan mengulangi pernyataanku yang pertama: mengecam Islam karena interpretasi yang salah dari orang-orang tertentu sangatlah tidak ilmiah. Aku akan tunjukkan hal ini dengan contoh singkat tentang para tetua/tokoh gereja Kristen.
”Melalui penelaahan keadaan alami setiap orang, dimengerti bahwa perempuan adalah cacat dan menyimpang, ini karena kekuatan aktif benih jantan cenderung menghasilkan kesamaan yang sempurna yakni orang berkelamin maskulin, sedangkan hasil pembentukan seorang perempuan datang dari kekuatan aktif yang cacat.” - Thomas Aquinas
"Kaum perempuan adalah wadah kotoran"- St. Augustine
"Hukuman Tuhan bagi jenis kelaminmu (perempuan) berlaku sampai jaman ini, rasa bersalah juga terus berlaku. Kau adalah pintu gerbang setan. Kau adalah pelanggar pohon terlarang, kau adalah orang yang pertama-tama melanggar aturan illahi. Kau hancurkan gambar rupa Tuhan dengan begitu mudah, pria yang berhubungan dengan dosamu – mati, bahkan anak Tuhan pun harus mati.” - Tertullian
Sebagaimana yang kau lihat, ucapan-ucapan bijaksana dari para pemimpin Kristen tidak menyentuh feminisme modern dan kesamaan hak. Aku menggunakan contoh ini BUKAN UNTUK MENGUTUK KRISTIANI, tapi lebih karena orang-orang “suci” ini jelas benci akan perempuan dan mungkin frustasi secara seksual, dan mereka salah mengartikan ajaran Kristen dan menuruti pandangannya sendiri. Aku akan simpan kekhawatiranku tentang perlakuan Alkitab pada perempuan untuk diriku sendiri saja agar pembicaraan jangan menyimpang ke Kristiani. Aku katakan bahwa Qur’an menyalahkan Adam dan Hawa atas dosa mereka yang sama besarnya dan menghukum KEDUANYA karena melanggar hukum Allah, bukan karena yang satu pria dan yang lain perempuan.
Sekarang aku ingin membahas beberapa topik tentang ayat Qur’an dan Hadis yang disebutkan kedua Bapak ini. Membaca tulisan-tulisan Islami dan mengambil bagian yang tak menyenangkan, atau hanya melihat masyarakat yang katanya Islami dan membuat kesimpulan berdasarkan hal tersebut bukanlah pengamatan yang ilmiah. Jika mempelajari isi pengetahuan apapun, kamu tidak boleh memilih-milih dan lalu memaparkan kasusmu secara meyakinkan. Untuk benar-benar memahami Hadis dan ayat-ayat Qur’an kau tidak hanya harus baca Tafsir tapi juga harus berpikir pada konteks yang tepat dan kesahihan Hadis yang kau baca. Ada suatu aturan dalam membaca Hadis, dan banyak orang menyatakan yang paling asli ternyata tidak tepat, atau hanya dengan satu pembaca, dll. Jadi mengambil ke luar beberapa Hadis yang “tampaknya” merendahkan perempuan dan tidak memperhatikan hadis-hadis lain yang sangat banyak jumlahnya yang sang Nabi tegaskan bagi hak-hak kaum perempuan adalah tindakan yang picik, kekanak-kanakan.
Setelah mengatakan itu, aku hanya akan membahas ayat-ayat penting yang dikutip. Aku mulai dari ayat pertama, yang sering dijadikan alasan untuk memusuhi Islam. Suraah 4:34 yang sering disebut “ayat pemukul istri”. Mungkin mereka yang mengritik Qur’an sebaiknya menyelidiki kemungkinan salah menerjemahkan ketika membacanya. Berulang kali aku mendengar pernyataan bahwa Qur’an menganjurkan pemukulan istri, dan begitu pula yang dulu kupercaya ketika aku bukan Muslim dan sangat kritis terhadap berita-berita menurut media tentang dunia Islam. Kata “pukul” sebagaimana digunakan di dalam konteks adalah terjemahan yang salah dari kata Arab “daraba” yang dalam Qur’an saja digunakan dalam enam cara. Bahasa Arab jauh lebih rumit daripada bahasa Inggris. Ayat lain yang menggunakan kata ini adalah 47:27, 18:11, 43:5, 14:24, dan 2:273. Dalam konteks ayat ini, kata daraba, yang diterjemahkan sebagai pukul seharusnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “tepukan ringa, tidak berbekas” , atau sebagai “pergi/berpisah”, dan bukan memukuli kepala istri sampai dia mengerti maksudmu. Di sini aku jelaskan bahwa perempuan di sini bukanlah budak perempuan yang tunduk dan bodoh, tapi pasangan hidup yang tidak hormat, tidak bertanggungjawab, dan tidak masuk akal yang masuk dalam perkawinan tanpa memenuhi tanggung jawabnya.
Karena saudara El-Mallah telah menjawab banyak pernyataanku, aku hanya ingin membahas beberapa hal lagi yang dekat dalam hatiku:
1. Kujelaskan bahwa dalam Islam, sembahyang (shalat) dianggap sebagai ibadat dan doa adalah permohonan informal. Dikatakan bahwa siapapun yang memohon pada Allah akan dijawab doanya. Akan tetapi, di agama lain perempuan tidak dapat melakukan pemujaan yang sama tingkatnya (dengan salat) seorang diri, tanpa wakil pria, terutama di gereja Orthodox dan Katolik di mana hanya para pendeta yang bisa memimpin upacara agama seperti liturgi, misa atau sakramen. Para perempuan tidak diperkenankan jadi pendeta karena mereka tidak mewakili “rupa Kristus”. Perempuan yang sedang datang bulan tidak boleh melalui altar karena akan menajiskannya. Ini tidak terjadi dalam Islam di mana perempuan boleh jadi seorang ahli atau hakim Sharia, karena tidak ada kependetaan dalam Islam. Di dalam sebuah mesjid, istri Nabi yakni Aisha mengisahkan sebuah hadis di mana dia biasa duduk di sebelah kanan Nabi ketika dia sembahyang di mesjid dan saat itu Aisha sedang datang bulan. Perempuan tidak usah sembahyang sewaktu datang bulan merupakan anugrah Allah dan pencegahan sakit (kesehatan). Aku tahu ini karena aku perempuan, dan kamu, Pak Sina, bukan (dan mungkin kamu berterima kasih pada Tuhan, bukan?)
Kebetulan pula, beberapa biarawati Budha berdoa agar dapat bertubuh pria di kehidupan akherat. Biarawati Budha yang berkarir 20 tahun selalu makan setelah pria yang baru jadi pendeta Budha sehari yang lalu. AKU BUKANNYA MEMBELOKKAN PERKARA, aku hanya menyatakan perbedaan antara tubuh perempuan yang dikutuk dan diperlakukan seperti mereka butuh perawatan khusus.
2. Tampaknya Pak Sina sudah mengalami kehidupan setelah mati dan melihat bagaimana kaum perempuan hidup di sana! (Astagfirullah). Bagaimana orang tahu kalau perempuan diperlakukan tidak sama setelah mati karena dikatakan di Qur’an siapa yang masuk surga mendapatkan apa saja yang mereka inginkan! Kita tidak hanya berkata tentang hal yang bisa dipikir otak manusia yang terbatas ini. Seringkali di Qur’an kata benda maskulin digunakan (karena gaya bahasa, bukan karena lebih memilih gender tertentu) dan di banyak kasus ini dapat diterapkan pada Muslim manapun, laki atau perempuan. Kamu tidak akan pernah bisa tahu atau bisa mengerti atau menjelaskan apa yang tak tampak. Allah akan menghadiahi hambaNya, baik laki atau perempuan, atas amal budinya di dunia. Juga terdapat Hadis yang mendukung hak-hak perempuan untuk mendapatkan kepuasan seksual di dunia. Sang Nabi dikatakan berkata: “dekati istrimu dengan kehangatan, puaskan istri (sampai mencapai orgasme) beberapa kali sebelum kau memuaskan dirimu.” Ada pernyataan di Qur’an bahwa seorang anak akan tampak seperti salah satu orangtuanya yang duluan mencapai orgasme (ini berhubungan dengan orgasme yang dialami perempuan Muslim, periksa statistik Barat untuk ini). Hubungan pernikahan dianggap sebagai kegiatan beribadat.
P.S.: Tujuh puluh dua perawan disebut di sebuah Hadis yang sering dianggap kurang berarti bagi sebagian orang dan banyak yang menganggap angka 72 hanyalah sekedar ungkapan dan bukan angka sebenarnya. Burqa adalah penerapan konyol kalau sampai muka perempuan itu ditutupi, DAN INI TIDAK DIHARUSKAN. Kaum perempuan tidak harus menutupi wajah mereka kala menunaikan ibadah Haji. Sang Nabi tidak pernah memukul perempuan manapun, dan kita diharuskan untuk mengikuti Sunnah. Juga jikalau ego pria Muslim begitu besar, mengapa mereka memperbolehkan perempuan berperang bersama mereka, bahkan kadang menampilkan mereka di medan perang? Kamu mungkin bisa baca buku Aisha Bewley yang berjudul “Islam: the Empowering of Women”, di mana dia menunjuk penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa sebagai sebab utama terbatasnya kedudukan perempuan di masa lalu dan masyarakat “Islam” masa kini. Dan tentang Taliban, mereka tidak akan mau mendengar pernyataan dari seorang perempuan lemah seperti saya, jadi maaf saja!
Sina: Kalau Pak Mallah bisa melihat kesamaan hak ini dalam ayat 33-35, ya baguslah. Sayangnya, kebanyakan Muslim tidak melihat apa yang dia lihat dan hasilnya kaum perempuan di negara-negara Islam tidak diperlakukan sama. Pak Mallah mungkin berpikir ini karena orang-orang Muslim tidak mempraktekkan Islam yang sebenarnya, tapi mungkin juga karena pengertiannya tentang Qur’an tidak tepat atau Qur’an tidak cukup jelas bagi kebanyakan orang Muslim.
Ayat 3:135 menekankan bahwa setiap orang akan diberi upah tapi tidak dikatakan bahwa mereka akan menerima upah yang sama besarnya. Jika pemilik perusahaan berkata pada para karyawannya bahwa setelah penjualn barang dia akan membayar mereka semua, ini tidak berarti bahwa dia akan membayar mereka semuanya sama. Pengertiannya sama jika dia mungkin mau menekankan ketergantungan satu sama lain dan berkata kau adalah bagian dari satu sama lain. Ini tidak menunjukkan bahwa para manajer dan pembersih WC punya kedudukan sama. Hal yang sama dapat diterapkan pada ayat-ayat lain yang dikutip Pak Mallah.
Pak Mallah mengeluh kenapa Pak Spencer dan saya tidak menyebutkan ayat dan Hadis yang memuji perempuan. Iya memang ada beberapa ayat dan Hadis yang memuji perempuan tapi kita membicarakan soal hak-hak. Memuji perempuan bukan berarti mereka punya hak yang sama. Aku bisa saja memuji-muji anjingku, tapi ini bukan berarti aku menganggap anjing itu sederajat dengan manusia. Lagipula ada ayat dan Hadis yang merendahkan perempuan.
Contohnya ayat 30:21 “Dia menciptkan bagimu, dari dirimu sendiri, istri-istri, sehingga kamu beroleh ketenangan dalam mereka”. Tulisan Arab menerangkan secara jelas bahwa “bagimu” adalah maskulin dan “mereka” adalah feminin. Apa yang disampaikan ayat ini adalah kaum perempuan diciptakan BAGI LAKI-LAKI dan adalah untuk memuaskan kesenangan mereka (laki-laki).
Razi di At-Tafsir al-Kabir, yang memberi komentar tentang ayat ini menulis: “Kata-kata Dia ‘menciptakan bagimu’ merupakan suatu bukti bahwa perempuan diciptakan seperti binatang-binatang dan tanaman dan benda-benda berguna lainnya, sama seperti Yang Maha Agung telah berkata ‘Dia menciptakan bagimu apa yang ada di bumi’ dan ini menetapkan bahwa perempuan tidak diciptakan bagi ibadah atau menyampaikan perintah-perintah ilahi.”
Hadi Sabzevari, ahli Muslim yang terkemuka, dalam komentarnya terhadap pemikir Muslim besar lainnya yang bernama Sadr al-Mote'alihin, menulis: Sadr ad-Deen Shirazi menggolongkan kaum perempuan sebagai binatang dan ini merupakan sindiran halus bahwa perempuan sesungguhnya dan selayaknya sederajat dengan binatang bisu [al-haywanti al-sa^mita] karena kurangnya daya pikir dan pengertian perempuan akan hal yang rumit, dan juga karena kesukaan mereka akan kenikmatan dunia. Mereka punya sifat-sifat alami binatang [ad-dawwa^b], tapi mereka diberi penyamaran sebagai manusia supaya pria tidak benci waktu bicara dengan mereka dan tidak muak waktu berhubungan seks dengan mereka. Karena inilah Hukum-hukum kita yang tak bercacat [shar'ina al-mutahhar] memihak kaum pria dan memberi mereka keunggulan di segala hal, termasuk cerai, “nushuz”, dll.
Nn. Roach berkata kita tidak akan mengerti Qur’an kecuali kalau kita baca Tafsir. Dia benar. Tapi berbagai tafsir justru lebih memberatkan Muhamad, kecuali kalau Tafsir-tafsir itu ditulis oleh apologis Islam modern bagi konsumsi bacaan orang Barat.
Pak Mallah pikir hanya karena Muhamad mengatakan pria dan perempuan bersamaan di dalam satu kalimat menandakan mereka mestinya sederajat. Tapi kita punya Hadis di mana Muhamad menyebut keledai, perempuan dan anjing dalam satu kalimat.
Muslim 4,1232 berkata “sembahyang seorang Muslim bisa terputus jika seekor keledai, perempuan, dan anjing hitam lewat”. (Jd menurut logika si Mallah di atas; bahwa bila disebut bersamaan dalam satu kalimat berarti sederajat, maka keledai, perempuan dan black doggie adalah sederajat! What the f... –admin). Pak Mallah berkata kita luput menyatakan bahwa dalam Islam pihak suami bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya dan pihak istri tidak harus menyumbang sepeser pun. Apakah ini baik? Inilah tepatnya sumber ketidaksamaan hak dan ketegangan diantara suami dan istri. Isteri tidak dianggap sebagai partner (rekan sejawat) tapi lebih sbg karyawan sang majikan (suami). Istri harus melayani suami, (melahirkan bayi bagi SUAMI, memuaskan kebutuhan seksual suami, mengatur barang-barang milik SUAMI, dll) dan sebagai balasan dia harus menafkahi istri. Apakah ada bedanya antara dinamisme ini dengan hubungan majikan dan budak?
Ayat 2:228 bukan hanya menyatakan secara tak langsung tapi bahkan menyatakan secara gamblang bahwa pria lebih unggul daripada perempuan. Dikatakan dengan sangat jelas: “tapi pria punya beberapa kelebihan daripada mereka …” Dapatkah kamu mengatakannya lebih gamblang daripada itu?
Jika kami salah, dapatkah kalian rekan-rekan Muslim mengatakan pada kami negara Islam mana yang telah mengerti kesamaan hak yang mereka sebut dan melaksanakannya? Bagaimana mungkin semua Muslim di dunia ini bingung tentang apa yang dikatakan Qur’an dalam 1.400 tahun sehingga mereka tidak bisa melaksanakan Islam yang sejati?!
Bukankah Muhamad sendiri yang bilang bahwa Qur’an itu adalah “KITAB YANG JELAS”: (5:15), “gampang dimengerti” (44:58 , 54:22 , 54:32, 54:40) "dijelaskan secara detail" (6:114), "disampaikan secara jelas", (5:16, 10:15) dan dengan “tanpa ragu”(2:1)?
Pak Mallah mengutip beberapa ayat yang menyebut kaum perempuan tapi tidak ada satupun yang menerangkan adanya kesamaan hak terhadap pria. Menyuruh pria untuk memperlakukan istri-istri mereka dengan baik tidaklah menyatakan kesamaan hak. Seseorang bisa bilang, perlakukan binatang dengan baik. Ini bukan berarti kamu dan binatang punya hak yang sama.
Kenyataan bahwa Pak Mallah mengutip ayat-ayat yang tak ada hubungan dengan persamaan hak menunjukkan bahwa MEMANG TIDAK ADA ayat-ayat dalam Qur’an yang bicara mengenai persamaan hak. Sebaliknya, banyak ayat-ayat yang menunjukkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
Pak Mallah menyatakan ayat 4:11-12 yang berkata perempuan mewarisi separuh dari yang didapat saudara lakinya, ini tidak berarti perempuan itu berharga separuh daripada saudara lakinya. Kita tidak bicara soal “harga layak”. Kita bicara soal HAK, tuan Mallah! Nilai adalah hal yang abstrak. Berapa banyak engkau menilai diri saya tidak menjadi soal bagiku. Tapi saya mengharapkan kau menghargai hak-hak saya dan memperlakukan saya sama. Nilai-nilai itu subyektif, hak-hak adalah nyata (ter-ukur) dan obyektif. Dalam Islam, perempuan tidak diperlakukan sama (dengan kaum pria). Mereka tidak punya hak yang sama dengan hak laki-laki.
Ngomong-ngomong tentang “harga layak”, saya rasa selayaknya untuk mengingatkan orang bahwa di Saudi Arabia jika seorang dibunuh atau terbunuh, sang pembunuh harus bayar uang darah atau kompensasi sebagai berikut: | AGAMA | JENIS KELAMIN | JUMLAH GANTI RUGI | | Islam (Muslim) | Laki-laki | 100,000 Riyals | | Islam (Muslim) | Perempuan | 50,000 Riyals | | Kristen | Laki-laki | 50,000 Riyals | | Kristen | Perempuan | 25,000 Riyals | | Hindu | Laki-laki | 6,666 Riyals | | Hindu | Perempuan | 3,333 Riyals | Sumber: The Wall Street Journal, April 9, 2002 - 3,333 riyals jika korban adalah perempuan Hindu
- 6,666 riyals jika korban adalah pria Hindu
- 25,000 riyals jika korban perempuan Kristen
- 50,000 riyals jika korban pria Kristen
- 50,000 riyals jika korban perempuan Muslim
- 100,000 riyals jika korban lelaki Muslim
Jadi seperti yang anda lihat harga orang-orang tidak sama dalam Islam. Harganya tergantung dari jenis kelamin dan agamanya! Perempuan harganya selalu setengah dari laki-laki, apapun agamanya. Bagaimana orang Muslims dapat berkata bahwa mereka menghargai HAM dan martabat umat manusia, bila mereka memandang rendah manusia di luar agama (dan juga gender) mereka?! Sungguh, saya tidak pernah habis pikir…
Pak Mallah juga membual bahwa dalam Islam suami bertanggung jawab utk menafkahi istri bahkan jika istri lebih kaya daripada dia dan punya sumber penghasilan lain. Apakah ini keadilan? Apakah ini menolong utk memperkokoh rasa cinta & kesatuan antara suami-istri? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba istrimu menerima warisan yang sangat besar dan jadi milyarder tapi tidak mau membagi sepeser pun denganmu dan pada saat yang sama menuntutmu untuk menafkahi dia dengan gajimu yang pas-pasan? Dapatkan perkawinan seperti ini bertahan?
Semua ini menekankan kenyataan bahwa hubungan perkawinan dalam Islam sejenis dengan hubungan antara majikan dengan karyawannya (tuan dan budak). Perkawinan yang baik adalah kesatuan di mana suami dan istri adalah partner yang sama di segala bidang. Ini tidak terjadi dalam Islam. Istri masuk rumah suami sebagai karyawan dan dapat dipecat kapan saja. Yang harus dia lakukan hanyalah berkata “Aku ceraikan kamu” dan perkawinan selesai sudah. Dan celakalah jika dia katakan ini tiga kali berturut-turut, karena dia tidak bisa mengawini istrinya lagi kecuali si (mantan) istri menikah dengan orang lain, melakukan hubungan seksual dengan suami baru, menceraikan suami baru, dan lalu istri dapat menikahi suami lamanya. Ini aturan konyol yg sangat menggelikan!
Pak Mallah berkata ayat 33:50 tidak ada hubungannya dengan perkosaan. Sebenarnya ada. Jika kau lihat ayat 4:24 di mana Muhamad berkata: “Juga (dilarang untuk memiliki) perempuan-perempuan yang telah berkeluarga, kecuali mereka yang DIMILIKI TANGAN KANANMU…” Ini jadi jelas bahwa seorang Muslim diperbolehkan untuk melakukan hubungan seks dengan para perempuan yang dimiliki tangan kanannya (yakni budak-budak, para perempuan tawanan perang) bahkan jika mereka telah berkeluarga.
Jika kamu masih ragu arti ayat ini, ada Hadis yang membuatnya jelas: Bukhari 7,62,137 bicara tentang apara prajurit Muslim yang biasa berhubungan seks dengan para perempuan tawanan perang. Tapi karena mereka tidak mau membuat para perempuan itu hamil dan mau mengembalikan mereka sebagai sandera setelah memperkosanya, para prajurit itu pergi ke Muhammad dan bertanya tentang coitus interruptus (mengeluarkan sperma di luar tubuh perempuan). Sang Nabi tidak melarang praktek pemerkosaan terhadap para perempuan tawanan itu tapi hanya berkata tidak usah melakukan coitus interruptus karena jika Tuhan menentukan seorang jiwa (bayi) akan lahir, maka akan lahir dengan sendirinya. Lihat pula Bukhari 8.77.6. (Bayangkan, sang nabi besar auwloh itu bahkan sedikitpun tidak menyinggung praktek pemerkosaan thd para sandera perempuan itu, malah yang dilarang justru mengeluarkan sprema di luar rahim perempuan tawanan itu. Sedangkan praktek pemerkosaannya sendiri tidak dilarang. Astagfirullah alajim alakazam bimsalabim... apa kata duniaaaaaa?! -admin).
Mungkin aku harus mengingatkan rekan-rekan Muslim kita tentang Rayhana dan Safiyah yang adalah gadis-gadis remaja Yahudi yang ditangkap Muhamad dan sang Nabi meniduri mereka di hari yang sama ketika dia membantai ayah, saudara-saudara laki, suami dan sanak saudara lainnya. Meskipun Safiyah kehilangan semua orang di keluarganya, dia merasa tidak punya pilihan dan menikah dengan Muhamad, Rayhana menolak menikah dgn pembunuh sukunya (Bani Quraiza) dan tetap tinggal di rumah Muhamad sebagai budak seks sampai Muhamad mati. Korban lain Muhamad adalah Juwariyah yang juga berasal dari suku Yahudi lain.
Untuk menjelaskan ayat 4:34, Pak Mallah berkata pemukulan haruslah ringan, tidak meninggalkan bekas dan harus pakai “sikat gigi” (siwak). Ini tidak jelas tercantum di ayat itu dan tentunya jutaan perempuan Muslim yang dianiaya akan dapat banyak keuntungan dari pengertian ini. Lagi-lagi pertanyaan adalah, mengapa Qur’an begitu tidak jelas pada masalah penting ini? Juga caranya Pak Mallah menjelaskan ayat ini seakan lebih mirip foreplay (perlakuan hangat antara dua kekasih sebelum melakukan hubungan seks). Memukul dengan sikat gigi? Ini lelucon (jokes), yah? Kenapa musti memukul segala dong? Bahkan jikalau inipun merupakan hal yang simbolis belaka, dan hanya untuk menunjukkan bahwa pria lebih dominan daripada perempuan, pertanyaannya adalah untuk apa? Mengapa laki-laki harus mendominasi perempuan secara simbolis?
Mr. El Mallah, JUTAAN perempuan Muslim yang dianiaya dapat bersaksi bahwa tidak ada hal yang simbolis dalam pemukulan ini. Seringkali mereka dipukuli begitu rupa sampai tulang-belulang mereka remuk-hancur. Aku ingat para perempuan yang datang ke rumah kami menunjukkan luka memar mereka pada ibu saya dan menangis.
Pak Mallah berkata Islam mengijinkan istri untuk menceraikan suami melalui tatacara yang dikenal sebagai “khole”. Apakah khole ini? Khole adalah jika perempuan setuju untuk TIDAK menerima tunjangan bekas istri dan membayar kembali uang mas perkawinan untuk DITUKAR DENGAN HAK UNTUK CERAI. Ini dinyatakan di Hadis Abu Dawud 12.2220. Apakah ini adil? Ini adalah alat yang canggih di tangan para laki-laki yang ingin menyingkirkan istrinya dan tidak mau bayar uang tunjangan bekas istri dan mengambil kembali uang mahar perkawinan. Yang dia butuh lakukan adalah membuat hidup istri demikian sengsara sampai istri ingin bebas dan menuntut hak cerai. Ini terjadi setiap hari waktu hukum Sharia dilaksanakan.
Aku tidak melihat keadilan apapun di sini. Para perempuan dalam negara-negara Islam seringkali tidak diijinkan untuk bekerja sehingga mereka tidak punya uang. Mereka sangat taat menerima separuh warisan dan jadi hidup susah karenanya. Perceraian berarti kepastian jatuh miskin dan hidup penuh derita. Seringkali lebih baik mati saja dan tingkat bunuh diri diantara kaum perempuan tinggi sekali (terutama di Iran dan Afghanistan).
Pak Mallah berkata: “Dalam Islam, jika suami memukul istri tanpa mengikuti batasan-batasan dalam Qur’an dan Hadis, maka istri bisa menuntut suami di pengadilan dan, jika istri menang, maka istri punya hak untuk melakukan hukum pembalasan dan memukul suami sama seperti suami memukul dia.”
Saya yakin Pak Mallah mau melucu disini ya? Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan memukuli suami berdasarkan keputusan pengadilan. Tapi ini memberi kita pengertian tentang bentuk perkawinan dalam Islam. Bayangkan anak-anak yang dibesarkan di keluarga seperti ini. Tidak heran mengapa mayoritas Muslim punya ego yang demikian besar dan rasa percaya diri yang begitu rendah dan mereka melakukan kekerasan dengan mudah sekali. Mereka berasal dari keluarga amburadul semacam ini.
Pak Mallah berkata “Dalam Islam, korban perkosaan tidak dihukum secara apapun. Mereka adalah korban!”
Apakah ini benar? Dalam Islam, kesaksian seorang perempuan tidak sah. Jadi seorang perempuan yang diperkosa dan tidak bisa menunjuk seorang saksi (biasanya pemerkosa tidak memperkosa di depan umum jadi kemungkinan kecil untuk dapat saksi), maka perempuan itu tidak bisa menuduh pemerkosa. Akan tetapi jika dia jadi hamil, jelas terbukti kalau dia berhubungan seks di luar nikah dan dia bisa dituduh berzinah dan dirajam sampai mati.
Ini bukan khayalan belaka. Ini terjadi setiap waktu. Kita ingat kasus Amina Lawal, perempuan Nigeria yang dijatuhi hukum rajam (dilempari batu) sampai mati dan dibebaskan oleh Amnesty International karena tekanan dunia (baca; negara-negara “kafir” Barat). Tapi ada banyak kasus-kasus serupa yg luput dari publikasi.
Pertanyaannya adalah mengapa kehidupan seks seseorang jadi masalah besar buat masyarakat dan Pemerintah…(?!?) Kebuasan seperti ini seharusnya tidak diperbolehkan di dunia modern. Perzinahan secara moral adalah memang salah dan ini adalah sesuatu (urusan) diantara orang itu dan Penciptanya dan pasangan hidupnya. Pemerintah tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi seseorang.
Bulan lalu, seorang anak IRAN berusia 14 tahun dicambuki sampai mati karena makan di bulan Ramadhan. Ini kan edhan! Orang ingin puasa atau tidak adalah keputusan pribadi. Tapi memukuli orang adalah tindakan kriminal. Hukum Islam adalah kriminal. Memaksakan moralitas agama adalah tindakan kriminal.
Sungguh mengherankan bahwa Muhamad tidak melihat ada yang salah dengan pemerkosaan terhadap tawanan perang perempuan tapi menjatuhkan hukum rajam bagi para pezinah. Muhamad dikutip sbg mengatakan: “Aku hendak memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar dan lalu memerintahkan seorang untuk menyerukan Azan untuk sembahyang dan lalu memerintahkan seorang untuk memimpin orang-orang sembahyang dan lalu aku akan datang dari belakang dan membakar rumah-rumah orang yang tidak datang sembahyang bersama.” Bukhari 9.89.330
Muhamad adalah orang yang suka mengekang. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang tidak menuruti perintahnya.
Nn. Roach mencoba membahas masalah ini dengan angkuh menunjukkan dirinya sebagai perempuan Muslim yang bebas. Nn Roach tidak mewakili perempuan Muslim pada umumnya. Dia hidup di USA dan dia dilindungi oleh undang-undang Amerika (negara Barat “kafir” yg dihina-dina oleh para muslim) yg memberi perlindungan maksimal dan efektif terhadap hak-hak perempuan dan anak. Jika suaminya memukuli dia, dia bisa melawan balik atau suaminya bisa dimasukkan ke penjara. Suaminya juga tahu akan hal itu dan dia menjaga diri.
Saya kenal dengan banyak perempuan bule eks-Muslim yang mengatakan padaku bahwa suami mereka dulu “menyenangkan dan menarik” waktu mereka hidup di negara Barat tapi kemudian mereka pindah ke negara (Islam) suami mereka, dan lalu para suami ini berubah dan pemukulan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pun dimulai. Kisah “Not Without My Daughter” karangan Betty Mahmoodi merupakan kisah nyata dan ini terjadi di begitu banyak perempuan Barat yang menikah dengan para pria Muslim.
Nn. Roach berkata: “Jika aku dipukuli oleh siapapun, suami atau bukan, kamu boleh bertaruh dengan nyawamu, aku akan balik melawan!”
Wahai Nn. Roach, bersyukurlah kamu tidak hidup di negara Islam. “Negara Kafir” (USA & Negara-negara Barat) yang kau benci inilah yang memungkinkan kamu untuk bisa sombong bicara lantang seperti itu. Asal tau aja ya, bahwa para perempuan Muslim yang dianiaya itu tidak kurang cerdas dibandingkan dirimu. Akan tetapi, mereka tidak punya keuntungan seperti posisimu yang dilindungi oleh undang-undang sistem hukum kafir. Mereka hidup di negara-negara Islam di mana mereka tidak punya hak apa-apa.
Sekitar dua bulan yang lalu kita mendengar kisah tragis seorang perempuan Iran yang pergi ke pengadilan meminta hakim untuk memberitahu suaminya agar memukul dia sekali seminggu saja dan tidak setiap hari. Dia hanya ingin hidup dan dia bersedia dipukul seminggu sekali untuk bisa hidup, hak hidup yang dinikmati para perempuan kafir secara otomatis. Perempuan Iran itu tahu jika suaminya menceraikannya, dia tidak bisa ke mana-mana lagi dan bisa jadi pengemis di jalanan. Ini mengingatkan kita semua kepahitan kenyataan hidup perempuan Muslim di negara-negara Islam. Nn. Roach tidak mengerti itu sama sekali, atau mungkin masa bodoh dan tidak peduli, bagaimana kebanyakan perempuan Muslim hidup dan apa yang harus mereka derita.
Nn. Roach berkata: “Tidak ada di mana pun di ayat mana pun yang mengatakan para perempuan harus menerima pukulan dari siapa pun, “ Lalu apa yang dia pikir tentang Q4:34? Penyangkalan ini sungguh membingungkan. Capek deeehh...
Yang lebih membingungkan lagi adalah ketika dia berkata: “Tidak ada masyarakat Islami yang sejati saat ini di tingkat nasional, tidak ada penerapan hukum Sharia yang sejati dan lengkap.” Ini sungguh pernyataan yang mengejutkan. Setelah 1400 tahun, 1,2 milyar Muslim tidak kunjung berhasil menerapkan hukum Sharia di 57 negara-negara Islam mana pun. Bukankah masuk akal untuk mengambil kesimpulan bahwa surga Islam utopia seperti itu hanya ada di khayalan Nn. Roach saja?
Tidak, Nn. Roach, saya tidak mengutuk Islam karena “beberapa orang punya pengertian yang salah akan Islam.” SAYA MENGUTUK ISLAM KARENA APA YANG MUHAMMAD LAKUKAN DAN KATAKAN! Saya mengutuk Islam karena dia membantai mereka yang mengritik dia termasuk kakek berusia 120 tahun dan perempuan penyair yang juga ibu lima anak kecil. Saya mengutuk dia karena penyerangannya terhadap warga sipil tanpa peringatan, karena membunuh orang-orang yang tak bersenjata yang ingin melakukan kegiatan hidup sehari-hari dan karena dia memperbudak para wanita dan anak-anaknya, menjual manusia-manusia sebagai budak, karena dia merampoki orang-orang tak bersalah.
Saya mengutuk Muhamad karena secara berkhianat memenggali 750 Yahudi Bani Quraiza yang tak bersalah setelah mereka menyerah padanya tanpa perlawanan. Saya mengutuk dia karena menyiksa dan membutakan mata-mata tawanannya dengan paku panas agar mereka mengaku di mana mereka menyembunyikan harta mereka dan lalu setelah membunuhi mereka, dia menunjukkan mayat-mayat tak berkepala itu pada istri mereka dan mengambil satu dari mereka (Safiyah) ke dalam tendanya dan tidur dengannya di hari yang sama.
Saya mengutuk dia karena memperkenalkan agama yang tak tahu bertoleransi pada masyarakat Arabia yang tadinya penuh toleran dan menyelenggarakan peperangan dan berbagai pembunuhan yang terus terjadi sampai hari ini dan terus saja mengambil korban.
Wahai Nn. Roach, saya tahu SUKAR bagimu untuk menerima bahwa Muhamad sebenarnya bermaksud memukul ketika dia berkata pukullah istrimu. Tapi kamu harus memilih: menerima atau menolak Islam. Daraba bukan berarti “tepukan ringan”. Daraba berarti pukul. Kata ini maksudnya bukan seperti main musik dengan memukul drum, dikatakan pukullah istrimu. Kamu boleh menyangkal ini sekuat tenaga dan menyembunyikan kepalamu di bawah tanah, tapi kamu tidak bisa merubah kebenaran. Pemukulan didukung Hadis pula.
Abu Dawood 11. 2142: “Sang Nabi berkata: Seorang pria tidak akan ditanya mengapa dia memukul istrinya.”
Cerita lucu lain tentang pemukulan istri dapat dijumpai di Hadis ini: Muwatta 30.2.13. Disini seorang wanita mencoba menipu suaminya agar dia berhenti meniduri pelayan mereka. Tapi Umar mengatakan pada sang suami untuk memukul istrinya dan tetapi meniduri budak wanitanya.
Cerita lain yang lebih lucu lagi adalah ketika Muhamad mengangkat tangannya untuk memukul seorang perempuan yang menolak keinginannya untuk menidurinya. Bukhari 7.63.182
Nn. Roach membual bahwa dia akan melawan balik orang yang memukulnya tapi dia tidak keberatan jika perempuan Muslim lain dipukuli, karena kata dia mereka itu “tidak hormat” dan “tidak bertanggungjawab”. Siapa yang bisa menentukan apakah seseorang itu tidak hormat dan tidak bertanggungjawab? Siapa yang layak jadi hakim? Suaminya! Siapa yang layak memberi hukumannya? Juga: suaminya! Dan tentu saja suaminya itu pulalah yang menjadi pelaku pemukulan itu. Tidakkah ini tampak sedikit tak adil? Bagaimana sistem ini bisa memberi jaminan agar kaum wanita tidak dipukuli sembarangan?
Lebih-lebih lagi, apakah pemukulan ini berguna? Apakah benar untuk memperlakukan wanita yang “tidak hormat” seperti binatang? Di jaman ini kamu bahkan tidak bisa memukuli binatang (karena ada UU perlindungan binatang di dunia Barat) tapi orang-orang Muslim ngotot tidak ada yang salah dengan memukuli istri. Bukankan perceraian lebih baik daripada kekerasan?
Spencer: Pernyataan-pernyataan Pak El-Mallah dan Nn. Roach benar-benar begitu ngawur, menyesatkan dan menipu orang-orang yang belum tahu tentang Islam sehingga dibutuhkan artikel setebal satu buku untuk menguraikannya semua. Contohnya, tentang bab dalam Qur’an yang berjudul ‘Kaum Wanita’, Pak El-Mallah menegaskan bahwa “jika Islam memandang rendah perempuan, bab itu tidak akan diberi judul ‘Kaum Wanita’ atau setidaknya kamu akan menjumpai bab lain yang berjudul ‘Kaum Pria.’ “ Dia dengan enaknya tidak menghiraukan penjelasanku bahwa nama-nama bab-bab dalam Qur’an tidak menunjukkan penghargaan apapun. Lihat sura-sura yang bernama “Rampasan Perang” (, “Tawar Menawar” (64), “Cerai” (65), “Cabut-Nyawa” (79), “Penipu” (83), “Gempa Bumi” (99), “Bencana” (101), “Pelanggar” (104), dan “Murtad” (109). Baiklah, Pak El-Mallah; jadi saya kira menurut logikamu Islam tidak memandang rendah pencabut nyawa, penipu, pelanggar, atau murtad, hah?
Sama juga dengan begitu tulus pandangannya tentang ayat-ayat Qur’an sampai-sampai Ali Sina dan aku telah mengartikan ayat-ayat itu “di luar konteks” (istilah ini selalu siap digunakan oleh politikus-politikus yang tidak jujur di mana pun). Pak El-Mallah berkata, sehubungan dengan Q 4:11-12 tentang penetapan warisan perempuan separuh warisan saudara lakinya, bahwa “ini sama sekali tidak berarti saudara perempuan berharga separuh daripada saudara lakinya.” Kecuali secara finansial, tentunya. Bantahan dia, bahwa “perbedaan warisan ini sesuai dengan perbedaan tanggung jawab finansial”, berantakan karena kenyataannya seorang perempuan dalam dunia Islam yang karena alasan apapun harus mencari nafkah sendiri ternyata tidak pula dapat warisan lebih.
Tentang Qur’an 33:50, yang Ali Sina telah dijelaskan artinya “jika seorang perempuan jadi tawanan perang, majikan Muslimnya diperbolehkan memperkosanya.” Pak El-Mallah berkata: “Ayat yang dikutip ini tidak ada hubungannya dengan perkosaan sama sekali, tidak jelas terjemahan dan interpretasi apa yang digunakan Pak Sina?” Baiklah kalau begitu: aku akan gunakan terjemahan Inggris yang paling disukai oleh orang-orang Muslim, yakni terjemahan Abdullah Yusuf Ali: “O Nabi! Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan mereka yang dimiliki tangan kananmu dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu….” Dengan kata lain, seorang Muslim boleh melakukan hubungan seksual dengan para istrinya dan dengan tawanan-tawanan perang. Aku ingin Pak El-Mallah menyebutkan satu ayat dalam Qur’an yang minta persetujuan budak-budak tawanan perang untuk bersedia melakukan hubungan seksual ini. Tentu saja tidak ada, karena minta persetujuan dari seorang budak adalah hal yang tidak terpikirkan. Tapi hubungan seksual tanpa persetujuan adalah pemerkosaan.
Tentang Qur’an 2:223, Pak El-Mallah dengan tepat menceritakan Hadis anti-Semitik menuduh orang Yahudi menyebarkan takhayul tentang anak-anak yang bermata juling. Tetapi penjelasannya sama sekali tidak mengurangi masalah lebih besar yang disebabkan oleh ayat ini: ini menunjukkan posisi seorang istri sebagai barang milik suaminya, untuk digunakan semaunya oleh suaminya. Pengertian ini ditegaskan di berbagai Hadis, seperti: “Rasul Allah berkata, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan seksual) dan istri menolaknya dan menyebabkan dia tidur dalam kemarahan, para malaikat akan mengutuki istri itu sampai pagi.’ “ (Bukhari IV:54:460).
Dalam hubungan dengan ayat “pukul-istri” yang terkenal itu, Qur’an 4:34, Pak El-Mallah mengeluh bahwa “masalahnya para pengritik Islam menutup mata dari Hadis lain yang menjelaskan beberapa unsur tertentu ayat-ayat Qur’an.” Seperti banyak Muslim apologis lainnya, dia mengutip sebuah hadis yang mengisahkan Muhammad memberitahu orang-orang untuk memukul istri-istrinya hanya dengan siwak, sebuah sikat gigi. Kenyataannya, hadis ini tidak ada di Bukhari, Muslim, atau koleksi hadis lain yang dianggap paling terpercaya oleh orang-orang Muslim. Ibn Kathir tidak menyinggung ini di komentarnya yang panjang lebar tentang Qur’an. Sayangnya, tradisi pukul pakai siwak lebih sering disebut oleh apologis Islam untuk orang-orang Barat daripada untuk orang-orang Muslim itu sendiri. Di lain pihak, akibat mengerikan ayat 4:34 sudah jelas dari penganiayaan fisik terhadap kaum perempuan yang merajalela di dunia Islam.
Tapi Pak El-Mallah tidak menyinggung ini, dan malah menjauhkan diri dari masalah pembicaraan Seminar ini guna melemparkan masalah ke tradisi agama lain, katanya: “Sebenarnya, untuk perbandingan singkat di Alkitab hal yang serupa dapat kita lihat bahwa jika istri membujuk suami untuk menyembah tuhan lain, maka suami harus merajam dia sampai mati (Ulangan 13:7-12).” Jadi kala perempuan dianiaya di seluruh dunia Islam, kita diminta untuk tidak menaruh perhatian, dan sebaliknya malahan merecoki ayat lain dari Alkitab yang tidak dipraktekkan oleh orang Kristen atau Yahudi saat ini. Aku berharap aku bisa berkata tiada Muslim yang mempraktekkan ayat 4:34 hari ini, atau semoga mereka semua menggunakan sikat gigi untuk memukul istrinya, tapi aku tidak bisa mengatakan itu.
El-Mallah lalu menegaskan sebuah Hadis yang dimulai “kaum perempuan akan jadi kebanyakan penghuni Surga, lihat Sahih Muslim, Kitaab al-Jannah, 4/2179, no. 2834.” Nomernya beda dengan edisi yang aku punya (yang dibuat oleh Muslim untuk Muslim), tapi aku cari setiap referensi untuk kaum perempuan di Kitab Al-Jannat dari Shahih Muslim. Yang paling dekat dengan yang disebut El-Mallah adalah ini:”Muhammad melaporkan bahwa beberapa orang mengatakan dengan sombong dan beberapa membicarakan apakah akan lebih banyak pria atau perempuan di Surga. Dalam hal inilah Abu Huraira melaporkan bahwa Abu’l Qasim (sang Nabi suci) berkata: Anggota kelompok pertama yang pergi ke surga akan berwajah seterang bulan purnama di malam hari, dan kelompok berikut akan berwajah seterang bintang di langit, dan setiap orang akan punya dua istri dan sumsum tulang keringnya akan bercahaya di bawah dagingnya dan tidak seorang pun yang tak punya istri di Surga” (no. 6793). Ini sama sekali tidak menegaskan bahwa lebih banyak perempuan daripada pria di Surga, kecuali kalau maksud El-Mallah adalah perempuan lebih banyak daripada pria sebab “setiap orang akan punya dua istri.” Karena ini dipaparkan sebagai hadiah bagi para pria di Surga, dan karena Qur’an juga menyatakan perempuan sebagai hadiah bagi pria di Surga, ini tidak dapat dianggap sebagai tanda bahwa akan lebih banyak perempuan yang diberkati daripada pria. Kelihatannya malah kaum perempuan berada di sana sebagai pelayan-pelayan kaum lelaki saja.
Pak El-Mallah lalu menyebutku mengatakan, “Bayangkan jika semua Muslim melakukan hukuman rajam atau menggantung korban perkasaan atau mencambuki perempuan untuk pelanggaran ringan seperti memperlihatkan sebagain rambut.” Sebenarnya, ini dikatakan oleh Pak Ali Sina, dan bukan olehku. Aku serahkan tanggapannya bagi Pak Sina, yang sangat amat lihai membela pendapatnya.
Dalam menanggapi yang kutulis tentang penganiayaan para istri di Pakistan, Pak El-Mallah berkata: “Haruskah kita menyalahkan Islam untuk apa yang pria Kristen lakukan di U.S. dan pria Hindu di India, belum lagi di Filipina, Chili, dll?” Ini tidak relevan, kecuali kalau Pak El-Mallah dapat menyebut ayat dari Alkitab Kristen atau Hindu yang dapat dibandingkan dengan Q 4:34, juga dengan bukti bahwa lelaki Kristen dan Hindu memperlakukan istri mereka secara sadar sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ayat 4:34 digunakan para lelaki Muslim untuk mensahkan tindakan mereka memukuli istri-istrinya, yang membuat pernyataan Nn. Roach bahwa “tidak ada satu pun ayat yang mengatakan perempuan harus menerima pukulan dari siapapun” terasa janggal.
Dan untuk perkataanya bahwa “tidak ada masyarakat Islami sejati saat ini di tingkat nasional, tidak ada penerapan hukum Sharia yang benar dan lengkap, karena itu bagaimana mungkin seseorang bisa mengritik hukum Sharia,” ini mengingatkanku pada seorang anggota Partai Revolusi Komunis yang kukenal di perguruan tinggi. Dia sering menyingkirkan bukti apapun tentang pembinasaan yang dilakukan Partai Komunis di Uni Soviet dan China dengan mengatakan bahwa mereka bukan Komunis sejati dalam arti apapun, jadi tidak ada yang mereka perbuat yang dapat dipakai untuk melawan paham Komunisme! Saudi Arabia dan Iran mengaku sebagai negara Sharia, dan banyak negara-negara Islam lainnya yang menerapkan berbagai bagian dari hukum Sharia, yang dinyatakan secara publik dan jelas diketahui. Jadi apakah kita harus percaya bahwa Saudi dan Iran, yang menerapkan Sharia dengan taatnya dengan semua ilmuwan dan ahli hukum mereka, gagal untuk melaksanakan hukum Sharia yang sejati? Menyingkirkan bukti negara-negara Islam ini karena mereka tidak sesuai dengan gagasan Nn. Roach tentang Sharia adalah sungguh menggelikan.
Nn. Roach lagi-lagi menggunakan tipuan murahan yang mencoba mengalihkan perhatian dari Islam yang adalah bahan pembahasan di Seminar ini, ke masalah Kristiani dengan beberapa kutipan pernyataan dari para ketua/tokoh gereja tentang perempuan. Tidak ada orang Kristen, Katolik, Ortodoks, atau Protestan yang menganggap pernyataan-pernyataan itu sebagai perintah atau norma bagi kepercayaan dan perilaku mereka: mereka tidak punya hal yang sama seperti perintah di Qur’an 4:34 atau dasar Islami lain yang menindas kaum perempuan. Meskipun begitu, Nn. Roach menganggap kita seharusnya menganggap pernyataan-pernyataan para pemimpin gereja tsb sebagai dasar perbandingan moral yang sama dengan ayat 4:34. Seharusnya Nn. Roach bukannya memuaskan dirinya sendiri dengan menjelek-jelekan Kristen, tapi menghadapi langsung sumber-sumber Islami yang menekan kaum perempuan dan mencari jalan ke luar agar akibatnya yang parah dapat dikurangi.
Tentang kuliah pendeknya mengenai aturan membaca Hadis, aku tahu betul susunan pengetahuan dalam Hadis, juga tentang kenyataan bahwa orang-orang Muslim secara umum menerima Shahih Bukhari dan Muslim sebagai koleksi Hadis yang paling bisa dipercaya. Karena itu pula aku mengutip dari hadis-hadis ini. Jika Nn. Roach benar-benar berpikir ayat-ayat yang kukutip tidak tepat dan tidak dapat dipercaya, silakan berkata begitu, meskipun aku yakin dia sadar kalau dia berkata begitu, dia akan memisahkan diri dari pandangan umum Islam di jaman lalu dan sekarang. Jika dia memang mau memisahkan diri, aku harap dia menerangkan pada kita bagaimana anjurannya agar hadis-hadis itu tidak lagi menindas kaum perempuan Islam, dan dapat diterima orangorang Muslim pada umumnya.
Masih berhubungan dengan Qur’an 4:34, Nn. Roach mengatakan : “Mungkin mereka yang mengritik Qur’an sebaiknya menyelidiki kemungkinan salah menerjemahkan ketika membacanya.” Aku heran mengapa hanya dia saja yang tahu bahwa “daraba” bukan berarti “pukul” tapi “tepukan ringan, tidak meninggalkan bekas.” Ini tampaknya tidak tertangkap oleh semua orang yang sudah menerjemahkan Qur’an ke dalam bahasa Inggris, baik Muslim atau non-Muslim. Ali, Shakir, Ahamed, Fakhry, Dawood, Arberry dan Al-Hilali dan Khan menerjemahkannya sebagai “pukul”; Pickthall memilih kata “hajar” (bukan tepukan ringan sama sekali nih). Mengapa menutup-nutupi kenyataan dan bukannya mengakuinya dan berusaha mencari perubahan yang positif?
Roach: "Apa yang dapat diperbuat terhadap kebencian sembarangan seperti itu?"-- Tolkien
Aku ingin mengemukakan hanya beberapa hal dalam jawaban ini karena tampaknya apapun yang telah dikatakan, pihak lawan (yang bersikap kekanakan dan menggunakan bahasa yang merendahkan) akan mengulang pandangan mereka tanpa bukti bahkan dengan bukti-bukti di muka yang sudah ditunjukkan untuk melawan pandangan mereka. Sudah jelas bahwa mereka yang masuk dalam Seminar ini dengan pikiran yang sudah pasti, mereka berpendapat mereka tahu semua, mereka punya semua fakta. Pak Sina, hanya karena kau dulu tinggal di Timur Tengah tidak menjadikanmu seorang ahli dalam Islam. Tanyalah pada Saddam Hussein yang percaya dirinya adalah seorang Muslim padahal dia dan anak-anaknya menyiksa para tawanan, sesuatu yang sangat terlarang dalam Islam, (tidak peduli kamu percaya atau tidak) atau kamu juga bisa tanya marinir Amerika yang berangkat ke Iraq dan hanya dari pengalaman mereka (yang semuanya negatif karena mereka tidak mau berada di situ) membuat satu pandangan tentang semua orang Timur Tengah (termasuk kamu) dan berpikir bahwa merek tahu semua tentang Islam sedangkan yang mereka lihat adalah negara sekuler di mana masyarakatnya telah membelokkan hukum-hukum Islam untuk menyenangkan diri mereka sendiri (sebagaimana yang dilakukan orang-orang di seluruh dunia). Dan satu hal yang kusenangi dari Islam ialah hanya suamiku yang memanggilku “sayang” (dear) tidak peduli apakah orang lain mau merendahkanku atau melecehkanku secara seksual.
Aku ingin berkata bahwa Pak Sina dan Pak Spencer hanya membuktikan kebenaran pandanganku tentang para pemimpin gereja dan orang-orang Muslim yang tidak mempraktekkan Islam secara benar ketika mereka berdua memasukkan contoh-contoh dari dua sarjana YANG TIDAK MEWAKILI ISLAM, MEREKA MEWAKILI PENDAPAT MEREKA SENDIRI YANG SANGAT KACAU DALAM MEMANDANG PEREMPUAN, SAMA SEPERTI PARA PEMIMPIN GEREJA YANG KUSEBUTKAN SEBELUMNYA.
Bicara tentang ke luar dari jalur umum, aku belum pernah dengar para sarjana ini dan jika aku bertemu siapapun yang menggunakan mereka sebagai sumber, maka aku seketika akan membenarkan cara pikir mereka. Siapa yang mengalihkan perhatian sekarang, dengan melemparkan pendapat-pendapat yang tidak diperhatikan oleh orang-orang Islam (sejati)?
Kau membuktikan ketidakpedulianmu akan Islam sejati dengan menggunakan orang-orang Saudi dan pemerintahannya sebagai contoh: tidak ada kerajaan atau keluarga ningrat yang diperbolehkan dalam Islam, karena itu orang-orang Saudi, yang seharusnya jadi pengurus kota suci Mekah, mencemooh wajah Islam dengan memamerkan keluarga kerajaan dengan kekayaannya. Kita sering memanggil raja mereka King Fahd sebagai King Fraud (Raja Tipu) karena dia menipu masyarakat di negara mereka sendiri, terutama kaum perempuan, yang tidak boleh nyetir mobil, nah ini benar-benar konyol, akhirnya aku dan Pak Sina bisa setuju bersama akan satu hal. Sungguh lucu bagiku bahwa orang-orang dewasa bisa berpura-pura tidak mengerti bahan perbandingan, atau mengatakan bahwa itu di luar topik pembicaraan guna merendahkan kebenarannya. Sisa komentarku aku tujukan bagi pembaca di Seminar ini: Wahai para pembaca, Tidak ada seorang pun di Seminar ini yang ahli dalam Islam atau bidang apapun. Kumohon engkau sebagai pihak yang menaruh perhatian untuk mempelajari sendiri Islam dan kritiknya karena inilah jalan satu-satunya untuk benar-benar dapat menentukan pendapat sendiri atas sebuah masalah. Sebagai seorang yang dulu benci Islam karena hal-hal mengerikan yang KUDENGAR DAN YANG DISAMPAIKAN ORANG PADAKU, aku jadi punya pendapat yang tidak tepat berdasarkan pendapat-pendapat media dan orang-orang yang membenci Islam dan segala yang diwakilinya.
Aku juga menganjurkanmu untuk mencari orang-orang Muslim sendiri, untuk mengenal tetanggamu yang Muslim, atau rekan kerja dan kalian akan lihat bahwa mereka tidak memukuli istrinya, mereka tidak memandang perempuan sebagai binatang, KEPERCAYAAN MEREKA TIDAK MEMPERBOLEHKAN MEREKA BERPIKIR DEMIKIAN. Saya menyesal jika engkau sudah terpengaruh oleh kebohongan yang dipaksa untuk ditelan bagimu oleh media dan Pemerintah Amerika, tapi jangan biarkan itu membuatmu ragu untuk belajar lagi, bahkan jika kau tidak setuju akan itu.
Jika seorang perempuan Muslim merasa ditekan, terserah dia untuk memohon pertolongan Allah dan lalu pertolongan itu akan membebaskannya dari segala tekanan, bahkan jika itu berarti kematian. Beberapa orang akan mengritikku dan berkata bahwa seorang perempuan seharusnya tidak usah memilih untuk mati agar tidak dipukuli. Tapi aku bertanya padamu: Apa yang akan kita katakan pada para perempuan Amerika yang berada dalam kekerasan keluarga? “Kemasi tasmu, bawa anak-anakmu dan cari tempat perlindungan” bagi banyak perempuan ini sama dengan mati karena suami mereka tampaknya bisa menemukan mereka ke mana pun mereka pergi. Setidaknya dalam Islam jika ini kasusnya, seorang perempuan akan masuk surga bersama-sama Allah jika dia adalah korban tak bersalah, dan dia tidak akan jadi sekedar angka korban statistik kekerasan rumah tangga. Kaum perempuan yang tahu hak-hak Islaminya dan belajar hukum-hukum Islam selalu akan mencari sheikh atau imam untuk membela posisi mereka karena para pria ini adalah orang yang mencintai Allah dan kebenaran yang ditunjukkan dalam Qur’an yang melindungi perempuan. Kuanjurkan engkau untuk membaca Qur’an dan berbicara dengan para ahli tentang artinya sehingga kau dapat pengertian yang lebih baik tentang artinya jadi seorang Muslim. Segala hal yang baik yang telah dikatakan di sini datang dari Allah, dan segala yang jelek yang telah dikatakan di sini adalah dari saya atau dari setan. Jazakum allahkhair – Semoga Allah memberkahimu semua karena membaca surat ini dan mendengarkan secara obyektif. Saudaramu dalam Islam, Julia Roach.
El-Mallah: Pak Sina sekali lagi gagal untuk mengerti logikaku yang sederhana ketika dia berkali-kali menuduh Islam sebagai alasan perlakuan yang salah terhadap kaum perempuan di negara-negara (yang dikenal sebagai) Islam. Sekali lagi ini tidak membuktikan apa-apa, karena ini juga masalah yang sama di banyak negara-negara dunia ketiga non-Muslim, apalagi di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat.
Aku ingin menerangkan bahwa pengertianku tentang Qur’an/Hadis datang dari pendapat-pendapat para sarjana. Jadi apa yang kuutarakan sebelumnya tentang persamaan hak bukanlah pendapatku seorang diri, ini juga pendapat para sarjana yang telah kukutip. Sekali lagi, masalah utamanya adalah orang-orang Muslim di negara-negara Islam tidak menyadari agamanya sendiri. Satu contoh sederhana adalah sedikitnya jumlah Muslim yang sembahyang lima kali sehari. Tidak perlu butuh banyak pengetahuan tentang Islam untuk menyadari bahwa sembahyang adalah wajib, dan kaulihat bahwa banyak Muslim di Mesir tidak sembahyang.
Pak Sina ingin menghakimi Islam dan Qur’an berdasarkan perilaku orang-orang yang tidak mengikuti dan tidak mengerti Islam sepenuhnya. Meskipun begitu, aku harus menyalahkan para Muslim ini karena ketidakpedulian mereka, aku harus menyalahkan Pemerintahan pro-Barat yang tidak mendidik rakyatnya tentang agama mereka, dan ini sebagian disebabkan oleh pengaruh Pemerintah Amerika yang mengajarkan sekulerisme.
Tentu saja tidak semua akan diberi berkat yang sama, berkat tergantung atas amal yang dilakukan tiap orang, sebanyak rahmat yang diberikan pada setiap orang. Jadi apa yang diharapkan dari seorang raja akan berbeda dengan apa yang diharapkan dari seorang pembersih WC karena mereka diberi rahmat yang berbeda. Contoh paling dekat untuk menggambarkan ini adalah ujian GRE atau SAT, orang dapat pertanyaan yang berbeda dan pertanyaan itu dinilai secara berbeda berdasarkan tingkat kesulitannya.
Pak Sina dan Pak Spencer boleh saja terus mengartikan ayat-ayat dari sini ke sana untuk membuktikan bahwa Islam memberi pahala bagi pria di surga dan tidak bagi perempuan. Mereka dapat menyangkal bahwa besarnya pahala tidak sama. Pada dasarnya yang Allah katakan: “Mereka akan dapat semua yang mereka harapkan dari Tuhan mereka. Ini adalah pahala dari orang yang beramal.” Az-Zumar Ayah 34
Jadi setiap orang akan dapat segala yang mereka inginkan, baik PRIA atau PEREMPUAN. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Apapun yang diinginkan perempuan di surga akan didapatnya. Dapatkah orang berpikir tentang pahala yang lebih adil daripada ini?
Qur’an itu mudah untuk dimengerti dan dilaksanakan, ”Dan bagi mereka yang percaya, mereka tahu bahwa Kebenaran dari Tuhan mereka, tapi bagi mereka yang tak percaya, mereka berkata: “Apa yang Allah maksudkan dengan kisah ini?” Dengan ini Dia menyesatkan banyak, dan dengan itu banyak yang Dia bimbing. Dan Dia dengan itu menyesatkan hanya mereka yang Al-Fasiqun (pemberontak, orang yang tak taat pada Allah).”
Negara-negara yang disebut sebagai negara Muslim tidak menerapkan Islam bukan karena Islam itu sulit dimengerti tapi ini adalah diskusi yang lain sama sekali.
Contoh yang digunakan Pak Sina (ayat 30:21) hanya membuktikan tanpa ragu dia memelintir arti ayat-ayat guna dipakai menyerang Islam. Ayat ini berkata pada pria dan perempuan. Jadi Tuhan berkata pada keduanya, memberitahu mereka bahwa Dia sudah menciptakan pasangan hidup mereka.
Ingatlah aturan dasar interpretasi Qur’an bahwa jika kata-kata maskulin disebutkan, itu berarti kedua gender, kecuali di beberapa kasus, ketika kata-kata feminin disebutkan.
Tapi Pak Sina tampaknya berkali-kali tidak mempedulikan aturan ini. Jadi ayat 30:21 ini mengatakan bahwa pria diciptakan untuk perempuan, dan perempuan diciptakan untuk pria. Ayat ini tidak bicara mengenai kesenangan (yang disebut Pak Sina) tapi menyebut ketenangan, kasih, dan pengampunan. Bahkan jika beberapa Tafsir (mis. milik Razi) mengatakan bahwa ayat ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Allah menciptakan Hawa bagi Adam, apakah itu berarti bahwa pria lebih baik daripada perempuan? Jika ini logikanya maka debu lebih baik daripada pria, karena Adam dibuat dari debu! Tentang pernyataan yang Pak Sina kutip dari Shirazi, yang merupakan ahli filsafat di zama Safavid.
Tulisan Shirazi tidak dianggap sebagai sumber bahan keterangan bagi sebagian besar masyarakat Sunni seperti aku. Pak Sina jelas tidak dapat bahan dari Qur’an yang dapat dia gunakan untuk mendukung logikanya sehingga dia menggunakan logika Shirazi.
Lalu dia menyebut penanggap lain sebagai apologis, TAPI yang benar adalah penanggap TERKENAL Sunni lama dan baru TIDAK PERNAH berkata bahwa perempuan digolongkan dalam Qur’an sebagai binatang, TIDAK PERNAH.
Pernyataan yang dibuat oleh saudara Islam ku (Nn. Roach) adalah “Tidak ada masyarakat Islami yang sejati saat ini di tingkat nasional,” dan “tidak ada penerapan hukum Sharia yang sejati dan lengkap”. LOGIKA INI membuat Pak Sina berkata: “Ini sungguh pernyataan yang mengejutkan. Setelah 1.400 tahun, 1.2 milyard Muslim tidak kunjung berhasil menerapkan hukum Sharia di 57 negara Islam mana pun. Bukankah masuk akal untuk mengambil kesimpulan bahwa surga Islam utopia seperti itu hanya ada di khayalan Nn. Roach saja?”
Dalam bahasa Inggris, kata “tidak ada saat ini”, bukan berarti “tidak pernah ada sejak 1.400 terakhir.” Ternyata ADA untuk beberapa abad, sudah jelas sejarah dan kemakmuran Islam yang memajukan dunia dalam segala bidang sudah cepat dilupakan.
Aku tidak menerima penggunaan kalimat “Muslim apologis”. Kita TIDAK PERLU MINTA MAAF APAPUN. Kami akan mencoba menjelaskan agama Islam sebenarnya jauh dari praktek dan pengertian yang salah karena Allah memerintahkan begitu. Kita tidak melakukan ini agar engkau MENERIMA/SUKA akan kami. Kami melakukannya untuk keuntungan para pembaca. Bukti lain Pak Sina hanya mencopy-paste pengertian salah yang diulang-ulang tentang Islam adalah saat dia mengulas Hadis yang berkata “sembahyang seorang Muslim bisa terputus jika seekor keledai, perempuan, dan anjing hitam lewat”.
Hadis di atas telah dibatalkan dengan Hadis yang dikatakan Aisha (Al-Bukhari, Volume 1, Book 9, Number 493). Ibn Hajar di Fath al-Bari menyatakan bahwa al-Bukhari mengemukakan Hadis ini untuk menunjukkan bahwa sebenarnya orang sembahyang menghadap seorang perempuan tidak membuat sembahyang jadi batal. Umm Salamah menegaskan pernyataan Aisha bahwa ketika mereka sedang datang bulan dan mereka lewat atau berbaring di depan sang Nabi ketika mereka sembahyang, dan sang Nabi tidak pernah mengatakan pernyataan apapun. Ali dan Ibn Umar membenarkan yang dikatakan Aisha dan Umm Salama dengan berkata, hal-hal yang dsebut di atas TIDAK membatalkan sembahyang Lihat (al-Jurjani, al-Kamil fi Duafa, 2:397, 7:104)
Pak Sina berkata karena dalam Islam pihak suamilah yang bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga, maka sang istri dianggap sebagai karyawan yang harus melayani suaminya.
Kuberi Pak Sina pandangan lain. Bagaiman jika si suami malang harus kerja berat untuk menyediakan makanan ISTRI, baju ISTRI, obat ISTRI, keperluan ISTRI, kendaraan ISTRI, mengurus anak ISTRI, memenuhi kebutuhan seksual ISTRI … dan daftar akan terus lebih panjang, ketika istri diam di rumah SUAMI?
Sebenarnya kedua pandangan ini tidak mencerminkan apa yang diajar Islam. Tanggung jawab finansial yang harus dipenuhi suami sama dengan tanggung jawab istri akan rumah dan keluarga, dan karena kita membicarakan kesamaan hak antara pria dan perempuan dalam Islam, maka sudah sangat jelas bahwa Islam meletakkan tanggung jawab yang sama besarnya di kedua belah pihak. Jadi kecuali Pak Sina membantah bawah tanggung jawab satu pihak lebih tinggi/rendah daripada pihak lain, pikiran yang obyektif seharusnya bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam tidak memperlakukan perempuan dengan cara berbeda.
Pak Sina mengatakan bahwa: “Perkawinan yang baik adalah kesatuan di mana suami dan istri adalah partner yang sama di segala bidang”. Nah, apakah ini berarti sang istri bisa bertanya pada suaminya, “mengapa harus aku yang mengandung bayi di dalam perutku? Kenapa tidak kau saja yang mengandung?” atau “mengapa harus aku yang berlelah-lelah menyusui bayi, mengapa kita tidak membagi tugas ini berdua?”
Jika ini kelihatannya konyol, ya memang maksudnya begitu, karena pernyataan Pak Sina sungguh tidak realistis. Pendekatan Islami sangat masuk akal, yakni, kedua pihak suami dan istri memegang peran yang sama pentingnya meskipun mereka punya tugas yang penting.
Tentang hak perempuan untuk bercerai, Pak Sina mengalihkan bantahannya setelah dihadapkan dengan kenyataan bahwa seorang perempuan Muslim punya hak untuk menceraikan suaminya (dan ini dibantah Pak Sina di jawaban sebelumnya) dan bukannya mengakui hak-hak Islam bagi perempuan yang bisa dilihat dari pemikiran yang obyektif, Pak Sina nekat membuat pengertian yang salah tentang Khole di pernyataannya.
Karena pria harus memberi istri mas kawin (dowry) sebelum nikah, adalah adil jika pihak perempuan tidak mau lagi melanjutkan hubungan ini, dia seharusnya mengembalikan dowry itu pada suami. Apa yang tidak adil dalam hal ini? Penegasan Pak Sina bahwa istri harus menyerahkan tunjangan (bekas) istri juga sangat salah, bahkan Hadis yang dikutipnya tidak pernah berkata apapun tentang tunjangan istri, dan tidak juga pada Hadis yang menjelaskan tentang Khole.
Tentang Hadis Abu Dawud 11.2142: “Sang Nabi berkata: Seorang pria tidak akan ditanya mengapa dia memukul istrinya.” Pak Sina akan mengutip Hadis apapun untuk memuaskan nafsunya menjelekkan Islam tanpa peduli akan kebenarannya. Hadis yang disebut itu tidak dipercaya (lemah) oleh para ilmuwan Hadis Islam.
Tentang kisah di muwatta 30.2.13 yang dikatakan Pak Sina, kita bisa jelas melihat bahwa ini bukan perkataan atau perintah dari Sang Nabi. Ini lebih mirip dengan keputusan hakim dalam kasus yang dihadapinya. Dalam hal ini, si perempuan bohong pada suaminya tentang peraturan dalam agama, dia bilang bahwa Tuhan telah membuat yang taat menjadi tak taat karena rasa cemburunya terhadap pelayan wanitanya. Nah, apa akibatnya jika seseorang berbohong tentang suatu hukum, hanya untuk memuaskan kebutuhan pribadinya? Hukuman yang ditanggungnya bukan karena suaminya ingin tidur dengan budak wanitanya, tapi karena berbohong tentang hukum.
Tentang kisah yang Pak Sina kutip bahwa Muhammad mengangkat tangan untuk memukul perempuan yang menolak ajakan sekualnya di Bukhari 7.63.182. Pak Sina dengan sengaja mengubah kata yang ada di Hadis dari “untuk menepuk” jadi “untuk memukul”. Apakah begini tingkah seorang sarjana dalam sebuah Seminar? Ini seluruh kisah dalam Hadis ini agar pembaca berhati-hati akan bukti yang bertentangan dengan Islam dipalsukan untuk mengecoh orang.
Dikisahkan oleh Abu Usaid: Kami ke luar bersama sang Nabi di sebuah taman yang bernama Ash-Shaut sampai kami mencapai dua tembok dan kami duduk diantara tembok itu. Sang Nabi berkata, “Duduk sini, “ dan dia pergi (ke taman). Jauniyya (perempuan dari Bani Jaun) dibawa dan ditempatkan di sebuah rumah dalam kebun palem kurma di rumah Umaima bint An-Nu’man bin Sharahil, dan inang pengasuhnya ada bersamanya. Ketika sang Nabi mendekatinya, dia berkata padanya, “Berikan padaku dirimu (dalam perkawinan) sebagai hadiah.” Dia (Umaima) berkata, “Dapatkah seorang putri raja memberikan dirinya pada orang biasa?” Sang Nabi mengangkat tangannya untuk menepuknya agar dia jadi tenang. Dia bilang, “Aku mencari perlindungan Allah dari kamu.” Nabi berkata, “Kamu telah meminta perlindungan dari Dia yang memberi perlindungan.” Lalu sang Nabi pergi meninggalkan kami dan berkata, “O Abu Usaid! Berikan dia dua buah pakaian linen putih untuk dikenakan dan biarkan dia pergi ke keluarganya.”
Dikisahkan oleh Sahl dan Abu Usaid: Sang Nabi menikah Umaima bint Sharahil, dan ketika dia dibawa padanya, Nabi merentangkan tangannya ke arah dia. Tampaknya Umaima tidak suka akan hal itu, lalu kemudian Nabi memerintah Abu Usaid untuk mempersiapkan Umaima dan menyediakannya dua buah baju linen putih.
Aku tidak berkata bahwa SEMUA bab diberi judul dalam Qur’an untuk memuji topik yang bersangkutan dalam Sura (“Kafir” yang menjelaskan siapa tidak percaya pada Tuhan dikutuk, tapi ada bab lain berjudul “Muslims” di mana kualitas orang beriman dibahas dan dipuji). Jadi bagaimana kita tahu jika suatu judul merupakan tanda pujian, kutukan, atau hanya sebagai sebutan saja? Ya ini diketahui dari isi Sura yang menerangkan bab itu. Dalam kasus bab 4, Sura Al-Nisaa, Tuhan menjelaskan beberapa aturan pada perempuan Muslim dan memberi mereka kabar sukacita tentang kesamaan anugrah seperti yang dijelaskan di ayat 4:124. Jadi dengan melihat isi Sura, kita bisa dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa Islam tidak memandang rendah perempuan.
Tentang keamanan finansial bagi perempuan dan hukum warisan, aku sudah menyatakan bahwa keamanan finansial bagi perempuan Muslim dijamin. Suaminya bertanggung jawab akan hal itu. Jika dia tidak bersuami, maka itu adalah tugas ayah, abang, atau pamannya. Jika dia tidak punya keluarga, maka negara akan mengurus dia secara finansial. Jadi berdasarkan hukum Islam, seorang perempuan tidak perlu menafkahi diri sendiri. Jika dia ingin bekerja untuk dapat penghasilan lebih, maka ini tidak berarti dia dapat bagian warisan lebih atau ini jadi tidak adil sebab dia sudah punya orang lain yang memenuhi kebutuhan finansialnya. Jadi, jika seorang perempuan bercerai, dia tetap tidak harus menafkahi diri sendiri. Adalah tanggung jawab dari anggota keluarga pria atau negara (jika ada) untuk melakukan ini. Jadi jika dia bercerai dan dia tidak punya uang, maka mereka harus menunjang kebutuhan finansialnya. Ini bukan sebagai derma, tapi sebagai kewajiban. Sanggahan Pak Spencer tidak berdasar.
Tentang ayat 33:50, terjemahan Pak Spencer tidak mengandung hal perkosaan di dalamnya, persis seperti yang kukatakan. Tentang persetujuan budak perempuan untuk melakukan hubungan seksual: ijinkan aku membetulkan Pak Spencer dengan ayat 24:33. Dikisahkan oleh Jabir ibn Abdullah: “Musaykah, seorang budak perempuan dari Ansari, datang dan berkata: Majikanku memaksaku untuk berhubungan kelamin.” Karena hal itulah ayat ini dikeluarkan: “Tapi jangan paksa pelayan wanitamu untuk melacur (kalau mereka menginginkan kesucian)”. (24:33) (Terjemahan dari Sunan Abu Dawud, Cerai (Kitab Al-Talaq), Buku 12, Nomer 2304).
Lebih lagi, di Hadis yang disebutkan al-Bukahir ketika seorang perempuan berkata pada sang Nabi setelah dia berusaha mendekatinya. “Aku mencari perlindungan Allah dari kamu.” Nabi berkata, “Kamu telah meminta perlindungan dari Dia yang memberi perlindungan.” Lalu sang Nabi pergi. Ini jelas menunjukkan karena perempuan tidak setuju, sang Nabi pun tidak memaksa dia untuk melakukan apapun. Lihat Bukhari 7.63.182
Pak Spencer, mempertentangkan diri sendiri ketika dia menuduh pihak Muslim menggunakan kalimat “di luar konteks” (istilah ini selalu siap digunakan oleh politikus yang tidak jujur di mana pun). Sedangkan dia menggunakan kata “anti Semit” (istilah ini selalu siap digunakan bagi yang siapapun yang membahas sejarah kaum Yahudi). Aku akan menghargai ini jika Pak Spencer menyediakan bukti-bukti bahwa kisah anak-anak juling ini adalah takhayul dan bukannya hanya pendapat dia belaka. Pak Spencer tidak mempedulikan penjelasanku tentang menggunakan siwak, SEKALI LAGI, yang disebutkan Nabi adalah “darban ghayr mubarrih” yang berarti pukulan ringan, dan dimengerti oleh rekan-rekannya (seperti Ibn Abbas) sebagai penggunaan simbolis miswak (sikat gigi kecil). Sebagai referens, lihat (Sahih Muslim, Ketab AlHajj, no. 2137, Tafsir Al-Tabari)
Pak Spencer ingin menghubungkan masalah perempuan di negara ketiga dengan Islam, padahal alasan sebenarnya adalah kurangnya pengertian benar akan Islam. Tapi dia tidak sudi berlaku obyektif dan cukup adil dalam membahas agama lain dengan penelaahan yang sama seperti, sekali lagi, di Ulangan 13:7-12. Kamu ingin membahas masalah perempuan di negara ketiga? Boleh. Mengapa kau tidak membahas masalah perempuan di pekarangan belakangmu: Di USA kita lihat statistik berapa perempuan dirawat, diambil dari 1995 National Crime Victimization Survey of the U.S. Department of Justice and the National Domestic Violence Hotline Fact Sheet and Statistics (You can order this Special Report (NCJ-154348) "Violence Against Women: Estimates from the Redesigned Survey August 1995" by calling the Bureau of Justice Statistics Clearinghouse, 800-732-3277and the National Domestic Violence Hotline Fact Sheet and Statistics.)
BERAPA BANYAK WANITA DIANIAYA DI USA? Perempuan usia 12 atau lebih tua setiap tahun terdapat hampir 5 juta korban kekerasan di 1992 dan 1993. Perempuan dan gadis usia 12 ke atas setiap tahun melaporkan sekitar 500.000 kasus perkosaan dan penyerangan seksual, hampir 500.000 perampokan dan 3.8 juta penyerangan.
SIAPA YANG JADI PENGANIAYA? 29% dari semua kekerasan terhadap perempuan dilakukan seorang diri, pelaku adalah orang yang dikenal (suami, bekas suami, pacar atau bekas pacar). Perempuan setiap tahun melaporkan 500.000 kasus perkosaan dan penyerangan seksual. Kawan korban melakukan separuh dari perkosaan atau penyerangan seksual ini. Orang asing melakukan 1 dari 5 pelanggaran ini.
MENGHORMATI PEMBUNUHAN DI AMERIKA? Dari 5.328 perempuan dibunuh di tahun 1990, FBI data menunjukkan separuh lebih dilakukan oleh suami atau pacar.
KEKERASAN ANTAR PASANGAN Setidaknya 16% pasangan Amerika mengalami penyerangan setiap tahun. 40% dari ini mengalami tindakan kekerasan sangat serius, seperti ditendang, digigit, dipukul, dicekik, dan penyerangan dengan senjata. Poll nasional tahun 1993 menunjukkan bahwa 34% kaum dewasa di U.S. melaporkan jadi saksi pria memukuli istri atau pacar dan 14% dari perempuan melaporkan suami atau pacar bertindak kasar terhadap mereka.
KECELAKAAN FISIK THD. WANITA DAN ANAK KARENA PENGANIAYAAN. Selama dekade akhir, kekerasan rumah tangga menjadi alasan utama perempuan dirawat di ruang gawat darurat. Dari 20% sampai 30% wanita yang dirawat oleh dokter gawat darurat menunjukkan setidaknya satu atau lebih tanda-tanda penganiayaan fisik. 10% korban sedang hamil pada saat penganiayaan terjadi. 10% melaporkan anak mereka juga dianiaya oleh pelaku.
FAKTOR EKONOMI DALAM PENGANIAYAAN WANITA Perempuan berusia 19 sampai 29 tahun dalam keluarga dengan pendapatan di bawah $10.000 lebih banyak dibandingkan perempuan lain jadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang dekat.
Jadi statistik di atas menunjukkan bagaimana perempuan diperlakukan di “Negara Kristen” ini. Haruskah kita tetap menyalahkan Islam karenanya? Ada masalah-masalah mengapa perempuan diperlakukan seperti itu, dan Islam bukanlah sebabnya, tapi tidak adanya Islamlah sebabnya. Islam menyediakan jalan ke luar atas masalah ini.
Sina: Nn. Roach memulai balasannya dengan menuduh Robert Spencer dan aku merasa “benci sembarangan.” Yang hanya dapat kukatakan adalah aku tidak pandang agama orang, ras orang atau gender orang. Aku tidak melihat ada perbedaannya. Aku buta terhadap semua itu. Karena itu aku mencintai Muslim, sama seperti aku mencintai orang Yahudi, Kristen, atheis, dan siapapun. Tapi aku juga bisa berkata, tidak seperti beberapa ideologi dan agama, aku tidak membagi umat manusia sebagai orang beriman atau tidak beriman dan tidak membenci orang karena kepercayaan mereka. Aku memerangi sistem kepercayaan yang penuh kebencian – bukan pada korban sistem kepercayaan itu. Aku tidak melihat apa salahnya dengan membenci ketidakpedulian, kekerasan, barbarisme, dan diskriminasi.
Nn. Roach berkata menyiksa tahanan perang sangat dilarang dalam Islam. Benarkah begitu? “Di bulan Maret 2002, Parlemen Iran (Majelis) mengeluarkan aturan hukum yang membatasi penyebaran praktek penyiksaan dan penggunaan kekerasan untuk memaksa orang mengaku perbuatannya di pengadilan kriminal. Di hari Minggu, 9 Juni, pengajuan aturan ini ditolak oleh Council of Guardians, badan beranggotakan 12 imam senior yang ditunjuk oleh Ketua Agung Ayatollah Khamenei yang peranannya adalah untuk memastikan semua aturan hukum yang dikeluarkan Majelis, dalam pandangan mereka, sesuai dengan Islam. Council menyatakan bahwa aturan hukum ini akan membatasi kekuasaan para hakim untuk memberikan keputusan berdasarkan pengakuan yang diberikan terdakwa dan karena itu hukum ini bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.”
Mungkin Nn. Roach akan memberitahuku bahwa Iran bukanlah negara Islam sejati. Apakah Muhammad seorang Muslim yang baik?
“Beberapa orang sakit dan berkata, “O Rasul Allah! Berikan kami tempat bernaung dan makanan”. Lalu ketika mereka telah jadi sehat, mereka berkata, “Udara Medina tidak cocok bagi kami.” Maka dia (Nabi) mengirim mereka ke Al-Harra dengan beberapa unta betina miliknya dan berkata, “Minumlah susunya.” Tapi ketika mereka jadi sehat, mereka membunuh penggembala unta yang bekerja bagi sang Nabi dan mencuri unta-untanya. Sang Nabi mengirim orang-orang untuk mengejar mereka. Lalu Nabi memotong tangan dan kaki mereka dan mata mereka ditusuk dengan besi panas membara. Aku melihat satu dari mereka menjilati tanah dengan lidahnya sampai dia mati.” Bukhari 7. 71.58
Di kisah lain, kita baca bahwa “Setelah Muhammad menyerbu benteng pertahanan kota Khaibar dan masyarakat tak bersenjata disergap, para prajurit Muslim membunuh banyak orang sampai mereka menyerah. Muhammad mengijinkan mereka meninggalkan tempat tinggalnya, tapi mereka harus menyerahkan harta benda mereka kepada penakluk. Dengan beberapa orang, datanglah ke muka Kinana, ketua kaum Yahudi di Khaibar dan keponakannya.
Muhammad menuduh mereka berdua melanggar persetujuan, dengan menyembunyikan harta, terutama kekayaan Bani Nadhir, yang dimiliki Kinana sebagai bagian perkawinan dengan istrinya, Safiyah yang adalah anak ketua suku Nadhir. “Di mana bejana-bejana emas,” tanya Nabi, “yang kau gunakan untuk dipinjamkan pada orang Mekah?” Mereka protes dan berkata mereka tidak punya itu lagi. “jika kau menyembunyikan apapun dariku, “ lanjut Muhammad, “dan aku mengetahui akan itu, maka nyawamu dan nyawa keluargamu akan kucabut.” Mereka berkata biarlah begitu. Seorang pengkhianat Yahudi membocorkan rahasia pada Muhammad tentang tempat di mana sebagian harta mereka disimpan. Dia pergi dan mendapatkannya. Setelah usaha penyembunyian harta ini diketahui, Kinana disiksa secara kejam, -- “api diletakkan di atas dadanya sampai dia hampir putus nafas, “ – dengan harapan dia mengatakan di mana sisa hartanya disembunyikan. Muhammad lalu memberi perintah, dan kepala dua pemimpin suku Yahudi itu dipancung.” [Tabari]
Di malam yang sama, Muhammad mengambil Safiyah yang berusia 17 tahun, istri Kinana, ke dalam tendanya, dan meniduri perempuan malang ini dan mengambilnya jadi istrinya.
Nn. Roach, menyapa orang dengan kata “sayang” (dear) tidak selalu berarti merendahkan, atau melecehkan secara seksual. Ini dapat pula sebagai tanda untuk menunjukkan rasa hormat. Ini dapat digunakan sebagai cara sopan dalam memanggil orang, seperi “Wahai Tuan”(Dear Sir), “Wahai Tuan Presiden” (Dear Mr. President), dll. Tapi jika panggilan ini menyakiti hatimu, aku tidak akan menggunakannya lagi.
Nn. Roach menulis: “Jika seorang wanita Muslim merasa ditekan, terserah dia untuk memohon pertolongan Allah dan lalu pertolongan itu akan membebaskannya dari segala tekanan, bahkan jika itu berarti kematian.” Terima kasih Nn. Roach atas nasehatmu yang bijaksana. Aku percaya kebanyakan perempuan memilih jalur hukum – hukum yang melindungi hak-hak, harga diri, dan hidup mereka daripada cari kematian, seperti banyak yang dilakukan oleh perempuan Muslim di Iran dan negara-negara Islam lainnya. Hak untuk hidup dan untuk hidup bebas adalah hak-hak sejak lahir bagi setiap umat manusia. Dalam negara “kafir” Barat, para perempuan tidak usah mohon pertolongan pada Allah dan mencari kematian. Mereka dilindungi oleh hukum dan menikmati hak yang sama seperti kaum pria.
Menyadari kekonyolan kalimatnya sendiri, Nn. Roach memperkenalkan ikan haring merah (red haring, kiasan: untuk mengalihkan perhatian dari pokok masalah): “Beberapa orang akan mengritikku dan berkata bahwa seorang perempuan seharusnya tidak usah memilih untuk mati agar tidak dipukuli. Tapi aku bertanya padamu: Apa yang akan kita katakan pada perempuan Amerika yang berada dalam kekerasan keluarga?”
Pertama, semua penganiayaan rumah tangga di Amerika atau negara-negara non-Islam yang beradab lainnya sedikit sekali dibandingkan dengan penganiayaan pandemik (menyebar dalam skala nasional) terhadap kaum perempuan di negara-negara Islam. Kedua, aku akan mengatakan pada perempuan Amerika yang jadi korban kekerasan untuk segera pergi ke polisi dan mencari perlindungan. Aku khawatir hal seperti itu bagi perempuan di negara Islam hanya akan terjadi dalam mimpi mereka. Hukum Sharia tidak memihak perempuan yang jadi korban. Di negara-negara Islam tidak ada tempat perlindungan bagi para perempuan yang dianiaya. Mereka kalau tidak kuat menahan sakit diperbudak, ya minta Allah untuk dicabut nyawanya saja.
Dalam perbandingan nasib perempuan yang dianiaya di negara Islam dan Barat, Nn. Roach berkata, “Setidaknya dalam Islam jika ini kasusnya, seorang perempuan akan masuk surga bersama-sama Allah jika dia adalah korban tak bersalah, dan dia tidak akan jadi sekedar angka korban statistik kekerasan rumah tangga.” Ini menyimpulkan semuanya. Seorang perempuan di Islam akan tetap jadi budak dan disiksa oleh suaminya yang sinting dan KEMERDEKAANNYA ADALAH KEMATIANNYA dan janji kosong akan surga. Menarik sekali kalau dilihat jawaban awal Nn. Roach di mana dia meyakinkan kita jika dia dianiaya dia akan melawan balik dan membela dirinya. Kenapa, Nn. Roach? Tidakkah kau mau pergi ke surga? Akankah kau pergi ke neraka dan dibakar seumur hidup karena memberontak terhadap suamimu? Tampak nyata bahwa dalam filosofimu, kematian itu bagus – tapi hanya untuk tetangga sebelah.
Pak El Mallah, kau mengatakan: “Aku ingin menerangkan bahwa pengertianku tentang Qur’an/Hadis datang dari pendapat para sarjana.” Apakah pengertian-pengertian ini sesuai dengan Qur’an dan Hadis? Mengapa mengikuti pandangan para sarjana jika engkau dapat membaca Qur’an dan Hadis dengan sempurna dan mengapa tidak membuat pengertian sendiri?
Aku lihat kau selalu menyalahkan orang Muslim dan berkata: “Orang Muslim di negara-negara Muslim tidak mengerti agama mereka sendiri.” Kau pikir Qur’an dan contoh kebencian yang dilakukan Muhammad tidak ada hubungannya dengan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan? Apakah kamu benar-benar percaya jika orang Muslim mulai baca dan belajar Qur’an mereka akan mulai lebih menghormati perempuan sedangkan pelajarannya berisi keterangan bahwa perempuan adalah seperti ladang cocok tanam bagi pria, 2:223, bahwa perempuan lebih rendah derajatnya daripada kaum pria, 2:228, bahwa dalam hal hak-hak warisan dan bersaksi, nilai perempuan hanyalah separuh (dibanding pria) 4:11-12, 2:282, bahwa jika tidak taat, perempuan selayaknya dipukul 4:34, bahwa perempuan bodoh dan kebanyakan akan masuk neraka, dan tulisan sejenis lainnya?
Kamu menuduhku menghakimi Qur’an berdasarkan tingkah laku orang-orang Muslim. Aku tidak melakukan itu. Aku pertama-tama mengutip Qur’an, lalu Hadis, dan lalu menunjukkan akibatnya pada orang-orang Muslim. Aku menyelidiki Islam dengan menelaah apa yang dikatakan dan diperbuat Muhammad dan bukan apa yang diperbuat orang Muslim. Anehnya, bukannya kamu melihat pengaruh anti perempuan yang sangat kejam dalam Qur’an dan Hadis, malah kamu menemukan pengaruh Amerika dan sekularisme sbg yg bertanggung jawab atas kesengsaraan negara-negara Islam. Kelakuanmu ini sungguh mencengangkan. Tapi, pikir-pikir, kita juga ketemu orang-orang yang menyalahkan CIA dan Mossad atas kejadian 9/11.
Kau katakan bahwa pada dasarnya Allah berjanji: ““Mereka akan dapat semua yang mereka harapkan dari Tuhan mereka. Ini adalah pahala dari orang yang beramal.” Az-Zumar ayat 34. Jadi pada dasarnya adalah surga itu merupakan tempat khayalan anak-anak belaka. Kamu dapat mengkhayal apapun dan itu akan dikabulkan. Tapi bukankah ini berlawanan dengan ayat-ayat lain di Qur’an yang dengan jelas menggambarkan bagaimana surga itu dan berapa bidadari pelacur yang akan diperoleh seorang pria? (kata pelacur (whore) dalam bahasa Inggris sama dengan kata pelacur dalam bahasa Persia (hoor) dan kata hoor (pelacur) ini dipinjam Muhammad dan digunakan di Qur’an). Andaikata kau ingin punya 75 sampai 750 pelacur; apakah keinginanmu itu dikabulkan? Jika begitu, kenapa Muhammad menegaskan dua (pelacur) di satu tempat dan 72 (pelacur) di tempat lain? Mengapa pakai kasih angka segala jika pilihannya ternyata terserah orang yang masuk surga? Bagiku ini tampak bertentangan. Muhammad bicara tentang empat sungai anggur, susu, madu, dan air mengalir di surga. Jika terserah aku, aku lebih memilih berbagai jus buah dan champagne pula. Dan aku tidak suka mereka mengalir seperti sungai tapi lebih memilih cairan ini dihidangkan dalam botol. Mengapa Qur’an menggambarkan surga jika sebenarnya batasannya adalah khayalan orang yang masuk ke sana?
Pak Mallah menuduhku salah mengerti ayat 30:21. Tapi aku mengutip berbagai sarjana Muslim yang mengajarkan ayat ini yg berarti perempuan adalah seperti binatang, diciptakan untuk kesenangan kaum pria. Sebenarnya, cara perempuan diperlakukan di negara Islam menunjukkan kebanyakan Muslim setuju dengan pandangan para ahli Islam ini. Dapatkah Pak El-Mallah menjelaskan bagaimana buku yang begitu jelas dan mudah dimengerti seperti Qur’an telah salah dimengerti oleh kebanyakan Muslim di seluruh dunia? Mengapa hanya orang Muslim yang mencoba menjual Islam pada orang Barat saja yang mengerti isi Qur’an? Dan terakhir, sebelum mengajarkan “Islam agama damai” pada orang Barat, bukankah sebaiknya kamu mencoba membetulkan dulu carut-marut dan kesimpangsiuran pengertian diantara kaum Muslim itu sendiri?
 Kukatakan hubungan antara suami dan istri dalam Islam adalah mirip dengan majikan dan karyawan. Sebenarnya lebih mirip hubungan majikan dan budak. Seperti yang ditegaskan Pak El-Mallah, rumah dalam perkawinan adalah milik SUAMI. Istri hidup di rumah SUAMI. Anak-anak adalah milik SUAMI. Dalam kasus perceraian, perempuan Muslim tidak punya hak pemilikan anak-anaknya sendiri kecuali kalau anak itu masih bayi dan bahkan setelah itu anak harus diberikan pada ayahnya setelah anak itu disapih atau lebih besar daripada bayi yang masih merangkak. Memang suami harus menyediakan makanan, pakaian, obat, kebutuhan, kendaraan istri. Tapi bukankah majikan juga berbuat hal yang sama terhadap para budaknya? Jika kau punya keledai betina, bukankah kau juga harus menyediakan makanan, keperluan, sadel, dll?
Nn. Roach dan Pak El-Mallah mengulangi bahwa suami punya kewajiban memenuhi kepuasan seksual istrinya. Ini hal yang baru bagiku. Mari kita lihat secara praktisnya. Seorang pria dengan empat istri (sebenarnya beberapa pria Muslim percaya tidak ada batasan jumlah istri dalam Islam) akan menikmati seks empat kali lipat lebih sering daripada setiap istrinya. Jadi jika dia melakukan hubungan seks 12 kali sebulan, setiap istrinya akan hanya dapat 3 kali per bulan (itu juga kalau dia tidak punya istri kesayangan dan istri-istri yang semakin tua dan jelek tidak dilupakan). Sebagaimana yang kau lihat, pernyataan Nn. Roach dan El-Mallah itu sangatlah tak berdasar. Lebih-lebih lagi, di beberapa negara Islam, orang Muslim terinspirasi dengan sebuah Hadis untuk menyunat kemaluan para anak gadis mereka, sehingg mereka tidak akan pernah bisa orgasme – bahkan jika sang suami berusaha sebaik mungkin. Sungguh menarik bahwa orang Muslim ngotot warna hitam itu putih dan sebaliknya.
Pak El-Mallah mengatakan Islam memperlakukan laki-laki dan perempuan sama karena Islam meletakkan tanggung jawab yang sama di kedua belah pihak. Dia bingung akan perbedaan antara tanggung jawab dan hak. Ya, memang kita tahu bahwa perempuan Islam bertanggung jawab atas banyak hal – termasuk taat pada suami mereka dan memuaskan kebutuhan seks mereka, bahkan jika para istri ini sedang merasa tak enak. Sebuah hadis berkata: “Rasul Allah berkata, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke ranjangnya (untuk berhubungan seks) dan dia menolaknya dan menyebabkan suaminya tidur dengan rasa marah, para malaikat akan mengutuki istrinya sampai pagi.” Bukhari 4.54.460
Di tempat lain kita baca: "Rasul Allah berkata: Jika seorang pria memanggil istrinya untuk memuaskan nafsu berahinya, biarkan dia (istri) datang pada suami meskipun dia sedang sibuk di dapur.” Mishkat al-Masabih, English translation, Buku I, Section ‘Kewajiban antara Suami dan Istri', Hadith No. 61.
Dalam Islam tugas dan tanggung jawab istri dinyatakan secara jelas. Tapi mana hak-haknya? Apakah dia memiliki hak apapun? Dapatkah dia memiliki rumah tempat tinggalnya, memiliki anak-anaknya atau bahkan baju-bajunya yang dibelikan suaminya dengan uang SUAMI? Dalam Islam, perempuan punya banyak tanggung jawab tapi sedikit hak.
Pak El-Mallah berkata, “Pak Sina menyatakan bahwa ‘Perkawinan yang baik adalah kesatuan di mana suami dan istri adalah partner yang sama di segala bidang’. Nah, apakah ini berarti sang istri bisa bertanya pada suaminya, “mengapa harus aku yang mengandung bayi di dalam perutku? Kenapa tidak kau saja yang mengandung?”
Aku pikir kawan kita satu ini bingung dengan perbedaan antara – sekali lagi – tanggung jawab dengan hak-hak. Tentu saja pria dan perempuan berbeda, secara biologis, emosi, psikologi dan dalam banyak hal lainnya. Setiap pihak suami/istri punya kekuatan sendiri dan karena itu mereka membentuk partnership (hubungan saling menguntungkan). Dalam partnership apapun, kedua partner mengisi satu sama lain. Contohnya, kau taruh modal dan aku taruh keahlian dan usaha dan kita membuat sebuah partnership. Alasan kau dan aku membuat partnership adalah karena masing-masing pihak memiliki sesuatu yang tidak dimiliki pihak lain tapi dibutuhkan.
Dalam sebuah perkawinan, suami dan istri, setiap pihak menyumbang sesuai dengan kapasitas dan kekuatan masing-masing. Di sinilah kita berbicara mengenai hak-hak. Jika kau dan aku membentuk suatu “partnership”, di mana kau menyediakan uang dan aku menyediakan tenaga kerja, kau beri perintah dan aku menaatimu, semua dimiliki atas namamu, dan jika kita cerai kau memiliki semuanya dan aku pergi berlalu tanpa dapat apa-apa, kecuali –mungkin- semacam pesangon. Kau bahkan punya hak untuk memukulku. Ini bukan partnership. Ini adalah perbudakan, karena selama bertahun-tahun aku kerja bagimu, kau tidak menggajiku. Aku tidak punya tabungan. Kau hanya memelihara aku, membayar makanan dan bajuku, sehingga aku dapat terus bekerja bagimu. Dan sekarang di kala aku semakin tua, kau menendangku ke luar dan aku tidak dapat apa-apa. Aku hanya bisa berbuat satu hal dan itu adalah berdoa pada Allah untuk mengambil nyawaku hingga aku merdeka dari penindasan dan kesengsaraan hidup sebagai seorang perempuan islam. Ini bukan partnership. Bahkan bukan pula pekerjaan. Ini adalah perbudakan.
Pak El-Mallah bertanya apakah yang tidak adil dengan Khole jika seorang perempuan dapat ijin cerai setelah mengembalikan uang mas kawinnya? Yang tidak adil adalah mengembalikan uang mas kawinnya. Ini berarti jika seorang suami ingin menyingkirkan istrinya dan tidak mau memberinya apa-apa, dia akan memukuli istrinya sedemikian rupa sehingga istri terpaksa melepaskan hak-haknya hanya untuk bisa bercerai. Tidak hanya dia tidak dapat apa-apa dari kekayaan suami, dia pun terpaksa melepaskan hadiah kecil (mas kawin) yang suami berikan padanya. Aku benar-benar percaya ini tidak adil. Bukankah begitu, Pak El-Mallah?
Tentang kejadian antara Muhammad dan Jauniyya, putri raja Bani Jaun, tulisan di Hadis sudah jelas. Muhammad melakukan pendekatan seksual padanya dan berkata padanya “serahkan dirimu padaku sebagai sebuah hadiah.” Kata yang digunakan di sini adalah habba. Ini bukan pinangan perkawinan. Habba yang berarti “beri sebagai sebuah hadiah” adalah seks gratis (free seks). Pelayanan seks ini dibayar kembali dengan sebuah hadiah dari pihak pria pada perempuan dalam bentuk barang atau uang. Ada Hadis-hadis lain yang menunjukkan praktek seperti ini. Satu cerita dalam Hadis yang memberi contoh akan praktek ini adalah tentang Abdullah, ayah Muhammad yang menurut orang didekati seorang perempuan yang berkata padanya, “Ambillah saya sebagai hadiah”. Tapi Abudllah pergi pada istrinya dan punya anak Muhammad. Di perjalanan pulang, dia datang pada perempuan tadi dan mengutarakan kesediaannya atas tawarannya tapi perempuan itu menolak dengan angkuhnya sambil berkata, “sebelumnya kulihat sebuah cahaya di kepalamu, tapi sekarang sudah hilang, kau berikan itu pada perempuan lain, jadi pergilah”. Hadis ini mengarang-ngarang cerita bahwa pelacur itu sudah mengenal sinar Muhammad ketika dia masih berada di buah pelir ayahnya. Hadis yang menggelikan cocok bagi para Muslim yang gampang ketipu. Tapi ini penting karena Hadis ini menunjukkan praktek habba yang umum diantara orang Arab. (Lihat pula Muslim 8.3253). Di dalam bahasa kita, ini disebut sebagai pelacuran.
Di Hadis dikatakan Muhammad meminta Jauniyya untuk memberikan dirinya pada Muhammad dalam habba, dan dia menjawab “Dapatkah seorang putri raja memberikan dirinya sendiri (dalam perkawinan) pada seorang pria biasa?” Muhammad mengangkat tangannya untuk menepuknya agar dia jadi tenang.” Semua orang yang dapat berpikir sudah tahu apa yang terjadi. Tawaran Muhammad mestinya membuat perempuan itu tersinggung sehingga dia berkata “Dapatkah seorang putri raja memberikan dirinya sendiri (dalam perkawinan) pada seorang pria biasa?” Kata (perkawinan) ditaruh di dalam tanda kurung karena ini tambahan dari penerjemah. Lalu Hadis berkata “Muhammad mengangkat tangannya untuk menepuknya agar dia jadi tenang.” Sudah jelas Jauniyya tersinggung. Perempuan tidak tersinggung karena lamaran pernikahan, mereka tersinggung waktu mereka dianggap murahan dan diminta ngeseks. Lalu dia berkata “Aku minta perlindungan Allah darimu.” Ini jelas bahwa “tepukan” ini tentunya cukup kasar. Jelas penulis (atau penerjemah) Hadis merasa malu akan kelakuan nabinya dan mencoba memperlembut kejadian kasar ini dengan memilih kata yang lebih lembut. “Tepukan” ini tentunya cukup mengancam sehingga membuat wanita itu berseru: “Aku mencari perlindungan dalam Allah” dan menghentikan Muhammad. Ini tentunya cukup membuat Muhammad merasa bersalah sehingga dia memberi Jauniyya hadiah (yang dicuri dari suku Jauniyya sendiri). Keseluruhan cerita sungguh memuakkan dan dengan jelas tidak layak dilakukan seorang pria yang mengaku sebagai contoh terbaik untuk diikuti.
Pak El-Mallah berkata bukan NAMA Sura (“Kaum Wanita”) yang menunjukkan tingginya status perempuan dalam Islam tapi ISI bab ini yang menerangkan hal itu. Aku senang alasan nama Sura sudah dicabut. Tapi seperti yang kita lihat, di bab ini pula Muhammad berkata pukullah istri-istrimu. Tidak dijelaskan kesamaan hak bagi perempuan di bab ini atau pun di bagian lain Qur’an.
Pak El-Mallah berkata bahwa “keamanan finansial bagi perempuan Muslim dijamin. Suaminya bertanggung jawab akan hal itu. Jika dia tidak bersuami, maka itu adalah tugas ayah, abang, atau pamannya. Jika dia tidak punya keluarga, maka negara akan mengurus dia secara finansial. Jadi berdasarkan hukum Islam, seorang perempuan tidak perlu menafkahi diri sendiri.”
Pertanyaan sederhana yang butuh jawaban adalah mengapa tidak membiarkan perempuan itu berdikari sehingga dia dapat menafkahi diri sendiri dan kehidupannya dengan harga diri dan tidak jadi beban pihak lain? Ini tidak adil bagi pihak pria dan perempuan dan menempatkan perempuan di bawah belas kasihan pria untuk seumur hidupnya. Dia direndahkan jadi seorang pengemis. Bagaimana jika saudara lelakinya punya keluarga yang harus dinafkahi? Bagaimana jika ada beberapa saudara perempuan yang membujang dan hanya ada satu saudara laki atau satu ayah yang sudah tua? Mengapa menempatkan perempuan sebagai budak dan merawatnya? Mengapa menempatkan dia di penjara dan menyediakan keperluannya? Mengapa dia tidak bisa jadi seorang anggota masyarakat yang bebas dan produktif? Mengapa dia harus hidup sebagai parasit (benalu) di sepanjang hidupnya, dihina dan hilang harga dan jati dirinya? Siapakah yang beruntung dari keadaan ini? Apakah logika dari hukum yang tidak masuk akal ini?
Untuk mensahkan kekerasan terhadap perempuan di Islam, Pak El-Mallah melaporkan daftar panjang statistik kejahatan dan kekerasan di Amerika. Ini jalan pikir yang keliru yang digemari Muslim. Ini disebut tu-quoqu. Ini adalah pikiran keliru “kamu juga” yang terkenal. Mereka dengan cepat mencoba mencari setitik kotoran di mata orang lain untuk mensahkan balok di mata mereka sendiri. Memang betul, tiada negara yang tanpa kejahatan dan kekerasan. Akan tetapi kekerasan yang terjadi di negara-negara Islam terhadap perempuan bahkan tidak dianggap sebagai kejahatan. Ini adalah perlakuan biasa, tidak dilaporkan dan tidak dihukum karena tidak bertentangan dengan hukum. Di negara Barat, kekerasan terhadap kaum perempuan adalah kejahatan dan karena itulah kamu bisa melihat statistiknya. Tunjukkan padaku statistik yang sama dari publikasi Islam!
Kupikir dari Seminar ini kita menetapkan bahwa Islam adalah agama pembenci perempuan. Kaum perempuan dalam Islam dianggap sedikit di atas binatang dan dalam perkawinan mereka punya hak sebagai budak dalam rumah majikan (suami) mereka. Seperti yang Nn. Roach katakan dengan lihainya, kebebasan seorang perempuan Muslim terjadi dalam KEMATIANNYA. Jadi jika engkau adalah perempuan yang teraniaya di negara Islam, nasehat Nn. Roach padamu adalah: berdoa pada Allah agar Dia memberimu kematian dan membebaskanmu. Akan tetapi Nn. Roach, yang hidup di negara non-Islam dan dilindungi oleh sistem hukum Kafir, menyombong dengan “keberanian” dirinya untuk melawan balik jika suaminya menganiayanya. Dengan kata lain, dia tidak mau perempuan Muslim di bawah hukum Islam berjuang bagi hak-hak mereka. Hanya dia saja yang dapat kehormatan itu. Ini adalah kesimpulan yang sempurna bagi diskusi ini
Spencer: Nn. Roach memulai jawaban akhirnya dengan mengutip Tolkien: "Apa yang dapat diperbuat terhadap kebencian sembarangan seperti itu?" Pandangan bahwa Pak Sina dan aku pasti benci Muslim karena kami berani berkata tentang apa yang sebenarnya diajarkan Islam merupakan fitnah yang berasal dari buku Bukhari yang mengatakan, “Perang adalah tipu muslihat” (Bukhari IV:52:267).
Meskipun begitu, bukan Pak Sina maupun saya yang mengatur debat ini, lagipula lihatlah kutipan Hadis dari situs the Muslim Students’ Association of the University of Houston: Tanya: Kami selalu mendengar Hadis, “Perempuan kurang dalam mengerti dan agama.” Banyak pria yang menganggap kalimat ini adalah untuk menghina perempuan. Kami ingin kau menjelaskan pada kami apa arti Hadis tsb.
Jawab: Kata-kata Nabi dan penjelasannya adalah sebagai berikut: “Aku belum pernah melihat orang yang begitu kurang dalam berpikir dan beragama pada waktu yang bersamaan. Orang yang paling bijaksana dapat kehilangan hikmat karenamu (perempuan).” Mereka berkata, “O Rasul Allah, apakah kekurangan dari daya berpikir kami (perempuan)?” Dia berkata “Bukankah kesaksian dua perempuan sama dengan satu pria.” Mereka berkata, “O Rasul Allah, apakah kekurangan dari agama kami.” Dia berkata, “Bukankah jika kamu (perempuan) sedang mens kamu tidak boleh sembahyang atau puasa?”
Sang Nabi menerangkan bahwa kurangnya kemampuan berpikir terdapat pada kenyataan bahwa daya ingat mereka lemah dan karena kesaksian mereka butuh kesaksian perempuan lain untuk menguatkannya… Ini bukan berarti dia kurang derajatnya dibandingkan pria di segala hal atau pria lebih unggul daripada dia di segala bidang. Memang, dalam kelas masyarakat, pria lebih unggul daripada perempuan secara umum. Ini benar karena beberapa alasan, seperti yang dinyatakan Allah, “Pria adalah pelindung dan pemelihara kaum wanita, karena Allah telah membuat yang satu lebih unggul dibandingkan yang lain, dan karena mereka mengeluarkan biaya (untuk menafkahi wanita) dari kekayaan mereka “ (al-Nisa 34).
Akan tetapi, perempuan mungkin unggul daripada pria di banyak bidang. Berapa banyak perempuan yang lebih unggul daripada pria dalam hal daya pikir, agama, dan kemampuan. Telah diterangkan oleh sang Nabi bahwa perempuan sebagai spesies atau kelas adalah lebih rendah daripada pria dalam hal kemampuan mengerti dan agama, dari sudut pandang yang diterangkan oleh Nabi sendiri. …..Shaikh ibn Baz
Kukira Sheikh ibn Baz dan Muhamad sendiri mestinya membenci Muslim juga? Atau yang benci hanyalah saya saja karena berani mengutip kata-kata mereka? Nn. Roach berlaku tak masuk akal. Ini adalah Seminar tentang hak-hak perempuan dalam Islam. Bukannya mengaku secara jelas hambatan dan kesulitan yang dihadapi kaum perempuan di negara-negara Islam dan menawarkan jalan ke luar yang positif, Pak El-Mallah dan Nn. Roach lebih suka menyangkal, membingungkan, mendistorsi, dan memfitnah Pak Sina dan aku, dan mencoba mengalihkan perhatian pada iman Kristen. Jika ini yang dapat kita harapkan dari golongan “moderat” Islam, maka masa depan para perempuan di negara-negara Islam sungguh-sungguh gelap.
Tentang para ilmuwan Islam yang dikutip oleh Pak Sina dan saya yang, menurut Nn. Roach, “TIDAK MEWAKILI ISLAM, “ ini sendiri menarik. Saya telah mempelajari Islam secara mendalam sejak 1980, dan meskipun begitu setiap kali saya mengutip pernyataan dari pengamat Islam terkenal, pasti saya dijawab "tidak pernah dengar tuh! atau tidak diperhatikan oleh Muslim tuh!" Begitulah pengakuan semua Muslim yang berdebat dengan saya.
Ketika saya mengutip Sheikh Tantawi dari universitas Al-Azhar yang mengesahkan bom bunuh diri, As`ad AbuKhalil mengatakan kpd saya bahwa setiap Muslim mentertawakan Al-Azhar dan menuduhnya melanggar tata tertib pengadilan. (Hussein Ibish sebaliknya mengatakan bahwa perkataan Tantawi salah terjemahannya). Tapi kau bisa tanya siapapun dan mereka semua akan memberitahumu bahwa Universitas Al-Azhar di Cairo dihormati dan berpengaruh di seluruh dunia Islam.
Mungkin Nn. Roach memang benar belum pernah mendengar Tafsir Ibn Kathir, yang dikutip Pak Sina, tapi bagi jutaan orang Muslim di seluruh dunia, sudah dinyatakan secara jelas oleh penerbit tulisannya bahwa “keterangan Tafsirnya tentang Qur’an paling dikenal dan diakui di seluruh dunia.”
Pak Sina atau saya, atau “media dan Pemerintah Amerika” yang dijadikan kambing hitam oleh Nn.Roach, tidak menulis Qur’an 4:34 atau yang umum dimengerti dalam dunia Islam. Keterangan Pak El-Mallah yang muluk tentang segala perlindungan bagi kaum perempuan di tanah Islam semua tenggelam kalau kita melihat kenyataannya. Jika pembaca benar-benar melakukan ajakan Nn. Roach untuk belajar tentang Islam dari Muslim, setelah dia melampaui pengetahuan tentang Islam yang didistorsi dan ditutup-tutupi, maka kejamnya Q4:34 akan jelas nampak, sebagaimana yang dikatakan para pengamat obyektif dalam dunia Islam. Akibat 4:34 ini tidak dapat dihindari.
Pak El-Mallah mengemukakan Sura 24:33, “Tapi jangan paksa para pelayan wanitamu untuk melacur (kalau mereka menginginkan kesucian)” untuk menerangkan bahwa para budak perempuan tidak boleh diperkosa. Tapi celakanya, ayat ini tidak berbunyi seperti yang dia inginkan. Sura 33:50 di Qur’an menganugerahkan pria hak untuk menggunakan budak-budak perempuannya secara seksual. Sura 24:33 tidak sesuai dengan topik pembahasan: pria berhubungan seks dengan budak perempuannya tidaklah membuat budak itu jadi seorang pelacur apalagi karena dia secara tegas diperbolehkan berlaku demikian oleh Qur’an. Pak El-Mallah tetap belum menjelaskan, dan tak bisa menjelaskan, bahwa ijin dari pihak perempuan dibutuhkan.
Hadis yang dia kutip, sayangnya, tidak menjelaskan prinsip umum sebagaimana yang digambarkan Hadis lain yang bahkan tidak menganggap persetujuan perempuan sebagai suatu pengertian. Satu Hadis dikutip oleh Pak Sina: kejadian yang mengerikan di mana Muhammad jelas-jelas mengijinkan orang-orangnya untuk berhubungan seks dengan para tawanan perempuan tanpa ada satu kata pun diucapkan tentang ijin (persetujuan) dari pihak perempuan.
Yang lain adalah Sunan Abu Dawud 11:2153, yang menetapkan bahwa “adalah tidak sah menurut hukum bagi pria yang percaya Allah dan Hari Akhir untuk berhubungan seks dengan tawanan perempuan sampai dia selesai mens.” Ayat ini tidak berkata tidak sah menurut hukum bagi pria Muslim untuk berhubungan seks dengan tawanan perempuan kecuali dia setuju. Hadis lain pun tidak mengatakan itu.
Pak El-Mallah juga memaparkan beberapa referensi yang meragukan untuk mendukung anggapannya bahwa Muhammad menyuruh para pengikutnya untuk memukuli istri-istri mereka dengan benda yang tidak lebih besar daripada sikat gigi. Tradisi ini tidak pernah muncul dalam koleksi Hadis apapun yang dipercaya oleh para Muslim.
Pak El-Mallah mengutip “Sahih Muslim, Ketab AlHajj, no. 2137.” Kata miswak (cutik gigi) tidak ada dalam Kitab Al-Hajj dari Sahih Muslim. Saya tantang Pak El-Mallah atau siapapun untuk membuktikan tradisi yang mengatakan Muhamad menganjurkan pakai sikat gigi untuk memukul perempuan dari Sahih Muslim atau koleksi Hadis Sahih Sittah yang dianggap paling berharga oleh Muslim.
Tentang statistik perempuan yang dianiaya di U.S., sekali lagi dia mencoba untuk mengalihkan perhatian dari topik di Seminar ini, yang adalah peranan perempuan dalam Islam. Selama dia dan orang lain yang seperti dia terus-menerus bermain elak bola dan bukannya menghadapi fakta-fakta yang tidak menyenangkan, maka para perempuan Muslim akan terus saja menderita.
FP: Pak El-Mallah, Robert Spencer, Julia Roach dan Ali Sina, waktu sudah habis. Terima kasih atas diskusi yang penuh informasi ini. Kami harap dapat bertemu dengan kalian lagi dalam waktu dekat. http://www.frontpagemag.com/Articles/ReadArticle.asp?ID=16440
OBSERVASI TERHADAP KEASLIAN DAN KEMURNIAN ISI AL-QUR’AN
APAKAH QUR’AN SUDAH DITULIS LENGKAP PADA MASA MUHAMMAD, WALAUPUN BELUM DIBUKUKAN?
Ya, memang. Tapi sayang dugaan ini keliru. Amat disayangkan, banyak saksi sejarah dan penghafal Qur’an yang tewas dalam perang Yemama:
Zuhri reports that when slaughter befell the Muslims in the Yemama it was Abu Bakr who feared that many of the qarra' would perish. (p. 120, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 12)
Jumlah seluruh qarra’ yang tewas ada 700 orang: It is said that upward of 700 Companions fell in the Yemama. Sufyan reports that when Salim was slain `Umar hastened to Abu Bakr. (p. 120, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 9)
Setelah tewasnya para saksi dan hafidz yang hafal ayat-ayat Qur’an dalam perang Yamama, beberapa informasi menjadi hilang dan tak lengkap lagi. Ada bukti-bukti tertulis bahwa Quran sudah tak lengkap lagi.
It is reported from Ismail ibn Ibrahim from Ayyub from Naafi from Ibn Umar who said: "Let none of you say 'I have acquired the whole of the Qur'an'. How does he know what all of it is when much of the Qur'an has disappeared? Rather let him say 'I have acquired what has survived.'" (as-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.524).
Bahkan, Abu Musa al-Ashari, salah satu sahabat dekat Muhammad mengatakan kepada para pembaca (pengaji) di Basra, bahwa dirinya sudah tak ingat lagi isi surat Bara’at kecuali beberapa barisnya saja:
We used to recite a surah which resembled in length and severity to (Surah) Bara'at. I have, however, forgotten it with the exception of this which I remember out of it: "If there were two valleys full of riches, for the son of Adam, he would long for a third valley, and nothing would fill the stomach of the son of Adam but dust". ( Sahih Muslim, Vol. 2, p.501).
Sekali lagi, Abu Musa juga mengatakan bahwa dirinya telah lupa isi sebuah teks yang telah hilang dan ia hanya ingat beberapa isinya saja. Saya ambilkan cuplikan dari sumber sekunder (bukan Quran atau hadis) tulisan as-Suyuti dalam bukunya “Al Itqan” : We used to recite a surah similar to one of the Musabbihaat, and I no longer remember it, but this much I have indeed preserved: 'O you who truly believe, why do you preach that which you do not practise?' (and) 'that is inscribed on your necks as a witness and you will be examined about it on the Day of Resurrection'. (as-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.526).
BENARKAH ADA SATU KOLEKSI TUNGGAL QUR’AN PRA KODIFIKASI? (ADANYA PERBEDAAN-PERBEDAAN DI ANTARA KOLEKSI PARA SAHABAT)
Tidak. Keempat sahabat Muhammad justru membuat Qur’an koleksinya sendiri. Mereka yaitu Mas’ud, Salim, Ubay, dan Mu’adh:
Bukhari: vol. 6, hadith 521, pp. 487-488; book 61
Narrated Masruq: ... I heard the Prophet saying, "Take (learn) the Qur'an from four (men): `Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh and Ubai bin Ka'b."
Masing-masing teks ternyata memiliki banyak perbedaan, sehingga pertentangan segera muncul di antara Muslim sendiri. Perhatikan ketika Abu Darda mengkritik teks surat 92 Lail milik Mas’ud yang dibacakan Alqama. Ia bahkan bersumpah demi Allah untuk tidak akan mengikutinya; Bukhari: vol. 6, hadith 468, p. 441-442; book 60
Narrated Ibrahim: The companions of 'Abdullah (bin Mas'ud) came to Abi Darda', (and before they arrived at his home), he looked for them and found them. Then he asked them,: "Who among you can recite (Qur'an) as 'Abdullah recites it?" They replied, "All of us." He asked, "Who among you knows it by heart?" They pointed at 'Alqama. Then he asked Alqama. "How did you hear 'Abdullah bin Mas'ud reciting Surat Al-Lail (The Night)?" Alqama recited: 'By the male and the female.' Abu Ad-Darda said,
"I testify that I heard me Prophet reciting it likewise, but these people want me to recite it: --
'And by Him Who created male and female.' But by Allah, I will not follow them."
Perbedaan di atas tampaknya sepele (rekan-rekan Muslim bisa saja berpendapat toh artinya sama), tetapi bagaimanapun juga telah menimbulkan pertentangan di kalangan Muslim sendiri. Ini sangat fundamental bagi sejumlah Muslim tertentu seperti Abu Darda, sehingga ia menolaknya secara frontal.
Dalam perkembangan selanjutnya, koleksi milik Ubay dan Mas’ud-lah yang paling berpengaruh. Mengapa? Karena dalam proses kodifikasi, Ubai adalah tokoh yang merasa dirinya paling benar, sehingga bersikeras menolak koleksinya yang diubah:
Bukhari: vol. 6, hadith 527, p. 489; book 61
Narrated Ibn Abbas: Umar said, `Ubai (Ubayy) was the best of us in the recitation (of the Qur'an) yet we leave some of what he recites'. Ubai says, `I have taken it from the mouth of Allah's Apostle and will not leave for anything whatever'.
PERTENTANGAN DI ANTARA KAUM MUSLIMIN PERIHAL PERBEDAAN DALAM NASKAH KOLEKSI UBAY DAN MAS’UD
Pertentangan antara isi koleksi Mas’ud dan Ubayy berkembang semakin destruktif terhadap ukhuwah. Kedua sahabat Muhammad di atas ternyata menyebarkan ajaran yang tidak sama tentang isi Al Qur’an. Mereka segera menimbulkan kebingungan dan saling tuduh di kalangan umat Muslim. Teolog Islam Labib-as-Said mengatakan bahwa masing-masing pengikut yang bertikai merasa bahwa turunan koleksinya yang paling benar : "The Syrians," we are told, "contended with the `Iraqis, the former following the reading of Ubayy ibn Ka`b, the latter that of `Abd Allah ibn Mas'ud, each accusing the other of unbelief" (Labib as-Said, The Recited Koran: A History of the First Recorded Version, tr. B. Weis, et al., Princeton, New Jersey: The Darwin Press, 1975, p. 23)
Jadi, disini Muslim Syria yang memegang koleksi milik Ubayy saling bertentangan dengan saudara-saudara mereka di Irak yang memegang koleksi Mas’ud. Lalu, versi punya siapa yg benar? (emang gw pikirin?!?!)
PROSES STANDARDISASI AL QUR’AN OLEH KALIFAH USMAN
Kedua kelompok muslim yang bertikai di atas tak dapat membendung perbedaan ini ke dalam ideologi politik mereka. Syria dan Irak akhirnya terlibat dalam perang memperebutkan Armenia dan Azerbaijan. Dan, dalam konflik ini dimensi pertentangan antara kedua versi Quran tsb tak dapat dielakkan. Adalah Hudhaifa (dari Yaman) yang akhirnya memprihatinkan masalah ini dan mendesak Usman untuk segera melakukan standardisasi Quran. Bagaimana caranya? Perhatikan hadits berikut:
Bukhari: vol. 6, hadith 510, pp. 478-479; book 61
Narrated Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman came to Uthman at the time when the people of Sham and the people of Iraq were Waging war to conquer Arminya and Adharbijan. Hudhaifa was afraid of their (the people of Sham and Iraq) differences in the recitation of the Qur'an, so he said to 'Uthman, "O chief of the Believers! Save this nation before they differ about the Book (Quran) ..." So 'Uthman sent a message to Hafsa saying, "Send us the manuscripts of the Qur'an so that we may compile the Qur'anic materials in perfect copies and return the manuscripts to you." Hafsa sent it to 'Uthman. 'Uthman then ordered Zaid bin Thabit, 'Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As and 'AbdurRahman bin Harith bin Hisham to rewrite the manuscripts in perfect copies. 'Uthman said to the three Quraishi men, "In case you disagree with Zaid bin Thabit on any point in the Qur'an, then write it in the dialect of Quraish, the Qur'an was revealed in their tongue." They did so, and when they had written many copies, 'Uthman returned the original manuscripts to Hafsa. 'Uthman sent to every Muslim province one copy of what they had copied, and ordered that all the other Qur'anic materials, whether written in fragmentary manuscripts or whole copies, be burnt. ..."
Jadi, seperti kita tahu, semua naskah yang tidak sesuai dengan naskah yang sudah distandardisasi oleh Usman itu kemudian dibakar. Hanya teks milik Hafsah saja yang dikembalikan. Padahal menurut saya, dalam perkembangan sejarah kitab-kitab suci manapun, berbagai referensi sumber sejarah yang berbeda sekalipun tetap diperlukan, agar didapatkan data dan informasi yang nilainya berbeda-beda sesuai catatan aslinya. Bagaimanapun, arsip dan dokumentasi terlalu penting untuk dibuang apalagi dibakar. Akibatnya kini, Islam tak mempunyai lagi naskah-naskah asli berbagai koleksi milik para sahabat Muhammad. Ini amat disayangkan. Proses standardisasi ini tentu segera menimbulkan pertanyaan dalam benak kita; apakah Usman melakukan perubahan-perubahan tertentu terhadap Quran? Kita lanjutkan berikutnya.
APAKAH USMAN MELAKUKAN PERUBAHAN-PERUBAHAN TERHADAP QUR’AN?
Quran standar Usman adalah basis Quran modern yang sekarang. Sehingga semua Quran yang ada sekarang haruslah mengacu kepada mushaf-mushaf yang telah disebarkan oleh Usman pasca standardisasi tsb. Untuk menjawab ini, kita perlu meneliti dan membandingkan, apakah isi teks Quran pasca standardisasi Usman masih sama dengan aslinya, ataukah terdapat indikasi perbedaan-perbedaan yang mendasar di antara keduanya.
Perhatikan hadits berikut: Bukhari: vol. 8, hadith 817, p. 539-540; book 82
Allah sent Muhammad with the Truth and revealed the Holy Book to him, and among what Allah revealed, was the Verse of the Rajam (the stoning of married person (male and female) who commits illegal sexual intercourse), and we did recite this Verse and understood and memorized it. Allah's Apostle did carry out the punishment of stoning and so did we after him. I am afraid that after a long time has passed, somebody will say, `By Allah, we do not find the Verse of the Rajam in Allah's Book,' and thus they will go astray by leaving an obligation which Allah has revealed.
Hadits ini menunjukkan kepada kita, bahwa ayat yang berisikan aturan tentang penghukuman rajam terhadap para pezina sudah tidak ada lagi di Quran yang baru (quran yg anda pegang sekarang). Dengan kata lain, ada ayat yg telah hilang akibat proses seleksi yang berlebihan. Fatal memang, karena sampai menghilangkan ayat. Mengapa demikian? Ini adalah karena Khalifah Usman mempunyai kontrol yang terlalu berlebihan terhadap teks-teks Al Qur’an pada waktu itu. Hal ini ditunjukkan misalnya dalam mengambil keputusan apakah suatu ayat telah diubah atau tidak. Disini, Usman pernah berselisih paham dengan Ibn-az-Zubair perihal tsb :
Bukhari: vol. 6, hadith 60, p. 46; book 60
Narrated Ibn Az-Zubair: I said to `Uthman, "This Verse which is in Surat-al-Baqara: `Those of you who die and leave wives behind..... without turning them out,' has been abrogated by an other Verse. Why then do you write it (in the Qur'an)?" `Uthman said, "Leave it (where it is), O son of my brother, for I will not shift anything of it (i.e. the Qur'an) from its original position."
Selain itu, egoisme Usman terlihat dari keputusannya yang selalu dimenangkan dalam setiap perdebatan dengan para editor. Sebagai contoh, dalam hal menghilangkan ucapan “bismillah”… . Perhatikan kutipan berikut (dikutip dari “Mishkat-al-Masabih” ):
Mishkat Al-Masabih: book 8, ch. 3, last hadith [4]
Ibn Abbas said he asked Uthman[1] what had induced them to deal with al-Anfal[2] which is one of the mathani[3] and with Bara`a[4] which is one with a hundred verses, joining them without writing the line containing "In the name of God, the Compassionate, the Merciful,"[5] and putting it among the seven long ones. When he asked again what had induced them to do that, Uthman replied, "Over a period suras with numerous verses would come down to God's messenger, and when something came down to him he would call one of those who wrote and tell him to put these verses in the sura in which such and such is mentioned, and when a verse came down he would tell them to put it in the sura in which such and such is mentioned. Now al-Anfal was one of the first to come down in Medina and Bara`a was among the last of the Qur'an to come down, and the subject-matter of the one resembled that of the other, so because God's messenger was taken without having explained to us whether it belonged to it, for that reason I joined them without writing the line containing `In the name of God, the Compassionate, the Merciful,' and put it among the long suras." (Mishkat Al-Masabih: Ahmad, Tirmidhi and Abu Dawud transmitted it. (tr. by James Robson, Sh. Muhammad Ashraf, Lahore, p. 470)
“Mathani” adalah sebutan untuk surat-surat yang mengandung kurang dari 100 ayat. Kita tahu, bahwa setiap surat dalam Al Qur’an diawali dengan ucapan “Bismillahirrahmairrahim”, terkecuali surat 9 At Taubah atau Bara’a. Mengapa? Karena kita tahu dari teks di atas, bahwa kalimat itu telah dihilangkan oleh Usman! Jadi, siapa bilang ayat-ayat auwloh tidak bisa diutak-atik, diubah, bahkan diamputasi?
Selanjutnya, hasil akhir dari standardisasi Quran ini bukanlah keputusan final yang tak mendapat reaksi dan disetujui begitu saja secara konsensus oleh seluruh umat Islam, melainkan hanyalah keputusan sepihak yang disepakati oleh Usman saja. Sebab terhadap hal ini, beberapa reaksi segera muncul pertentangan dari kalangan sahabat yang merasa tidak senang dengan keputusan ini dan menentangnya karena tak sepakat. Salah satunya adalah Mas’ud, yang tak setuju dengan hasil tsb, dan tetap mempertahankan koleksinya sebagai teks yang paling benar. Shaqiq mengatakan, bahwa para sahabat Muhammad yang lain mendukung pendapat ini.
Muslim: vol. 4, hadith 6022, p. 1312; book 29
`Abdullah (b. Mas'ud) reported that he (said to his companions to conceal their copies of the Qur'an) and further said: He who conceals anything he shall have to bring that which he had concealed on the Day of Judgement, and then said: After whose mode of recitation do you command me to recite? I in fact recited before Allah's Messenger (may peace be upon him) more than seventy chapters of the Qur'an and the Companions of Allah's Messenger (may peace be upon him) know it that I have better understanding of the Book of Allah (than they do), and if I were to know that someone had better understanding than I, I would have gone to him. Shaqiq said: I sat in the company of the Companions on Muhammad (may peace be upon him) but I did not hear anyone having rejected that (that is, his recitation) or finding fault with it.
Disini jelas, bahwa Mas’ud mengajak masyarakat Islam untuk menyembunyikan Quran mereka masing-masing (supaya tak dibabat oleh radikalisme Usman!).
KETUJUH DIALEK (“SAB’AT-I-AHRUF”)
Tujuh dialek yang dimaksud adalah “Sab’at-I-Ahruf”. Biasanya disebut ‘ahruf’ saja. Varian dari dialek-dialek ini diambil dari tradisi linguistik suku Mudar, yaitu suatu cabang besar dari bangsa Arab darimana Muhammad berasal: Many attempted to relate the different forms to the linguistic situation. It was therefore alleged that the Qur'an had been revealed in each of the seven dialects of Mudar, the great branch of the Arab nation from which the Prophet sprang. (p. 152, Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, "al Itqan fi `ulum al Qur'an", Halabi, Cairo, 1935/1354, pt 1, p. 47; Abu Bakr `Abdullah b. abi Da'ud, "K. al Masahif", ed. A. Jeffery, Cairo, 1936/1355, p. 11)
Ketujuh dialek yang dimaksud ialah dialek Hudail, Kinana, Qais, Dabba, Taim al-Rabbab, Asad Khuzaima, dan Qurais :
1) ibn `Abbas is credited with the distribution: five Hawasin-type dialects, QURAIS and Khuza`a. (p. 152, Abu Ja`far Muhammad b. Jarir al Tabari, "Tafsir", vol. 1, p. 66)
2) ibn `Abbas stated, 'The Qur'an was revealed in seven dialects' (p. 156, Jalal al Din `Abdul Rahman b. abi Bakr al Suyuti, "al Itqan fi `ulum al Qur'an", Halabi, Cairo, 1935/1354, pt 1, p. 47)
Jadi, bukan 7 dialek Quraish seperti yang anda katakan (Quraish hanya salah satunya).
APAKAH KETUJUH DIALEK QUR’AN MERUPAKAN SEBUAH VERSI? BENARKAH MUHAMMAD MENGHENDAKI DEMIKIAN?
Selanjutnya, perbedaan dialek itu menimbulkan perselisihan di antara para pengikut Muhammad mula-mula, karena bukan sekedar perbedaan dialek, tetapi sudah mengarah kepada bentuk (forms) yang berbeda. Simaklah percekcokan antara Hisham dan Umar perihal surat Al Furqaan tentang hal ini:
`Umar said, 'I heard Hisham b. Hukaim reciting surat al Furqan and listened to his recital. On observing that he was reading many forms which the Prophet had not taught me, I all but rushed upon him as he prayed. But I waited patiently as he continued, and, collaring him when he had finished, I asked him, 'Who taught you to recite this sura?' He claimed that the Prophet had taught him. I said, 'By God! you're lying!' I dragged him to the Prophet telling him that I heard Hisham recite many forms he had not taught me. The Prophet said, 'Let him go. Recite, Hisham.' He recited the reading I had already heard from him. The Prophet said, 'That is how it was revealed.' He then said, 'Recite, `Umar', and I recited what he had taught me. He said, 'That's right. That is how it was revealed. This Qur'an was revealed in seven forms, so recite what it was easiest.' (p. 150-151, Abu Ja`far Muhammad b. Jarir al Tabari, "Tafsir", vol. 1, p. 24)
Jadi, mau tidak mau, anda suka atau tidak suka, perbedaan dalam dialek bahasa itu telah menjadi perbedaan versi yang ‘disputable’. Perhatikan, bahwa Muhammad samasekali tak menentang perbedaan yang terjadi, melainkan menganggapnya sebagai suatu kewajaran yang bisa diterima. Sebenarnya, jika kita mau kritis, Jibril mula-mula hanya memperbolehkan satu tipe gaya tulisan Qur’an:
Ibn Abbas reported Allah's Messenger (may peace be upon him) as saying: Gabriel taught me to recite in one style. I replied to him and kept asking him to give more (styles), till he reached seven modes (of recitation). Ibn Shihab said: It has reached me that these seven styles are essentially one, not differing about what is permitted and what is forbidden. (Sahih Muslim, Vol. 2, p.390).
Jadi, proses itu disebabkan karena tawar-tawaran dengan Jibril. Oleh karena itu, Muhammad menganggap Quran memang diturunkan dalam 7 gaya, dan ini bukan masalah. Ia memperbolehkan toleransi akan hal ini, dan meminta pengikutnya membaca dengan cara yang paling mudah menurut mereka : The Qur'an has been revealed to be recited in seven different ways, so recite of it that which is easier for you. (Sahih al-Bukhari, Vol. 6, p.510).
Tapi yang sangat mengejutkan, perbedaan-perbedaan dialek yang telah ditetapkan oleh Jibril itu justru kemudian diingkari oleh kaum Muslimin sendiri. Adalah Khalifah Umar bin Khattab yang pertama melanggarnya. Umar pernah memperingatkan Abdullah karena mengajarkan Qur’an dengan dialek Hudail: `Umar is said to have admonished `Abdullah for teaching the Qur'an in the language of Hudail. It had been revealed in the language of the Qurais and ought to be taught in that language. (p. 154, 200-201, Ahmad b. `Ali b. Muhammad al `Asqalani, ibn Hajar, "Fath al Bari", 13 vols, Cairo, 1939/1348, vol. 9, p. 7)
Tak hanya itu. Toleransi Muhammad ini juga dilanggar lagi oleh Kalifah Usman bin Abu Thalib. Perbedaan dalam berbagai dialek bahasa Arab dalam Quran itu kemudian dilarang oleh Usman! Apa yang dilakukannya? He transcribed the texts (suhuf) into a single codex (mushaf waahid), he arranged the suras, and he restricted the dialect to the vernacular (lugaat) of the Quraysh on the plea that it (the Qur'an) had been sent down in their tongue. (As-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.140).
Jadi, ini dilakukannya dengan cara mengkodifikasikan berbagai varian itu ke dalam satu kodeks tunggal untuk kemudian melarang yang lainnya. Selain itu, ketika Usman telah menerima ‘mushaf’ yang lengkap, ia melihat adanya banyak perbedaan dialek bahasa yang sebenarnya sudah ada (inheren). Menurutnya, ini tak boleh terjadi lagi: 'Had he who dictated it been of Hudail and the scribe of Thaqif,' he said, 'this would never had happened.' (p. 169, Abu Bakr `Abdullah b. abi Da'ud, "K. al Masahif", ed. A. Jeffery, Cairo, 1936/1355, p. 33)
Jadi, Usman telah mengkodifikasikan beberapa salinan ‘suhuf’ ke dalam satu kodeks naskah, dan tak boleh lagi dijabarkan ke dalam berbagai dialek yang terjadi saat itu (padahal, Muhammad memperbolehkannya). Sungguh aneh dan ironis memang, perintah dari ‘nabinya’ sendiri harus ia langgar dengan ceroboh. Menurut saya, Usman terlalu berani dan gegabah.
Bahkan, Abu-al-Khair-ibn-al-Jazari mengatakan bahwa ketujuh format dialek dalam Quran itu tak boleh diabaikan atau diganti, melainkan harus dihargai: Abu al-Khair ibn al-Jazari, in the first book that he published, said "Every reading in accordance with Arabic, even if only remotely, and in accordance with one of the Uthmanic codices, and even if only probable but with an acceptable chain of authorities, is an authentic reading which may not be disregarded, nor may it be denied, but it belongs to al-ahruful-sab'at (the seven readings) in which the Qur'an was sent down, and it is obligatory upon the people to accept it, irrespective of whether it is from the seven Imams, or from the ten, or yet other approved imams, but when it is not fully supported by these three (conditions), it is to be rejected as dha'ifah (weak) or shaathah (isolated) or baatilah (false), whether it derives from the seven or from one who is older than them. (As-Suyuti, Al-Itqan fii Ulum al-Qur'an, p.176).
Sampai disini, melihat kembali berbagai informasi tsb, tujuh varian dialek bahasa Quran pada akhirnya menjadi versi-versi yang dipertentangkan. Saya yakin perbedaan isinya pasti sangat signifikan. Sebab jika tidak, mustahil Usman sampai mau campur tangan menanganinya secara serius.
Ketujuh dialek bahasa yang dipakai dalam tujuh varian Quran (“Sab’at-I’Ahruf”) itu sesungguhnya diizinkan oleh Muhammad untuk terjadi. Namun Usman telah melanggar kesepakatan ini dengan cara melarangnya. Ironis, memang…..
Sampai disini dulu sementara, simpulan:
1. Quran sudah tidak asli lagi
2. Usman melakukan standardisasi dengan melakukan pengubahan dan pembakuan. Terbukti dari beberapa catatan sarjana muslim diatas, terjadi banyak pertentangan pasca kodifikasi.
3. Quran yang ada setelah Usman (apalagi sekarang) sudah tidak sama lagi dengan yang disampaikan Muhammad.
Sekian dulu. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi. Hehehee... # Sumber: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=13858      | hell | Oct 29, '07 12:38 AM for everyone | ‘’YOU HAVE BOMBs, I HAVE BLOGs’’ Hell…o, Selamat datang di blog ini. Sebelum kamu masuk lebih dalam di blog ini, aku akan memberi sedikit pengantar. Bila kamu muslim, dan marah atau shock dengan konten blog ini, itu wajar. Justru, tak wajar kalau kamu tak marah. Boleh dan sah-sah saja adanya. Tetapi, yang paling penting bukan apakah kamu marah atau tidak, tapi apakah pada akhirnya nanti kamu akan menemukan kebenaran yang selama ini bahkan tak pernah terpikirkan oleh-mu? Bila kamu percaya kepada eksistensi Tuhan, maka yakinlah perjumpaan kamu dengan blog ini bukan sesuatu yang kebetulan. Ada rencana Tuhan yang indah buat kamu. Mungkin tidak ada kejadian-kejadian dahsyat dan revolusioner dalam diri kamu untuk beberapa waktu ke depan. Biasa-biasa saja, sambil sedikit gelisah dan mulai mempertanyakan keyakinan agama warisan leluhur-mu, sebagai akibat dari membaca blog ini. Tak apa-apa. Teruskan saja hidup -mu sebagaimana yang selama ini kau jalani. Pada saatnya nanti, Sang Kebenaran-lah yang akan datang mendapatkan kamu. The truth will set you free, my friends. Blog ini tidak bertujuan menghina atau melecehkan agama dan siapapun. Konten blog ini hanyalah memaparkan kembali fakta-fakta sejarah islam dengan muhammad-nya. Semua fakta sejarah tersebut bersumber dari Quran dan hadith-hadith yang selama ini dikenal dan dipercayai otoritas kesahihanya oleh kaum muslim sedunia. Bila kamu ingin berdebat dengan lebih leluasa berkenaan dengan konten blog ini, silakan register dan log-in ke forum www.indonesia.faithfreedom.org Blog ini hanya membatasi diri pada penyajian kembali artikel-artikel (terjemahan) dari forum tersebut. Bukan sebagai ajang debat kusir, gebrak meja dan banting kursi, apalagi maen bom sana, bom sini. You have bombs, I (just) have blogs! Terimakasih dan selamat membaca…. Yeah.. we rock you baby!!!!! MATUR NUWON Terimakasih saya sampaikan kepada pengelola dan moderator di forum iFF (www.indonesia.faithfreedom.org) yang memungkinkan saya terlibat dalam diskusi-diskusi hebat, seru dan mengasyikkan di dalamnya. Secara khusus, blog ini saya dedikasikan kepada friends di iFF. Apresiasi yang mendalam kepada para relawan penerjemah artikel di iFF mendorong saya membuat blog ini, agar buah pekerjaan tangan mereka dapat disebarkan dan dibaca oleh publik Indonesia. Apa yang telah mereka (pengelola & penerjemah iFF) kerjakan tidak akan pernah sia-sia. Benih telah ditabur, proses berkecambah sedang berlangsung. Blog ini hanya setetes air yang membantu proses akselerasi pertumbuhan benih-benih kesadaran baru dari generasi manusia yang hidup hari ini dan masih ingin membuat planet biru ini sebagai tempat yang layak untuk dihidupi dengan harmoni dan damai antar ras manusia. Hegel pada 28 Oktober 1808 pernah menulis kepada filsuf Niethammer di Munich, “Kalau kerajaan bayangan telah direvolusi, maka dunia nyata tidak mungkin dapat bertahan.” Dengan kata lain: Keputusan-keputusan sejarah yang sesungguhnya, diputuskan di dalam kepala-kepala. Yang kemudian terjadi di jalanan dan di medan-medan pertempuran hanyalah akibatnya. Gagasan Hegel itu mengingatkan aku tentang perkembangan situasi islam belakangan ini. Islam sesungguhnya mempunyai shadow-state yang berbentuk Quran (dan hadith, serta beberapa tradisi lainnya). Quran merupakan sumber ideologi totalitarianisme-fasistik islam. Shadow state inilah yang kemudian menyetir dan mengendalikan susunan saraf otak kaum muslim. Oleh karena itu, sebagaimana Hegel, maka “kerajaan bayangan” atau shadow state dari islam itu harus dihancur-leburkan. iFF adalah salah satu sarana bagi penghancuran shadow state itu dengan membeberkan fakta-fakta Quran, hadith, dan kepercayaan-kepercayaan tradional islam lainnya. Blog ini dihadirkan untuk mempercepat perwujudan misi iFF. Selamatkan kaum muslim dari islam! Sengaja aku Lampirkan cuplikan salah satu artikel Sina yang berkaitan dengan pasal penghinaan terhadap agama islam. Maksudnya agar sebelum muslim masuk lebih jauh ke konten lain dari blog ini, mereka dapat memahami pola pikir blog ini sejak awal. Oya, juga aku lampirkan maksud dan tujuan Ffi disini. Sekalian terang dan promosi iFF (memang itu tujuannya Berikut adalah cuplikan dan lampiran tulisan tersebut: Semakin banyak orang menerbitkan artikel2 yg menelanjangi islam dan mencetak gambar2 yg memalukan dari muhammad, semakin cepat muslim akan menyadari bahwa mereka TIDAK dapat membungkam dunia melalui merengek, berlagak jadi korban, mengancam dan membuat rusuh. Jika orang2 boleh mengejek Yesus, mengapa tidak ada yg boleh mengejek muhammad? Mengejek Yesus dan penderitaannya dan penyalibannya mungkin menyedihkan; tapi gambar muhammad sedang pesta sex dengan istri2 mudanya yg sangat banyak adalah menggambarkan kenyataan. Mengapa kenyataan harus menyinggung muslim? Pertanyaan penulis kepada muslim adalah mengapa kenyataan bahwa muhammad berhubungan sex dengan banyak perempuan, beberapa istri2nya, beberapa pelayan2nya, beberapa "milik tangan kanannya" (tawanan2 perang) dan beberapa selir2nya tidak menyinggung kalian tapi menceritakan peristiwa ini menyinggung kalian? Mengapa kenyataan bahwa muhammad membunuh lawan2nya, membantai tawanan2 perangnya, berhubungan sex dengan anak ingusan berusia 9 tahun, menyerbu dan menjarah caravan pedagang, menyerang orang sipil tidak bersenjata dan orang2 desa yg miskin tidak menyakiti perasaan muslim tapi berbicara tentang hal ini menyakiti muslim? Apa yg memalukan adalah keyakinan mereka pada orang seperti itu sebagai utusan Tuhan. Jika muslim tidak ingin keyakinan mereka ditertawakan, mereka harus berhenti mempercayai orang yg sedemikian rendah moralnya seperti muhammad daripada terus menerus berusaha menyembunyikan kejelekannya. SELAMAT DATANG di WWW.INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG . . . Entah ini perjumpaan anda pertama kali dgn kami atau yg kesekian kali, kami tidak menyampaikan gambaran manis dan sejuk ttg Islam disini: tidak ada taman2 wangi, cerita2 1001 malam, karpet2 Ali Baba yg berseliweran, jini2 cantik berambut pirang (Ingat I dream of Jeannie, nggak ?) ataupun lagu2 gurun pasir yg mendayu-dayu. FFI mengandung potret sebuah ideologi yg ingin menjajah seluruh dunia lewat kekerasan dan infiltrasi. Materi disediakan bagi anda, hasil jerih payah anggota2 FFi yg mencari, menerjemahkan & mengumpulkannya agar anda dapat meng-copy-nya dan membagikannya secara luas. Bagi mereka yg tidak suka dgn situs ini, silahkan mencari situs2 lain yg menyebarkan kebohongan bahwa Islam = agama damai. Hanya disitu anda bisa mendengar hal2 manis ttg Islam. Tidak disini. Jadi jangan heran/kaget/kecewa/mengumpat2. Kami tidak punya pilihan lain! Para promotor Jihad hanya mengerti satu hal : kekerasan, kekerasan, dan kembali ke peradaban abad ke 7. Mereka yg menyebut diri Muslim moderat seperti dikebiri, impoten dlm mengalahkan saudara2 jihadi mereka. Atau mereka diam2 saja mendukung para saudara mereka yg berteriak2 'Allahu Akbar' sambil menarik pedang, membablas leher mereka yg menolak Islam. Spt kata Jendral AS George Patton dlm menghadapi fasisme jamannya : 'We will make the other son-of-a-bitch die.' http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=793About Faith Freedom International Terorisme atas nama Islam memang diinspirasi oleh ajaran Islam. Tidak mungkin kita dapat melawan terorisme Islam tanpa mengalahkan ideologi yang melahirkannya; Islam. Muhamad seorang teroris, menurut pengakuannya sendiri. Lihatlah apa yg tertera dlm biografinya (hadis) yg dianggap sahih oleh Muslim sendiri : http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/052.sbt. html#004.052.220 Semua Muslim yang taat padanya adalah teroris. Muslim yang bukan teroris adalah mereka yang buta dan sebenarnya tidak tahu menahu akan Islam. Kebanyakan dari mereka belum pernah baca Quran. Mereka orang baik, tapi bukan Muslim baik. Mereka itulah mayoritas. Dan mereka itulah yg harus kami selamatkan. Kalau kau mencintai sesama manusia (bebas dari SARA), kau bukan lagi Muslim. Muslim, menurut ajaran Islam aslinya tidak boleh mencintai orang lain selain sesama Muslim. Bacalah situs ini dan jika kau tidak dapat membuktikan saya salah, tinggalkan kepercayaan yang mengajarkan kebencian dan teror ini. Jangan menjadi bagian dari umat Islam. Mereka penganut faham fascisme. Mereka diskrimatif. Islam mengajarkan kebencian terhadap non-muslim. Biarkanlah kebenaran menerangi jalan pikirmu. Hadapilah kenyataan SEPAHIT APAPUN, seperti kami semua di situs ini. Faith Freedom International adalah gerakan eks-muslim "grassroots" sedunia yg terdiri dari orang2 yang khawatir akan meningkatnya ancaman Islam. Kami ingin menyatukan manusia, bukan dgn menawarkan doktrin baru, tapi dgn mengajak anda meninggalkan doktrin2 yang memisahkan kami. Kami ingin menghilangkan dikotomi biadab 'Muslim vs. Kafir". Umat manusia adalah satu keluarga. Jangan biarkan psychopat2 spt Hitler dan Muhamad mempengaruhimu dengan kebohongan mereka. Jangan kau menjadi korban kebijakan "devide et impera" ciptaan seorang psychopath. Faith Freedom mendukung kebebasan beragama (kecuali Islam). Kami menentang kebencian, bukan kepercayaan. We are against Hate, not Faith. Kami menghormati HAK AZASI Manusia dan bukannya Kepercayaan Buta manusia. Kami benar secara faktual, walau fakta2 itu pahit dan kedengarannya tidak enak/tidak sopan. Bantulah kami. Sebarkan pesan ini. Tunjukkan situs ini pada teman2mu. Bantu kami dgn berdebat, menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Kita harus memerangi Islam dan menyatukan umat manusia dgn cara yang diinginkan Tuhan. Islam adalah kanker. Kami bisa menghapuskannya. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan manusia. Dengan keyakinan ini, bahkan gunungpun dapat kami gerakkan. Ali Sina http://www.faithfreedom.org/oped/Prasadh51115.htmMaksud dan Tujuan FFI, surat dari A SINA http://www.indonesia.faithfreedom.org/oldforum/viewtopic.php?t=6477Disclaimer: FFI promotes diversity of thoughts. We do not necessarily agree with the opinions expressed here. © copyright Permission is granted to translate and reproduce the articles in this site. Please provide a link to the original page.      | petisi | Oct 29, '07 12:31 AM for everyone | http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/4764730.stmWriters' statement on cartoons; A group of 12 writers have put their names to a statement in French weekly newspaper Charlie Hebdo warning against Islamic "totalitarianism". Here is the text in full: 12 penulis (sebagian besar murtadin Islam) mencantumkan nama-nama mereka dalam sebuah pernyataan sikap pada sebuah mingguan Perancis, Charlie Hebdo, yg memperingatkan khalayak akan bahaya "totaliterisme" Islam. Ini teks lengkap dari pernyataan sikap tersebut : MANIFESTO: TOGETHER FACING THE NEW TOTALITARIANISM BERSAMA-SAMA MENGHADAPI TOTALITERISME BARU AFTER HAVING OVERCOME FASCISM, NAZISM, AND STALINISM, THE WORLD NOW FACES A NEW GLOBAL TOTALITARIAN THREAT: ISLAMISM. Setelah mengalahkan fasisme, Nazisme dan Stalinisme, dunia kini menghadapi ancaman totalitarian global baru : Islamisme. WE, WRITERS, JOURNALISTS, INTELLECTUALS, CALL FOR RESISTANCE TO RELIGIOUS TOTALITARIANISM AND FOR THE PROMOTION OF FREEDOM, EQUAL OPPORTUNITY AND SECULAR VALUES FOR ALL. Kami, penulis, wartawan, dan intelektual, menyerukan agar dunia melawan totaliterisme religius ini dan mempromosikan kebebasan, persamaan derajad dan nilai-nilai sekuler bagi semua. RECENT EVENTS, PROMPTED BY THE PUBLICATION OF DRAWINGS OF MUHAMMAD IN EUROPEAN NEWSPAPERS, HAVE REVEALED THE NECESSITY OF THE STRUGGLE FOR THESE UNIVERSAL VALUES. Kejadian akhir-akhir ini, khususnya dgn penerbitan gambar kartun Muhamad dlm suratkabar-suratkabar Eropa, menunjukkan pentingnya nilai-nilai universal ini. THIS STRUGGLE WILL NOT BE WON BY ARMS, BUT IN THE IDEOLOGICAL FIELD. Perjuangan ini tidak akan dimenangkan oleh senjata, tetapi oleh ideologi. IT IS NOT A CLASH OF CIVILISATIONS NOR AN ANTAGONISM BETWEEN WEST AND EAST THAT WE ARE WITNESSING, BUT A GLOBAL STRUGGLE THAT CONFRONTS DEMOCRATS AND THEOCRATS. Ini bukan bentrokan peradaban atau antagonisme antara Barat dan Timur, namun perjuangan global yg mengkonfrontasi kaum pencinta demokrasi vs teokrat. LIKE ALL TOTALITARIAN IDEOLOGIES, ISLAMISM IS NURTURED BY FEAR AND FRUSTRATION. Spt layaknya setiap ideologi totaliter, Islamisme dipupuk oleh rasa takut dan frustrasi. PREACHERS OF HATRED PLAY ON THESE FEELINGS TO BUILD THE FORCES WITH WHICH THEY CAN IMPOSE A WORLD WHERE LIBERTY IS CRUSHED AND INEQUALITY REIGNS. Para pengkotbah kebencian (baca: pengkhotbah islam) memanfaatkan perasaan-perasaan (takut dan frustrasi) tersebut utk membangun kekuatan yg dapat memaksa dunia menginjak-injak kebebasan dan menciptakan ketimpangan. BUT WE SAY THIS, LOUD AND CLEAR: NOTHING, NOT EVEN DESPAIR, JUSTIFIES CHOOSING DARKNESS, TOTALITARIANISM AND HATRED. Tapi kami menyatakan dgn keras dan tegas: tidak ada satu hal-pun yg membenarkan menjalarnya kegelapan, totaliterisme dan kebencian. ISLAMISM IS A REACTIONARY IDEOLOGY THAT KILLS EQUALITY, FREEDOM AND SECULARISM WHEREVER IT IS PRESENT. Islamisme adalah sebuah ideologi reaksioner yg membunuh persamaan derajad, kebebasan & sekularisme, dimanapun ia berada. ITS VICTORY CAN ONLY LEAD TO A WORLD OF INJUSTICE AND DOMINATION: MEN OVER WOMEN, FUNDAMENTALISTS OVER OTHERS. Kemenangannya tidak hanya membawa ketidakadilan dan dominasi: lelaki atas perempuan, fundamentalis diatas orang lain. ON THE CONTRARY, WE MUST ENSURE ACCESS TO UNIVERSAL RIGHTS FOR THE OPPRESSED OR THOSE DISCRIMINATED AGAINST. Kita malah harus memastikan adanya hak-hak universal bagi mereka yg ditindas dan didiskriminasi. WE REJECT THE "CULTURAL RELATIVISM" WHICH IMPLIES AN ACCEPTANCE THAT MEN AND WOMEN OF MUSLIM CULTURE ARE DEPRIVED OF THE RIGHT TO EQUALITY, FREEDOM AND SECULARISM IN THE NAME OF THE RESPECT FOR CERTAIN CULTURES AND TRADITIONS. Kami menolak prinsip "relativisme budaya" yg menuntut bahwa lelaki dan perempuan dlm budaya Muslim tidak perlu persamaan derajad ataupun sekularisme karena memang budaya dan tradisi mereka tidak menghendakinya. WE REFUSE TO RENOUNCE OUR CRITICAL SPIRIT OUT OF FEAR OF BEING ACCUSED OF "ISLAMOPHOBIA", A WRETCHED CONCEPT THAT CONFUSES CRITICISM OF ISLAM AS A RELIGION AND STIGMATISATION OF THOSE WHO BELIEVE IN IT. KAMI MENOLAK UTK MENUMPULKAN JIWA KRITIS KAMI HANYA KARENA TAKUT DITUDUH "ISLAMOPHOBIA", SEBUAH KONSEP YG MENGANGGAP SEGALA KRITIK TERHDP ISLAM SBG SEBUAH STIGMA. WE DEFEND THE UNIVERSALITY OF THE FREEDOM OF EXPRESSION, SO THAT A CRITICAL SPIRIT CAN EXIST IN EVERY CONTINENT, TOWARDS EACH AND EVERY MALTREATMENT AND DOGMA. Kami membela universalitas kebebasan berekspresi, shg jiwa kritis dapat eksis dlm setiap kontinen, melawan setiap dogma dan perlakuan tidak adil. WE APPEAL TO DEMOCRATS AND FREE SPIRITS IN EVERY COUNTRY THAT OUR CENTURY MAY BE ONE OF LIGHT AND NOT DARK. Kami menyerukan kpd para pencinta demokrasi dan jiwa-jiwa bebas di manapun, utk menjadikan abad kita sebasgai sebuah abad pencerahan dan bukan sebuah abad kegelapan. Signed by: [1] Ayaan Hirsi Ali, [2] Chahla Chafiq, [3] Caroline Fourest, [4] Bernard-Henri Levy, [5] Irshad Manji, [6] Mehdi Mozaffari, [7] Maryam Namazie, [8] Taslima Nasreen, [9] Salman Rushdie, [10] Antoine Sfeir, [11] Philippe Val, [12] Ibn Warraq Surat Exmuslim: SAYA MANTAN MUSLIM ORANG SAUDI oleh Sahid (2005/01/08) Dear Ali Sina, Maaf jika inggris saya jelek tapi saya perlu menulis pada anda. Saya tidak pandai menulis. Saya seorang muslim. Saya baca artikel-artikel anda dan pikiran saya berubah tentang islam. Saya adalah salah seorang yang selalu berusaha menyiarkan islam. Selama ini saya pikir Osama bin Laden bukanlah muslim, sayalah muslim sesungguhnya. Sekarang saya sadar, sayalah yang bukan muslim dan Osama bin Laden adalah muslim sesungguhnya. Untungnya saya tinggal di Swedia dan saya bisa murtad dengan aman disana, karena Swedia negara yang bebas. Saya lahir di Arab Saudi dan jika saya tinggalkan islam dinegara kelahiran saya, saya bisa dibunuh. Saya harus merubah seluruh hidup saya karena saya tinggalkan islam. Sangat sulit tapi saya akan coba karena saya tidak mau jadi seorang muslim. Saya tidak lagi pergi ke mesjid, tidak lagi sholat, berhenti melakukan semua ini. Saya malah mencukur jenggot saya. Saya tidak janji utk jadi orang barat dalam sehari tapi saya sudah mulai berubah. Keluarga saya tinggal di Arab Saudi. Saya tidak akan bilang pada mereka keputusan saya ini karena mereka sangat tidak toleran. Saya harap semua muslim akan meninggalkan islam. Dan ini akan terjadi. Islam itu tidak manusiawi. Kau tidak bisa jadi manusia dan jadi muslim dalam waktu yg sama. Kebanyakan muslim akan memilih utk jadi manusia. Saya yakin ini. Saya seorang muslim tapi saya tidak mau membunuh non muslim. Saya tidak berpikir bahwa ada ayat-ayat demikian dalam Quran. Saya pikir itu Cuma utk dipraktekan di abad ke-7 saja. Saya seorang ayah. Saya punya anak perempuan umur 1 tahun. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Anak saya tidak akan menjadi seorang wanita muslim. Dia akan menjadi seorang wanita barat. Dia akan menerima pendidikan dan punya karir. Saya lakukan semampu saya utk itu. Lucu sekali bahwa saya telah baca Quran jutaan kali tapi tidak melihat hal-hal yang anda tulis dalam artikel anda. Anda membuat saya melek. Terimakasih atas situs anda. Anda buat saya menjadi manusia yang lebih baik. Tidak, anda membuat saya menjadi manusia. Sebelumnya saya adalah seorang muslim. Saudara perempuan saya yang juga tinggal di Swedia telah lama meninggalkan islam tapi saya tidak tahu itu. Ketika saya katakan padanya tentang kemurtadan saya ini dia sangat senang sekali. Sekarang kami jadi lebih dekat. Keluarga saya (dan saya sebelum meninggalkan islam) tidak suka padanya karena dia berusaha keras utk keluar dari Saudi Arabia dan pergi kenegara bebas. Dia benci Islam sejak kecil. Sudah sifatnya. Dia selalu ingin mengejar karir. Dia bilang Islam tidak akan kuat ditanggung oleh perempuan (khususnya di Arab Saudi). Saya baca semua artikel disitus anda. Butuh waktu beberapa bulan. Saya selidiki sendiri. Saya bicara dengan Imam. Dia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. P.S. Saya harap keadaan akan membaik dinegara asalmu. Orang-orang Iran adalah orang yang paling cerdas dan berpendidikan diantara para muslim. Thank you very much! Inggris saya jelak tapi saya tinggal di Swedia dan bahasa swedia lebih penting buat saya! --------------- Dear Sahid Thank you for your wonderful story! Tidak, anda tidak perlu jadi orang barat. Anda adalah orang Arab sama seperti saya orang Persia. Kita harus bangga akan garis keturunan dan budaya kita. Dengan meninggalkan islam tidak berarti kita tinggalkan identitas kita. Sebaliknya, kita harus mengembalikan identitas kita yang dihilangkan islam. Sebelum islam, orang Arab adalah orang yang toleran. Permusuhan antar agama tidak ada. Orang berselisih karena rasa hormat atau hal-hal menggelikan lainnya, sama seperti ditempat lain juga tapi tidak pernah berselisih karena agama. Malah mereka semua punya bulan khusus setiap tahun yang mereka, semua golongan agama, anggap keramat dan dilarang berkelahi atau bertempur pada bulan itu. Bahkan para pencuri dan perampok jalanan pun menghormati bulan keramat. Meski mereka berbeda agama, semua orang Arab berkumpul bersama dan memuja dewa-dewa mereka. Tak seorangpun menghina dewa orang lain. Mereka mengijinkan siapapun utk menyiarkan agamanya. Mereka mengijinkan pernikahan antar ras, dengan Yahudi, dengan Kristen, dll, dan tidak pernah punya pikiran bahwa orang beda agama itu najis (kotor, menjijikan, hina). Para Wanita dihormati, mereka boleh keluar rumah sendirian. Mereka boleh punya usaha sendiri, contohnya Khadijah (istri pertama Muhammad), bahkan mereka bisa memimpin pasukan, seperti Aisha (istri kecilnya Muhammad). Tapi pelahan-lahan, seiring ajaran Muhammad mulai mengendap, generasi yang baru berpikir bahwa praktek ini adalah praktek jaman jahiliyah dan mulai meninggalkannya. Orang Arab (sebelum islam) adalah orang berbudaya dan masyarakat mereka jauh lebih manusiawi dari yang sekarang setelah Muhammad meracuni pikiran mereka. Anda tidak perlu ganti identitas. Yang anda perlu lakukan adalah mengklaim kembali nilai-nilai toleran dan sekular dari nenek moyang anda. Anda bisa membesarkan anak anda agar bangga sebagai orang Arab dan jadi seperti bibinya yang sudah dicerahkan, mandiri dan sukses. Salam saya bagi anda, anak dan saudari anda! Mari bergabung bersama kami, demi tujuan kami dan jadilah bagian dari gerakan kami. Kita harus menggapai orang Arab segera. Banyak dari mereka aslinya berjiwa murni seperti anda. Kita harus menggapai mereka sebelum Osama bin Laden, Al Jazeera atau Media Arab pembenci lainnya mengisi hati mereka dengan kebencian dan membujuk mereka utk meledakkan diri sebagai pembom bunuh diri. Kirim kisah anda dalam bahasa Arab dan jika anda punya waktu tolong terjemahkan artikel-artikel disini kedalam bahasa Arab. Semoga anda dan anak anda diberkati dan semoga dia tidak pernah tahu arti diskriminasi, kekerasan dan penganiayaan. A SINA Sumber: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=15413http://www.faithfreedom.org/Testimonials/Sahid.      | islam | Oct 29, '07 12:25 AM for everyone | Subject Replies Blog Entry The MANIFESTO Posted on Dec 31, '07 12:59 PM for everyone " http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/4764730.stm Writers' statement on cartoons;A group of 12 writers have put their names to a statement in French weekly newspaper Charlie He..." 0 replies Blog Entry HELL...o Posted on Dec 31, '07 12:59 PM for everyone " ‘’YOU HAVE BOMBs, I HAVE BLOGs’’ Hell…o, Selamat datang di blog ini. Sebelum kamu masuk lebih dalam di blog ini, aku akan memberi sedikit pengantar. Bila kamu muslim, dan ma..." 0 replies PETISI ANTI ISLAM-FASIS Posted on Dec 31, '07 12:58 PM for everyone " BILA ANDA MEMIMPIKAN SEBUAH DUNIA YANG DAMAI DAPAT TERWUJUD DI KEHIDUPAN PLANET BIRU KECIL INI, MULAILAH DARI SEBUAH LANGKAH KECIL; Klik "ISLAMO-FASCISM" untuk mengirimkan Petisi ..." 0 replies PENGADILAN BAGI MUHAMMAD Posted on Dec 31, '07 12:56 PM for everyone " -- HANYA dan DEMI untuk PENCERAHAN -- .ADILI. MUHAMMAD. PENGADILAN IN-ABSENTIA"Nabi" MUHAMMAD Bin ABDULLAHATAS KEJAHATAN KEMANUSIAAN Terdiri dari: ..." 0 replies LAFAL AUWLOH YANG BIKIN HEBOH Posted on Dec 31, '07 12:56 PM for everyone " MUKJIJAT-NYA AUWLOH Oleh Ali Sina Islam adalah sebuah agama yg kehilangan akal sehat, hingga sama sekali bertentangan dg pemikiran. Sudah menjadi suatu kewajaran j..." 0 replies MUSLIM MENGGENDONG NYEMOT Posted on Dec 31, '07 12:55 PM for everyone " Buat Non Arab:JADI MUSLIM =MENGGENDONG MONYET By Newman {31 October, 2006} Saya menulis ini bagi para muslim non Arab. Peringatan bagi orang Arab: Saya bukannya membenci ras ..." 0 replies Blog Entry SAYA EX-MUSLIM ARAB Posted on Dec 31, '07 12:54 PM for everyone "Surat Exmuslim: SAYA MANTAN MUSLIM ORANG SAUDI oleh Sahid (2005/01/08) Dear Ali Sina, Maaf jika inggris saya jelek tapi saya perlu menulis pada anda. Saya tidak pandai menul..." 0 replies OMONG KOSONG ISLAMOPHOBIA Posted on Dec 31, '07 12:53 PM for everyone " ISLAMOPHOBIA,SAMA OMONG KOSONGNYA DENGANJUDEOPHOBIA ATAU NAZIPHOBIA Berikut adalah dua artikel yang secara cerdas mengupas tuntas “salah duduk”-nya terminologi ..." 0 replies Blog Entry Psychobiografi Sang Rasul Posted on Dec 31, '07 12:51 PM for everyone " Ulasan Buku : .MEMAHAMI. MUHAMMAD. Sebuah Psycho-biografi Sang Rasul Author: Ali Sina on Sunday, June 03, 2007 Buku-ku yang berjudul Understanding Muhammad: The Psychobiogra..." 0 replies PROFIL (NARSIS) MUHAMMAD Posted on Dec 31, '07 12:50 PM for everyone " .PROFIL PRIBADI..MUHAMMAD. Terdapat puluhan ribu kisah/riwayat pendek tentang Muhammad. Kebanyakan adalah karangan/dibuat-buat, sebagian lainnya lemah dan diragukan kesahihannya..." 0 replies Blog Entry Rumus Muslim (Klaim Islam) Posted on Dec 31, '07 12:49 PM for everyone "RUMAHKU, PUNYAKU ;.RUMAHMU, PUNYAKU JUGA! Oleh: Syed Kamran Mirza Islam, selalu saja bikin pusing! Muslim paling rajin mengaku bahwa semua dan segala hal yg baik didunia ini t..." 0 replies Blog Entry TIPS DEBAT DENGAN PARA KAFIR Posted on Dec 31, '07 12:48 PM for everyone "Satire: TIPS DEBAT DAN MEMBUATKAFIRUN FRUSTRASI By Ayesha Ahmed Dear brothers and sisters in islam: Kita hidup di negara kafir dan setiap hari kita harus bertemu deng..." 0 replies Blog Entry AGAMA ISLAM ANJLOK Posted on Dec 31, '07 12:47 PM for everyone " Pada posting berikut akan banyak ditampilkan link-link sehingga pembaca dapat pergi ke sumbernya langsung. ISLAM.MEROSOT CEPAT !Sumber: http://www.indonesia.faithfreedom.org..."0 replies Blog Entry ISLAM BERTOBAT KE KRISTEN Posted on Dec 31, '07 12:46 PM for everyone "20 THN TERAKHIR :PALING BANYAK MUSLIM MURTAD KE KRISTEN Badai di Gurun By Wolfgan Simson Paling banyak Muslim murtad ke Kristen dlm 20 thn belakangan ini ketimbang dlm ..." 0 replies Blog Entry MENGINTIP SURGA ALA ISLAM Posted on Dec 31, '07 12:45 PM for everyone "Pesta Sex di Surga http://www.guardian.co.uk/saturday_review/story/0,3605,631332,00.html Umumnya dipercayai bahwa jika Muslim mati syahid, akan menikmati pahala seksual ketika s..." 0 replies Blog Entry MEMPERTANYAKAN KEMURNIAN ALQURAN Posted on Dec 31, '07 12:44 PM for everyone ".APAKAH QURAN MASIH MURNI? Kenapa sahabat Muhammad menulis versi berbeda dari Quran? Kenapa versi berbeda Quran ini kemudian dibakar? Ketika Muhammad mati ditahun 632..." 0 replies Blog Entry BUKTI ARKEOLOGI MEMBANTAH QURAN Posted on Dec 31, '07 12:43 PM for everyone "BUKTI ARKEOLOGISMELAWAN QURAN. Sampai kiamat-pun Muslimin bersikeras bahwa Quran adalah kata-kata final Tuhan. Namun, mana bukti sejarahnya? Bukti manuskrip, dan arkeologi..." 0 replies Blog Entry USMAN TIDAK MENCEGAH PERUBAHAN AYAT Posted on Dec 31, '07 12:42 PM for everyone "BENARKAH USMAN SUNGGUHMENCEGAH PERUBAHAN AYAT? Tidak benar! Sebenarnya Quran sudah tak lengkap lagi semenjak Usman belum menjadi khalifah dan melakukan standardisasi. K..." 0 replies Blog Entry QURAN BAKAL RONTOK BILA DIUJI DNG METODE BIBLE Posted on Dec 31, '07 12:41 PM for everyone "REPUBLIKA Online:.Quran TIDAK Tahan Uji. ALKITAB MAMPU TETAPI AL QUR’AN TIDAK MAMPU TAHAN UJILaporan Republika Online ALKITAB LEBIH DARI MAMPU UNTUK MEMBELA DIRINYA SEND..." 0 replies Blog Entry OBSERVASI KEASLIAN AL-QURAN Posted on Dec 31, '07 12:40 PM for everyone " OBSERVASI TERHADAP KEASLIANDAN KEMURNIAN ISI AL-QUR’AN APAKAH QUR’AN SUDAH DITULIS LENGKAP PADA MASA MUHAMMAD, WALAUPUN BELUM DIBUKUKAN? Ya, memang. Tapi sayang dugaan..
 
this menado friend of mine is a victimised of HTTP://ADM2I2H MULTIPLY.COM/ why they hated him and roysianipar?COZ THEY EXPOSED THE REALITY OF ISLAM IN INDONESIA MUKJIJAT-NYA AUWLOH
Oleh Ali Sina <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> Islam adalah sebuah agama yg kehilangan akal sehat, hingga sama sekali bertentangan dg pemikiran. Sudah menjadi suatu kewajaran jika seorang muslim yg ditantang malah mencoba membenarkan iman mereka dg kepercayaan yg kekanak-kanakan dan penuh khayalan. Dg melihat sepintas saja apa yg mereka anggap sebuah mukjijat mengungkapkan bangkrutnya kecerdasan dari para pengikut buta Muhamad.
Seluruh isi Quran penuh dg kesalahan–kesalahan sains, kesalahan tata bahasa, kesalahan sejarah dan kesalahan logika. Siapapun, yg masih punya setitik kecerdasan akan terheran-heran dg kebodohan buku (kalau kata muslim 'kitab') ini.
Tapi Muslim yg malang harus meyakinkan diri bahwa Islam sungguh-sungguh agamanya Tuhan dan auwloh adalah TUHAN. Utk itu mereka mau membodohi diri. Mereka mati-matian mencoba mengarang-ngarang mukjijat dan mati-matian mencoba menemukan “tanda-tanda” dari auwloh bahkan dalam hal-hal yg anehpun, dan herannya, mereka sungguh-sungguh percaya akan hal itu. Ketiadaan logika membuat mereka cukup berbahagia dg trik-trik sulap dan kekanak-kanakan. Mukjijat tentu saja tidak ada dalam Quran tapi fakta menunjukkan bahwa 1,2 milyar orang membaca buku mustahil ini dan tidak sadar bahwa sebenarnya cuma buku tipuan saja. Pada situs-situs islam dibawah ini anda dapat menemukan lusinan mukjijat konyol dan menggelikan (sekaligus menyedihkan) yg dihubung-hubungkan kepada auwloh. Dalam tulisan ini saya akan mencoba menelaah sebagian. http://www.maranao.com/miracles_of_islam.htm http://www.islamcan.com/miracles/index.shtml http://www.al-imam.net/miraclesislam.htm http://yaali.topcities.com/miracle.html http://somalitalk.members.easyspace.com/miracles/mucjiso.html http://www.khawajagaribnawaz.com/html/allinone2.htm http://groups.msn.com/LetsChataboutIslam/miraclesofislam.msnw?Page=1
Pohon membentuk kalimat Syahadat
Situs-situs islam memamerkan gambar ini dg catatan sbb: “Cabang-cabang pohon yg segaris membentuk sebuah kalimat dalam huruf arab yg menguatkan ke-Esa-an Allah (swt) dan nabinya Muhamad (saw).” Terbaca: 'La ilaha Illahau Muhammad-ur-Rasulullah' Tidak ada tuhan selain Allah (swt) dan Muhammad (saw) adalah utusanNya.”
Katanya ini adalah sebuah pemandangan disebuah ladang pertanian di Jerman. Banyak orang Jerman setelah melihat kejadian mukjijat ini jadi memeluk islam dan bahwa pemerintah Jerman memasang pagar besi disekeliling tempat itu utk mencegah orang mengunjungi dan menyaksikan tempat mukjijat tsb.”
Tapi, tak satupun dari situs-situs itu memberi alamat dari tempat tsb dan tidak ada foto lain dari gambar itu yg diambil dari sudut/angle lain. Ini karena gambar tersebut aslinya adalah lukisan cat minyak pada sebuah kanvas. Untuk lebih membuat anda percaya, coba perhatikan sudut kanan atas; anda bahkan bisa melihat kerutan dari kanvasnya. Kanvas tsb tidak terbentang dg baik. Tapi gambar itu belum seluruhnya terlihat. Gambar penuhnya adalah yang ini.
Dalam gambar penuh ini, dibagian kiri ada barisan pohon lainnya yg terbaca Muhammad Rasul Allah. Kalimat ini, yg dalam bahasa arab, lebih mendetil penggambaran tulisannya dan akan membuat para pengamat curiga akan kepalsuannya. Mungkin itu sebabnya kenapa kebanyakan situs-situs islam cukup senang dg bagian kanan gambar itu saja, lalu mengarang-ngarang ceritanya.
Bukankah bodoh sekali mengasumsikan bahwa inilah cara yg auwloh inginkan utk mengirim pesan pada orang, (khususnya di Jerman dimana orang tidak dapat membaca huruf arab dan pihak berwajib melarang menontonnya hingga orang-orang tidak dapat melihatnya?). Para muslim begitu ganas akan hal-hal sepele seperti yg mengakibatkan terbunuhnya 200 orang ketika seorang reporter berkata bahwa saking cantiknya salah seorang peserta Kontes Kecantikan Nigeria itu hingga Muhammad-pun pasti mau menikahinya. Lalu apa mereka akan diam saja jika pihak berwajib Jerman melarang mereka menyaksikan “mukjijat” ini? Dimana alamat tempat ini? Jika ini sebuah pesan yg disengaja oleh auwloh, orang akan bertanya akan kewarasan auwloh tsb, kok melakukan permainan anak-anak seperti ini. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi para pengikutnya yg membuta. Mereka INGIN utk percaya dan INGIN utk melihat mukjijat. Tipuan saja dihalalkan, bahkan lukisan seperti inipun yg sebenarnya cuma sekedar gurauan. Sapi bertanda Muhammad  Para muslim mengklaim bahwa tanda pada sapi ini terbaca auwloh dan pada kambing terbaca Muhammad. Tentu saja butuh imajinasi dari seorang muslim utk melihat huruf arab ini. Tapi ada berita menggembirakan bagi orang hindu juga. Karena seperti bisa anda lihat, terdapat lambang “Om” muncul ditubuh sapi ini:  Dilaporkan juga bahwa sapi ini tidak bersuara dg bunyi Muu, seperti sapi lain. Terdengarnya seperti Omuu! Bukankah ini mengejutkan? Bisa ngga sapinya muslim diatas melenguh Muuuu-ham-MAD?
Saya membayangkan apakah Manitou, Ishtar, Baal, Zeus dan dewa-dewa lain mengirimkan pesan-pesan juga. Tolong jika anda temukan pesan-pesan lain dari dewa-dewa tsb atau dewa mana saja, foto dan kirim pada saya.
Mukjijat Ankh Kepiting ini bisa jadi mujijat juga. Ini adalah pengakuan orang yg menangkap kepiting tsb: “Dalam salah satu pemancingan saya saya ambil foto dari binatang2 yg tertangkap dalam jala. Hari berikutnya saya perhatikan gambar2 itu lagi dan mendadak saya sadar bahwa lambang Mesir yg Keramat Ankh muncul (dua kali) pada punggung kepiting ini! Malah jika anda perhatikan dg lebih seksama lagi anda dapat melihat wajah seseorang yg dg jelas tergambar dipunggungnya. Saya bertanya2 apakah itu wajah seorang dewa!
Lambang Ankh adalah salah satu lambang religius dan budaya yg sangat kuat dari Firaun Mesir. Kata Mesir Ankh artinya “Hidup, untuk hidup”. Lambang ini katanya terdiri dari dua kekuatan, yg berupa persilangan adalah elemen jantan dan oval elemen betina (menurut pengetahuan Mesir kuno). Kedua lambang ini, silang dan oval, dikatakan merupakan dua prinsip langit dan bumi dan dewa-dewa mesir Osiris dan Isis, tapi sepertinya kedua dewa itu sudah pasti ada hubungannya dg makhluk laut juga, lha ditemukan dalam kepiting kok. Lambang Ankh  ….Sungguh membuat orang bertanya-tanya
Pohon sedang sholat Pohon sholat di Sydney ini begitu menggelikannya, hingga menurut saya ini adalah juaranya diantara semua mujijat islam. Situs islam menulis: “Sebuah pohon yg menyerupai orang sedang ruku’. Baru-baru ini fenomena demikian ditemukan disebuah hutan dekat Sydney. Seperti yg anda lihat, bagian bawah dari batang pohon tsb membungkuk sedemikian sehingga mirip orang yg sedang sholat – ruku. Melihat lebih dekat lagi anda bahkan dapat melihat ‘tangan-tangan’ yg menempel pada lututnya. Yang paling mengherankannya adalah ‘orang’ ini menghadap tepat kearah Kabah, Mekah, yg mana menjadi arah para muslim diseluruh dunia ketika sholat.”
Pohon tidak punya kepala dan tangan utk melakukan sholat seperti yg diklaim para muslim naif ini. Pohon tertekuk dalam bentuk yg berbeda-beda. Dg menggunakan imajinasi saya dapat melihat pohon lain mirip orang dg leher yg sangat panjang (lehernya tidak terlihat dalam gambar) berdiri didepan pohon ‘ruku’ atau berjalan kearah kamera. Kelihatannya seperti pohon ruku membungkuk dihadapannya atau mungkin bersujud kepadanya. Tapi mungkin saja saya salah, mungkin saja pohon ini sedang menonton semut-semut australia yg berjalan-jalan dibawah kakinya, yg lain ada yg bilang pohon ini membungkuk utk menghormati pohon lainnya tapi para akademisi yg paling terkenal dari al Azhar dan mayoritas mengatakan bahwa pohon ini sedang sholat. Pendapat pribadi saya adalah bahwa mereka semua salah dan pohon ini Cuma tertekuk karena adanya tekanan dari bonggol pohon besar yg tumbuh dipunggunya. Ouch! Pasti sangat menyakitkan! Tapi, saya kira kita tidak akan pernah tahu yg sebenarnya kecuali kita pergi ke Australia dan bertanya pada pohon tsb.
P.S. Setelah gambar diatas disebarkan banyak para muslim tertarik pergi ke australia dan melihat dari dekat pohon ‘saleh’ ini. Sayangnya apa yg dilihat teman saya membuatnya sangat terkejut. Ini adalah foto yg dia ambil.  Dia kaget melihat seekor anjing dan seekor babi berkumpul disekitar pohon tsb, dg begitu sholat sang pohon itu batal. Sekarang sang pohon harus melakukan Qosl dan vodoo (wudu) sebelum bisa meneruskan sholatnya, tapi karena dia tidak dapat bergerak, makhluk malang itu harus menunggu sampai hujan berikutnya datang, utk membersihkannya.
Dari hasil penyelidikan teman saya menemukan bahwa anjing dan babi tsb berziarah ke australia utk meminta pada sang pohon agar meminta pada auwloh untuk mengeluarkan mereka dari daftar makhluk najis.
Beberapa muslim telah menulis bahwa gambar ini palsu. Saya jadi bertanya-tanya, kenapaaaa?! Hanya karena babi dan anjing tsb lebih tajam gambarnya dibanding latar belakang tidak berarti gambar ini palsu. Ini Cuma satu mukjijat lainnya. Anda harus melihatnya lewat mata seorang yg percaya (beriman). Jika anda mulai meragukan apapun maka seluruh alam semesta ini akan berantakan.
Allah disini, Allah disana, Allah dimana-mana  Dalam gambar rekayasa awan ini para muslim menggunakan imajinasi kreatif mereka dan membaca kata Allah dalam huruf Arab. Saya malah melihat seorang anak lelaki yg duduk pada sebuah toboggan (kereta luncur), menatap kelangit dan makhluk yg kecil mendorong dari belakang. Tolong gunakan imajinasi anda dan lihat apa lagi yg bisa anda saksikan dalam gambar tsb. Cobalah berpikir seperti anak-anak, seperti yg para muslim lakukan, dan anda akan terkejut pada apa yg anda lihat.
Waktu saya kecil saya biasa rebahan dirumput dan mencari bentuk-bentuk yg saya kenal seperti manusia dan binatang pada awan-awan dilangit. Ini hanya menunjukkan bahwa otak imajinatif dari para orang yg percaya islam masih dalam tahap anak-anak.
Sarang lebah ini adalah favorit para muslim! Mereka pikir lebah dapat menulis huruf arab dan memutuskan utk menunjukkan kepercayaan mereka akan Allah dg bekerja sama menulis Allah pada sarang mereka.  Mereka juga melihat kata Abdullah dan Muhammad Rasul Allah tertulis pada ikan ini. Saya tidak dapat membacanya baik itu tulisan muhammad ataupun Rasul Allah pada ikan ini. Tapi tentu saja itu karena saya bukan seorang muslim dan tidak punya imajinasi liar seperti mereka.  Para muslim begitu imajinatif hingga mereka melihat kalimat Syahadat dalam sepotong tomat ini. Coba, apa anda bisa membaca La Illaha Illa Allah dan Muhammad Rasul Allah dalam sepotong tomat ini. Saya tidak mampu melihatnya. Bisa menolong saya tidak?  Tapi masih saja tulisan pada THE MIRROR dihari Kamis, 12 Juni 1997 melaporkan: “Lebih dari 100 orang muslim berduyun-duyun mendatanginya (perempuan yg menemukan “mukjijat” ini) utk melihat ke-gaib-an tomat dalam kulkasnya.
Dibulan Maret tahun kemarin sebuah keluarga menemukan tulisan “Terpujilah Allah” dalam huruf Arab tertulis pada kulit telur.
Dan sebuat batu dari Ben Nevis yg terpahat tulisan “Allah” disimpan disebuah mesjid di Burnley, Lancs.
Hal-hal ini bukanlah mukjijat, hanya sebuah kebetulan saja. Bentuk pola yg berbeda pada objek alam yg berbeda pula. Huruf-huruf Arab, tidak seperti huruf Latin, sangat sederhana dan dg sedikit imajinasi orang bisa menemukan huruf-huruf itu banyak bertebaran di alam.
Apakah Allah juga teroris?  Dalam gambar akibat gempa bumi di Turki ini, mesjid bersama beberapa bangunan lainnya tidak terpengaruh sementara bangunan-bangunan lain disekelilingnya hancur. Situs-situs islam menulis: “Sungguh suatu mukjijat dari Allah (swt), sebuah mujijat abad ini. Lensa kamera menangkap sebuah mukjijat dari Allah (swt), jika saja kita menyadari hal ini, kita akan langsung menuju Allah (swt) dan bertobat padaNya. Lihat bagaimana kota hancur total dan kebanyakan bangunan rata dg tanah, khususnya sekitar mesjid, kecuali mesjid yg tidak rusak sama sekali, dan sebuah bangunan diseberang mejid yg bagian bangunannya menghadap ke mesjid sama sekali tidak rusak meski bagian bangunan lainnya rusak, karena jika runtuh hal itu akan menimpa mesjid juga. Jika kita boleh menduga, sebelum gempa bumi, yg akan rusak pada kota itu tentu saja adalah Mesjid Minaret. Strukturnya yg kurus tinggi adalah sebuah pertanda bahwa gempa yg kecil saja akan meruntuhkannya, tapi TIDAK! Semuanya hancur kecuali mesjid itu! SHUBANALLAH!”
Ini adalah sebuah foto dari tempat lain yg hancur oleh gempa bumi dan yg dibawahnya adalah foto dari indonesia, sebuah mesjid yg terhindar dari rusak tsunami.  Pertama-tama kita harus sadar bahwa gedung-gedung dalam gambar diatas dikemudian hari sepenuhnya dihancurkan dg menggunakan alat-alat berat karena jelas gedung-gedung itu tidak dapat dipergunakan lagi dan membahayakan. Alasan kenapa bangunan-bangunan disekitar mesjid hancur adalah karena konstruksi yg jelek dan tidak ada hubungannya dg Allah. Gedung-gedung umum yg penting seperti mesjid dan gereja biasanya mengontrak Insinyur dan arsitek terbaik, mereka dibangun lebih baik dan lebih tahan lama daripada bangunan biasa yg dibangun oleh kontraktor biasa yg hanya mencari keuntungan, khususnya dinegara dunia ketiga dimana tidak ada pihak berwenang yg menginspeksi bangunan tsb ketika dibangun atau pura-pura tak melihat karena sudah disogok. Dalam bencana alam lain gereja dan mesjid juga ikut hancur. Gempa bumi menghancurkan bangunan-bangunan yg tidak kuat dan tidak membedakan apa bangunan itu tempat suci atau tempat pelacuran.
Rumah-rumah yg mengelilingi mesjid ini milik para muslim. Kenapa auwloh menghancurkannya?
Jika ini dilakukan dg sengaja oleh auwloh, apa anda sungguh mau memuja auwloh demikian yg menghancurkan begitu banyak rumah orang tak bersalah dan membunuh mereka dg kejam sementara menyelamatkan sebuah mesjid? Apa auwloh ini benar-benar psikopat? Apa auwloh juga teroris? Kelihatannya dalam usaha mati-matian mereka utk menemukan keajaiban dan menyebut mukjijat itu dari auwloh, para muslim malah lebih memberatkan kesalahan allah daripada membuktikan kebesaranNya.
Keajaiban Kaktus Cabang-cabang ini harusnya menggambarkan kata auwloh. Tapi muslim harus memotong sebuah batang dari pohon lain utk membuat sebuah loop hingga membentuk “H” diujung ‘Allah”.  Kewenangan Imam Gazhali dalam Islam tidak dapat terbantah lagi, dia bilang: “Jika dimungkinkan mencapai tujuan demikian dengan berbohong (taqiya) bukannya mengatakan hal yg sebenarnya, adalah dibolehkan utk berbohong jika pencapaian tujuan diperbolehkan.” (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section r8.2, page 745).
Tentu saja tujuan mana lagi yg lebih baik daripada menciptakan keajaiban-keajaiban auwloh!
Gambar diatas adalah jelas-jelas palsu. Tapi dibawah ini bukan. Apa ada maksud tersembunyi dari “mukjijat” ini, yg mungkin hanya para muslim sendiri yg bisa tahu?
Paru-paru manusia bertuliskan Syahadat
 Gambar ini adalah gambar pipa pernafasan manusia dan dapat dibaca ada tulisan syahadatnya. Gambar dibawah ini adalah bentuk sesungguhnya dari alat pernapasan manusia.  Apa anda lihat kalimat Syahadat disini? Ini hanya sebuah usaha menggelikan dari orang muslim utk menciptakan “mukjijat lain” dari auwlohnya. Coba lihat gambar pipa pernafasan manusia dalam buku anatomi mana saja dan perhatikan apa anda bisa menemukan kesamaan dg gambar yg digambar oleh muslim ini. Ini hanya mendemonstrasikan keputus asaan dari para muslim utk membuat agama nonsens mereka dipercaya. Tapi siapa yg mau percaya gambar tsb menggambarkan sistem pernafasan manusia yg sebenarnya kecuali seorang dungu buta huruf yg tidak pernah melihat gambar anatomi manusia sepanjang hidupnya? Sayangnya, buta huruf merupakan mayoritas dari orang muslim. Bulan bersaksi pada Ali Para muslim mengklaim “mungkin saja melihat nama Ali (as) dalam huruf arab pada permukaan bulan.” Dan mereka juga punya sertifikat utk membenarkannya.  Inilah satu-satunya mukjijat yg benar benar ada. Tapi bulan bersaksinya pada saya, “Ali Sina”, karena sayalah satu-satunya yg menghancurkan pemikiran bodoh ini dan mencoba menolong para muslim agar berpikir secara rasional. Sudah waktunya para muslim untuk melihat mukjijat ini, berhenti membodohi diri sendiri dan mulai menaruh perhatian pada akal sehat. Sesungguhnya, jika mereka bisa melihat sisi lain dari bulan, yg tak pernah terlihat dari bumi, mereka juga bisa menemukan kata “Sina” dalam huruf arab. Bukankah ini sebuah mukjijat?
Langit menjadi kemerahan Para muslim mengklaim bahwa nebula Cat’s Eye diramalkan dalam Quran 55:37 “Maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” [img]tp://www.faithfreedom.org/Articles/sina/cateye.jpg[/img]
Gambar ini “Cat’s Eye Nebula” diambil oleh teleskop luar angkasa hubble NASA. Seenarnya adalah sebuah ledakan yg berbentuk “Glass Hour” tapi dilihat dari atas. Ditengahnya terlihat sebuah bintang. Dan sesungguhnya terdapat jutaan ledakan seperti itu yg dapat dideteksi digalaksi kita sendiri. Ledakan demikian juga telah terjadi selama milyaran tahun dan akan terus terjadi utk trilyunan tahun lagi. Hampir semua bintang, ketika kehabisan bahan bakarnya atau telah membakar cukup banyak hidrogen akan mati dan jika mereka adalah supernova mereka akan meledak mengeluarkan gas dari kutub utara dan selata hingga kelihatan mirip “glass hour”.
Nebula ini jauh lebih kompleks dari nebula-nebula lain, menandakan bahwa bintang ini kemungkinan sebuah sistem bintang ganda. Efek dinamis dari dua bintang yg saling mengorbit satu sama lain dapat menjelaskan struktur ruwet tsb. (Dua bintang ini terlalu berdekatan satu sama lain hingga tidak bisa dibedakan oleh Hubble, dan malah kelihatan seperti satu titik sinar ditengah-tengah nebula.)  Yang satu ini juga sebuah nebula hour glass yg merupakan ledakan lain yg mirip, berlokasi 8 ribu tahun cahaya jauhnya.
Muhammad adalah ciri seorang nabi celaka dan kegelapan. Dia sangat suka menakut-nakuti orang dg kisah ledakan api dan hal-hal mengerikan lainnya. Ayat-ayat diatas adalah satu dari caranya menakut-nakuti. Dalam ayat tsb dia mengancam para pengikut dungunya bahwa suatu hari langit akan terbelah dan jadi merah (oleh api). Dia pikir langit itu seperti kubah biru yg menggantungi bumi, ditopang oleh tiang-tiang tak kelihatan, yg dapat dibelah. Dengan mengatakan langit akan terbelah menunjukkan bahwa orang celaka ini, seperti juga orang-orang dijamannya, adalah tidak tahu apa langit itu sebenarnya.
Nebula Cat’s Eye hanya dapat dilihat dg pertolongan teleskop yg sangat kuat yg ditempatkan diluar atmosfir bumi, dan tidak ada hubungan apa-apa dg apa yg Muhammad katakan. Hal ini malah tidak menakutkan sama sekali. Terjadi sekitar 1500 tahun yg lalu sebelum Muhammad lahir, sebenarnya tidak ada efeknya sama sekali terhadap sistem solar kita dan planet kita.
Foto yg diambil NASA dalam infra merah atau spektrum sinar X. Jadi foto yg anda lihat sebenarnya tidak kelihatan oleh mata telanjang (karena kita tidak dapat melihat sinar infra merah dan sinar X sebagai warna-warni). Warna-warna palsu ditambahkan oleh NASA ketika menyebarkan gambar ini. Cara kerja dari algoritma warna adalah anda boleh memberi warna apa saja dan akan membayang pada gambar sesuai dg spektrum atau band tsb. Dg memeriksa terminologi “warna palsu” seperti yg diterapkan pada satelit atau gambar-gambar teleskop. Jadi ledakan itu sebenarnya tidak merah mawar. NASA memberi warna gambar tersebut dan mereka bisa saja memberi warna lain dan dg begitu argumen ini semua akan tidak berdasar. (mungkin ilmuwan yg memberi warna merah itu sekarang akan menyesal jika warna pilihannya diakui para muslim utk membuat Muhammad kelihatan hebat, penerjemah) Dibawah ini adalah nebula-nebula lain yg dibentuk dari bintang yg mati. Banyaknya macam warna karena perbedaan komposisi gas yg mereka keluarkan. Matahari kita akan berakhir sama. Tapi milyaran tahun sebelum itu, bumi akan jadi kering, tak setetespun air akan tertinggal dan tentu saja manusia serta jenis kehidupan lain akan musnah jauh sebelum itu. <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> Ini disebut 'The Eye of God'
Mukjijat atau kebetulan belaka?
Lihat gambar berikut. Pesan apa yg auwloh coba sampaikan menurut anda? Apa ini juga pesan rahasia dari auwloh utk membuat para muslim datang dan menciumnya?  <!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]-->Bagaimana mengenai formasi batu alam di pantai Samui, Thailand ini? Apa pesan yg Allah sampaikan disini? Lihat awan-awan dilatar belakang serta amati dan anda akan melihat mukjijat dramatis lainnya. Kelihatannya batu ini sedang mendapatkan sebuah orgasme. (saya tidak yakin gambar ini pantas utk situs ini. Tapi hey, kenapa tidak? Ini adalah mukjijat lainnya dari auwloh). Tanya imam dan ustad anda, apa pesan auwloh di wortel, tomat dan pohon ini? Sial! Seharusnya tidak boleh kutampilkan gambar-gambar seperti ini. Karena para muslim adalah pengunjung istimewa situs ini dan mereka terkenal punya imajinasi yg liar.
Teman muslimku sayang, percayalah, ini semua hanya kebetulan alam belaka. Tidak ada siapapun yg bermaksud memberi pesan. Hanya para muslim yg begitu jongkok IQ kecerdasannya hingga mereka melihat pesan di awan, pohon dan buah tomat. Tuhan tidak memainkan permainan lucu ini. Apa yg disebut mukjijat ini sebenarnya hal bodoh yg sangat memalukan. Semua itu membuat para muslim terlihat naif, gampang ditipu dan kurang pintar. Kenapa sih dari 1 milyar muslim tak ada satupun yg bisa menghasilkan satupun argumen pintar utk membela Islam, dan yg bisa mereka lakukan adalah menunjuk gambar-gambar lucu yg mereka sebut mukjijat? Bukankah ini, bukti lain bahwa islam adalah agama yg bangkrut?
Bayi dan kesaksian Pohon Bayi ini memberi kesaksian akan keesaan auwloh (swt) . . . errr .. eh mungkin juga nggak! … dia nunjukan jari yg salah! Kelihatannya dia ingin bilang sesuatu tentang mukjijat. Dan pohon ini sepertinya setuju dg si bayi. Benar-benar mukjijat!
Membelah bulan
Muslim percaya bahwa ketika Muhammad ada di Mekah, Allah membelah bulan utk menunjukkan mukjijat pada orang2 Mekah. Klaim ini ditulis dalam Quran.
Surat 54 disebut “The Moon”, dimulai dengan: [54.1] Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. [54.2] Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". [54.3] Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.
Cendekiawan muslim terkenal Maududi (http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau54.html) menjelaskan: “Fenomena indah dan menakjubkan dari terbelahnya bulan adalah pertanda kebenaran akan kebangkitan, yg diberitakan oleh nabi suci, telah terjadi dan telah mendekat. Bulatan besar bulan telah terbelah menjadi dua bagian yg nyata didepan mata mereka. Kedua bagian itu berpisah dan mundur begitu jauh dari yg lain hingga bagi mereka yg melihat, satu bagian muncul disatu sisi gunung dan bagian yg lain disisi lainnya dari gunung itu. Kemudian, sesaat kemudian keduanya bergabung kembali.”
Tapi, ada beberapa masalah dalam cerita ini. Masalah utamanya adalah bertentangan dg Quran itu sendiri. Dibeberapa ayat Muhammad mengakui bahwa dia tidak dapat atau tidak melakukan mukjijat utk membuktikan dirinya. Ketika diminta utk melakukan mukjijat, jawabannya adalah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" Q 17.93
Ditempat lain Muhammad menaruh kalimat-kalimat berikut dimulut Allah: “Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan” Q 13.7
Muhammad berkeras bahwa meskipun nabi-nabi lain melakukan mukjijat, kemukjijatan dia hanyalah Quran. Jadi ketika Muslim mengklaim bahwa Muhammad melakukan mukjijat, mereka bertentangan dg Quran itu sendiri (lihat artikel, “Did Muhammad Perform Miracles?”) http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/miracles_of_Mo.htm)
Masalah lain dg klaim ini adalah bahwa fenomena seperti itu harusnya diketahui tidak hanya di Mekah tapi juga diseluruh dunia. Bahkan tiap gerhanapun ada dicatat oleh banyak kebudayaan (meski tidak semua gerhana ada catatannya dalam satu kebudayaan), lalu kenapa tidak ada disebut-sebut hal bulan terbelah ini, yg pastinya harus ada minimal satu pasang mata yg menyaksikan, dan lalu mencatatnya, ini sebuah fenomena yg menakjubkan.
Moiz Amjad, seorang cendekiawan yg menjawab pertanyaan-pertanyaan utk situs Understanding-Islam.com mengatakan, “Saya belum lagi menemukan catatan sejarah bangsa manapun, yg mengacu pada kejadian ini.” Dia pikir ini adalah “a sign of the promised hour.” (sebuah tanda utk waktu yg dijanjikan) http://www.understanding-islam.com/related/text.asp?type=question&qid= 1226.
Anehnya, situs ini menentang pendapatnya sendiri dan mengklaim bahwa katanya ada raja dari India yg menyaksikan terbelahnya bulan (http://www.understanding-islam.org/related/text.asp?type=rarticle&rai d=170) dan dia mengirim anaknya ke Mekah yg lalu memeluk Islam dan ketika kembali ia meninggal di Yaman.
Cerita ini tentu saja sebuah cerita palsu dari para muslim. Muslim suka sekali membikin-bikin dongeng yg dihubungkan dg mukjijat-mukjijat nabi mereka. Mereka melakukan itu terus-terusan. Satu dari kisah palsu yg menggelikan ini adalah klaim bahwa astronot yg mendarat dibulan mendengar suara Adzan (panggilan sholat utk muslim) yg didendangkan disana. Masih ada lagi ribuan pemalsuan konyol lainnya.
Pertama-tama tidak ada catatan bahwa ada raja atau pangeran dari India yg pernah mengunjungi Muhammad. Ini tidak disebut dalam biografi manapun dari Muhammad.
Kedua, pembelahan bulan harusnya dapat dilihat oleh setiap orang diseluruh dunia dan tidak hanya oleh satu raja. Dimana ada catatan mengenai fenomena ini?
Ketiga, misal raja india ini melihat terbelahnya bulan, bagaimana dia bisa menafsirkan kejadian aneh ini sebagai tanda telah muncul nabi baru di Mekah? Muslim mengklaim bahwa kitab-kitab india berisi ramalan mengenai kedatangan Utusan dari Arabia. Ini omong kosong! Tidak ada disebut-sebut Muhammad dalam buku suci dari agama manapun.
Banyak muslim yakin bahwa fenomena ini benar-benar terjadi. Mereka menunjukan gambar close-up dari bulan yg diambil oleh NASA sebagai bukti dan karena mereka adalah orang yg mudah tertipu, mereka percaya begitu saja tanpa keraguan. img 054 Img 055 Img 056 Ini disebut Lunar Rilles (celah yg dalam pada bulan). Rilles itu panjang dan berupa jurang dalam mirip lembah. Sebuah rille lebarnya bisa mencapai berkilometer dan panjangnya ratusan kilometer. Formasi yg sama juga ditemukan pada planet-planet lain dalam sistem solar, termasuk Mars, Venus dan pada beberapa bulannya. Lihat gambar-gambar dibawah. Apa ini berarti Muhammad juga membelah planet-planet itu?
Teori mengatakan, rille dibentuk dari erosi yg terjadi pada benda-benda angkasa tsb, bisa juga lubang lava yg runtuh, dan tekanan/aktivitas tektonik/gempa.
Terdapat tiga tipe rille pada permukaan bulan: - Sinuous rilles berliku-liku seperti sungai, dan secara umum dipercaya sebagai sisa-sisa lubang lava yg runtuh atau aliran lava yg punah. Mereka biasanya dimulai pada lubang volkano yg sudah punah, lalu berkelok-kelok dan kadang terpisah seiring alirannya mengikuti permukaan bulan. - Arcuate rilles punya belokan-belokan yg lebih halus dan ditemukan diujung dari bagian gelap bulan. Dan dipercaya dibentuk dari aliran lava yg membentuk mare (http://en.wikipedia.org/wiki/Lunar_mare) yg dingin, berkontraksi dan lalu tenggelam. - Straight rilles mengikuti jalur linier dan panjang dan dipercaya sebagai grabens (http://en.wikipedia.org/wiki/Graben). Yaitu, bagian kulit permukaan bulan yg tenggelam membentuk dua jalur paralel. Ini dapat langsung dikenal jika mereka meliwati crater atau pegunungan.
Rilles dapat ditemukan diseluruh permukaan bulan dan mereka tidak menyambung seperti ikat pinggang dan dg begitu tidaklah mungkin mendukung klaim muslim bahwa bulan pernah terbelah. Dibawah ini ada beberapa gambar yg akan menghancurkan hasrat dari para muslim ini. Utk mengerti bagaimana bekas rilles terjadi pada permukaan bulan, kita harus melihat gambar yg menunjukkan bulan dari jauh. img 057 img 059 img 060 Apa jurang-jurang ini kelihatan seperti memotong bulan jadi dua? img 062 img 063 img 064 img 066 img 067 img 069 img 070 Yg berikut in adalah rilles yg ditemukan di Mars dan Venus Rilles Mars Rilles Venus img 071 Ini adalah Europa, bulannya Jupiter img 072 Ini adalah rilles pada Europa.
Saya harap sekarang jelas bahwa “klaim jurang-jurang pada bulan merupakan bukti bulan pernah terpotong” hanya sebuah kegilaan islamik. Berbohong (Taqiya) utk kebaikan Islam Sumber berita Bangladesh, The New Nation, pada tanggal 22 April 2004 mempublikasikan sebuah kisah yg sangat sensasional. Ini yg mereka publikasikan (http://nation.ittefaq.com/artman/publish/article_8519.shtml): Kerangka Manusia Raksasa ditemukan di Arab Saudi Oleh Saalim Alvi dari Riyadh (April 22, 2004)
Baru-baru ini sebuah eksplorasi gas dilakukan disebuah padang pasir sebelah tenggara Arab Saudi. Daerah padang pasir ini disebut Empty Quarter, yg artinya dalam bahasa arab “RAB-UL-KHAALEE”; kerangka ditemukan oleh team eksplorasi ARAMCO. Ini membuktikan bahwa apa yg dikatakan oleh Allah SWT dalam Quran tentang orang bangsa AAD dan HUD. img 073
Orang ini begitu tinggi, lebar dan sangat kuat hingga mereka mampu mencerabut pohon dg satu tangan saja. Tapi apa yg terjadi setelah mereka sesat dan tidak taat pada Allah SWT, Allah swt menghancurkan seluruh bangsa ini. ULAMA KIRAM dari Arab Saudi percaya bahwa tubuh kerangka ini milik bangsa AAD.
Militer Saudi mengambil alih seluruh daerah ini. Dan tak seorangpun diijinkan masuk kedaerah ini kecuali pegawai Saudi ARAMCO. Pemerintah Saudi merahasiakannya tapi beberapa helikopter militer mengambil gambar ini dari udara. Dan salah seorang dari mereka menyebarkannya di Internet. © Copyright 2003 by The New Nation.
Tapi, anggota Faith Freedom International melakukan sedikit kerja detektif dan menemukan foto aslinya. Ini dia: img 075
Ini tentu saja adalah gambar angkasa dari sebuah parit diluar Hyde Park, New York, diambil pada tanggal 16 September 2000. Tempat ini digali oleh Paleontological Research Institution (http://www.priweb.org/) and the Cornell Department of Geological Sciences (http://www.geo.cornell.edu/) dan apa yg mereka temukan adalah kerangka dari seekor Mastodon.
Ini gambar dari bangsa AAD …. Eh maksud saya Mastodonnya: img 076 Mastodon Amerika (nama sainsnya Mammut-americanum) kelayapan di Amerika utara dari sekitar 3.75 milyar sampai 10.000 tahun lalu. Mastodon, bersama dg mammoth dan gajah modern, adalah anggota dari Proboscidea. Dewasanya mereka setinggi 2.5 sampai 3 meter pada bahu dan berat sekitar 3.500 sampai 5.400 kilogram.
Ini gambar-gambar lain dari tempat penggalian itu. http://www.graphics.cornell.edu/outreach/mastodon/index.html http://www.graphics.cornell.edu/outreach/mastodon/aerial-views.html
Jadi tempat itu tidak berisi kerangka dari manusia raksasa dan bukan di Arab Saudi. Tapi kenapa The New Nation, yg adalah media besar di Bangladesh, melaporkan kisah penipuan ini? Jawabannya bisa ditemukan dalam buku Hadits dan kisah-kisah yg diceritakan oleh nabi Muhammad.
Menurut beberapa hadits, Adam tingginya 60 cubit (30 meter). Bukhari Vol 4, Buku 55, No 543: Nabi berkata, “Allah menciptakan Adam, membuat tingginya 60 cubit… Orang2 telah berkurang ketinggiannya sejak penciptaan Adam. Bukhari Vol. 8, buku 74, No 246: Nabi berkata, “Allah menciptakan Adam dalam bentuk lengkapnya dan potongan (langsung), 60 cubit tingginya.”
Menurut tradisi diatas, manusia ketinggian tubuhnya berkurang sejak Adam menginjakkan kakinya dibumi. Jadi foto yg dipalsu secara digital tersebut adalah sebuah usaha utk membuktikan bahwa apa yg dikatakan Muhammad itu benar.
Penemuan palaentology menunjukkan bahwa ketinggian manusia bertumbuh secara proporsi/tetap. Homo habilis yg hidup 2.4-1.5 juta tahun lalu tidak lebih tinggi dari 150 cm. Nenek moyang mereka, Australopithecus, tingginya hanya 100 cm. Dg begitu kisah Adam versi Muhammad dan orang jaman dulu lainnya yg sangat tinggi adalah omong kosong belaka.
Tapi, para muslim sibuk membodohi diri mereka sendiri lewat pemalsuan, penipuan dan kebohongan. Mereka menulis berjilid-jilid kisah-kisah karangan utk membuktikan bahwa quran itu sesuai sains. Sekali saja anda menyelidiki kedalam Islam anda akan melihatnya sebagai sebuah bangunan yg didirikan hanya atas kebohongan-kebohongan dan bukan yg lain lagi. Setiap kesempatan, setiap komponen dalam islam adalah sebuah kebohongan. Sangat mengejutkan pemikiran bagaimana satu kebohongan yg ditempatkan diatas kebohongan lain bisa menciptakan sebuah agama, agama yg terdiri semata-mata dari kebohongan saja.
Yg mengherankannya adalah mereka yg terlibat dalam pemalsuan ini percaya mereka itu sudah berbuat baik, melayani Allahnya utk memperkuat iman dari para pengikut islam dan mereka yg percaya akan kebohongan ini lebih bahagia lagi telah menemukan “bukti” lain yg mengabsahkan iman mereka.
Berbohong bagi Allah oke oke saja menurut akademisi islam terkenal Imam Ghazali yg menulis: “Jika dimungkinkan mencapai tujuan demikian dengan berbohong bukannya mengatakan hal yg sebenarnya, adalah dibolehkan utk berbohong (taqiya) jika pencapaian tujuan diperbolehkan.” (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section r8.2, page 745).
Imam Ghazali tidak bilang ini tanpa pengetahuan. Dia mendasarkan fatwanya dari perkataan dan contoh yg diberikan oleh sang nabinya sendiri. Dalam sebuah Hadits, kita baca bahwa nabi mengundang para pengikutnya utk membunuh Ka’b ibn Ashraf, pemimpin suku yahudi yg waspada akan muhammad dan berkata pada pengikutnya boleh saja berbohong utk menipu Ka’b. Bukhari Vol.5, No. 369.
Faktanya adalah bahwa hati nurani para muslim tidak merasa sedikitpun bersalah utk berbohong jika kebohongan itu bagi Allah dan agamanya. Jika kebohongan dilakukan utk kebaikan islam maka oke oke saja.
Jika sebuah koran besar, dalam jaman internet dan komunikasi dunia sekarang ini tidak malu mengarang kebohongan yg begitu kentara utk mempromosikan islam, orang bisa bayangkan bagaimana mukjijat-mukjijat dan tindakan-tindakan mulia yg katanya dilakukan Muhammad dikarang-karang ketika orang-orang yg berpendidikan masih langka dan pandangan-pandangan berlawanan dibungkam.
Studi lebih lanjut: Denis Giron (http://www.geocities.com/freethoughtmecca/profiles2.html) dan direktur dari Free Thought Mecca menunjukkan betapa para muslim gampang ditipu. Mereka menciptakan kisah-kisah palsu mengenai ilmuwan Israel yg menemukan bahwa Adam tingginya 30 meter dan akademisi Muslim percaya begitu saja. Sebuah artikel yg menarik seharusnya membuat malu para muslim yg bisa berpikir, tapi seperti anda lihat, hal itu ternyata tidak membuat mereka malu. Sumber: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=13450 http://www.faithfreedom.org/Articles/sina40928.htm pod-rock translator .ADILI. MUHAMMAD. PENGADILAN IN-ABSENTIA "Nabi" MUHAMMAD Bin ABDULLAH ATAS KEJAHATAN KEMANUSIAAN Terdiri dari: <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->PEMBUKAAN/PREAMBLE <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian I Pembunuhan <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian II Agama & Moralitas <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian III Perkosaan 1 <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian IV Perkosaan 2 <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian V Perkosaan 3 <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian VI Pedophil <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian VII Tidak santun & tidak bermoral <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagian VIII Pembenci Perempuan  Inilah sidang pengadilan yang telah lama tertunda mengenai Islam dan dihadiri oleh: - Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdallah - Diwakili oleh : Pembela, Raheel Shahzad - Pendakwa: Umat Manusia, diwakili oleh: Jaksa Penuntut, Ali Sina - Sidang pengadilan : Opini masyarakat umum - Jury/Hakim : Anda sekalian ---------------------------------------------------------- 15 November 2003 PEMBUKAAN/PREAMBLE DARI RAHEEL SHAHZAD,
Yth Mr Sina, Secara kebetulan saya menemukan alamat website anda kurang lebih dua bulan yang lalu. Saya sudah membaca sebagian besar artikel di website anda. Dan saya mengakui kagum dengan kemampuan intelektual anda.
Singkat cerita mengenai saya: Saya berumur 33 tahun, keturunan Pakistan, tinggal di USA selama kurang lebih 12 tahun. Sebelumnya, saya tinggal di Timur Tengah selama 20 tahun dan dilahirkan di Karachi, Pakistan. Dua tiga bulan terakhir, saya mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih detail tentang masalah keimanan. Saya meng-anggap diri saya muslim karena orang tua saya muslim. Saya lulus gelar Masters Degree in Bussiness dan memiliki usaha sendiri. Saya sudah menikah selama 6 tahun dan belum mempunyai anak. <!--[if !supportLists]--> Dua alasan dari email saya:
(1) <!--[endif]-->Untuk memastikan apakah anda sungguh-sungguh dalam menerima jawaban yang berlawanan dengan pandangan anda; <!--[if !supportLists]-->(2) <!--[endif]-->Untuk berdebat secara intelek. Saya mengerti tema umum dalam tulisan anda yang pada dasarnya mengenai : <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Kenyataan sejarah Islam yang ternodai (berisi kesalahan). <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Para pembela Islam takut memperlihatkan kenyataan sebenarnya. <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Islam merupakan ideologi penuh kekerasan yang berdasarkan kenyataan iman pada jaman Muhamad. <!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Penguasa/pemerintahan Islam penuh korupsi karena ideologi mereka yang salah. <!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Muhammad tidak patut dijadikan pedoman karena moralnya jauh dari apa yang diharapkan, hal yang diketahui secara luas oleh para kalangan akademis. <!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Allah-nya Islam hanya imajinasi yang dibuat-buat dan; <!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Muslim pada umumnya sudah dijejali kebencian terhadap agama lain berdasarkan ajaran yang salah oleh kalangan akademik islam. Tujuan saya untuk melakukan debat adalah untuk menghasilkan tiga hal : <!--[if !supportLists]-->A. <!--[endif]-->Untuk membuktikan bahwa pendapat anda tidak berdasarkan nilai intelek. <!--[if !supportLists]-->B. <!--[endif]-->Bukti-bukti yang disampaikan mungkin benar adanya dan mungkin juga agak kabur namun seorang muslim moderat bisa mengerti dan menanggapi dengan semangat yang sama. <!--[if !supportLists]-->C. <!--[endif]-->Memberikan anda kesempatan untuk mem-pertimbangkan kembali pendapat anda baik yang secara sengaja atau tidak. Mungkin, setelah berdebat, anda bisa memper-timbangkan kembali keyakinan anda, malah mungkin anda bisa menyalurkan frustasi anda secara lebih berarti mengenai hal iman. Anda tidak perlu menghilangkan website anda.
Saya berharap ini akan merupakan debat yang bermanfaat berdasarkan saling menghormati kemampuan masing-masing untuk menjelaskan apa yang kita sebut dengan “agama”. Karena kita bicara tentang ISLAM secara spesifik, ini yang akan menjadi fokus debat.
Dengan hormat, R. Shahzad --------------------------------------------------------- DARI ALI SINA | 15 November 2003
Yth Mr. Shahzad, Saya sangat sibuk untuk berdebat dengan orang satu persatu. Sebenarnya saya menciptakan forum ini untuk meringankan beban saya. Walaupun demikian, saya menerima tantangan anda. Saya akan terbitkan debat kita ini di bagian debat pada website saya sehingga setiap orang dapat membacanya.
Saya akan sangat berterimakasih jika setiap koresponden anda hanya membahas satu aspek yang anda ingin perdebatkan. Bahasan yang singkat akan mudah untuk dibaca kembali. Anda mengatakan sudah mengenal tulisan saya. Nah, segera saja anda membantah tuduhan saya bahwa 1] Islam adalah palsu, 2] dan Muhammad BUKAN rasulullah namun seorang yang terganggu secara mental dan seorang penipu.
Dalam debat ini, saya akan mengambil posisi jaksa dan anda mewakili klien anda, sang terdakwa, Muhamad.
Mari kita mulai dengan : 1) karakter Muhammad. Dalam pendapat saya, seseorang yang me-nyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pem-bunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.
Keberatan saya berikut mengenai pernyataan kerasulan Muhammad adalah : 2) Absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh sang penulis Quran?
Mari kita membahas masalah satu per satu. BAGIAN I Muhamad sebagai pembunuh (assassin)
Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.
Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah. Inilah 4 link cerita pembunuhan tsb.: http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/abuafak.html http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/asma.html http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/assassinations.htm http://www.answering-islam.org/Muhammad/Enemies/sallam.html
Sampai jumpa, Ali Sina.
UMAT MANUSIA vs. MUHAMAD BIN ABDALAH. BAGIAN I, PEMBUNUHAN
Terdakwa: Muhammad bin Abdallah Pembela: Raheel Shahzad Perkara: Umat Manusia (Dunia non-Muslim) Jaksa: Ali Sina Sidan pengadilan: Opini publik Jury: Anda
DARI RAHEEL SHAHZAD | Nov. 16, 2003 <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->Yth A Sina, Anda menulis: 1) karakter Muhammad. Dalam pendapat saya, seseorang yang menyata-kan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak lagi kekurangannya yang men-diskualifikasi-kanya sebagai seorang manusia baik2, apalagi seorang rasulullah.
Nah, anda melemparkan tuduhan kepada seorang manusia. Ini penting diakui karena kita berdua harus menilai tindak manusia lewat kode moral kita. Jadi nampaknya fair kalau seorang manusia kena tuduhan, maka ia juga harus diukur dari kaca mata manusia. Tidak diragukan bahwa Muhamad seorang manusia. Ia lahir dan mati. Nah, hubungan ketuhanannya inilah yang menjadi pembahasan kita disini.
Mari kita lihat definisi Manusia (HUMAN) dari dictionary.com ; Of, relating to, or characteristic of humans: the course of human events; the human race. Having or showing those positive aspects of nature and character regarded as distinguishing humans from other animals: an act of human kindness. Subject to or indicative of the weaknesses, imperfections, and fragility associated with humans: a mistake that shows he's only human; human frailty. Having the form of a human. Made up of humans: formed a human bridge across the ice.
Mengapa penting membahas definisi manusia (human) disini? Karena kami dapat mengerti seorang manusia lewat kode moral kita sekarang. Yang menarik adalah definisi ketiga: indicative of the weaknesses or imperfections and fragility. Atau bah. Indo: menunjukkan kelemahan, ketidak-sempurnaan dan kerapuhan.
Anda menulis: ... seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri dsb
A) Cinta - Cinta macam apa yang anda maksudkan disini? Apakah artinya berbeda dari masa ke masa atau konstan? Apakah ini cinta bagi sesama manusia atau cinta bagi dunia akhirat? Dan apakah cinta ini termasuk cinta bagi hal2 yg disepakati manusia atau bagi apa saja yang disukai manusia? Apakah mencakup sex? Dan jika seorang lelaki menyatakan jatuh cinta kepada isteri orang lain, apakah ini dapat diterima secara moral oleh jaman kita ini?
B) Kejujuran; apakah kejujuran dituntut dalam segala keadaan atau apakah ada pengecualian?
C) Sikap menahan diri - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diingin-kan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang? Atau kedua2nya?
Alasan pertanyaan saya diatas penting untuk me-nentukan dengan jelas apa hukum yang berlaku sehingga kami dapat menentukan apa yang dimaksud dengan pelanggaran hukum tersebut. Baru kita dapat menuntut sang terdakwa, dan kita dapat menentukan kesalahan terdakwa. Namun jika hukum itu sendiri bisa diinterpretasi macam2 maka jury tidak akan pernah bisa menentukan kesalahan sang terdakwa, karena memang tidak ada hukumnya.
Contoh di Amerika, banyak undang2 dibatalkan atau diganti karena dianggap sudah tidak pantas atau terlalu kabur. Banyak orang dibebaskan tanpa tuduhan karena hukumnya sendiri tidak jelas. Jadi, tanpa menetapkan hukumnya, sulit menentukan pelanggarannya.
Anda menulis: 2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd itu. Apakah mungkin Allah begitu bodoh tentang fakta2 simpel dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti dinampakkan oleh penulis sang Quran ?
Nah sekarang kita menyentuh masalah intelektualitas dan pengetahuan. Keberatan anda didasarkan pada pendapat anda bahwa intelektualitas adalah syarat keTuhanan, bahwa manusia harus dapat mengerti keTuhanan dari perspektifnya dan ketuhanan harus dapat dijelas-kan sejelas mungkin. Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.
Absurditas dan ketidakwajaran juga harus dijelaskan artinya dalam hubungan dengan intelektualitas. Masalahnya adalah, intelektualitas sendiri artinya relatif. Dan intelektualitas sulit diukur bagi orang yang berbeda pandangan. Contoh, saya pandai dalam hal komputer tetapi tidak mengerti apapun tentang masalah medical science.
Jadi saya rasa maksud anda dengan intelektualitas adalah "nalar". Nalar/Logika adalah persepsi yang eksklusif dimana dua persepsi berbeda memiliki logika berbeda.
Contoh: #1. John dan Mary bepergian ke Bermuda naik perahu #2. Sebuah perahu tidak dapat bergerak kalau ada lebih dari satu orang didalamnya. Nah, terdapat kontradiksi dalam kedua pernyataan tadi karena bertentangan dengan logika. Sehingga kedua pernyataan tadi jika digunakan bersama2 adalah absurd. Tidak mungkin menghubungkan #1 dan #2 seperti ditulis diatas, tanpa sang penulis menambahkan kalimat atau menggunakan asumsi. Jadi berdasar-kan diatas, kedua pernyataan menentang nalar jika digunakan bersama.
Jadi, keberatan anda ada dua: <!--[if !supportLists]-->a) <!--[endif]-->Quran sebagai kumpulan kalimat adalah absurd karena menentang nalar dan karena menentang nalar, maka <!--[if !supportLists]-->b) <!--[endif]-->sang penulis haruslah seorang manusia karena hanya manusia yang mampu menentang nalar. Maka Tuhan harus menuruti nalar setiap manusia, kalau tidak Ia sebaiknya tidak memiliki hak untuk mengatakan apa2. Mengenai masalah kalimat2 dalam Quran saya akan membahasnya dalam bagian lain. Tetapi yang perlu ditetapkan sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pelanggaran intelektualitas dan seperti saya sebutkan pada mulanya, pelanggaran moralitas.
Anda menulis: Muhammad sebagai pembunuh (assassin). Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah. Setelah anda membaca cerita2 dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.
'Assassin', sejauh pengertian saya berasal dari kata "Hashishin" (sekelompok Muslim yang mem-bunuh atas perintah para Sheikh pada abad 17 dan para sheikh memberikan mereka hashish dengan alasan tdiak jelas). Jadi definisi assassination dibuat belum lama ini : Seseorang yang meng-adakan pembunuhan dengan cara mengejutkan (surprise attack), khususnya mereka yang meng-adakan rencana untuk membunuh orang penting. Nah, definisi ini tidak menunjukkan apapun tentang baik buruknya orang yang dibunuh. Alasan pem-bunuhan juga tidak disebut apakah guna menjaga keadilan atau lain2. Juga tidak disebutkan kesalahan sang korban (orang yang dibunuh). Jadi, artinya secara singkat adalah pembunuhan. Atau pembunuhan dengan cara surprise. Apakah ini bisa dikatakan salah? Salah menurut jamannya atau menurut jaman ini?
Jadi, jika tentara Amerika memasuki rumah seseorang di Iraq dan membunuh penghuni rumah, terlepas dari kejahatan atau kebaikan yang di-lakukan para penghuni, apakah para tentara AS itu akan disebut assassins?
Kalau iya, tetapi anda berpendapat bahwa mereka mencapai tujuan AS, maka mengapa orang lain yang juga berjuang untuk membela tujuan mereka disebut dengan assassins? Jadi tergantung dari siapa yang menginterpretasi.
Dengan logika ini, Muhammad tidak dapat dituduh melakukan assassination karena ia mempunyai tujuan yang dengan jelas disebutkan, terlepas dari anda dan saya setuju dengan tujuannya itu atau tidak.
Anda menulis: Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita2 pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.
Anda meminta saya menegaskan kesahihan sumber2 berita tersebut, yang rasa rasa adalah tuntutan UNFAIR. Ini bukan berarti saya tidak mencoba mencari kebenaran atau menolaknya. Saya hanya mengatakan bahwa anda ingin agar saya menggunakan sumber yang sama untuk membela klien saya, yang sudah pasti akan melemahkan posisi klien saya. Anda ingin membatasi sumber2 pembelaan saya.
Peraturan tentang cara pembuktian ini paling sedikit harus ditetapkan dahulu. Kasus2 masa lalu bagi saya tidak merupakan bukti, mereka hanya kasus yang mungkin tidak lagi dapat diberlakukan jaman sekarang. Pendapat orang juga tidak dapat digunakan sebagai bukti. Pernyataan atau asumsi juga bukan bukti. Jadi kalau kita tidak dapat menentukan cara pembuktian, maka sulit membatasi kasus.
Saya usulkan agar kitamembatasi materi yang memiliki referensi guna menentukan hukumnya dan baru membahas klien saya salah atau tidak.
Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahan-nya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetap-kan tanpa keraguan (established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu.
Kesimpulan saya : Tuduhan anda banyak mengandung asumsi; Standar anda dalam hal norma dan intelektualitas tidak jelas; Anda menggunakan kata "assassin" namun tidak dapat menjelaskan artinya dan sangat menunjang pihak yang terbunuh; Sumber2 pembuktian tidak jelas dan harus dibatasi; dan "Innocence until proven guilty beyond doubt" (Tidak bersalah sampai terbutki bersalah tanpa keraguan) adalah posisi saya.
Terima kasih. R Shahzad ---------------------------------------------------------
JAWABAN A SINA [Nov. 16, 2003]
Yth Mr. Shahzad, Saya menuduh klien anda, Muhammad sebagai assassin dan dari sejumlah kasus yang tersedia, saya hanya memilih empat.
Anda tidak sekalipun membantah tuduhan saya maupun ke-aslian (authenticity) kasus2 yang menjadi sumber tuduhan saya. Kasus2 ini memang sulit dibantah karena mereka dilaporkan dalam semua sumber Islam seperti Sirat Rasoulallah-nya Ibn Is-haq, al Waqidi, al Tabari dan beberapa hadis sahih (authentic, verified).
Karena anda tidak dapat membantah bukti2 tersebut, anda lalu mencoba mendefinisikan istilah manusia (human being) dan pembunuhan (assassination).
Dalam pembelaan anda, anda mengatakan bahwa Muhamad seorang manusia biasa dan menjelaskan apa artinya "manusia". Anda menekankan bahwa Muhamad juga memiliki kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan. Saya setuju dengan itu semua. Namun ITU BUKAN ALASAN MENGHALALKAN PEMBUNUHAN (ASSASSINATIONS).
Semua pelaku kriminal adalah manusia dan peraturan yang sama mengenai kelemahan berlaku pada mereka. Tetapi apakah itu alasan untuk membebaskan mereka?
Saya ragu para jury akan membebaskan seorang pelaku kejahatan karena ia seorang manusia yang memiliki kelemahan. Kita semua manusia dengan berbagai kelemahan, tetapi tidak semua dari kita adalah assassin. Mungkin lebih baik anda membela klien anda dengan alasan TIDAK WARAS (insanity). Ini pembelaan yang bisa membebaskan klien anda dari segala tuduhan.
Anda kemudian mendefinisikan kembali konsep baik dan buruk dan bahwa definisi saya tentang kebaikan dan keTuhanan adalah subyektif.
Anda mengatakan cinta kasih adalah relatif dan bertanya apakah kalau bicara mengenai cinta, apakah itu juga menyangkut moralitasnya.
Anda mempertanyakan apakah kejujuran harus diterapkan dalam segala situasi dan apakah ada pengecualian kalau ketidakjujuran bisa membawa keuntungan.
Dan tentang sikap menahan diri anda bertanya: "Sikap menahan diri - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang? Atau kedua2nya?"
Pertanyaan2 ini tidak ada hubungannya dengan kasus.
Anda mengatakan alasan pertanyaan anda adalah anda tidak pasti apakah baik-buruk tindakan dianggap sama oleh semua orang. Dengan kata lain, anda mempertanyakan definisi orang tentang "baik dan buruk". Sampai2 anda mengatakan bahwa pembunuhan / assassination belum tentu buruk. Anda menyimpulkan “tanpa menentukan hukumnya, kita tidak dapat memastikan hukum apa yang dilanggar.”
Saya tidak percaya bahwa baik-buruk begitu relatif sehingga kita tidak dapat menentukan bahwa membunuh seseorang karena ia tidak sependapat dengan kita adalah tindakan baik. Mungkin baik-buruk bagi manusia adalah relatif. Tetapi intelektualitas kita, terlepas dari ketidak-sempurnaannya, adalah satu2nya alat yang kita gunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Adalah TIDAK MASUK AKAL untuk mengatakan bahwa pembunuhan adalah OK karena kita manusia yang memiliki kelemahan dan tidak mengerti beda antara baik dan buruk.
Cinta kasih juga kualitas manusia. Moralitas adalah topik lain lagi. Point-nya adalah bahwa seorang manusia yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan ini tidak patut menyandang gelar manusia. Kami menyebut orang macam itu MONSTER dan bukan manusia.
Pertanyaan anda mengenai kejujuran adalah : kejujuran selalu diinginkan dan ketidakjujuran selalu tidak diinginkan (honesty is always desirable and dishonesty is always undesirable). Tidak ada pengecualian.
Apa yang anda inginkan disini adalah moral relativism / moralitas yang relatif . Dengan kata lain, anda mengatakan kejahatan diperbolehkan kalau kebaikan adalah jalan yang terlalu panjang. Ini absurd, karena ini memperbolehkan orang untuk melakukan kejahatan sesuai dengan standar moralnya.
Saya sama sekali tidak kaget akan filosofi anda. Anda hanya mengekspresikan filofosi Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang moralitasnya relatif, yang mengijinkan ketidak-jujuran, pembunuhan dan kejatahan lainnya yang sesuai dengan moral para pengikutnya.
Dibawah ini kutipan Iman Ghazali, akademisi Islam paling ternama: "Kalau mencapai tujuan dapat dimungkinan dengan berbohong, dengan menyembunyikan kebenaran, membohong diijinkan jika tujuan-nya diijinkan." (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section r8.2, page 745).
Berbeda dengan anda, saya tidak setuju dengan relativitas moral. Saya pengikut Prinsip Emas : "Jangan memperlakukan orang sebagaimana anda tidak ingin diperlakukan".
Saya tidak ingin dibunuh, oleh karena itu saya juga tidak membunuh. Saya tidak ingin orang menjajah kota saya, merampok harta saya, memperbudak anak2 saya dan meniduri isteri saya. Saya juga tidak melakukan hal ini kepada orang lain.
Saya tidak suka menjadi warga kelas dua, dihina dan diwajibkan membayar pajak (jizyah) karena ingin mempertahankan hak saya untuk mengikuti kepercayaan saya. Saya juga tidak memperlaku-kan orang lain demikian.
Saya tidak ingin orang memukuli saya kalau saya tidak patuh. Oleh karena itu pula saya tidak memukuli isteri saya. Saya tidak suka dibohongi, dikibuli. Oleh karena itu saya merasa ketidak-jujuran adalah tidak baik dan tidak ada pengecualian yang sah.
Melanjutkan pembahasan relativisme moral anda, anda juga mengatakan bahwa intelektualitas manusia adalah RELATIF sehingga tidak dapat mengerti prinsip2 keTuhanan.
Anda menulis: ”Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam2 saja.”
Jawaban saya tetap sama. Intelektualitas manusia mungkin tidak sempurna namun merupakan satu2nya alat untuk membedakan baik dari buruk. Kalau tidak, bagaimana membedakan seorang penipu dengan seorang yg benar2 utusan Tuhan? Ada ribuan orang yang mengaku nabi. Bagaimana kita tahu mana yang benar? Bagaimana kita tahu bahwa Muhamad-lah benar2 rasulullah?
Caranya? Gunakan otak! Yah, otak yang tidak sempurna itu. Jika kelakuan dan perkataan para "nabi" itu membuat otak kita bertanya2 maka kita tahu bahwa mereka itu tukang ngibul.
Seperti kata Galileo ; JIKA TUHAN TIDAK INGIN KITA MENGGUNAKAN OTAK KITA, MENGAPA IA MEMBERIKANNYA KEPADA KITA ?
Mengukur Quran dan tingkah laku Muhamad dengan otak/human intelligence kita, kita dapat dengan mudah menentukan kualitasnya sebagai pembawa pesan dari Tuhan. KECUALI anda berpendapat bahwa Tuhan memang begitu sinting sampai mengirim seorang bandit psychopath yang doyan sex dengan anak kecil untuk mengantar kita semua, umat manusia, ke jalan yang benar.
Anda memberikan definisi tentang 'assassin'. Saya rasa anda bingung. Kita disini tidak membahas kebaikan dan kejahatan KORBAN, melainkan SANG PEMBUNUH. Pertanyaannya adalah apakah tindakan pembunuhan adalah tindakan yang PANTAS DILAKUKAN OLEH SEORANG RASULULLAH. Kesalahan seseorang harus ditentukan oleh pengadilan, tidak oleh seseorang yang merasa ia berhak membunuh orang lain karena tuduhan fitnah (misalnya).
Anda memberi contoh tentara AS. Kalau tentara AS masuk rumah orang lain dan membunuhi penghuni, apakah mereka bisa dicap assassin, anda tanya. Jawaban saya ; YA! Tentara itu akan dituduh dengan 'war crime' dan harus diseret ke pengadilan.
Tentara AS tidak memasuki rumah orang dan membunuh secara sembarang. Mereka mungkin memasuki rumah orang untuk mencari senjata atau menangkap musuh. Namun mereka tidak akan me-nembak sebelum ditembaki terlebih dahulu.
Nah, bedakan dengan ekspedisi pembunuhan/ assassination Muhamad. Dari link2 yang saya berikan kami bisa membaca bahwa Muhamad mengirim seseorang untuk membunuh seorang lelaki tua berusia 120 tahun karena memperingati orang2 Medinah agar menjaga diri terhadap kebohongan Muhamad. Ketika Asma binti Marwan, seorang penyair dan seorang ibu lima anak kecil mengeluh tentang pembunuhan brutal tersebut, Muhamad mengirimkan orang lain untuk mem-bunuh Asma dimalam buta, selagi ia di tempat tidur menyusui bayinya. Mudah2an anda juga pernah membaca kasus Ka'b ibn Ashraf dan Abu Rafi.
Inilah macam kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda yang dianggap nabi dan diikuti secara buta oleh satu milyar orang. Dan lihatlah bagaimana ia mengejek siapapun dan bagaimana sang "allah" ciptaannya selalu siap dengan pujian bagi dirinya:
"And surely thou hast sublime morals" (Q.68:4). (Dan anda memiliki moral mulia) ”Indeed in the Messenger of Allah you have a good example to follow" (Q.33:21). (Memang dalam rasulullah kau memiliki contoh yg bagus utk diikuti) We sent thee not, but as a Mercy for all creatures. (Q.21:107). (Kami mengirimkan kau sbg rahmat bagi semua mahluk) Verily this is the word of a most honorable Messenger, (Q.81.19) (Sesungguhnay inilah kata2 rasul yg sangat terhormat)
Kami ingin menjelaskan fakta2 ini dan menelanjangi Muhamad, sehingga paling tidak kami dapat menyelamatkan Muslimin, korban utama kebohongan besar Islam ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun kami hanya bisa menyelamatkan mereka yang mau, mereka yang jiwa dan pemikirannya belum dirusak total oleh Islam. Namun mereka yang Islamnya sudah merasuk tidak dapat kami bantu.
Seseorang yang membenarkan pembunuhan, mempertanyakan apakah kejujuran kadang2 baik dan telah tenggelam kedalam relativisme moral Islam sehingga tidak lagi dapat melihat kenyataan secara obyektif tidak dapat diobati lagi dengan nalar/logika (beyond reach of reason). Namun saya berterima kasih atas kejujuran anda (walaupun anda merasa ketidakjujuran kadang perlu) dan tidak membantah ke-otentik-an hadis dan sumber2 sejarah lain yang menunjukkan kejahatan yang dilakukan oleh Klien anda, Muhamad.
Anda tidak mengajukan sumber2 sejarah lain dan nampaknya anda cukup puas dengan pembelaan anda bahwa pembunuhan, ketidakjujuran dan tindakan buruk lainnya, "kadang2 bisa meng-untungkan" dan kita manusia tidak sanggup membedakan antara satu dengan yang lain. Dan oleh karena itu Muhamad tidak dapat dikenakan tuduhan apapun.
Dengan kata lain, anda mengejek kemampuan manusia untuk berpikir dan menggunakan nalar. Anda menyatakan bahwa karena manusia tidak sanggup mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dan oleh karena itu setiap kejahatan yang dilakukan Muhamad sebenarnya dapat diartikan sebagai kebaikan.
Bukankah ini cara berpikir seorang pelaku kriminal? Ataukah Muhamad pengecualiannya?
Menarik sekali pembelaan anda dengan meng-gunakan jalur pikir dan nalar/logika (commonsense and logic) untuk menentukan salah atau tidak salahnya Muhamad.
Commonsense dan logic macam apa yang anda maksudkan? Apakah tidak jelas bagi anda bahwa pembunuhan bukan tindakan baik? Bahwa pedophilia tidak baik? Bahwa perampokan, pencurian dan pembudakan wanita dan anak2 adalah tidak baik?
Terakhir, anda mengatakan: "Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan Klien saya tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahan-nya tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetap-kan tanpa keraguan (established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu."
Saya tidak lagi perlu membuktikan kesalahan karena kesalahan itu sudah diakui. Cukup mem-baca sejarah dan hadis yang ditulis oleh para pengikut setia Islam untuk melihat bagaimana mereka membanggakan diri atas tindakan kriminal yang dilakukan nabi mereka.
Sekarang terserah pada jury untuk membahas keputusan mereka.
Ali Sina -----------------------------------------------------------
Untuk sesi pengadilan berikutnya saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Muhamad adalah seorang yang gila perempuan (a lecherous womanizer). Saya menyatakan bahwa mengingat kurangnya kualtias keimanannya ini, ia BUKAN seorang rasulullah. Ia hanyalah seorang pemimpin cult yg sukses dan brutal yang menipu pengikutnya agar mematuhi ambisi dan nafsunya.
Dalam link2 berikut ini saya menyampaikan bukti2. Juwayriah http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Juwairiyah.htm Safiyah: the Jewish wife of Muhammad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm Adoption in Islam and Muhammad's Marriage to Zainab Bint Jahsh. http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm Mariyah The Coptic Sex Slave of the Prophet http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm
18 November 2003 BAGIAN II Religion and Morality Humanity vs. Muhammad bin Abdallah Agama dan Moralitas Kemanusiaan vs. Muhammad bin Abdullah Dari Raheel Shahzad kepada Ali Sina
Mr. Sina, Apabila menyelamatkan kemanusiaan merupakan tujuan anda, maka mengutuk atau menjelek2kan sebagian umat manusia, saya meragukan motivasi dan sikap mental anda sesungguhnya. Tentu saja anda dapat mengaku bahwa anda tidak puas dgn Islam karena Islam menyebarkan kebencian, namun bagaimana mungkin membasmi kebencian dengan kebencian yang lebih besar? Apakah ini tidak nampak seperti lingkaran setan; menyatakan perang terhadap sekelompok orang dengan tujuan menyelamatkan mereka?
Bagaimana saya dapat percaya bahwa anda benar-benar ingin menyelamatkan umat manusia? Jika menyelamatkan saya dari cengkraman Islam tidak tercapai secara intelektual, bagaimana saya dapat percaya bahwa anda akan menyelamatkan orang lain dengan pesan anda?
Muslim dimanapun akan menolak sebuah pesan dimana yang membawa pesan memiliki perilaku yang sama dengan orang yang ia tuduh. Untuk dapat menyelamatkan yang kurang intelek, bukankah lebih penting untuk meyakinkan para intelektual dulu?
Katakanlah suatu saat proyek anda ini berhasil, maka pilihan apa yang anda tawarkan bagi sebagian besar umat manusia ini?
Terlalu banyak pertimbangan untuk dapat ditulis di sini, oleh karena itu saya akan menggunakan contoh EFEK DOMINO: Seandainya pendapat anda mengakibatkan penolakan terhadap Quran, bukankah kita menghadapi dilema moral mengenai buku mana yang akhirnya benar-benar suci ? Bukankah Terdakwa juga dituduh telah berbohong maka hal ini juga akan mengakibatkan semua kitab sebelumnya menjadi tidak sah?
AKibatnya, seluruh ajaran kemanusiaan secara fisik maupun rohani jadi diragukan dan akhirnya manusia akan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada yang namanya Tuhan. Dan jika Tuhan sendiri menjadi subjek yang diragukan maka kebaikan dan kejahatan hanya dinilai melalui nilai-nilai moral manusia, sehingga manusia sampai pada RELATIVISME MORAL.
Mereka yang berkuasa akan menjadi sewenang-wenang karena memiliki kuasa atas moral DAN karena tidak ada etika yang nyata dari yang maha kuasa. Manusia dapat berada pada posisi yang lebih rendah daripada hari ini. Karena mereka menyingkirkan pemikiran akan Tuhan, atau mem-biarkan penafsiran terbukan tanpa ada suatu kerangka yang nyata mengakibatkan kerusakan yang lebih besar daripada hari ini. Dan itulah yang menjadi kekhawatiran saya hari ini.
Sebenarnya saya setuju dengan misi anda, namun caranya yang sangat berbeda. Maka dari itu belas kasih terhadap kemanusiaan dan pertimbangan berdasarkan suatu logika tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang merasa diri sebagai Tuhan. Dan saya pikir kesimpulanmu di bagian 1 tidak memenuhi syarat ini, karena anda tidak mampu menjabarkan tindakan yang harus diambil atau bahaya apa yang harus dihadapi bila mengikuti pola pikir anda tersebut.
Pada suatu titik anda akan terpaksa mengadopsi Relativisme Moral, yang anda tolak sendiri di bagian 1. Karena tanpa relativisme ini, anda tidak memberikan pilihan apapun. Apabila pemimpin suatu misi menolak apa yang seharusnya ada untuk menjamin kelangsungan suatu dunia tanpa Tuhan, maka ini adalah penipuan. Pada akhirnya Moralitas Sesaat akan menjadi agama. Dan jaminan apakah yang anda berikan bahwa moral tidak akan ditolak atau berubah juga pada akhir-nya? Mereka yang mengikuti pola ketuhanan anda sepantasnya disebut “moralis.”
Jika anda memang benar, Mr. Sina dan anda benar-benar mengharapkan orang meninggalkan Islam, anda harus menyiapkan suatu kode moral bagi orang yang berpihak kepada anda. Dan kode moral itu harus dipergunakan sebagai contoh, mengacu pada perintah sederhana, atau akan sangat sulit diterapkan. Jika anda membiarkan para pengikut anda untuk membela diri sendiri atau mengembangkan kode moral sendiri, apakah anda menjamin Iran tidak akan menerapkan “Hijab” terhadap warganya? Anggaplah mereka benar-benar membiarkan warganya memiliki kebebasan baik pikiran maupun tindakan, apa yang akan terjadi dengan mereka yang membelokkan kode moral anda? Anda tentu akan melarang mereka menolak kode moral yang mereka kembangkan secara bebas itu.
Mungkin anda tidak akan tersinggung, tetapi salah seorang dari anggota kelompok anda bisa tersinggung. Apa yang akan terjadi bila kode moral menjadi sangat bebas sehingga bertukar pasangan untuk semalam menjadi sesuatu yang lazim di suatu bagian dunia, bukan berdasarkan suatu kode moral, tetapi benar-benar suatu kebebasan, apakah hal tersebut wajar di mata anda? Itulah akibatnya bila Islam berhasil dihapuskan, diganti-kan oleh suatu agama baru yang aneh. Dan anda benar-benar tidak dapat mengharapkan orang-orang yang anda sadarkan untuk menerima ajaran lain selain moral yang menjadi ukuran. Hal ini berarti anda harus benar-benar mempercayai orang-orang tersebut dengan menganggap mereka semua adalah orang baik secara moral dan akal sehat. Lantas mengapa moral mereka dianggap kacau hanya karena mereka menganut islam? Jika islam diganti nama menjadi moralitas, perubahan apa yang anda harapkan akan terjadi dan bagaimana cara menegakkan hal ini?
Oleh karena itu saya menolak konsep anda dengan alasan: a) kasus anda tidak cukup kuat b) anda tidak mampu mengarahkan para juri atau penggugat secara jelas c) anda tidak menghargai aturan yang anda buat sendiri d) anda telah menuduh secara sepihak tanpa memberi kesempatan pembela dan juri mendengar kasusnya secara utuh. ----------------------------------------------------------
Dari ALI SINA <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->Yth Mr. Shahzad, Sebagai Penuntut, saya yakin dengan temuan saya dan tuduhan yang saya ajukan pada Klien anda. Jika saya ragu, saya pasti tidak akan meng-ajukan tuntutan.
Saya hadir untuk menuntut Muhamad dan tugas anda adalah untuk membelanya. Saya harus mendukung semua pernyataan dengan bukti. Terserah anda untuk membantah bukti saya dan mempertanyakan relevansi dan kesahihannya. Tentu saja anda juga harus memback-up pernyataan anda. Jika anda menuduh tentara Amerika melakukan kejahatan perang, dapatkah anda membuktikannya? Dapatkah anda mengajukan bukti dan saksi? Jika dapat, seharus-nya anda jangan membuang waktu di depan komputer. Anda seharusnya berada di PBB dan meminta pengadilan internasional untuk mendukung pernyataan anda.
Anda menulis: Jika menyelamatkan umat manusia menjadi tujuan anda, maka mengejek dan mengutuk sebagian dari umat manusia menggoyahkan motivasi dan tujuan anda.
Pernyataan anda diatas salah. Saya tidak me-ngutuki sebagian umat manusia. Saya menolak sebuah ideologi yang dianut oleh sebagian umat manusia. Apakah suatu ideologi menjadi benar dan sakral hanya karena banyak orang mempercayainya? Adakah batasan dimana masih boleh melaku-kan kritik dan batasan dimana kritik menjadi tabu?
Haruskah kita berhenti mengkritik ideologi? Bagaimana dengan neo-Nazisme? Ribuan orang yang menganut ajaran ini dengan setia. Haruskah kita berhenti mengkritik Hitler karena takut me-nyinggung perasaan orang kulit putih? Ataukah kita hanya boleh mengkritik doktrin yang hanya me-miliki sedikit pengikut sedangkan yang pengikutnya banyak tidak boleh dikritik? Apakah ini kriteria yang anda maksud?
Jadi apakah memang boleh mengkritik Islam pada waktu masih baru dan pengikutnya sedikit? Dari sejarah kita lihat bahwa Muhamad mengirimkan pembunuh untuk membungkam para pengkritiknya. Pada saat yang sama ia sendiri mengkritik dan menodai agama kaum Quraisy, Yahudi dan Kristen dengan mengatakan bahwa mereka telah meng-ubah agama mereka sendiri dan apa yang sekarang mereka percayai bukanlah agama yang masih asli.
Jadi, pada prinsipnya Islam dan anda sendiri mengajarkan bahwa Islam sama sekali tidak boleh dikritik. Itukah intinya? Boleh mengkritik semua kepercayaan lain, tapi Islam jangan? Benarkah?
Peraturan ini diterapkan di negara-negara Islam. Siapa saja yang berkata-kata melawan Islam dan Muhamad akan didakwa melakukan pelecehan dan akan diperlakukan secara mengerikan. Namun di forum www.FaithFreedom.org kami mengkritik semua ideologi. Kami mempertanyakan semua kepercayaan. Sebagaimana inspirasi sang Budha, kami mencari pencerahan atas keraguan kami.
Jadi, mengkritik Islam tidak sama dengan me-nyebar kebencian.
Alquran sendiri yang menyebarkan kebencian : ”bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” (9:5) ”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali” (3:2 atau; “sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis” (9:2
Ayat-ayat itulah ayat penyebar kebencian. Per-kataan seperti itulah yang seharusnya dihenti-kan.
Anda menulis: Jika menyatakan kejahatan seseorang menjadi motif satu-satunya, maka saya tidak yakin anda telah mempertimbangkan semua dilema yang akan terjadi pada umat manusia secara umum.
Dalam pernyataan di atas anda mengimplikasikan bahwa kebenaran bukanlah menjadi pertimbangan anda. Anda lebih kuatir bagaimana kebenaran akan mempengaruhi umat manusia.
Saya yakin bahwa kebenaran selalu lebih baik. Kebenaran hanya akan menyakiti perasaan kita untuk sementara saja. Orang-orang senang dibohongi demi menghindari rasa sakit dan melepaskan kebohongan seperti ini tidaklah mudah. Saya berhasil melepaskan diri. Tetapi kebohongan benar-benar menghancurkan. Kepercayaan palsu sangatlah berbahaya. Contohnya paham Nazisme. Paham itu berdasar-kan kepercayaan palsu bahwa ras Aria berasal dari benua Atlantis yang hilang dan ras inilah yang memperkenalkan peradaban ke seluruh dunia. Kita melihat bahwa kepercayaan itu tampaknya baik-baik saja namun akibatnya sungguh luar biasa. Bayangkan mimpi buruk dan hilangnya begitu banyak nyawa atas kebohongan superioritas ras Aria.
Hari ini kita menuju kepada suatu kehancuran akibat satu lagi kebohongan. Kebohongan yang dimaksud adalah Islam. Islam mengajarkan bahwa penganutnya lebih baik daripada para kafir. Kafir harus diperangi dan Islam harus menjadi yang terbesar di dunia, bahwa jika 10 muslim menghadapi 100 kafir, muslim akan menang karena Allah akan menolong mereka. Bahwa pada akhirnya seluruh dunia akan menjadi muslim. Bila muslim mati dalam peperangan, mereka akan masuk surga dan mendapat hadiah bidadari yang banyak. Jika sebagian besar umat manusia mempercayai hal ini, ini namanya bom waktu.
Sejujurnya, saya tidak melihat alternatif yang lebih baik selain daripada menjinakkan bom ini. Dan itulah misi dari Faith Freedom International. Kami mencoba menjangkau muslim sebelum terlambat dan mengatakan kepada mereka bahwa Islam itu palsu.
Gambaran Umum. Anda mengajak para juri untuk melihat gambaran umum. Menurut anda menyadarkan orang akan palsunya Islam tidak penting karena ini hanyalah akan meninggalkan dunia tanpa agama. Dengan kata lain anda pikir lebih baik menganut suatu agama palsu daripada tanpa agama sama sekali. Anda memperkirakan kekacauan dan degradasi moral.
Saya tidak setuju! Kita telah melihat bahwa RELATIVISME MORAL ADALAH CIRI KHAS ISLAM. Islam-lah yang menyetujui kejahatan apabila hasilnya menguntungkan Islam dan muslim. Relativisme moral artinya menghalalkan segala cara.
Namun, saya percaya bahwa moral itu relatif, tetapi bukan dari sudut pandang islam. Saya percaya moralitas relatif terhadap sejarah dan budaya. Dalam Islam, moralitas relatif terhadap kepenting-an Islam dan keinginan untuk menang dengan segala cara. Islam mengajarkan bahwa seseorang boleh melakukan kejahatan demi kepentingan Islam.
Etika dalam Islam tidak mempedulikan benar atau salah, baik atau buruk tetapi mengacu kepada halal dan haram. Pada kenyataannya etika me-rupakan omong kosong dalam islam. Islam sama sekali tidak peduli terhadap etika. Diskusi me-ngenai etika tidak dikenal oleh “filsuf” islam.
Etika yang menyetujui pelanggaran hak asasi manusia pasti tidak benar. Tetapi tidak dalam Islam. Islam tidak menghargai hak non-muslim dan karenanya HAK MEREKA TIDAK SAMA dengan hak para muslim. Wanita dalam Islam juga tidak memiliki hak yang sama dengan para pria muslim. Dalam Islam, hukum syariah menjadi acuan benar dan salah.
Etika diturunkan dari kesadaran manusia dan the Golden Rule http://faithfreedom.6.forumer.com/viewtopic.php?t=73
Orang yang berakal sehat mampu membedakan benar dan salah mempergunakan Golden Rule sebagai parameter. Tetapi tidak dalam Islam. Benar dan salah mengacu kepada ucapan Muhamad. Contohnya, etika mengajarkan bahwa memukul wanita itu salah. Dalam Islam, memukul istri itu halal. Berdasarkan etika, hukuman tidak boleh melebihi kejahatannya. Dalam Islam hukuman bagi pencuri kecil-kecilan adalah potong tangan. Islam juga mementingkan “dosa atas pikiran” (dosa karena berpikir bebas/beda [pentj]). Etika tidak mengenal ini.
Individu dalam masyarakat etis memiliki kebebasan bertindak dan berpikir. Anda bebas berpikir, ber-tindak, dan berkata-kata selama tidak merugikan orang lain. Dalam Islam kebebasan ini tidak ada. Anda dapat dihukum berat dan bahkan dieksekusi karena mengkritik, menolak islam, melakukan hubungan seks di luar nikah, atau berperilaku homoseks.
Dalam Islam, memukuli istri itu halal tetapi wanita diharamkan memperlihatkan rambutnya kepada orang lain. Poligami itu halal tetapi haram bagi wanita. Memiliki budak dihalalkan, namun diharamkan untuk memungut bunga pinjaman. Halal untuk memperawani gadis 9 tahun (Aisyah, red.) tetapi haram bagi anak lelaki dan anak perempuan untuk bermain bersama. Dihalalkan untuk memperkosa anak lelaki dan berperilaku pedofil tetapi haram bagi orang yang homoseks untuk berhubungan dengan sesama mereka yang tentu sudah dewasa. Hukum Syariah relatif ter-hadap apa yang dikatakan Syariah namun tidak relatif terhadap logika dan etika.
Relativitas moral secara historis dan budaya me-rupakan topik yang berbeda. Diperlukan pemaham-an atas setiap kebudayaan dan tahapan sejarah serta setiap peradaban memiliki kode moral sendiri berbeda dengan peradaban lain.
Apa itu moralitas? Manusia beragama percaya bahwa moralitas berasal dari agama dan bila agama kehilangan pengaruhnya, manusia akan menjadi immoral. Apakah moralitas merupakan produk agama? Apakah orang yang tidak beragama juga tidak bermoral?
Anda berkata bahwa tanpa agama orang akan tukar menukar istri. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang muslim muda yang berkeras bahwa jika tanpa agama orang akan melakukan incest dan tidak ada yang akan mampu menahan mereka untuk meniduri ibu mereka sendiri. Saya bertanya apakah dia bergairah terhadap ibunya dan apakah Islam satu-satunya pencegah dia meniduri ibunya? Dia tampak tersinggung.
Bagian terbesar dari moralitas kita adalah naluri kita. Incest tidak dianut oleh peradaban manapun baik agamis maupun tidak. Tentu ada beberapa individu dengan perkembangan mental yang abnormal. Pada kenyataannya, kecuali Simpanse Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk melambangkan ikatan sosial, tidak ada jenis kera lain yang berkembang biak melalui incest. Biasanya para pejantan me-ngunjungi kelompok lain untuk mencari pasangan. Singa muda dipaksa meninggalkan kelompoknya untuk mencari pasangan singa betina di kelompok lain.
Menariknya, pernikahan di antara anak-anak yang tumbuh bersama dalam suatu panti asuhan jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, sekalipun anak-anak ini tidak ada yang memiliki hubungan darah.
Namun beberapa issue moral tidak sejelas contoh di atas. Apa yang tergolong moral dan imoral tergantung pada waktu dan budaya. Bahkan bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Apa yang dulu dianggap bermoral misalnya seribu tahun lalu menjadi immoral saat ini, demikian sebaliknya. Begitu pula apa yang dianggap bermoral di satu belahan dunia bisa dianggap sebaliknya di bagian dunia lain.
Contohnya perilaku seks bebas. Banyak kebudayaan menganggap hal tersebut immoral. Tetapi ada juga kebudayaan yang menganggapnya sebagai norma. Bagi kami, “yang berkiblat ke barat” memiliki beberapa partner secara bersama-sama merupakan hal yang immoral. Namun bagi muslim yang menganut poligami, hal tersebut adalah “anugerah Allah.”
Di satu bagian dunia, wanita melakukan poliandri. Dalam suku Inuit, seorang pria akan menawarkan istrinya kepada tamunya untuk ditiduri. Perilaku mana yang immoral? Dan siapa yang menentukan hal tersebut?
Apakah memperlihatkan bagian tubuh itu immoral? Di tengah hutan Amazon beberapa suku benar-benar telanjang. Apakah hal tersebut immoral? Bagi mereka itulah gaya hidup. Di beberapa negara Islam wanita diharuskan menutup semua bagian tubuhnya (seperti anak-anak yang main hantu-hantuan). Apakah itu moral yang baik? Jika hal demikian menjadi definisi moral, apakah wanita yang berpakaian sopan tanpa hijab termasuk immoral? Bagaimana pula dengan wanita berbikini di pantai? Apakah mereka immoral? Jawaban ter-hadap pertanyaan-pertanyaan di atas bergantung pada siapa anda dan apa standar moral anda.
Mari kita lihat contoh lain: perbudakan. Apakah perbudakan itu immoral? Perbudakan dilakukan selama berabad-abad bahkan oleh orang yang paling religius. Muhamad bukan hanya memiliki budak tapi dia juga mengambil untung dengan cara memperjualbelikan manusia bebas sebagai budak. Apakah dia immoral? Jika ya, mengapa kita meng-ikuti seorang yang tidak bermoral dan jika tidak, mengapa sekarang kita mengutuk perbudakan?
Bagaimana dengan perilaku pedophil? Kita semua tentu menolaknya dan menganggap hal tersebut sebagai suatu tindakan immoral. Tetapi pada waktu Muhamad melakukan hal tersebut terhadap anak perempuan berumur 9 tahun hal ini tidak dianggap immoral. Bahkan ayah Aisyah secara rela menyerahkan anaknya menikah dengan Muhamad sesuai dengan permintaan Muhamad. Pada waktu itu tidak ada yang mengerutkan dahi. Pertanyaannya adalah, jika meniduri anak berumur 9 tahun tidak dianggap immoral, apakah berarti hal tersebut benar? Tidak semua yang dipandang ber-moral oleh masyarakat itu benar. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin dianggap wajar 1400 tahun yang lalu di tanah Arab, tetapi dulupun itu tetap tidak etis.
Moralitas ditentukan oleh situasi, tetapi etika melampaui waktu dan ruang. Etika berakar pada logika. Moralitas dapat berbeda antar kebudayaan, dari waktu ke waktu dan dari orang per orang. Siapa yang berhak menentukan sesuatu itu ber-moral atau tidak?
Seorang pria di Pakistan dapat menganggap bahwa pertemuan istrinya dengan sepupu laki-lakinya tanpa kehadiran orang ketiga sebagai tindakan immoral, menodai kehormatannya dan untuk memulihkan kehormatan, sang istri harus dibunuh. Baginya, pertemuan dua saudara adalah tindakan immoral tetapi membunuh dianggap baik-baik saja.
Kita harus membedakan moralitas yang mem-bahayakan masyarakat dengan yang tidak. Apa yang membahayakan harus dianggap tidak etis dan dilarang. Perbudakan contohnya, melanggar kebebasan seorang manusia. Karena itu entah dilarang atau dipraktekkan oleh suatu budaya, hal tersebut tetap tidak etis. 1400 tahun yang lalu memiliki budak bukanlah tindakan immoral. Tetapi secara etika perbudakan itu salah dan hal tersebut melintasi waktu. Bahkan sang nabi pun tahu bahwa perbudakan itu salah. Itulah sebabnya ia menyuruh para pengikutnya untuk membebaskan budak sebagai tindakan amal. Namun ia tetap menambah koleksi budaknya dengan menyerang kota demi kota dan menangkapi orang bebas untuk kemudian dijadikan budak.
Menariknya, atas perkataan nabi, para muslim membebaskan budak ketika budak itu telah tua dan tidak mampu lagi bekerja. Membebaskan budak pada waktu mereka masih muda adalah tindakan amal dan bermoral tetapi membebaskan mereka setelah tua tanpa tunjangan apapun sangat tidak etis. Sang nabi lupa menyatakan hal tersebut dan karenanya para mantan budak yang sudah tua menjadi pengemis di jalan sementara majikan mereka mendapat anugerah allah karena telah membebaskan budak sambil menghindarkan diri merawat budak yang telah tua; sekali me-rengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Hal yang seharusnya dilakukan adalah jangan memperbudak. Namun kekayaan Muhamad dan penguasa Islam justru berasal dari penjualan budak.
Sekarang saya akan menjawab kekuatiran anda mengenai tukar menukar istri. Saya menyebut hal tersebut sebagai perzinahan. Sekalipun dilakukan dengan sadar dan sama-sama suka. Pertanyaan anda adalah apa yang akan dilakukan oleh suatu masyarakat yang tidak beragama. Jawaban saya sama dengan jawaban Pierre Trudeau di hadapan parlemen Kanada. Dia berkata, “Negara tidak boleh mencampuri urusan kamar tidur penduduk.” Ia menyampaikan hal tersebut 30 tahun yang lalu dan pemerintah Kanada mendengarkan. Namun saya tidak pernah melihat orang-orang senegara saya menawarkan istri mereka kepada orang lain.
Sejujurnya bukan urusan saya atas apa yang tetangga saya lakukan. Seperti yang dikatakan muslim: saya tidak mau terkubur bersama mereka. Lantas mengapa kita membahasnya?
Sekarang mari kita lihat negara Islam dimana pemerintah mengatur kehidupan pribadi penduduk-nya. Ibu-ibu yang memiliki anak diluar nikah dirajam batu sampai mati dengan cara yang paling sadis. Apakah itu yang disebut bermoral? Orang dicambuk karena meminum bir. Wanita dipukuli sampai berdarah karena selendang mereka tersingkap sehingga rambut mereka terlihat di muka umum. Tolong katakan kepada saya moralitas mana yang lebih baik?
Sebagai penutup, kita harus membedakan antara apa yang immoral dan apa yang tidak etis. Masalah moralitas harus diserahkan kepada individu; masalah etika harus diajarkan di sekolah dan ditegakkan melalui hukum atau kode etik. Apakah berganti-ganti pasangan itu immoral atau tidak etis? Jawaban atas bagian pertama ber-gantung pada siapa anda. Jika anda berada dalam kelompok ultra liberal negara barat atau penganut Islam, mungkin hal tersebut bukanlah hal immoral. Ini berkaitan dengan selera, budaya dan didikan. Kita tidak boleh terpaku pada sisi moral saja. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa di dalam kamarnya bukanlah urusan kita. Pertanyaannya adalah: apakah hal tersebut etis?
Jika berganti-ganti pasangan di-sah-kan misalnya melalui poligami, apakah hal tersebut tetap immoral? Mereka yang melakukannya mungkin tidak terlalu memusingkannya, tetapi hal tersebut tetap saja tidak etis. Pernikahan adalah institusi sosial yang pengaruhnya lebih luas daripada hanya kepada dua orang yang bersumpah setia. Bukan hanya anak-anak tetapi seluruh masyarakat akan “dipaksa” untuk mendukung keluarga yang ber-ubah jadi tidak berfungsi. Masyarakat harus mem-bayar biaya pendidikan anak-anak, makanan mereka, pakaian mereka dan juga menanggung akibat atas sampah masyarakat yang kemungkinan besar akan dihasilkan oleh keluarga yang berantakan tadi. Poligami harus dilarang bukan karena immoralitasnya, sesuai dengan uraian kita tadi bahwa hal tersebut adalah masalah individu, tetapi karena poligami itu tidak etis. Hal tersebut membahayakan anak-anak dan masyarakat.
Apa yang disebut moral tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Moral religius terlihat tidak etis lagi. Apa yang kita anggap bermoral berlawanan dengan agama. Poligami, perbudakan, pengorban-an hewan, perkawinan dengan anak kecil dan lainnya tidak termasuk hal immoral dalam islam. Tapi wanita yang bepergian sendiri, tidak memakai hijab atau memasuki lift bersama seorang lelaki asing disebut immoral.
Karena itu moralitas harus diserahkan kepada masing-masing dan bisa berubah-ubah. Namun masalah etika harus didefinisikan. Nilai-nilai etis berdasarkan logika dan Golden Rule. Keduanya bersifat universal dan tidak akan berubah secara intinya, apa yang melukai orang dan mengganggu hak mereka itu tidak etis. Pada kenyataannya, binatangpun memiliki hak dan suatu masyarakat yang etis harus melindungi dan menghargai binatang.
Moralitas islam adalah moralitas yang tak lagi kompatibel dengan nafas jaman sekarang. Masyarakat patriarki menerapkan kode moral terhadap wanita yang memberikan kendali kepada para pria atas istri mereka. Moralitas agama (islam) tidak berasal dari surga. Hal tersebut hanya menggambarkan rasa takut dan sifat posesif para pria yang menciptakan aturan tersebut. Islam mewajibkan hijab (jilbab). Apakah hal ini berkaitan dengan ketakutan Muhamad sebagai orang yang mulai tua dalam mengendalikan para istrinya yang masih cantik dan melindungi mereka dari mata pria muda yang dianggapnya sebagai saingan? Dia terus menerus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap suami. Apakah ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sebagian besar istrinya adalah anak remaja yang masih berjiwa pem-berontak sehingga harus dikendalikan?
Moralitas adalah sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi moralitas sejati tidak berasal dari doktrin dan kepercayaan kuno. Sangat menyedihkan bahwa ada yang membuat moralitas menjadi tawanan agama. Sangat absurd me-maksakan moralitas dari suatu budaya yang telah lalu terhadap masyarakat modern saat ini. Moralitas diperoleh dari kesadaran manusia dan kepekaan rohani/bathin. Semakin kita dewasa, tindakan kitapun semakin baik. Kita tidak hidup dalam moralitas demi kerakusan atau ketakutan akan hidup setelah kematian. Kita berlaku moral karena moral meningkatkan kehidupan kita. Moralitas harus menjadi bagian kehidupan kita, sama seperti pengetahuan menjadi bagian dari diri kita. Moralitas sejati tidak pernah bertolak belakang dengan etika. Etika sangat sedikit dipengaruhi agama. Seperti kata Gandhi, etika adalah persoalan ekonomi. Pertanyaannya adalah dimana kita akan meng-investasikan energi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika anda menginvestasikan energi dalam kenikmatan seksual anda akan mem-peroleh hasil yang sementara. Jika anda meng-investasikannya di dalam hal-hal yang berarti anda akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar.
Hidup dalam moral yang baik tidak berarti meng-hilangkan kenikmatan. Hidup tanpa rasa syukur bukanlah hidup. Semua merupakan pilihan. Apa yang kita pilih sebagai kesenangan kita? Itulah pertanyaan yang penting. Seseorang yang meng-investasikan energinya dalam melayani kemanusiaan mendapat kepuasan yang lebih besar daripada orang yang berkubang dalam pencarian kesenangan duniawi.
Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan pribadi, didasar-kan pada kematangan dan pemahaman spiritual. Moralitas tidak seharusnya dipaksakan oleh otoritas yang lebih tinggi seperti negara atau agama. Moralitas yang dipaksakan bukanlah moralitas. Seseorang yang menjalani hidup dalam moral karena takut pada neraka bukanlah orang yang bermoral karena ia tidak memilih perilaku tersebut secara bebas. Rasa takut dan kerakusan -- merupakan metode dalam agama tradisional -- yang dipakai sebagai insentif untuk memaksa orang menerima sistem moral tidak akan membuat suatu masyarakat yang bermoral. Tidak seorangpun dan tidak satu agamapun yang mampu memaksakan moralitas kepada orang lain. Pemaksaan sistem moral tidak etis. Agama yang mengancam pengikutnya dengan api neraka atau memancing mereka dengan janji-janji surga tidak akan menjadikan pengikut yang bermoral. Cemeti dan wortel memang berhasil dalam melatih binatang tetapi tidak dalam mendidik manusia. Hanya orang yang dapat memilih secara bebas dapat disebut sebagai orang yang bermoral.
Seorang yang bermoral memilih untuk hidup baik karena hal tersebut memberinya kepuasan. Orang yang jujur puas dalam perilaku jujurnya. Ia akan memilih disiksa daripada harus berbohong atau menipu. Moralitas kita berhubungan langsung dengan kematangan spiritual. Jika kita bertumbuh secara spiritual; pengetahuan, kontribusi kepada masyarakat dan bekerja untuk perdamaian akan memberikan imbalan yang jauh lebih besar daripada berkubang dalam kepuasan sensual. Tidak ada yang salah dengan kepuasan sensual. Tetapi kita mendapatkan kepuasan lebih, dalam melakukan sesuatu kepada masyarakat dibanding-kan dengan memuaskan diri kita sendiri.
Agama primitif memperlakukan anda seperti anak kecil (kalau bukan binatang). Mereka ingin me-maksakan sistem moral yang sudah kadaluarsa dengan mengancam pengikutnya dengan api neraka dan menyuap anda dengan surga untuk menerima moralitas kuno dan kadang tidak etis. Entah anda hidup bermoral karena rasa takut dan kerakusan ini atau karena anda mendapatkan kepuasan dengan berperilaku moral, tetap saja ditentukan oleh kedewasaan dan kepekaan rohani. Moralitas keagamaan tidak diturunkan dari langit. Moralitas keagamaan merupakan moralitas orang jaman kuno, cara pandang mereka dan (dalam kasus islam) tipu daya. Kita tidak membutuhkan moralitas orang jaman dulu sama seperti kita tidak membutuhkan teknologi, ilmu, dan pengobatan mereka. Moralitas mereka harus dikubur bersama dengan tulang mereka. Manusia modern harus membentuk moralitas sendiri. Moralitas harus ber-kembang sama seperti perkembangan pengetahu-an dan kesadaran manusia.
Moralitas baru tidak berarti immoral. Artinya keluar dari masa kegelapan ketidakpedulian dan mem-bangkitkan generasi yang lebih bertanggung jawab. Manusia tidak lagi dapat dibelenggu dengan rasa takut dan ancaman di kehidupan setelah kematian. Ilmu pengetahuan telah memberi cahaya terhadap absurditas konsep agama dan meng-goncang fondasi dari kepercayaan yang dipegang teguh leluhur kita. Hari ini kita harus mendidik anak-anak kita dengan kesadaran. Mereka harus belajar bahwa umat manusia itu satu. Sama seperti orang tua kita mengajarkan kebohongan agama dan kita mempercayainya. Kita dapat mengajar anak-anak kita kebenaran dan mereka akan percaya.
Kita tidak perlu berbohong dan menakut-nakuti anak kita dengan api neraka untuk mendidik moral, cinta kasih dan perilaku mereka. Metode seperti itu tidak pernah berhasil. Sejarah manusia menjadi saksinya.
Jika kita mencintai anak kita, mereka juga akan belajar mencintai. Jika kita jujur, secara moral dan etika mereka akan belajar jujur. Kita dapat mem-bangun manusia yang lebih baik dengan ber-perilaku manusiawi sekarang ini. Tetapi pertama-tama kita harus mengajar mereka cinta kasih.
Nah, ini cinta kasih ala Muhamad sehubungan dengan mereka yang non-muslim: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan me-nolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (9:14)
Seperti yang anda lihat, dasar kepercayaan Islam sangat tidak etis dan immoral. Kita tidak dapat me-nyembuhkan umat manusia sampai kita mem-buang kanker-nya. Kanker ini telah mencapai titik berbahaya yang akan membunuh kita. Pilihannya hanya umat manusia atau Islam. Umat manusia tidak akan memiliki masa depan selama penyakit ini tidak diobati. Islam harus dimusnahkan sekarang. Besok akan terlambat.
Bagaimana dengan agama lain: Saya sadar bahwa banyak orang yang tergantung pada agama dan hidup bagi agama tanpa percaya pada Tuhan yang berpribadi dan janji pada kehidupan setelah kematian. Saya ingin menekan-kan bahwa peperangan saya ini tidak dilakukan terhadap seluruh agama. Saya lihat anda menarik kesimpulan bahwa menolak Islam berarti menolak seluruh agama yang ada, Tuhan dan kemudian moralitas. Tidak demikian! Saya bukan seorang yang religius dan tidak membutuhkan satu agama untuk hidup secara etis dan bermakna. Saya percaya hidup saya cukup bermakna dan usaha saya untuk mempersatukan umat manusia serta merintis jalan menuju perdamaian dengan meng-hancurkan penghalang terbesar menuju perdamaian (islam) adalah pengabdian terbesar yang dapat saya lakukan.
Namun, memang banyak orang yang membutuh-kan agama dan saya menghargai itu. Perlawanan saya hanya tertuju kepada Islam. Bukan karena Islam adalah agama, justru karena ISLAM BUKAN AGAMA. Islam adalah politik yang di-bungkus dengan agama. Islam merupakan alat dominasi dan penaklukan. Islam memakai agama sebagai topeng untuk menelusup dan menaklukkan.
Jika orang meninggalkan Islam, mereka bisa me-milih satu dari berbagai agama yang ada, atau memilih seperti saya yang tidak beragama. Jadi tidak perlu panik. Kekosongan karena meninggal-kan Islam akan segera terisi karena ada banyak agama dan filosofi di dunia ini. Banyak muslim yang meninggalkan Islam dan mereka pasti dapat memberi tahu anda bahwa mereka sekarang lebih berbahagia.
Jika Islam mati, doktrin kebencian akan mati pula. Sama seperti membuang sel kanker. Hal ini berarti kebebasan bagi muslim dan suatu kesempatan baru untuk mengasihi seluruh umat manusia. Mereka akan memiliki kebebasan untuk merangkul saudara saudari mereka dalam kemanusiaan dan kasih sayang. Tidak ada lagi muslim lawan kafir. Tidak ada lagi "kita" lawan "mereka".
Hal ini akan menjadi kelahiran baru bagi umat manusia seutuhnya. Kita akan menjadi satu, berbagi planet yang sama. Planet satu-satunya untuk hidup! Tidak ada lagi selain bumi yang mampu menampung manusia. Planet yang kecil ini, permata biru yang menggantung di tengah semesta yang kelam dan dingin adalah satu-satunya rumah kita. Jangan hancurkan demi suatu kebohongan.
Jika anda harus memiliki agama, mengapa memilih agama yang penuh kebencian?!
Salam, [Ali Sina] ------------------------------------------------------------ Nov 20, 2003 BAGIAN III PEMERKOSAAN (Bagian 1) Dari Raheel Shahzad kpd Ali Sina
Anda menulis: Untuk kesempatan sidang selanjutnya, saya mengundang anda untuk membantah tuduhan saya bahwa Terdakwa/Muhamad adalah pemimpin bejat (termasuk terlibat dalam tindakan PEMERKOSA-AN). Saya menuduh derajat moralnya rendah sehingga ia tidak mungkin seorang nabi yang dikirim dari Atas. Ia hanyalah seorang pemimpin sekte yang kejam, yang memanfaatkan orang-orang bawahannya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadinya.
Mr Sina, ini hanyalah masalah interpretasi yang sebenarnya merupakan inti kasus ini. Jadi untuk anda sampai pada kesimpulan sebelum menjelas-kan kedudukan kasus dengan jelas dan tidak hanya berdasarkan artikel2 simplistik dari sana sini, atau berdasarkan material yang ditolak oleh sebagian besar Muslim, tidaklah bijaksana.
Kita akan membahas tuduhan anda satu-persatu.
Anda menulis: Dalam link2 berikut ini saya sampaikan tuduhan saya dengan cukup bukti. - Juwayriah http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/Juwairiyah.htm - Safiyah: isteri Yahudi Muhamad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/safiyah.htm - Adopsi dalam Islam dan perkawinan Muhamad kepada Zainab Bint Jahsh. http://www.faithfreedom.org/Articles/SKM/zeinab.htm - Mariyah, Budak Koptik Muhamad http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/mariyah.htm - Propaganda seorang apologist/liberalis: jawaban langsung http://www.faithfreedom.org/Articles/abulkazem/reply_to_apologist.htm Tolong semuanya dibaca.
Saya telah lakukan itu. Menikah berkali2 dalam masyarakat jaman ini merupakan problem moral dan banyak muslim tidak mempraktekkannya. Mereka punya akal sehat untuk membedakan apa yang harus diikuti dan apa yang tidak diterima oleh standar masyarakat kini. Kebanyakan negara Islam yang maju juga tidak memperbolehkan perbudakan.
Amerika mengakhirinya 140 tahun yang lalu, meskipun ini tetap terjadi dan dilakukan oleh kaum Kristiani. Akibatnya masih dirasakan oleh kaum Afrika-Amerika sampai saat ini, namun akan makan waktu lebih lama lagi untuk menghilangkan akar2 rasisme. Nilai moral berubah. Begitu pula dalam Islam. Muslim mampu menyadarinya. Maka, daripada saya meminta maaf (seperti yang dilaku-kan orang pada artikel ke-5), saya benar2 percaya bahwa sang nabi telah menikah 12 kali, mungkin juga lebih, seperti banyak ditemukan dari beberapa sumber yang tak jelas.
Dan diapun menikahi seorang budak, mungkin lebih dari satu. Thomas Jefferson juga mempunyai budak. Saya menduga bahwa semua bapak pendiri Amerika mempunyai budak. Namun sekarang apa yang bisa kita lakukan? Hanya karena Jefferson dan Washington tidak mengaku sebagai nabi, maka Muhamad harus dianggap sebagai orang yang memiliki moral yang lebih tinggi?
Pertanyaan saya adalah, mengapa? Apakah 1400 tahun lalu ada peraturan bahwa menikah beberapa kali adalah tidak bermoral? Mempunyai budak pada 1400 tahun lalu adalah kejam? Apakah perbudakan 200 tahun yang lalu di Amerika dianggap immoral? Kata siapa? Praktek tersebut sangat umum dilakukan dan nilai moral masyarakat pada waktu itu pun berbeda.
Maka apakah jika Muhamad menikahi 12 wanita, atau 35, atau 400 wanita sekaligus adalah tindakan yang salah? Muhamad menikahi banyak wanita dan anda bisa memilih jumlah yang anda sukai karena angka tidaklah penting. Ia menunjukkan bahwa waktu itu praktik tersebut memang umum dilakukan. Jadi apa maksudnya menyerang poligami dan kepemilikan budak?
Bahkan jika anda menyampaikan 13.000 artikel mengenai hal ini, apa yang mau anda buktikan? Saya menyatakan tanpa rasa penyesalan bahwa ia menikah beberapa kali dan menikahi budak dengan tetap mengikuti kebudayaan yang normal pada jaman itu. Dan kebanyakan pria muslim tidak berbuat seperti itu karena adanya perubahan nilai moral saat ini tentang kehidupan perkawinan.
Mengikuti Sunnah bukan berarti harus menikahi 12 wanita, malahan pria muslim hanya bisa menikah 4 kali, yang sifatnya lebih untuk menghindari semangat para pria muslim untuk meniru nabi. Maka Sunnah ini sebenarnya tidak bisa dilakukan.
Muslim sering memiliki akal sehat dan wanita saat ini pun tidak akan menerima jika dijadikan isti kesembilan, walau sang pria beralasan mengikuti Sunnah nabi. Banyak wanita muslim seperti di Pakistan akan ngamuk jika suaminya mulai ber-main mata dan menyimpan budak.
Tuduhan anda bahwa Muhamad menikahi banyak wanita hanya membuktikan satu hal, bahwa ia memang menikah berkali-kali dan mempunyai budak. Menyamakan nilai moral saat ini padanya adalah perbuatan yang tidak adil, bukan hanya pada Nabi, namun juga pada semua bapak pendiri Amerika.
Pertanyaan saya pada anda: <!--[if !supportLists]-->1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah berlebih-lebihan?
2. <!--[endif]-->Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah? <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Apakah anda setuju bahwa penghapusan per-budakan di negara2 maju diakibatkan karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu? <!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan oleh muslimin di desa-desa tertinggal? <!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Apakah anda setuju bhw menikahi budak adalah sesuatu yg tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yg lalu, namun ada perubahan besar pd praktek-nya pd jaman sekarang di negara2 muslim? <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->JADI, Saya telah berusaha sejujur mungkin menanggapi Mr. Ali dalam isu poligami. Dari pengalaman saya, pernikahan dengan 12 wanita tidak lagi terjadi pada muslim jaman sekarang, dan jikapun ada, itu adalah pengecualian. Ahl-e-Sunnat sendiri telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti praktek ini, dan hanya menyetujui bahwa sang nabi mengikuti kebiasaan yang umum pada jamannya. Mengapa kafir terus mempermasalahkan hal ini? Kami para muslim tidak mengikutinya.
Saya rasa dalam setiap bahasan saya hanya bisa mengatakan, “Memang benar (Muhamad ber-poligami dan mempunyai budak), memangnya kenapa?” Apakah saya harus menjadi ateis karenanya?
Anda menulis: Ada lebih dari 1 milyar muslim di dunia ini, mengapa tidak ada satupun dari mereka yang mampu membuktikan bahwa tuduhan saya salah?
Ini hanyalah masalah perspektif. Mungkin karena anda membuat 2 peraturan dasar tentang perdebatan ini: 1. Saya selalu benar. 2. Jika saya salah, lihat peraturan no 1.
Saya tidak menggunakan prinsip ini, saya ingin menyanggah dan banyak hal yang saya dapat pelajari dan betulkan. Namun dalam salah keyakinan, tidak ada area hitam atau putih, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka bagi saya, kepercayaan diri dan keras kepala adalah hal yang berbeda. ---------------------------------------------------------- DARI ALI SINA Kpd. RAHEEL SHAHZAD
Yth Mr. Shahzad, Nampakya anda tidak membaca artikel yang saya berikan, atau tidak mengerti inti masalahnya. Seluruh argumen anda berkisar pada: muslim sekarang tidak lagi mempraktekkan poligami. Ini tidak relevan!
Masalah yang saya persoalkan tidak sekedar memperdebatkan jumlah wanita yang dinikahi Muhamad. Masalahnya adalah : RENDAHNYA MORAL MUHAMAD SAMPAI TERLIBAT PEMERKOSAAN! Muhamad menyerang rakyat tidak bersalah tanpa peringatan, membunuh semua pria, mengambil wanita tercantik dan menyetubuhinya pada hari yang sama ia membunuh suami, ayah, dan semua orang yang disayanginya. Ini terjadi pada Juwairyah, Rayhanah dan Safiyah. TUGAS ANDA SEBAGAI PEMBELA ADALAH UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA MUHAMAD BUKAN SEORANG PEMERKOSA. Anda ternyata tidak sanggup !
RAYHANAH Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhamad menutup jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia me-merintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka, termasuk istri dan anak2 mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah wanita tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhamad. Ia menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan untuk diperkosa penawannya, sang “nabi besar” Allah.
JUWARIYAH Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan dan perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan Muhamad, sang pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.
Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum mempunyai kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad ber-migrasi ke Medinah dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup, selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.
Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang ter-kenal dengan penduduknya yang kaya, pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak mem-berikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus me-nyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat. Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-Mustaliq.
BUKHARI, biografi Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam hadis; "Diriwayahkan Ibn Aun: Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi mendapatkan Juwairiya pada hari itu." Volume 3, Book 46, Number 717: Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomorr 4292, yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.
Muhamad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun mereka sama sekali tidak tertarik pada agama bawaan Muhamad itu. Ia tidak pernah memaafkan mereka karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil pemujaan dewa. Muhamad dalam kemarahannya mengatakan bahwa Allah akan mengutuk Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolaknya (Q. 5:60 dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk mencari pengikut.
Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab Medinah yang miskin dan bodoh, yang bekerja di kebun anggur milik kaum Yahudi, dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigran dari Yaman, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun. Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada per-budakan untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Allah. Muhamad telah mendapatkan agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan perang.
Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan menguntungkan.
Petikan dari salah satu situs Islam: Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing. Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.
Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tebusan uang. Thabit menyetujuinya jika ia mem-punyai 9 keping emas, namun karena Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok habis), ia pergi menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari penghinaan ini. "Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini.” HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya. (www.trueteaching.com)
Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik, Muhamad mem-buat Allah berkata bahwa ia “mempunyai moral yang maha mulia" (Quran 68:4) dan “sebenarnya nabi adalah contoh sempurna untuk diikuti” (Quran 33:21). Pertanyaannya adalah, benarkah ini?
Pertama, ia menyerang penduduk tanpa per-ingatan karena mereka sasaran yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini per-buatan Nabi Tuhan? Praktek tawanan perang, per-budakan dan pem-bagian harta rampasan perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, inikah prilaku Nabi Tuhan? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah “rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter dan penjahat biadab namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA?!?!
Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah si Nabi Rahmat Alam Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA?
Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.
Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dngan campuran isapan jempol dan cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis. <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa pe-nyerbuan itu, bertolak kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, “Anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?” lalu ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia me-nyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata, “Ini suatu penghinaan!” Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, “Saya me-nyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain Allah.” <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->Ibn-i-S'ad dalam 'Tabaqat', menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.
Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi di-ceritakan bahwa Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa ayahnya-lah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota disembunyikan.
Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjuk-kan tingkatan moral yang lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam Usud-ul-Ghaba menyata-kan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, “Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”
Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi Juwariah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan ia akan meninggalkan-nya sendirian dan mendapat kesenangan dari istrinya yang lain. Namun Muhamad adalah bandot tua licik. Dengan menyindirnya “berat sebelah dalam timbangan,” ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari nafsu sex Muhamad.
SAFIYAH Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah wanita Yahudi berumur 17 tahun ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai bagiannya dalam harta rampasan. Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya. http://www.prophetmuhammed.org/ <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun sekarang sudah tidak lagi, walaupun demikian kisah ini cukup mudah dicari dalam hadis). Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu 'I-Nadir. Ketika sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi', pria yang menikahi Safiyah tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur 17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang men-ceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia dipersiapkan dan di-dandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana mereka berdua bermalam.
Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia men-jawab, “Saya khawatir tentang wanita ini dengan-mu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pem-balasan darinya.”
Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak sangat jelas. Ia memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama dimana suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang ingin menyetubuhinya. Sikap nabi allah (allah dengan huruf “a” kecil), yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahi untuk satu hari saja dan mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan cara berpikir dan derajad moralnya.
Sejarawan muslim pun mencatat bahwa perkawin-an terjadi satu hari setelah Muhamad menyetubuhi-nya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena allah telah mengeluarkan ayat yang mem-perbolehkan hubungan seksual dengan para budak tanpa per-kawinan, meskipun mereka telah menikah. “dan semua wanita yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu miliki.” (Q.4:24)
Ayat diatas menunjukkan bahwa nabi tidak meng-anggap bahwa budak mempunyai hak apapun. Anda bisa saja wanita yang telah menikah dan berbahagia, namun jika Muhamad dan para pe-ngikutnya menyerang kotamu, kamu akan ke-hilangan semua hak yang kamu punya dan sementara suamimu dibunuh atau diperbudak, Anda dapat diberikan pada seorang Mujahidin Muslim yang memperkosamu dengan bebas dngan ridho allah.
Mari kita lanjutkan kisah Safiyah. Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata, ”Safiyah, ayahmu selalu memusuhiku, sampai akhirnya Allah sendiri yang menghukum-nya.” Dan Safiyah berkata, “Bukankah Allah tidak akan menghukum seseorang karena kesalahan orang lain?” "Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa lainnya” Q.53:3* Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhamad yang menumpas seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan bukannya Allah yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut Muhamad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhan-lah yang membantai kaum Yahudi dalam PD II.
”The Prophet then gave her the choice of joining her people after freedom or accepting Islam and coming into a matrimonial relationship with him.” (Tabaqat) (We have to remember that Muhammad killed most of her people and banished the rest of them. So giving the choice to join her people is not much of a choice. )
”She was very intelligent and gentle and said, "O Allah's Messenger, I had hoped for Islam, and I confirmed you before your invitation. Now when I have the honour to be in your presence, I am given a choice between kufr and Islam I swear by Allah, that Allah and His Messenger is dearer to me than my own freedom and my joining with my people." (Tabaqat). (Was this confession, if true, sincere? Was she safe to speak out her mind? She was enslaved by a man who had exterminated her family and could do with her the same. See the reference made to her "freedom". This shows clearly that she was not free. In fact she must have been very intelligent to fabricate those lies to save her own life. )
"Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhamad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?”, jawabnya, ”Ia adalah benar nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, “Lalu apa yang harus di-lakukan?” jawabannya adalah mereka harus menentangnya sekuat tenaga. " (Tabaqat)
(Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin 2 orang Yahudi yang mengenali Muhamad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT) dan kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA? LOGISKAH INI? Bukan hanya itu, dimanakah dalam Taurat disebut tentang Muhamad? Bagaimanakah caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak mampu menemukannya?)
”Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan ber-bagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat ke-datangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.” (Tabaqat)
(Anda tidak melihat pernyataan2 bertentangan sang penulis muslim? Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhamad sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan suka-rela, namun ia dibawa ke hadapan sang nabi karena dia masih muda dan tercantik diantara tawanan lainnya.)
Bukhari juga mencatat pertemuan Muhamad dengan Safiyah dan pertempuran Khaibar dalam hadis. Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz: "Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang2 di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang.” Kami me-ngalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan merekan dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).
Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata, “Oh Nabi Allah! Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi ber-kata, “Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan ber-kata, “Oh nabi Allah, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharus-nya adalah milikmu.” Maka nabi berkata, “Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan nabi berkata, “Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.” Kemdian nabi mengambil dan mengawini dia.
Thabit lalu bertanya pada Anas, “Apa mahar yang diberikan sebagai mas kawinnya?” Ia berkata “dirinya sendiri merupakan mahar yang harus di-bayar ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk nabi.” (Sahih Bukhari 1.367)
Mahar adalah uang yang diterima pengantin wanita dari pengantin pria saat pernikahan. Muhammad tidak membayar mahar karena ia harus membayar-nya pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironinya adalah ia tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan etika dari seorag abdi Tuhan.
Kisah yang membuat kita miris mendengarnya pada jaman sekarang, namun lagi2 Muhammad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan menikahi Safiyah dia akan menerima 2 imbalan. Pertama, dengan menghindari mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan sengaja, kedua ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda darinya. Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhamad barangsiapa yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi 2 imbalan.
Sdr Pembela, anda mengajukan berbagai pertanyaan. 1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman Arab kuno adalah terlalu berlebih-lebihan? Saya setuju bahwa standar moral kaum Arab jaman dulu tidak bisa dbandingkan dengan standar saat ini.
2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai2 perkawinan harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah? Saya menyetujui bahwa tingginya nilai moral se-seorang dinilai berdasarkan masanya dan oleh orang-orang disekitarnya.
3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan nilai2 perbudakan di negara2 maju karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu? Saya setuju bahwa nilai moral berubah seperti yang telah dikatakan pada bagian 2, juga relatif berdasarkan waktu dan tempat.
4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan adalah sesuatu yang hanya dilakukan muslim di desa-desa ter-tinggal? Saya tidak mengatakan bahwa tindakan Muhammad menikahi banyak wanita melanggar nilai etika pada jamannya. Dan memang benar, poligami saat ini tidaklah dipraktekkan oleh sebagian besar muslim.
5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar pada prakteknya pada jaman sekarang di negara2 muslim? Pada akhirnya saya pun mengerti bahwa meniduri gadis budak 1400 tahun yang lalu di Arabia tidak dianggap imoral. Dan memang benar banyak Negara muslim tidak memperbolehkannya pada saat ini.
Seperti anda lihat, saya menyetujui seluruh poin anda diatas. Namun saya tidak menyetujui bahwa argumen anda membebaskan sang nabi dari tuduhan PEMERKOSAAN.
Inti permasalahan yang anda lewati adalah bahwa Muhamad mengklaim diri sebagai nabi Tuhan untuk segala zaman dan semua bangsa. Ia memperkenalkan diri sebagai Nabi Terakhir dan Yang Terbaik dari Semuanya. Ia bersikeras bahwa ia mempunyai “moral yang maha mulia” 68:4, dan ia adalah, “contoh yang harus diikuti” 33:21, “Maha pengampun semua mahkluk” 21:107 dan “Nabi yang paling terhormat” 81.19. Namun berdasarkan apa yang telah kita telusuri, ternyata tidak begitu adanya.
Apakah contoh yang diberikan Muhamad dalam kisah Juwairiyah dan Safiyah sepatutnya diikuti oleh para muslim? Jika anda menyetujuinya maka para muslim se-harusnya menyerang rumah-rumah non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda berkata TIDAK dan tindakan Muhamad pada jaman tersebut tidak dapat di-terapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti, gugur alias “Batal demi hukum.”
Yang menjadi masalah adalah bahwa orang2 muslim tidak konsisten. Apakah kita harus me-ngikuti contohnya atau tidak? Apakah ia memberi contoh yang baik bagi kemanusiaan untuk diikuti atau tidak?
Muhamad bukan hanya figur sejarah. Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada orang yang mengatakan bahwa tindakannya merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA ! ----------------------------------------------------------
KESIMPULAN JAKSA Pertama, Muhamad BUKAN contoh baik yang harus diikuti. Kedua; ayat Quran yang menyatakan contohnya harus diikuti atau ia nabi segala jaman adalah palsu. Oleh karena itu, ini menyebabkan seluruh isi Quran tidak dapat diandalkan keaslian-nya dan oleh sebab itu tidak mungkin berasal dari Tuhan (!!!).
Kenapa kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh yang diberikan Muhamad walaupun ia menyuruh begitu? Apakah sekarang standar moral muslim lebih tinggi dari Muhamad? Mengapa kita harus mengikuti orang yang standar moralnya lebih rendah dari kita?
Syukurlah kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh Muhamad, walaupun memang ada yang benar2 mengikutinya. Osama bin Laden adalah contohnya, bayangkan apa yang terjadi jika lebih banyak lagi muslim sepertinya dan menjadi muslim yang sebenarnya.
Muslim yang tidak mengikuti contoh Muhamad adalah muslim yang tidak taat. Muslim yang taat berbuat banyak hal yang membawa bencana dan perbuatan setan lainnya. Semakin seorang muslim megikuti Quran, semakin berbahaya tindakannya terhadap kemanusiaan. Bukankah ini membuktikan bahwa Islam itu ajaran SETAN?!
Jika ajaran agama saya menyuruh untuk me-merangi tetangga, membunuh, memperbudak, memperkosa, memukul istrinya atau sebanyak mungkin tawanan... mengapa saya tidak boleh melakukannya? Mengapa anda kemudian me-ngatakan agar kita menggunakan akal kita sendiri dalam menentukan perbuatan yang kita anggap baik untuk diikuti. Apakah Tuhan mempermainkan kita? Saya menyerahkan pada pembaca untuk menilainya.
KESIMPULAN AKHIR Kegiatan seksual yang tak diinginkan sama saja dengan PEMERKOSAAN. Dapatkah anda menjelaskan bagaimana caranya budak tahanan wanita yang kebebasannya telah direnggut secara paksa DAPAT MENOLAK HUBUNGAN SEKSUAL? ---------------------------------------------------------- BAGIAN IV PEMERKOSAAN 2 DARI PEMBELA, RAHEEL SJAHZAD
Kepada para Jury, Jawaban atas bagian III dan permintaan atas pembatalan tuduhan Jaksa.
Pembela meminta pembatalan terhadap kasus dengan dasar bahwa tuduhan Mr. Sina sendiri memberatkan dan menyesatkannya. Pembela juga menuntut untuk mengetahui maksud sebenarnya Jaksa Penuntut.
Dasar tuntutan saya adalah 2 pernyataan Jaksa Penuntut;
1). Jaksa menyatakan bahwa “Bukhari, biografer terkemuka Muhamad, menuliskan kisah tentang penyerbuan terhadap Bani al-Mustaliq yang di-paparkan dalam hadis.” Pernyataan ini mem-buktikan ketergantungan Penuntut pada biogafer ini dan melandaskan semua tuntutannya berdasar-kan hadisnya.
Namun kemudian Jaksa mengatakan dalam bahasan-nya pada kasus Juwairiah bahwa “Semua kisah tentang Juwairiyah bercampur antara fakta kebenaran dan hiperbola, yang selalu terdapat dalam semua kisah dalam hadis.”
Pertentangan kedua pernyataan ini memperlihat-kan bahwa Penuntut menggunakan hadis semau2nya. Disatu pihak ia mengutip dari Hadis, dilain pihak ia menganggap hadis bercampur antara fakta dan hiperbola (hal2 yg di-besar2kan).
Sekarang Pembela akan memberikan versi yang lebih akurat tentang kisah tersebut, walau Jaksa telah mengatakan bahwa sumber ini penuh dengan campuran antara kebenaran dan hiperbola. Pembaca dapat menilai sendiri karena ini adalah versi hadis yang lengkap.
Volume 3, Book 46, Number 717 (Bukhari) dan Book 019, Number 4292: (Muslim)
Pada peperangan 1400 tahun yang lalu, dalam suatu perang, banyak musuh dikalahkan, keluarga mereka ditawan dan salah satunya dijadikan istri Terdakwa (Muhammad). Berdasarkan kisah tersebut, tebusan bagi Juwairiya dibayar dan ia dibawa untuk dinikahkan.
Pembela tidak akan membahas lebih jauh tuduhan Jaksa karena sangat subyektif dan tidak berdasar-kan bukti2 yang kuat. Tentu saja cerita yang tidak akurat dan di-hiperbola-kan dapat mengandung banyak pengertian. Maka Pembela ingin menunjuk sekali lagi bahwa kasus poligami adalah tidak relevan.
2). Mr. Sina menulis: “Saya menyetujui bahwa nilai moral seseorang harus berdasarkan nilai moral yang berlaku saat itu pendapat masyarakat sekitarnya” DAN ”Akhirnya, saya pun menyetujui bahwa meniduri budak bukanlah pelanggaran moral di masyarakat Arab 1400 tahun yang lalu dan memang benar kebanyakan Negara muslim tidak mempraktek-kannya lagi.”
Karena pernyataan ini maka saya tidak mengerti mengapa akhirnya Penuntut masih memper-masalahkan poligami. Oleh karena perbedaan sikap Jaksa ini, Pembela menginginkan ditutupnya kasus ini.
Terima kasih, R. Shahzad -----------------------------------------------------------
DARI A. SINA KEPADA RAHEEL SJAHZAD
Pembela menyiapkan mosi untuk membatalkan kasus ini atas dasar, apa yang dianggapnya, "ketidak-akuratan bukti2 yang disampaikan Jaksa". Oleh karena itu, katanya, maka seluruh kasus ini harus dibubarkan dan Terdakwa dinyatakan tidak bersalah.
Jika bukti2 ini ditulis oleh musuh2 Terdakwa, Pembela bisa saja benar. Ketidak-akuratan penyataan dapat saja djadikan dasar untuk mem-bubarkan kasus ini, khususnya jika bukti tersebut adalah campuran fiksi-fakta dan hiperbola.
Namun kisah historis yang dipaparkan sebagi bukti ini bukanlah ditulis oleh musuh Muhamad. Ini merupakan pengakuan dari para pengikut setianya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menuduh pemimpin yang mereka cintai melakukan perilaku kriminal seperti pemerkosaan, pembantaian suatu suku bangsa, penyiksaan, pelecehan anak secara seksual, perbuatan cabul, atau pembunuhan terencana. Yang biasa dilakukan pengikut suatu aliran agama adalah turut membesar-besarkan kemampuan pemimpin mereka sebagai manusia yang superior, seperti nabi dari Allah misalnya. Apalagi jika ia sendiri yang mempengaruhi mereka dengan mengatakan bahwa ia memiliki moral yang paling luhur sekaligus rahmat bagi segenap ciptaan Allah.
Penuntut menganggap Bukhari sebagai penulis biografi Muhamad terkemuka karena memang begitulah kebanyakan para muslim menilainya. Bukunya merupakan sumber Sunnah dan merupa-kan tulang punggung Syariah. Buku2 tersebut juga merupakan sumber sejarah berharga tentang pribadi Muhamad. Buku2 tersebut dibaca dan diikuti oleh sebagian besar pengikut Islam selama 1400 tahun. Tanpa adanya buku tersebut, praktek Syariah dan pemahaman yang tepat terhadap Quran mustahil dilakukan. Ritual sholat, puasa, dan naik haji yang merupakan pilar Islam di-gambarkan dalam Hadis2 tersebut. Tanpa hadis, mempraktekkan Islam adalah suatu yang mustahil. Faktanya adalah, tanpa Hadis, maka keberadaan historis Mumamad sangatlah diragukan.
Buku2 Bukhari dan Muslim mengandung banyak inkonsistensi, hiperbola dan campuran antara fakta dan dusta. Hal tersebut adalah karena kecintaan mendalam terhadap pemimpin mereka. Muhamad menganggap dirinya sbg pusat alam semesta, penghubung satu-satunya antara manusia dengan Tuhan dan, (menurut hadis dari Iran) merupakan satu2nya alasan Tuhan menciptakan alam semesta ini. Konsep yang sama dapat ditemui dalam Quran dan hadis ketika ia sendiri berkata, “Nabi lebih dekat pada para pengikutnya di-bandingkan kedekatan mereka dengan diri mereka sendiri dan istri2 nabi adalah ibu mereka.” (33:6)
Memang sudah biasa jika pengikut agama ber-bohong untuk mem-besar2kan status pemimpin mereka dan membuat kisah2 luar biasa untuk lebih menggambarkan kharismanya. JADI tidaklah mungkin jika mereka membuat kisah untuk me-nyerang nabi tercinta mereka. Jika memang cerita2 yang memberatkan Muhamad memang ada, tidak masuk akal untuk meragukannya. Meskipun detail-nya berbeda-beda, namun fakta bahwa banyak orang menarasikan kisah-kisah tersebut merupa-kan bukti kuat akan kebenarannya.
Pembela tidak sanggup menangkis semua tuduhan tersebut, namun malah meminta ditolaknya bukti2 ini karena saya, Jaksa, dianggap meragukan kebenaran Hadis. Bukankah Hadis2 ini telah di-katagorikan Sahih? Jika ternyata memang tidak benar, mengapa selama 1400 tahun tidak ada yang menyanggahnya? Mengapa kisah2 ini ter-nyata terus berulang dalam sumber2 yang ber-beda? Hadis mengandung banyak sekali nama orang2 dan tak mudah untuk dikategorikan palsu. Dan akhirnya, mengapa pengikutnya harus menulis kisah2 yang mempermalukan nabi yang sangat mereka cintai?
Kami mempunyai bukti yang cukup dari Quran maupun Hadis untuk menuduh Terdakwa dan me-nyatakannya bersalah terhadap semua dakwaan, termasuk kasus PEMERKOSAAN yang telah mem-beratkannya di BAGIAN III persidangan ini. ****O**** Pembela juga nampaknya bingung dalam me-nanggapi pernyataan Jaksa : a]. Muhamad menyatakan bahwa ia bermoral luhur dan memberi contoh yang baik untuk diikuti. b]. Muhamad mengikuti contoh masyarakat pada masanya, yang dia sendiri mencapnya sbg JAHILIYAH. Bukannya ia memberikan contoh yang lebih baik tetapi ia malahan mengikuti kebiasaan2 buruk orang2 yang semestinya harus dia bimbing. c]. Hasilnya; pengikutnya menjadi bingung dan mempercayainya dalam segala hal (i.), dan mereka mengikuti contohnya dalam (ii.). Karena itu, timbullah praktek2 jahiliyah yang sekarang diikuti oleh milyaran orang yang tertipu karena Muhamad sendiri mengatakan bahwa ia adalah contoh yang baik untuk diikuti. Muhamad bukanlah pembaharu dan contoh yang baik untuk diikuti, ia hanyalah pengikut dan pelaksana dari suatu budaya barbar yang telah ada.
Berdasarkan bukti2 ini, Terdakwa harus pula di-nyatakan bersalah melakukan pembohongan luas (kebohongan publik), memberi contoh yang buruk, dan menyesatkan para pengikutnya. Alasan yang menyatakan bahwa ia hanya orang yang mengikuti budaya pada jamannya adalah alasan yang tak dapat diterima. Ia adalah orang pada jaman ter-sebut yang turut mengikuti perbuatan jahiliah orang2 pada masanya, namun malah mengaku mempunyai standar moral yang lebih tinggi dan merupakan suatu contoh yang harus diikuti sepanjang masa. Oleh karena itulah ia telah me-nyesatkan pengikutnya, dan menipu mereka.
Ini tentunya adalah tuduhan tambahan, berbeda dari tuduhan PEMERKOSAAN yang sedang di-bahas dan pasti ditolak oleh Pembela yang sibuk menghalang-halangi pengesahan bukti2 dan pengakuan dari pengikut setia Muhmmad sendiri.
Jaksa selesai dan menghimbau juri untuk me-nyatakan Muhamad bersalah atas tuduhan PEMERKOSAAN dan atas tuduhan MEMBOHONG bahwa ia adalah wakil umat manusia (atas klaim-nya sebagai contoh yang baik dan bermoral luhur).
Jika pembela setuju, maka kita dapat menutup kasus ini dan berlanjut kepada topik lain. ----------------------------------------------------------- BAGIAN V: PERKOSAAN 3
Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdallah Pembela : Raheel Shahzad Pendakwa : Umat Manusia Penuntut : Ali Sina Pengadilan : Opini masyarakat umum Jury/Hakim : Anda sekalian.
DARI RAHEEL SHAHZAD
Yth Ali Sina, Penuntut menuduh, almarhum Tertuduh (Muhammad) melakukan perkosaan. Hal ini harus berdasarkan bukti. Tidak pernah ada tuduhan langsung yang dibuat oleh korban terhadap Tertuduh. Lagi pula Quran menuliskan bahwa kasus perkosaan membutuhkan 4 saksi mata (Quran tidak digunakan untuk membela, hanya menyatakan persyaratan).
Jika Penuntut mempergunakan tulisan biografi Bukhari dan Muslim, maka dia harus menerima secara keseluruhan atau menolak mereka sama sekali. Tidak bisa mempergunakan mereka sambil meragukan mereka sebagai saksi. Karena itu Pembela meminta ketegasan dari Penuntut.
Dengan demikian kasus ini hanyalah masalah opini pribadi, yang tidak disertai dengan bukti-bukti pe-merkosaan. Jika tuduhan pemerkosaan diajukan maka wanita tersebut harus membuat tuduhan. Jika tidak, keputusan yang dibuat atas tuduhan ini tanpa kehadiran korban. Jika Safiyah “diperkosa,” Pembela meminta bukti sejarah atas kejadian ini. Jika acuan yang digunakan dari Bukhari dan Muslim, Pembela ingin menyaksikan buktinya. Jika acuan lain yang digunakan 1400 -1200 tahun yang lalu, Pembela ingin menyaksikannya pula.
Jika proses peradilan ini tidak dapat menunjukkan sumber dimana, digunakan kata “perkosaan” atau sumber lain yang menunjukkan kata synonim dengan “perkosaan” dalam kurun waktu seribu tahun yang lalu atau pengakuan dari Safiyah tentang kejadian perkosaan, maka Pembela akan meneruskan pembelaan.
Jika Ali Sina diperbolehkan oleh sidang untuk menggunakan sumber dari Bukhari dan Muslim, sumber yang sama akan digunakan juga oleh Pembela. Dengan kesimpulan bahwa kejadian ini lebih mengarah pada campur tangan dari Tuhan. Dengan demikian jaksa pembela menyimpulkan seperti yang tercatat dalam Bukhari dan Muslim, kasus urusan pribadi dengan Juwairiya didalam tenda, tidak menyangkut hubungan sex.
Seperti halnya Penuntut diperbolehkan untuk membuat tuduhan, maka dengan ini Pembela mengajukan pembelaan terhadap apa yang mungkin terjadi:
Sumber Bukhari dan Muslim tidak menuliskan kata-kata “sex”, hubungan badan, menggerayangi tubuh atau teriakan histeris. Hanya satu hal yang ditulis yaitu Tertuduh menginginkan ketenangan, dan Safiyah adalah tawanan perang dan Tertuduh sudah membayar tebusan terhadapnya kepada ayahnya. Status “tawanan” sebagai wanita bebas, yang diberikan oleh ayahnya setelah menerima tebusan dan dia sendiri telah meminta untuk pindah ke tempat yang lebih aman, dan Tertuduh khawatir kalau wanita jelita tsb (seperti yang di-gambarkan oleh Penuntut) akan mendapat celaka jika dibiarkan tanpa perlindungan pada masa yang penuh dengan kekerasan. Dan kemudian Tertuduh menjelaskan duduk permasalahanya, bahwa tertuduh ingin melindungi Safiyah karena kecantikannya dapat membawa kemalangan baginya. Yang mana juga dijelaskan tentang ideologi Islam dan campur tangan dari Tuhan atas kejadian tsb. Setelah beberapa jam kemudian “tawanan” yang sudah dibebaskan ini dapat tidur dengan tenang tanpa ada perlawanan. Pagi harinya, ketika Tertuduh keluar dari tenda, dia melihat penjaga tenda dan bertanya apa yang telah dilakukan. Penjaga ini menjelaskan bahwa perlu-nya untuk memberi keamanan kepada Tertuduh dengan istri barunya. Tertuduh menghaturkan terimakasih kepada penjaga tsb, dan kemudian memindahkan ketempat yang lebih aman. Hari berikutnya “walima,” pesta pernikahan diadakan dan dihadiri oleh banyak orang. Tertuduh mencintai istrinya ini, Safiyah, meskipun dia yang berasal dari kaum Yahudi ini dan mengatakan bahwa Safiyah memiliki hal yang sama dengan istri-istri lainnya, yang mana membuat mereka cemburu. Sembilan bulan kemudian Juwairiya tidak melahirkan seorang bayi, yang mana memperkuat bukti bahwa hubungan sex tidak pernah terjadi.
Ketika masa perang telah berlalu, Safiyah dihormati oleh masyarakat sekitarnya sebagai seorang istri Tertuduh, dia kemudian menjalani hidup pernikahan yang normal. Dia tidak pernah menyatakan cerita perkosaan, dan dengan demikian tidak seorangpun beralasan untuk mem-buat tuduhan yang demikian. Tidak ada sumber dari Islam, Yahudi atau Kriten yang mengacuh pada tuduhan ini.
Tertuduh menjadikannya istri sampai Muhamad meninggal dan sampai pada hari tuanya, Safiyah tidak pernah menyatakan bahwa dia pernah di-permalukan secara sexual dan diabaikan sebagai istri. Safiyah meninggal dengan tenang, dan sampai saat ini dia termasuk sahabat setia Nabi, karena pengabdiannya. Safiyah tidak melahirkan seorang anakpun dengan tertuduh. Jiwanya telah kembali dengan tenang meskipun telah pernah mengalami tragedy yang mengerikan semasa hidupnya dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya pada masa perang.
Dalam standar kehidupan sekarang, dunia penuh dengan pertentangan kekuasaan dan tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa komunitas 1400 tahun yang lalu hidup penuh ketentraman dan seragam. Seperti halnya sekarang ini, jaman itu telah ada pertentangan pendapat, perbedaan kepecayaan dalam banyak hal. Semoga Safiyah mendapat ketenangan abadi. Amen.
Dengan ini Pembela meringkas penolakan kasus pemerkosaan yang dituduhkan, berdasarkan praduga “urusan pribadi (privacy) di dalam tenda.” Pembela telah selesai mengajukan pembelaan, selanjut tergantung process peradilan untuk mem-buktikan jika pembelaan ini tidak benar adanya. Jika pembelaan ini ditolak, hal tsb berarti juga menolak tuduhan dari Penuntut. Terserah pada “hakim kemanusian” untuk memutuskan perkara.
Untuk diketahui selanjutnya, bahwa Pembela menyikapi tulisan di-website ini tentang pernikahan, perbudakan, dan istri-istri Tertuduh, bahwa motivasi dari Tertuduh adalah untuk me-lindungi para wanita dalam kejadian peperangan. Sedangkan sikap dari Penuntut berdasarkan “birahi,” terjadinya hubungan badan (sex) dalam perkara ini. Pembela sudah mengatakan bahwa hubungan badan (sex) tidak terjadi, kecuali dapat dibuktikan dengan bukti baru dalam bentuk gambar (yang mana pembela sudah mengetahui bahwa hal itu tidak ada). Dengan ini sebenarnya, Penuntut telah memperlihatkan kebencian terhadap organisasi agama Islam. Pembela tidak melihat alasan hakim untuk berpihak kepada Penuntut.
Terimakasih R Shahzad ---------------------------------------------------------
DARI ALI SINA, Yth Mr Shahzad,
KESAKSIAN KORBAN Pembela menyatakan: karena tidak adanya korban perkosaan yang memperkarakan tuduhan kepada Tertuduh, karena tidak ada saksi perkosaan, maka kita tidak akan mendapatkan kesalahan pada almarhum Tertuduh.
Tujuan pengadilan ini bukanlah untuk menentukan kesalahan Tertuduh untuk kemudian dihukum. Bagaimana mungkin? Tertuduh sudah mati! Tujuannya bersifat akademis, kita akan memberi-kan bukti-bukti bahwa Tertuduh tidaklah sesuci seperti yang diakui olehnya sendiri, dan dengan demikian tidak pantas untuk mengemban tugas yang diakuinya.
Membuktikan kesalahan Tertuduh dalam kasus perkosaan dan kasus lainnya tidak hanya mem-punyai nilai sejarah, tapi juga akan memberi pengaruh sangat besar pada cara berpikir dan kelakuan berjuta-juta orang saat ini. Hal ini sangat penting karena kepercayaan Tertuduh menjadi sebab pertumpahan darah, kemiskinan dan kekacauan. Saat terungkapnya kebenaran tentang Tertuduh, kepercayaan kepadanya dan kepada kekerasan ajarannya akan menghilang dan dunia akan menjadi tempat yang damai untuk semua manusia.
Tertuduh mengaku sebagai utusan Tuhan, sangat bermoral dan patut dicontoh. Dalam pandangan Penuntut, pengakuan tsb adalah tipuan belaka. Proses peradilan ini berharap untuk mengemuka-kan alasan keraguan terhadap Tertuduh, dan membuktikan bahwa ia, Muhammad, bukan orang baik-baik, tetapi seorang penjahat.
Pembela memberi alasan: Dalam kasus perkosaan diperlukan seorang korban yang membuat pernyataan “Saya di-perkosa.” Belum pernah ada tuduhan macam ini terhadap Tertuduh.
Pembela jelas tidak benar. Sudah jelas korban tidak lagi hidup untuk bersaksi. Peran dari Penuntut adalah memberikan bukti-bukti yang masuk akal terhadap tindakan kriminal ini. Bukti kejahatan ini ditemukan dari PERNYATAAN TERTUDUH SENDIRI. Peradilan ini menyadari bahwa banyak pernyataan itu juga tidak benar. Penuntut berusaha untuk memisahkan / mencari kebenaran dari sedemikian banyak kebohongan dari pernyataan-pernyataan tsb. Dengan me-ngenali kontradiksi dari pernyataan Tertuduh, kebenaran akan terkuakkan.
BUKHARI DAN MUSLIM Keberatan Pembela: "Jika Penuntut menerima Bukhari dan Muslim sebagai dua penulis biografi terkenal, seharusnya dia menerima sepenuhnya atau menolak sepenuh-nya hadis2 mereka. Tidaklah masuk akal untuk menggunakan dua orang tsb untuk menjelaskan perkara ini sambil menuduh motivasi kedua orang tsb. "
Penuntut menolak keberatan tsb. Penuntut me-ngetahui Bukhari dan Muslim sebagai pengikut Muhamad yang setia, karena itu sikap mereka tidak selalu objektif. Kedua sejarawan ini me-ngumpulkan cerita2 yang keluar dari mulut pengikut2 Muhamad.
Mereka berusaha membuktikan kebenaran cerita tsb sebatas kemampuan mereka dan me-ngelompokkannya sebagai 1] Sahih (asli), 2] Hasan (mungkin), 3] Dha’eef (lemah), 4] Dha‘eef Jiddan (sangat lemah), 5] Mawdhoo (palsu). Mereka hanya memilih Hadis yang Sahih (asli) dan menolak selebihnya. Hidup mereka didedikasikan untuk mengumpulkan hadis2 tsb.
Kepercayaan dan pengabdian pada orang yang mereka percayai sebagai nabi tidak diragukan disini. Mereka mungkin sangat mempercayai cerita yang dibuat-buat (palsu) tentang mukjijat nabi ter-cinta dan melebih2kannya. Sangat masuk akal. Mereka JUGA memerinci tindakan kriminal Muhamad dengan sangat detail. Tanpa adanya tindakan kriminal Muhamad, mereka juga tidak akan menuliskannya. Karena itu, sangat masuk akal untuk mempercayai cerita kriminal yang di-lakukan Muhamad dan mengabaikan cerita2 tentang kemampuannya melakukan mukjijat luar biasa. Kenyataanya mukjijat yang dilakukan oleh Muhammad bertentangan dengan Al Quran. Menurut Al Quran, ketika dia ditanya oleh orang-orang yang tidak percaya padanya untuk melakukan mujijat ia menjawab: Q. 17:90 - “Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami." Q. 17:93 - Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?"
Karena itu pengikutnya bisa saja membuat-buat keajaiban dan mengakuinya sebagai perbuatan nabi yang mereka cintai; mereka memalsu hadis memuliakan nabi. Tetapi mereka tidak memiliki alasan untuk memalsukan cerita tentang perbuatan kriminal nabi merkea. SAFIYAH Mr. Shahzad bercerita tentang SAFIYAH. Shahzad mengakui : bahwa setelah Muhammad membantai habis semua anggota keluarga Safiyah dan orang-orang yang dicintainya, Muhammad melihat betapa cantiknya Safiyah dan memutuskan untuk me-lindunginya dari kekerasan. Muhammad dalam tendanya menenangkan Safiyah dan menjelaskan bahwa adanya campur tangan Allah dalam kejadian ini.
Mr. Shahzad menjelaskan mereka tidur bersama dengan tenang dan tidak ada kejadian apa-apa. Tapi Mr Shahzad tidak menjelaskan mengapa seorang yang mengaku Rasul Allah yang mem-punyai moral sempurna perlu tidur dengan wanita cantik didalam tenda tsb.
Mungkin malam pertama tidak terjadi apa-apa, tapi ini bukan berarti bahwa Muhamad tidak berusaha memaksakan kehendak kepada wanita yang sedang ditimpa kemalangan ini. Cerita berikutnya menjelaskan Safiyah menunjukkan upaya Tertuduh untuk memaksakan kehendaknya namun ditolak.
”Nabi tidak begitu senang dengan Safiyah, karena dia menolak ketika Rasul menginginkan untuk berdua dengannya dalam satu kesempatan.”
Pembela mengatakan bahwa tidak ada hubungan sex dengan Safiyah karena dia tidak melahirkan anak Muhammad. Pada kenyataannya tidak semua hubungan sex selalu berakhir dengan kehamilan. Jawabannya disini adalah Muhamad sudah tua dan mungkin saja dia impotent. Dia termasuk orang yang gila sex dan paling suka bermain sex (dengan meraba-raba) dengan wanita cantik. Namun sekian banyak isteri dan gundiknya (pengecualian Mariah) tidak memberinya keturunan.
Hadis berikut ini memperlihatkan kalau tertuduh gila sex: Bukhari Jilid 7 Buku 62 Nomer 6 Dikatakan oleh Anas: Biasanya nabi berkeliling (untuk bermain sex) dengan para istrinya dalam satu malam, dan ia mempunyai 9 istri.
Meskipun demikian ini bukan berarti Muhammad bisa melayani istri-istri mudanya. Dia hanya me-nelanjangi mereka dan bermain sex (meraba-raba saja).
Bukhari Jilid 1 buku 6 Nomer 299 Aisah berkata: Jika Rasul Allah ingin bermain sex (meraba-raba) seorang dari kita selama masa menstruasi, biasanya dia memerintahkan kita untuk mengenakan Izar (pakaian dalam yang dikenakan dari pinggang ke bawah) dan mulailah dia bermain sex (fondling) dengannya.” Aisha menambahkan “Tidak ada dari kamu yang dapat menahan birahi seperti Rasul.”
Seorang laki-laki yang bisa menahan nafsu birahi-nya tidak perlu berkeliling untuk bermain sex. Mungkin saja itu yang dikatakannya kepada para istri mudanya, bahwa sebenarnya Muhamad impoten. Muhamad menikmati permainan sex dengan meraba-raba wanita telanjang dan ber-khayal sedang bercinta dengan mereka.
Jilid 7 Buku 71 Mumber 660 Cerita Aisyah: Nabi Allah, Muhammad, terkena sihir sehingga ia biasanya berpikir bahwa ia telah berhubungan sex dengan para istrinya padahal tidak demikian. (Sufyan mengatakan: Itu merupakan sihir yang sangat ampuh kekuatannya)
Mungkinkah penglihatan Muhamad akan Jibril merupakan halunasi juga? Sudah cukup bukti untuk meragukan kewarasan Muhammad. Kasus ini kita akan bicarakan dalam lain kesempatan.
Quran ayat 4:24 dan ayat 23:1-7 : Muhamad me-nganjurkan para pengikutnya untuk memperkosa para tahanan perang. Adakah manusia normal yang menganggap perkosaan terhadap tawanan perang sbg hal yang wajar? Wanita macam apa yang menginginkan hubungan sex dengan para pembunuh suaminya, ayahnya, saudaranya atau orang yang dicintainya?
Bukti bahwa Muhammad telah melakukan perkosaan dari cerita Rayhanah, Safiyah dan Juwairiah dan kenyataannya Muhamad telah mengijinkan untuk memperkosa wanita tahanan, sangat jelas diterangkan di Al Quran: Ayat 4:24 Juga dilarang bagimu adalah wanita yang telah menikah, kecuali mereka yang dimiliki tangan kananmu.
Ayat 23:1-7 ... Kecuali mereka yang dipersatukan dengan pernikahan, atau (tawanan) yang dimiliki tangan kananmu, dalam hal ini, kamu tidak dapat disalahkan. [tidak dapat disalahkan melakukan hubungan sex]
Kepemilikan tangan kanan adalah para wanita tawanan perang. Dari ayat diatas jelaslah terbukti Muhamad menganjurkan perkosaan terhadap tahanan perang.
Pembela menyatakan Tertuduh menikah dengan Safiyah dan wanita tawanan perang lainnya karena alasan untuk melindungi mereka dari kekerasan. Ini alasan yang memalukan dan mencoreng keadilan.
Jika Tertuduh benar mempunyai ketulusan untuk melindungi wanita tsb, dia tidak akan membunuh suami-suami mereka. Peperangan dimulai oleh Muhamad. Muhamad seorang agresor. Dia me-nyerang kelompok masyarakat (sipil) tanpa adanya peringatan, membantai mereka, membumi-hanguskan tempat tinggal mereka, merampas harta dan kebebasan mereka serta menculik istri-istri mereka.
Jika Muhamad mempunyai perasaan belas-kasih terhadap para wanita, tentu ia tidak akan mem-bunuh para suami mereka dan orang-orang yang mereka cintai, dia tidak akan memperbudak wanita, dia tidak akan membagi-bagikan wanita tawanan pada pengikutnya, dia tidak mengijinkan tindakan perkosaan, ia tidak akan memilih yang paling cantik untuk dirinya, dia tidak akan memerintahkan wanita untuk bertelanjang sehingga ia bisa meraba-raba wanita tsb dan dia tidak punya khayalan sex dengan mereka.
Penuntut berkesimpulan tidak pantas Muhamad diberi sebutan sebagai orang yang memiliki belas kasih. Penuntut mempelajari seluruh perjalanan hidup Tertuduh. Ia adalah seorang yang meng-hancurkan nilai kemanusiaan, mengabaikan welas asih, dan tidak memiliki nilai etika.
Namun Penuntut setuju dengan Pembela untuk menutup kasus ini dan meneruskannya dengan kasus selanjutnya. -----------------------------------------------------------| Nov 28, 2003 BAGIAN VI: PEDOFILIA Humanity vs. Muhammad bin Abdallah [YANG DITERJEMAHKAN ADALAH BAGIAN JAWABAN ALI SINA KEPADA RAHEEL SHAHZAD]. RAHEEL SHAHZAD/PEMBELA;
This post is further to Part 3, in which I presented the case that the merits of multiple marriages is a nonissue really, because you have gathered a lot of evidence to support the defendant's multiple wives, and then invoked the morality and framework of today's societies (especially those of western hemisphere), and have found defendant guilty of polygamy in 2003. Seperti saya katakan sebelumnya, baopak2 pendiri Amerika juga memiliki budak, tetapi mereka tidak pernah dituntut karena rendahnya moral mereka.
The defense hereby submits that the case of practicing polygamy 1400 years and it being judged on basis of current day norms is not made convincingly, and the defendant be found not guilty.
The next portion of this case then goes to the heart of one marriage that is the source of contention and basis for the accusation of pedophilia. To give the reader some background on this, the basis of the case is that one of the wives of the defendant was an allegedly immature child of 9 years, and that the defendant thereby marrying her, practiced pedophilia. The morality of a 53 year old man marrying a 9 year old has also been invoked.
The defense will present the context of this portion and then go into counterquestioning to ask the prosector to yield a declaration of principle, based on which the jury will have to decide this particular aspect.
On this site, one of the articles that is presented by the prosecutor throw the prosecutor's case into doubt itself, by the sources referenced there. On account of the discrepancy in the sources, the defense then is free to make objective disagreement, and since the sources themselves are not in harmony, then the issue of the exact age is not proven beyond all doubts by the prosecutor.
For that article, please read it here: Here's the problem with the collection of sources (which are not divine and not construed as such by muslims collectively, they are historical accounts meant for the guidance of people today, who also have the collective authority to conclude the relevance of certain portions in today's world, and if some society wishes to take a hardline attitude, in respect of that, then it also is a problem for the societies which accepted it in the first place).
[The sources quoted: Volume 5, Book 58, Number 236: Narrated Hisham's father: Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He stayed there for two years or so and then he married 'Aisha when she was a girl of six years of age, and he consumed that marriage when she was nine years old.]
Two or so plus 6 = 9? Rendered Inconclusive, hence the muslims can decipher that she was of a fairly young age
[Book 008, Number 3311: 'A'isha (Allah be pleased with her) reported that Allah's Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen years old.]
Ayesha 9 at alleged consummation, defendant 53, defendant passed away at 63, and 9+10=19, but source mentions 18. Inconclusive. Hence reasonableness by current society is invoked and the source is not denounced, but the hadees understood to mean that Ayesha was of a young age at marriage. Further, seven years old then contradicts the previous sahih hadith, thereby both sahih hadees contradicting each other, and the prosecutor on account of referencing both of them has brought the accuracy of age into question. To choose one over the other then is being forced onto the defense
[He married Aisha in Mecca when she was a child of seven lived with her in Medina when she was nine or ten. She was the only virgin that he married. Her father, Abu Bakr, married her to him and the apostle gave her four hundred dirhams.(Ref. 3, page 792)]
The defense has now even more reason to doubt the source as not being absolutely conclusive. Inconclusive and Incorrect are two different things. Hence defense does not deny the Hadees, but invokes that the verbage allows some room for reasonable inference. Hence, since the prosecutor has opened up the possibility of the exact age being inconsistently listed in the referenced sources, it can be then reasonably inferred that the exact age is arguable. The defense then has the liberty to claim that the age being discussed, if ONLY the above sources are read, falls within a range, and that range can then also have an additional year or two added. If 9 or 10 can be read, then 10 or 11 or 12 can be read without being logically completely out of the range being addressed and context. The defense will then state for the jury that Ayesha can be portrayed as a young girl, whose age can fall within a specific range. If the prosecutor has the liberty to choose the lower end, the defense then has the liberty to choose the upper reasonable range. By doing so, the defense will address Ayesha as being a "young girl" of age 12, which 12 also has been researched by many well intentioned independent scholars and the collective reasonable person standard is employed, without rejecting the Hadees in totality. (By some scholars, they come to even 14 also as the age, and the jury needs to know this aspect about the scholars disagreeing without denouncing Hadees)
If the prosecutor wishes to absolutely claim 9 calendar or lunar years, then the following will have to be provided in addition to the above sources:
1- The medical records and birth certificate from the hospital where she was born 2- Her marriage certificate with her date exactly stated 3- Her physical makeup as one of a girl not having reached puberty 4- A distinct source disclaiming that she had not experienced menses at time of the "consummation" of marriage 5- A historically irrevocable source attesting that she had no mental aptitude or capacity to object to sex, and in addition, had no ability to be a reasonable wife to any man of any age. 6- Undisputed sources that the girl's father, mother, the society, both the opponents of the cause and the proponents alike, objected vehemently to the event as totally unacceptable
However, if the prosecutor cannot provide any or all of the above, then any text which tackles the issue of age 1000 or more years after the fact is hereby discarded by defense too. Charges brought today under a particular constitution and the defendant charged posthumously under a variant code 1400 years later is also then looked upon by defense with extreme skepticism. Unless all the sources combined decisively pin down the exact dates, the defense submits that the prosecutor is employing selective information to further his point of view, and is not making a case with clarity and unambiguity.
Furthermore, "consummation" as having meant sexual intercourse, here is being forced upon the jury also. The defense is not disputing that consummation cannot mean intercourse, but prosecutor has provided no evidence that consummation to a 12 year-old actually means intercourse. In fact, the prosecutor is contradictory in the inferences made on this site. On one hand the insistence by the prosecutor is that the young girl was immature and playing with dolls is somehow reflective of her being a child mentally and physically. On the other hand, she is also being trusted to recall the meaning of "consummation", no matter at what age the Hadees is attributable to her. Consummation means intercourse by a reasonable person standard, and the defense concedes this, but prosecutor has not provided any source that this intercourse is exactly what she is saying. As a married person myself, without going into details, and those in jury who are married, can use your imagination that "consummation" can mean a variety of things on that one night, which you can always think of as consummation, but the defense is not convinced that all married people actually do exactly the same things. This is not somehow a play on your reasonableness, but a statement of fact that the prosecutor cannot make a convincing case of immaturity and maturity at the same time.
Let's now follow by accepting what consummation is reasonably supposed to mean, which means the act of performance between a husband and wife. Hence the prosecutor has invoked pedophilia.
The defense will now present aspects of pedophilia and make the case that it is being employed incorrectly and that the defendant did not practice it:
Pedophilia is a societal unacceptable practice of an individual who seeks illegitimate pleasure by having sex with "children"
This definition by itself then needs a few elements to exist, and the absence of those elements then will mean that the defendant cannot be charged or found guilty of them. If the prosecutor has some definition of his own, then it needs to be stated on the site in clarity for the defense to counter it within that context. Since the prosecutor has not really presented any definition of pedophilia from any historic source or perspective whatsoever, the use of the word "pedophile" is entirely based on personal ambiguous definitions, a predisposed bias against all societies of past and present, without any clear indication given as to what exactly the "child" aspect meant 1400 years ago.
I will now explore the elements of pedophilia by invoking the definition myself, since prosecutor has not stated anywhere on site what he means by pedophilia.
The first aspect is one of social acceptability, and here social acceptability does not mean a universal one too. Just as diets and climates and other factors dictate people's growth patterns to a certain degree, that society also then has the right and ability to decipher what remains within reason or surpasses it. Secondly, Acceptability of a practice universally is not the prerequisite for its legitimacy within a certain independent society. If women want to live naked in the Amazon jungle, it's not illegitimate in the Amazon. A third element, not in isolation but in addition to first two, is that of the "nature" of illegitimacy or unethical. Hence that society in which a practice is considered ethical and legitimate and within the reasonable norm of that particular society, and not in absolute stark contrast with other societies of present past or future, then has to be taken into account. And the fourth element then needs to be of the interest of sexual pleasure, without any consideration of any other objective but to quench a bodily desire as being the only motive of the person actively involved in pedophilia or contemplating it. If all four of these elements are not applicable in combination, pedophilia by definition does not apply.
Universal Social Acceptability (1/2 above): Regardless of the prosecutor's insistence that moral relativity is a useless philosophy, that does not automatically render it null and void. Hence if a society accepts certain acts to be within the realms of reasonableness, and devoid of any shock value or violating a basic human right to exist, then that society is free to allow the members practice it freely. This is the basic tenet even of USA that grants many freedoms. Cannibalism hence will be stopped if found by other parallel societies as of the same time period based on the shock value it renders to parallel societies. Ethics also then are of that society alone. Since the prophet's marriage does not have any convincing source or criticism by the thinkers, writers or intellectuals of 1400 years ago, or even 1200 years ago, then it has to be accepted that marriage to young girls was an acceptable act and did not rupture the moral fabric of that time. Mr. Sina then will have to provide convincing, irrefutable evidence from any source of about a 1400 years ago to convince the defense that a shock value, displeasure, unacceptability, ridicule, and rejection was associated with the defendant's marriage to Ayesha. If the prosecutor wants to construct an imaginary society and then place the defendant in it and create imaginary shock value, then that is disingenuous. If the prosecutor is invoking pedophilia based on his perceived definition of some "universal" society, then the jury is being intentionally misguided.
Unethical or Illegitimate: The societal acceptable act of a marriage between a man and woman was achieved by the defendant, and is not disputed by the prosecutor. Sexual aspect is not part of this element. Hence if today a marriage anywhere is performed by a man to a girl of 3 years old (it IS done in some parts of India), but the sexual aspect is not realized by the partners until the girl is of an age where sex can reasonably be expected as a natural outcome of the bond, then that marriage at 3 years of age by itself is not unethical or illegitimate. If this does not appeal to someone's advanced sensibilities, it is not the problem of that society, but of that one person who is shocked at such alleged "perverseness", according to the one being shocked, and if the prosecutor's sensibilities are being challenged, and other's have got the perspective that the event deserves, then the prosecutor's shock value is largely a product of a certain brand of indoctrination and a predisposed bias to a certain race, class, time in history, or an individual such as the defendant. To ask that society which was not shocked 1400 years ago, to today suddenly come back and display horror, or to ask a current society which has largely accepted the fact that times have changed and what was reasonable 1400 years ago has now found a shift in attitude, is asking almost for the impossible. Differences in ideology is all fine, but to ask people to take a certain portion of history and denounce the entire present day fabric, is quite a bit of stretch. Of course that does not mean that everyone is going to assess the event and take the wisdom from it, but to denounce an entire ideology by giving reference to a few events, is ambitious at best.
Sexual Pleasure: By itself, a man or woman deriving sexual pleasure has never been objectionable by any society. Amongst most societies, marriage is a legal permission for it, and some societies have adjusted to sex also capable of being acceptable even without a legal marriage contract. But pedophilia is then the unethical practice of it being sought from a "child". But the view of "child" is also an important part of the mix. The "child", hence is not a universal constant and has never been in any society. Of course, as I stated earlier, within reasonableness, parallel societies do conform to a range. A "child" in USA for example is up to the age of 18 years of age for most legal situations. This imposition of a hard number is done for many complicated legal considerations, but biologically this number 18 really has no compulsory basis whatsoever. It would be foolish to think that at 17 years 354 days a person is a child, and then the next day he is an adult biologically. If some biological proof exists that some visible or biological change takes place at the passage of that one day, then the defense needs to see it. But defense and prosecutor will have to then agree in absence of such source that 18 years of age as the distinction between "child" and "adult" is because of the current day requirement of absolutes required in multiple situations. Driving license for example, can be given at a recognizable and provable point in a person's life in USA and other countries. But even in USA, a different limitation exists for various situations involving age. The defense does not want to explore each and every one of them and leaves it to the jury to use their judgment. So, in establishment of someone as a child 1400 years ago, the use of current day 18 or 16 or even 14 year boundary does not have strong merit.
Hence, if a child has to be called a child, in absence of the current day availability of age records, then some advent of a biological nature has to be used to judge that society. For girls, this can be then the onset of the menses cycle, and for boys can be ability to reproduce, and for both groups can be the visibility of pubic hair. This is partly one reason in my opinion that holy scriptures and Hadees have quite a bit of reference to menses. The defense does not want to explore this graphically anymore to respect the sensibilities of the audience, but hopefully the gist of the point is understood. All girls can understand when they first experienced a biological event. This event (the womanhood cycle) is not the same across the globe even today. Diets and climates, and genetics make it variable for different parts of the world. Some girls can get the cycle as early as 8, and some may experience as late as 12.. And then there are probably some exceptional cases too. The medical community can provide more of this information. The chest of girls also then not a constant given for each girl. There are enough girls at 8 who probably have more visible chest than some 16 year olds. Even in current day USA, you can find some 10 year-old-girls who have all the characteristics of a well-endowed woman. So instead of exploring this medical aspect, the defense then leaves it up the imagination of the jury to understand that girls can be capable of all sexual activity at variable young age. This young age, if the current societies have delineated as having an exact number of child/adult, cannot be superimposed for the last x 1000's of years. If 3000 years ago, a girl was considered a "woman" for marriage purposes at the onset of a biologically visible event, but was a "child" for reference to their interests in that society (dolls as an example), why the insistence today that they also should have got their driving licenses at 18? Even today, a 14 year-old-guy can have sex with another 14 year old girl, but if the guy was 25, it is taken as statutory rape. But that by itself does not mean that the girl did not have sex or was incapable in every other way as far as biological performance goes. Statutory rape is also imposed by western societies for a whole number of reasons, but once again, to impose this on each and every society past and present, is the prosecutor's own shock value at work.
Now if the current western societies wish to invoke the "child" concept up to the age of 18, the defense submits that yes this is necessary today to keep a lot of things within some measurement, and absence of this will pose huge problems today. But to take this 18 year rule and also impose it around the world today and 1400 years ago is subject to the bias of the reader of this defense. Now one may argue that the one of sources quoted earlier says "child", but then the defense wants to invoke that the other source says "girl of 9". Hence, it can be reasonably inferred regardless of girl or child used, at least the implied inclusion of a biological change%2%2namely the woman cycle, is present. Which then also means that the girl is physically capable of a sex act and also then capable of reproducing. If also you took additional changes into account, as I have said before, some 12 year olds today have all the characteristics of a grown woman. Since there are not a lot of convincing pictures of Ayesha when she was 10 or 11 or 15, for the prosecutor to imagine that she was of some limited capability when it came to being a "woman", then also is subject to the prosecutor's own bias as it relates to girls, and maybe somehow reflective of the prosecutor's sexual code of acceptance. However, this aspect I am not sure of, hence I take back my own words about the sexual bias of the prosecutor. Hence, in the interest of Ayesha, I am not sure if at 12 she actually was not in all respects a "full" woman. She very well could have been. And could have had genuine feelings of desire, together with the emotional makeup to maintain a home. (Sidenote: I have a sister who recently married at the age of 20. Between 13 and about the time she married, I really didn't see much of a difference in her, if you know what I am referring to. My family waited for a proper match, but she was just as much of a "woman" at 14 as she is now)
Hence for the prosecutor to give reference to Ayesha as a girl, incapable of sexual activity and immature to the point of not being capable of deciphering right from wrong at her marriage "consummation" day, the defense needs absolute proof. Just the use of "girl" or "child" of 9 or 11 or 12, is not sufficient for the worldwide jury to accept the prosecutor's version of what a 12-year-old girl can and cannot do sexually and emotionally. Women are very capable at young ages too, and to give them some kind of a "stupid" syndrome, especially if a girl is predisposed to "grow up" fast due to genetics or other factors, underestimating them. If the prosecutor finds it personally offensive that a 12-year-old girl can have sex, then that statement needs to be made explicitly. Otherwise lumping all 12-year-olds of the world into the same exact category, and passing a judgement, without regard to those girl's biological or mental makeup, ESPECIALLY of the desert climate and land of 1400 years ago, is also hereby rejected by the defense as a statement of personal bias and motive as it relates to sexual activity in girls.
It is understood that at first any news or story of 10�13 year old girls creates a mental picture of a small thin girl who is "babyish", but looking around me, I can present the jury with enough examples of girls who are capable. We as a western society obviously want to think in the best way possible, but the world is not just in the west. So reality of it all is also important.
Hence for the defense to proceed further on the sexual aspect of 10 or 12 year olds, the prosecutor will have to admit to the following: "I Ali Sina, hereby declare under penalty of perjury, that I find no reason to believe that a young girl of 10 11 or 12, and for purpose of clarity, a 'young girl', is incapable of having sexual orientation or the mental makeup to be a wife of any man, across the globe, of times both past and present, inclusive of the time period of 2000 years ago. Further, that I invoke that 18 years be accepted as the legal age of marriage of Ancient Arabia, and any digression or violation of this, by any man of any tribe of that time, renders that marriage null and void, and any children produced as a result and their descendants, are in my view, illegitimate. If I wish to alter my minimum age limit downwards to accommodate the customs of Ancient Arabia, I hereby then agree that a downward acceptable limit that the defense may impose, which may be lower than what I will come up with, be also as applicable. The minimum age limit, then having been disagreed, I will make a public statement that the minimum age of marriage of Ancient Arabia is a nonconclusive issue, and I will then not invoke any source or my personal opinion as to what the age of Ayesha should have been at time of her alleged consummation of marriage with the defendant. Also, I will further bring documented proof that no girl of even present times, even with the legalities of societies imposed, under the age of 14 has had sex with a male, in the United States of America."
If Mr Sina makes this claim on the homepage of the website, then the defense will have to make counterpoints to that also. But if the statement is not made publicly, on grounds of difference of opinion, then the minimum age of a girl capable of being a wife of any man, prophet or not, is inconclusive, and since is subject to the bias and opinion of the prosecutor and the age then subject to the sensibilities of the reader based on some personal sexual orientation, any derisive reference of it will be removed from the case.
Also, since the four elements that the defense presented necessary for pedophilia to exist, and for the prosecutor having presented no convincing supporting document in establishing the 4 elements in combination, and that the source used to establish the age by the prosecutor are a source of disagreement and debate for the jury of which muslims are also a sizeable portion, the prosecutor will have to remove all references of pedophilia also from the website. If such mentioning is allowed to continue, the jury should request decisive proof about the existence of all 4 elements for pedophilia as the defendant is accused of, and failure to do so, will render the issue as a matter of bias, and not rooted in sound logic. ----------------------------------------------------------- [Jawaban] ALI SINA pd RAHEEL SHAHZAD
1) Pembela memulai sidang dengan menunjuk bahwa moralitas masyarakat jaman dulu tidak boleh diterapkan pada moralitas jaman sekarang.
Argumen ini sudah didiskusikan sebelumnya dan kita tidak perlu lagi memperpanjang masalah ini. Namun perlu saya tambahkan disini bahwa para bapak pendiri Amerika, walaupun memiliki budak, mereka tidak pernah terlibat tindak kriminal seperti Terdakwa. Mereka tidak pernah terlibat pe-merkosaan, pembunuhan masal, pembunuhan terencana, genocide, perampokan, penipuan dan mengumpulkan kekayaan lewat perbudakan dst dst.
Bapak2 pendiri Amerika tidak pernah mengaku sebagai "wakil Allah di bumi" atau "contoh baik" untuk diikuti rakyat atau "memiliki moral mulia/ tinggi" seperti yang diklaim Terdakwa. Bapak2 pendiri Amerika itu adalah orang2 jujur yang lahir pada suatu masa dimana pemikiran humanisme masih dalam tahap awal. Mereka berupaya sekeras mungkin bagi tercapainya masyarakat yang lebih baik, lebih adil berdasarkan hukum.
Terdakwa dilain pihak, mengikuti contoh orang2 yang dianggapnya jahiliyah, memberi contoh yang lebih jelek dari pada orang manapun dalam masa-nya dan membenarkan tindak kriminal yang paling biadab. Ia menciptakan sebuah masyarakat yang penuh dengan kekerasan, anti demokrasi, ter-belakang, picik dan mengabadikan kesengsaraan bagi mereka.
Para bapak pendiri Amerika membuka pintu bagi kebebasan rakyat mereka dan membantu rakyat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang melebihi bangsa2 manapun didunia. Sementara pengikut Muhamad terbelenggu dalam kebodohan, fanatisme, kepercayaan buta dan semakin jauh dari kebahagiaan dan kesejahteraan dengan tujuan mencapai sebuah surga yang notabene palsu.
Hasilnya kelihatan sekali : Dalam hanya dua abad, Amerika menjadi superpower dunia yang tidak tersaingi tanpa perlu memperbudak masyarakat atau negara2 lain. Namun 14 abad kemudian, para pengikut Muhamad masih terbelenggu kemiskinan dan tenggelam dalam kesengsaraan yang me-ngelilingi mereka dari segala penjuru.
Yang disebut dengan “Golden Age of Islam” dicapai hanya karena orang2 Muslim merampas kekayaan finansial dan intelektual negara2 lain. Muslim menginvasi, merebut, meninggalkan jejak2 pertumpahan darah dan kehancuran. Dan begitu kekayaan itu mereka habiskan, dunia Islam kembali tenggelam dalam kemiskinan karena memang mereka terbukti tidak mampu maju ataupun mengikuti perubahan jaman.
2) Pihak Pembela mencoba meragukan otoritas Hadis dan mengatakan: "Inilah masalahnya dngan koleksi sumber2 hadis, yang memang tidak berasal dari Tuhan dan memang tidak dianggap demikian oleh kaum muslim. Hadis2 ini hanyalah saksi sejarah yang dimaksudkan untuk membimbing orang sekarang, yang juga memiliki otoritas kolektif untuk memutus-kan relevansinya sekarang. Dan kalau ada masyarakat Islam yang memilih jalan garis keras, maka ini juga akan menjadi masalah bagi masyarakat yang menerimanya."
Saya ingin bertanya kepada Pembela; bagaimana sebuah masyarakat Islam atau seseorang tahu MANA HADIS YANG PERLU DIIKUTI DAN MANA YANG TIDAK?!?
Apa yang akan kau katakan pada Muslim yang berpendapat bahwa perempuan memiliki intelektualitas yang defisien (kurang dari lelaki) atau bahwa anjing hitam harus dibunuh karena IA MEMBACANYA DALAM HADIS?? Apakah anda akan mengatakan bahwa ia salah dan hadis2 itu tidak lagi berlaku? Dapatkah anda jelaskan pula mengapa ia harus percaya pada anda?? Siapa anda sampai merasa memiliki otoritas untuk menentukan mana hadis yang berlaku dan mana yang ketinggalan jaman? Apakah anda akan menentukan sirat dan sunah Nabi dengan STANDAR SEKULER ANDA ATAU STANDAR NEGARA KAFIR?
Kita memiliki dilema. Quran tanpa Hadis membuat kita bingung. Hadis-lah yang memberikan pen-jelasan tentang arti Quran. Lalu datanglah Mr.Shahzad yang mengatakan bahwa Hadis problematik adanya. Ia mengatakan bahwa masyarakat secara kolektif bisa menentukan mana hadis yang ingin diikuti dan mana yang tidak. Saya ingin bertanya kepadanya, MEKANISME APA YANG DIGUNAKAN SATU MILYAR ORANG ISLAM UNTUK MENENTUKAN MANA HADIS YANG BERLAKU DAN MANA HARUS DIBUANG.
Faktanya adalah, tidak ada mekanisme macam itu dan mengganti hadis atau Quran TIDAKLAH MUNGKIN. Orang bisa memilih untuk tidak me-ngikuti bagian tertentu hadis, tetapi tidak ada otoritas dalam Islam yang menentukannya. Apakah kita memiliki hak untuk menghentikan para mullah atau teroris Muslim kalau mereka memilih untuk mengikuti ajaran kekerasan Quran? Lha wong, mereka cuma mengikut agama mereka kok! Bukankah Islam pecah kedalam ratusan sekte2, yang satu menganggap yang lainnya murtad, khususnya karena setiap orang memilih dan menolak hadis dan menginterpretasi Quran semaunya.
3) Mengenai kasus PEDOFILIA, Pembela ber-putar2 bahwa Aisha dibeberapa hadis dikatakan berumur 6 dan di Hadis lain berumur tujuh dan lalu berkesimpulan bahwa karena teks tentang umur Aisha berbeda maka mereka "tidak konklusif" dan tidak boleh dipercaya sama sekali. Oleh karena itu ia mengatakan bahwa Aisha bisa jadi lebih tua ketika ia menikahi Terdakwa.
Pembela menulis: Jika 9 atau 10 bisa disimpulkan darinya maka 10 atau 11 atau 12 juga dimungkin-kan ... beberapa pakar malah menyimpulkan usianya ketika nikah adalah 14. Pembela menuntut agar Jaksa menunjukkan surat2 medis Aisha, sertifikat perkawinan dan sertifikat pembuktian bahwa Aisha belum mencapai pubertas atau belum menstruasi pada saat me-nikah dengan Terdakwa dan berbagai tuntutan tidak masuk akal lainnya.
Namun saya sbg Jaksa angkat topi pada Pembela karena ia jelas menganggap pernikahan dengan anak umur 9 tidak etis dan oleh karena itu men-coba membuktikan bahwa Aisha sebenarnya lebih tua dari yang dikatakan hadis. Namun, upayanya ini tidak berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hadis yang mengatakan dengan JELAS bahwa usia Aisha ketika dicalonkan kepada Muhamad adalah ENAM, dan SEMBILAN tahun ketika hubungan (badan) perkawinan dimulai.
Sahih Muslim Book 008, Number 3310: 'A'isha mengatakan: rasulullah (saw) menikahi saya ketika saya berusia ENAM TAHUN dan saya masuk rumahnya ketika saya SEMBILAN TAHUN.
Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64 Diriwayahkan 'Aisha: bahwa nabi menikahi saya ketika saya berumur ENAM dan ia melaksanakan perkawinan itu saat saya SEMBILAN TAHUN, dan kemudian ia tinggal bersama nabi selama sembilan tahun (yi. sampai kematiannya).
Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65 Diriwayahkan 'Aisha: bahwa nabi menikahinya saat ia ENAM TAHUN dan ia melaksanakan perkawinan saat ia SEMBILAN TAHUN. Hisham mengatakan: Saya diberitahu bahwa 'Aisha tinggal bersama nabi selama 9 tahun ...'
Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88 Diriwayahkan 'Ursa: Nabi menulis kontrak per-kawinan dgn 'Aisha saat ia ENAM TAHUN dan melangsungkan perkawinan dgnnya saat ia SEMBILAN TAHUN dan ia tinggal dgn nabi selama 9 tahun ...
Ada muslim yang bersikeras bahwa Abu Bakr yang mendatangi Muhamad dan memintanya mengawini puterinya. Ini jelas tidak benar dan ini buktinya.
Sahih Bukhari 7.18 = Narrated 'Ursa: Nabi meminta Abu Bakr bagi ijin perkawinan dgn 'Aisha. Abu Bakr mengatakan "TETAPI SAYA SAUDARAMU." Nabi mengatakan, "KAU SAUDARA SAYA SE-UKUWIYAH, TETAPI IA (Aisha) HALAL BAGI SAYA utk saya kawini."
Lihatlah bagaimana Muhamad melanggar semua adat/peraturan kaum Arab setiap kali dianggapnya menghalangi mencapai keinginnanya. Abu Bakr (ayah Aisha) dan Muhamad terikat janji per-saudaraan. Jadi menurut adat, Aisha seperti sepupu Muhamad. Namun itu tidak menghalangi-nya untuk dijodohkan pada Muhamad saat ia ber-umur ENAM tahun. ANEHNYA, nabi penganut relativisme moral ini menggunakan alasan yang sama untuk menolak wanita yang dianggapnya kurang muda atau kurang cantik baginya. Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37 Narrated Ibn 'Abbas: Dikatakan kpd Nabi, "Mengapa kau tidak menikahi puteri Hamzah "? Ia menjawab, "Ia adalah sepupu angkat saya (puteri kakak saya)). "
Hamza dan Abu Bakr keduanya seperti saudara terhadap Muhamad. Namun Aisha pasti lebih sedap di mata Nabi dan tidak ada salahnya Nabi melanggar kode ektik dan adat masyarakatnya itu.
Dalam hadis berikut, Muhamad mengatakan pada Aisha bahwa ia mendapatkan mimpi tentangnya sebelum meminta ayahnya untuk mengawinkan-nya. Ini benar mimpi atau cuma dalih untuk mem-bohongi anak ingusan?
Sahih Bukhari 9.140 Narrated 'Aisha: Rasulullah mengatakan kpd saya, "Kau dipertunjukkan dua kali kpd saya (dlm mimpi) sebelum saya menikahimu. Saya melihat bidadari menggendongmu dlm selendang sutera dan saya mengatakan kpdnya, 'Tunjukkanlah ia,' dan lihatlah, ternyata itu kau. Saya katakan pada diri saya sendiri, 'Jika ini dari Allah maka terjadilah.' " "
Ini hadis yang secara eksplisit menunjukkan umur Aisha pada saat perkawinannya.
Sahih Bukhari 5.236. = Diriwayatkan ayah Hisham: Khadijah wafat 3 tahun sebelum nabi berangkat ke Medinah. Ia tinggal disana selama 2 tahun dan ia menikahi 'Aisha ketika ia gadis ENAM TAHUN dan ia melangsungkan perkawinan ketika ia SEMBILAN TAHUN. (Note: bedakan antara “nikah” dan “kawin”).
Sahih Bukhari 5.234 Diriwayahkan Aisha: Nabi bertunangan dgn saya ketika saya gadis berusia ENAM TAHUN. Kami pergi ke Medinah dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin Khazraj. Lalu saya jatuh sakit dan rambut saya rontok. Kemudian rambut saya tumbuh kembali dan ibu saya, Umm Ruman, datang kpd saya selagi saya bermain di ayunan dgn teman2 perempuan saya. Ia memanggil saya dan saya mendatanginya, tidak tahu apa yg di-inginkannya dari saya. Ia memegang tangan saya dan membuat saya berdiri di pintu rumah. Saya tidak dapat bernafas dan setelah pernafasan saya normal kembali, ia mengambil air dan menggosok muka saya dgn air. Lalu ia membawa saya masuk rumah. Didalam rumah saya melihat beberapa wanita Ansar yg mengatakan, "Selamat dan rahmat Allah besertamu ..." Lalu ibu mempercayai saya kpd mereka dan mereka mempersiapkan saya (bagi perkawinan). Tidak disangka, Rasulullah datang siang hari itu dan ibu saya menyerahkan saya kepadanya dan pada saat itu saya berusia SEMBILAN.
HANYA DALAM SATU HADIS UMURNYA DIKATAKAN "TUJUH ATAU ENAM".
Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4915 and Number 4915 Diriwayahkan Aisha, Ummul Mu'minin: Rasulullah (saw) menikahi saya saat saya tujuh atau enam. Ketika ia tiba ke Medinah, beberapa wanita mendatangi. Menurut versi Bishr: Umm Ruman datang kpd saya SAAT SAYA BERMAIN DI AYUNAN. Mereka membawa saya, mempersiapkan dan mendandani saya. Saya lalu dibawa ke Rasulullah (saw) dan ia tinggal bersama saya ketika saya SEMBILAN ....
Dalam hadis diatas kita membaca bahwa Aisha bermain dalam ayunan. Ini bukan mainan perempuan dewasa. Hadis diatas menyebut Terdakwa "hidup bersama" dengan Aisha pada saat ia berusia 9. Dan usia nikah disini disebut 6 atau 7. Usia 6 atau 7 tidak beda jauh. Biasanya orang tidak pernah mengingat usia persisnya pada peristiwa2 penting. Jadi mengatakan 6 atau 7 tidak sama dengan 10 atau 12 atau malah 14, seperti yang dipaksakan Pembela.
Hadis berikutnya menunjukkan Aisha sedang bermain dengan boneka2nya.
Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151 Narrated 'Aisha: Saya biasanya main dengan boneka dihadapan nabi, dan teman2 perempuan saya juga sering bermain dgn saya. Ketika Rasuloullah memasuki rumah kami, mereka biasa-nya menyembunyikan diri, tetapi nabi biasanya memanggil mereka utk bergabung dan bermain dgn saya.
Menurut adat Arab, bermain dengan boneka atau benda2 yang mirip orang dilarang, tetapi tidak bagi Aisha karena ia masih anak kecil, belum mencapai pubertas. Fateh-al-Bari page 143, Vol.13.
Saya, Jaksa, oleh karena itu menyampaikan hadis diatas ketimbang tuntutan aneh Pembela berupa sertifikat kelahiran. Aisha masih anak2 saat ia ber-main dnegan bonek adan ayunan dan belum meraih pubertas. Surat medis atau sertifikat tidak diperlukan jika kita memiliki bukti diatas.
Sahih Muslim Book 008, Number 3311 'A'isha melaporkan bahwa rasulullah (saw) menikahinya saat ia TUJUH TAHUN, dan ia dibawa kerumahnya sbg pengantin sbg pengantin ketika ia berusia SEMBILAN, dan boneka2nya bersamanya, dan ketika ia (nabi) wafat, Aisha berusia DELAPAN BELAS tahun.
Khadija adalah isteri pertama Muhamad yang meninggal bulan Desember, 619. Pada saat itu, Muhamad yang lahir tahun 570 AD berumur 49 (hampir 50) tahun. DUA BULAN setelah kematian Khadija, MUHAMAD MENIKAHI SAWDA DAN PADA SAAT YANG BERSAMAAN DIJODOHKAN PADA AISHA. 3 tahun kemudian ia me-langsungkan perkawinannya dnegan Aisha YANG KETIKA ITU MASIH BERUMUR 9 TAHUN.
Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 33 Narrated 'Aisha: Saya belum pernah iri terhdp wanita selain terhdp Khadijah, walau ia wafat TIGA tahun sebelum nabi menikahi saya. Dalam bagian lainnya, Aisha mengatakan bahwa sejauh ingatannya, orang tuanya selalu Muslim.
Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 245 Narrated 'Aisha: Saya tidak pernah mengingat orang tua saya mempercayai agama selain Islam,
Ini juga bukti bahwa Aisha dilahirkan dari Abu Bakr dan isterinya setelah mereka masuk Islam. Oleh karena itu ia tidak bisa lebih dari 9 atau 10 ketika ia menikah dgn Terdakwa.
4) Terdakwa lalu menanyakan arti "hubungan" perkawinan (consummation of marriage) dan me-nyatakan bahwa Jaksa memaksakan kepada Jury pengertiannya sendiri.
Jaksa tidak sedikitpun berusaha memaksakan definisnya kepada arti sebuah kata. namun ini hanya menunjukkan kesediaan Pembela untuk memaksakan pemikirannya guna membantah fakta dan kebenaran.
Pembela mengatakan bahwa hubungan per-kawinan bisa berarti hal2 lain dan bisa jadi Aisha menganggap "hubungan perkawinan" bukan hubungan seksual.
Saudara2, hubungan perkawinan hanya berarti satu hal. Pembela jelas memberikan arti lain. Bahkan kalau ia menganggap hubungan per-kawinan hanya sebatas pada "me-raba2" (karena Aisha sering melaporkan bahwa Muhamad meraba2 isteri2nya), MERABA2 ANAK DIBAWAH UMUR ADALAH PEDOFILIA! INI MENJIJIKKAN, MEMUAKKAN DAN HARUS DIHUKUM.
Terlepas apakah Abu Bakr atau masyarakat jahiliyah ketika itu menyetujui "hubungan perkawainan" tsb, INI TIDAK MELOLOSKAN TERDAKWA DARI KEJAHATAN PEDOFILIA. Ia seharusnya memberi CONTOH YG LEBIH BAIK!
Pembela lalu memberikan definisinya sendiri tentang pedofilia dan menetapkan 4 kriteria dan berdasarkan kriteria tersebut Terdakwa bukan Pedofil.
Jaksa tidak akan mengupakan definisinya sendiri namun memanggil kesaksian para pakar. Menurut (kamus bahasa) Dictionary.com PEDOFILIA adalah: TINDAKAN ATAU KHAYALAN ORANG DEWASA SEHUBUNGAN DGN AKTIVITAS SEKSUAL DENGAN ANAK ATAU ANAK2.
Menurut Paul A. Gore, Ph.D. dari University of Missouri-Kansas City, PEDOFILIA MELIBATKAN RANGSANGAN SEKSUAL DAN KEINGINAN ATAU KHAYALAN YANG MELIBATKAN IMPULS SEKSUAL TERHADAP ANAK2 DIBAWAH UMUR. SANG PEDOFIL HARUS BERADA DIATAS USIA 16 DAN ATRAKSI SEKSUAL HARUS MELIBATKAN ANAK BERUMUR 13 ATAU LEBIH MUDA YANG PALING SEDIKIT 5 TAHUN LEBIH MUDA DARI ORANG DEWASA TSB.
SANG PEDOFIL BERTINDAK UNTUK MEMUASKAN IMPULS SEKSUAL ATAU FANTASI DAN/ATAU RANGSANGAN SEKSUAL YANG MENGGANGU INDIVIDU TSB. SANG PEDOFIL TERANGSANG SECARA SEKSUAL KARENA KORBANNYA SEORANG ANAK, TERLEPAS DARI JENIS KELAMIN ANAK ATAU PEDOFIL TSB. "Pedophilia involves reoccurring sexual arousal and desires or fantasies involving sexual impulses toward a pre-adolescent child or children. The pedophile must be above age 16, and the sexual attraction must involve a child of age 13 or younger who is at least 5 years younger than the adult.
A pedophile has either acted on these sexual impulses, or the fantasies and / or sexual arousal and impulses disturb the individual. The pedophile is sexually aroused because the child is a child, regardless of the pedophile's sexual orientation, or the child's gender."
Oleh karena itu orang tidak perlu mengadakan hubungan seksual untuk memenuhi persyaratan sbg seorang pedofil. Bahkan memiliki khayalan seksual saja dengan anak dibawah usia 13 sudah termasuk definis pedofilia. MUHAMAD BERUMUR 54 (bandot tua!) saat ia melakukan SEX DENGAN AISHA yang HANYA BERUSIA 9 TAHUN (bahkan usia ABG juga belum). Definisi manapun dan kapanpun menganggap ini P-E-D-O-F-I-L-I-A. Penetrasi aktual tidak penting terjadi untuk membuktikan Terdakwa seorang PEDOFIL. Permakluman masyarakat juga bukan alasan kuat. Masyarakat jaman dulu memang jahiliyah dan biadab. Malah ada masyarakat yang menganggap korban manusia normal dan bahkan mempraktekkan kanibalisme. Itu bukan alasan untuk percaya bahwa tindakan tersebut benar di jaman manapun, APALAGI SEORANG NABI yg semestinya mempunyai standar moral di atas rata-rata masyarakat umum, pasti tdk akan mempraktekkan tindakan biadab itu. Maka, Muhammad TIDAK MUNGKIN SEORANG NABI.
Muhamad menganggap diri pembawa pesan Pencipta Alam Semesta. Ia menganggap diri penunjuk jalan umat manusia. Katanya sendiri, ia memberikan contoh bagi seluruh umat manusia. Bahkan jika meskipun praktek PEDOFILIA dilakukan dan dianggap wajar oleh masyaraktnya jaman itu, ia seharusnya TIDAK ikut-ikutan dng standar moral yg rendah tersebut. Salah satu tugas ke-nabi-an adalah menaikkan standar moral masyarakat di mana dia hidup. Bukan malah ikut-ikutan rame-rame nyemplung ke dalam praktek asusila, hanya karena semua orang pd jaman itu mengganggapnya wajar!
Kami disini tidak saja untuk mengutuk Muhamad namun membebaskan orang2 dari kepercayaan yang diciptakannya. Saya harap Muslimin dimana-pun akan mencari kebenaran dan menyadari bahwa mereka dibohongi oleh seorang tukang tipu jahanam. Mengikuti kepercayaan ciptaan orang macam itu tidak akan mengantar siapapun ke surga. KECUALI ALLAH ITU SETAN, TIDAK ADA TUHAN YANG AKAN MENGUTUS ORANG DENGAN MORAL YANG SEDEMIKIAN RENDAH ITU UNTUK MENJADI PENUNJUK JALAN UMAT MANUSIA.
Pembela melanjutkan : "Karena 1400 tahun lalu tidak ada pakar atau penulis yang menganggap pernikahan dengan seorang gadis dibawah usia pubertas itu salah, maka harus diterima bahwa perkawinan macam itu adalah KELAKUAN YANG BISA DITERIMA DAN TIDAK MENGHANCURKAN MORALITAS MASYARAKAT JAMAN ITU."
Walau saya tidak memiliki sertifikat pernikahan utk membuktikan usia Aisha 9 tahun, sejauh yang saya tahu tidak ada satupun dokumen sejarah yang me-nyatakan bahwa perkawinan dgn anak2 dibawah umur DIANGGAP NORMAL. Rakyat beradab seperti Persia (saya sendiri orang Persia) tidak pernah mempraktekkan hal itu.
Sekarang ini di Iran, banyak gadis dibawah umur dan negara2 Islam lainnya menjadi korban sunnah ini. Khomeini menurunkan batas perkawinan menjadi 9 thn ketika ia memegang tampuk pimpinan. INI merupakan PEDOFILIA SECARA MASSAL! DAN INI TERJADI DI KEBANYAKAN NEGARA ISLAM. Dan para muslim hanya manggut2 sambil mengatakan "ALLAHu AKBAR"!
Untuk itu saya memohon pada Jury, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk secara bulat mengutuk TERDAKWA, MUHAMAD BIN ABDULAH, karena memberi contoh buruk bagi umat manusia dan me-nyatakannya bersalah atas tuduhan PEDOFILIA.
Kepada rekan2 muslim saya, saya minta anda untuk membayangkan puteri/adik/saudara anda yang msh anak ingusan berumur 9 tahun digagahi atau diraba2 oleh seorang kakek-kakek berumur 54 tahun. Bahkan jika kau mencintai Muhamad kau harus mengutuk tindakan ini! Kalau tidak, bagaimana kau bisa berkaca diri dan tidak merasa malu akan bebalnya hati-nuranimu? ----------------------------------------------------------- [Dec. 03, 2003] BAGIAN VII : KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PANTAS DAN HUBUNGAN SEKS DILUAR PERKAWINAN Lewdness, Immorality , indecency and promiscuity Dari RAHEEL SHAHZAD / PEMBELA:
Pihak Pembela sekarang akan menangani masalah orientasi seksual Terdakwa mengingat jumlah perkawinannya. Keberatan atas usia salah satu isterinya sudah dibahas diatas sehingga Aisha kini dicakupkan kedalam istilah isteri sah Terdakwa, sederajat dengan isteri2 lainnya. Menurut banyak sumber, Terdakwa menikahi sejumlah 13 wanita.
Mr Sina, mengapa anda tidak dapat menerima Terdakwa sebagai seorang lelaki dengan nafsu seksual seperti layaknya lelaki jaman sekarang? Apakah seorang nabi tidak boleh menikmati sex? Atau ini hanya tuntutan anda bahwa ia tidak boleh menikmati sex dengan isterinya? Apakah anda hanya bersedia menerima mereka2 yang tidak me-miliki nafsu maupun melakukan kegiatan seksual apapun? Bahkan lelaki yang paling berakhlak-pun dapat menikmati tubuh isterinya dalam kenyamanan rumah mereka dan bahkan sang isteri juga berhak menikmati suaminya selama sang isteri tidak dipaksa. Mengadakan hubungan sex berkali2 tidak membuat sesuatu perkawinan didasarkan atas nafsu. Bahkan keinginan untuk mengadakan hubungan sex dengan beberapa wanita tidak otomatis membuat seorang tidak bermoral. Pandangan seseorang atas sex bahkan dapat menganggap setiap tindakan sex orang lain sebagai tindakan atas dasar nafsu. Lagipula, mengapa kita harus mempersoalkan nafsu seorang suami terhadap isterinya?
Lagipula bukankah setiap perkawinan melibatkan hubungan seksual? Perkawinan bukan "marriage of convenience" bagi masyarakat tersebut, kecuali demi mencapai tujuan baik. (A marriage cannot be a marriage of convenience for the society, or to achieve some good?). Jika anda menikahi seorang wanita, apakah anda wajib melakukan sex 90 kali sehari? Apakah anda sebagai Jaksa memiliki bukti absolut bahwa Terdakwa menikah hanya karena alasan seksual dan tidak ada alasan lain?
Saya tidak dapat membuktikan bahwa ia tidak me-lakukannya, namun andapun tidak dapat mem-buktikan bahwa ia melakukannya. Anda mungkin akan menyampaikan sumber2 yang meng-gambarkan daya seksualnya sebesar sekian banyak lelaki dan bahwa ia mengunjungi setiap rumah setiap malam, namun apakah anda memiliki FOTO2 kegiatan seksual tersebut? Bagaimana dengan para akademisi muslim? Anda memiliki bukti mendetail bahwa setiap perkawinannya me-rupakan pelampiasan nafsu seksualnya? Apakah anda tidak memungkinkan adanya alasan lain, seperti perlindungan sang wanita?
Anda memberi segala macam teori dan menunjuk-kan sejumlah buku dan sumber dan mengatakan bahwa saya hanya memaklumi, padahal tidak. Saya meminta anda menunjukkan bukti bahwa kesemua 13 perkawinan itu tidak memiliki alasan sosial lain kecuali alasan yang anda sebutkan diatas. Bahkan jika 300 akademisi-pun me-ngatakannya, mereka masih belum dapat meyakin-kan saya bahwa sex terlibat dalam setiap per-kawinan.
Karena tidak adanya foto album dan video 1400 tahun lalu, saya dianggap sebodoh itu menyimpul-kan bahwa 13 perkawinan pasti menghasilkan 13 ejakulasi dalam 8 jam. Jika anda membaca kesemua teks dan menyimpulkan adanya nafsu seksual, anda boleh2 saja. Namun saya juga bisa membaca sumber yang sama dan menyimpulkan bahwa ada berbagai macam cara pandang ter-hadap hal ini.
Point saya adalah bhw urusan tempat tidur jarang diungkapkan. Dan sebuah perkawinan tidak otomatis memiliki elemen2 yg anda sebutkan itu. Saya membaca referensi ttg perkawinan Terdakwa dan dngan menggunakan kata2 yg sama saya bisa mengambil kesimpulan lain dlm batas2 logika. Namun jika anda bersikeras bahwa Terdakwa gila sex, maka jawaban saya adalah:
Lihatlah jaman sekarang di AS; jutaan lelaki me-niduri 8 sampai 10 wanita. Banyak anak muda memulai kegiatan seksual pada usia 15 atau 16, dan pada saat mereka berusia 60, sudah pasti meniduri banyak perempuan. Di AS ini tidak lagi dianggap aneh atau tidak bermoral. Bahkan para politisi yang memegang posisi tinggi sekarang dan kode moral mereka tidak dipertanyakan, kalaupun mereka pernah tidur dengan 30 wanita sepanjang hidup mereka. Bahkan Bill Clinton terjerat dalam nafsu, tetapi itu tidak menghalangi orang untuk tetap memilihnya sebagai presiden.
Bahkan presiden2 lain juga tidak memiliki kesulitan memisahkan masalah wanita dengan urusan negara. Lihatlah kelakuan JFK yang tidak pernah disembunyikan namun ia tokoh yang paling di-hormati sampai sekarang.
Anda juga mengajukan keberatan atas per-kawinannya pada usia tinggi (khususnya me-nyangkut Aisha) dalam konteks itu pula. Pihak Pembela menganggap hal ini sangat aneh, mengingat kebebasan seksual dan kemajuan medis negara2 barat. Pembela mengajukan “Viagra” sebagai salah satu bukti, yang dipakai sekarang untuk memperpanjang siklus seksual lelaki2 berusia tua. Jadi kalau Terdakwa ingin me-nikmati sex pada usia diatas 50-an, mengapa ia sampai diseret ke pengadilan?
Jadi menurut Mr. Sina, siapapun diatas 50 tahun yg ingin mengadakan sex dalam perkawinan adalah tidak bermoral? Perbedaan usia antara suami dan isteri bukan ditetapkan oleh pihak Jaksa, namun oleh Jury.
Jika Jaksa menganggap jijik perkawinan seorang lelaki berumur 50 tahun dengan perempuan ber-umur 20, maka Pembela berhak meminta Jaksa agar mengeluarkan sebuah deklarasi untuk me-nyatakan sikapnya ini. Jika suatu saat Jaksa ingin menunjukkan kesalahan Terdakwa, maka Pembela dapat menggunakan deklarasi Jaksa ini sebagai bahan pembelaan:
”Saya, Ali Sina, dengan ini mendeklarasikan dibawah ancaman hukuman (under penalty of perjury), bahwa adalah tidak pantas untuk seorang lelaki berumur 50 tahun lebih mengadakan hubungan sex atau memiliki rasa cinta bagi seorang wanita, tua ataupun muda, kapanpun. Dan jika lelaki itu terbukti melakukan poligami atau menikah lebih dari sekali atau memiliki nafsu seksual macam apapun bagi siapapun, lelaki atau perempuan, maka ia dinyatakan ‘defisien’ dalam segala hal lain, akibat menunjukkan keinginan normal untuk melakukan hubungan sex tsb.
Saya juga mendeklarasikan bahwa adalah me-langgar norma apapun dan kapanpun bagi seorang lelaki berusia lanjut untuk menikmati tubuh isteri-nya dalam rumahnya. Jika orang macam itu ter-bukti melakukan hal diatas maka ia saya anggap tidak mampu memimpin bangsa, perusahaan atau sekelompok orang, karena memiliki kode moral defisien, tidak pantas diberi perhatian atau memang tidak waras.
Pernyataan ini akan berlaku kepada setiap orang, bangsa, kapanpun dan bagi siapapun yang meng-anggap diri nabi. Saya juga mendeklarasikan bahwa setiap presiden AS, kapanpun, kalau ter-bukti melakukan hubungan sex dalam usia lanjut akan di-impeach oleh Kongres dan dinyatakan tidak waras.
Jika sex dilakukan dengan seorang budak yang usianya tidak akan saya sebutkan, karena masyarakat tidak memiliki definisi kedewasaan, maka orang ini akan dianggap tidak pantas secara moral.
Sebagai pemimpin missi ini, saya juga men-deklarasikan bahwa siapapun yang setuju dengan missi saya ini dan berusia lebih dari 50 tahun dan mengadakan sex dengan isteri atau isteri2nya tidak lagi dianggap bagian dari missi ini atas dasar tidak bermoral. Jika orang berusia diatas 50 tahun itu menikah lebih dari 3 kali, oleh FFI ia akan dinyata-kan tidak waras. Mengingat missi ini adalah untuk menghukum seseorang yang hidup 1400 tahun lalu karena menikahi banyak wanita dan aktif secara seksual setelah usia 50, maka tidak akan ada missionary FFi yang akan menunjukkan sikap moral yang serupa."
Tentu sekarang anda akan mengatakan bahwa seorang nabi diatas ini dan harus memiliki kekuatan moral dengan menolak sex atas nama Tuhan. Namun, saya tanya kembali MENGAPA? Apa hubungan orientasi seksual orang atau nafsu seksualnya atau keinginannya memiliki bebagai wanita dengan kemampuannya sebagai pemimpin? Apa yg membuat anda meragukan kemampuan kepemimpinan Terdakwa karena alasan kepemilikian 12 isteri? Apakah anda tidak melakukan double standard? Seorang pemimpin sekarang boleh memiliki hubungan diluar perkawinan namun seorang pemimpin 1400 tahun lalu tidak boleh menikmati sex?
Oleh karena itu Pembela menyerahkan kasus kepada Jury.
Saya meminta Jaksa agar memandang kasus ini secara obyektif. Namun jika anda dari mula sudah menetapkan sikap terhadap Klien saya, dan tidak ada logika yang dapat menyadarkan anda, maka saya sudah melakukan tugas saya. Saya bahkan tidak menggunakan sumber2 dari Quran atau Hadis atau akademisi lain. Saya hanya me-nyampaikan analisa sepenuhnya berdasarkan common sense (logika). Jika anda ingin mengejek Terdakwa dan kini ingin mendakwa Klien saya, maka commonsense kita tdk pernah akan ketemu.
Oleh karena itu saya akan meminta Jury meng-ambil keputusan yang adil, obyektif sehubungan dengan tuduhan polygami, pedophilia dan aktivitas seksual yang dinyatakan Pembela sebagai sikap normal yang terdapat dalam kebanyakan pria di kebanyakan negara. Jika mengingat alasan saya diatas anda masih juga tidak sanggup, maka saya rasa kita harus setuju untuk tidak setuju.
Ketahuilah bahwa saya tidak meminta anda untuk menerima ideologi Terdakwa. Jika anda meng-anggap Terdakwa bersalah, melanggar kode moral, maka anda juga bertanggung jawab. Oleh karena itu pembaca diminta untuk memandang hal sesuai dengan perspektif.
Seperti kata pepatah: “Kalau anda tidak setuju dengan isi pesan, jangan tembak sang pemberi pesan" ("If you do not agree with the message, don’t shoot the messenger” ).
Terima kasih. R Shahzad ----------------------------------------------------------- <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]-->DARI A SINA Yth Mr. Shahzad, Anda ternyata tidak juga mengerti masalah yang dibahas dalam pengadilan ini. Saya TIDAK me-nuduh Klien anda karena ia mahluk seksual. Semua umat manusia adalah mahluk seksual sebagaimana kita juga mahluk intelek dan spiritual. Sex memang salah satu fungsi manusia. Sex men-jamin kelangsungan species. Sex juga merupakan hubungan erat antara lelaki dan perempuan yang bersama2 bertanggung jawab atas generasi berikutnya.
Saya menuduh Klien anda karena KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PATUT dan melakukan HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN DILUAR PERKAWINAN.
Ambil contoh Mariah. Mariah adalah pembantu Hafsa. Hafsa adalah puteri Omar dan salah satu isteri Muhammad.
Suatu hari Muhamad mengunjungi rumah Hafsa dan setelah melihat Mariah, pembantunya, ia langsung naksir dan disitu juga ia memutuskan untuk menidurinya. Ia mengirimkan Hafsa ke rumah Omar dan mengatakan (membohonginya) bahwa ayahnya memanggilnya. Pada saat Hafsa keluar rumah, Muhammad mengajak Mariah ke tempat tidur dan mengadakan hubungan sex. Sementara itu Hafsa, yang kecewa karena ayah-nya tidak memanggilnya, sampai di rumahnya dan memergoki suaminya di pelaminan dengan pembantunya.
Hafsa menjadi histeris, melupakan status suaminya dan ber-teriak2 mengundang perhatian. Sang nabi memohon agar ia tenang, agar tidak membeberkan rahasia ini kepada siapapun dan berjanji tidak lagi akan meniduri Mariah.
Hafsa tidak dapat menahan diri, menceritakan semuanya kepada Aisha yang akhirnya juga me-nentang sang nabi dan bersama isteri2 lainnya membuatnya pusing kepala. Sehingga akhirnya sang nabi memutuskan untuk menghukum mereka semua dengan tidak meniduri siapapun diantara mereka selama satu bulan. Menahan sex dari isteri adalah tahap kedua hukuman dalam Quran. Langkah pertama adalah enegur/memperingatkan mereka. Langkah ketiga adalah PUKULI mereka. Q.4:34.
Namun tidak melakukan hubungan seks dengan semua isterinya juga merugikan sang nabi. Bagaimana mengatasi hal ini? Nah, datanglah "Allah", teman setianya itu dengan wahyu (Surah Tahrim), membebaskan Muhamad dari kesengsaraan harus hidup tanpa seks selama sebulan :
Inilah teks surah yang konyol tersebut: Q. 66:1-5. 1. O Prophet! Why do you ban (for yourself) that which Allah has made lawful to you, seeking to please your wives? And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful. 2. Allah has already ordained for you (O men), the dissolution of your oaths. And Allah is your Maula (Lord, or Master, or Protector, etc.) and He is the All-Knower, the All-Wise. 3. And (remember) when the Prophet (SAW) disclosed a matter in confidence to one of his wives (Hafsah), so when she told it (to another i.e. 'Aishah), and Allah made it known to him, he informed part thereof and left a part. Then when he told her (Hafsah) thereof, she said: "Who told you this?" He said: "The All-Knower, the All-Aware (Allah) has told me". 4. If you two (wives of the Prophet SAW, namely 'Aishah and Hafsah) turn in repentance to Allah, (it will be better for you), your hearts are indeed so inclined (to oppose what the Prophet SAW likes), but if you help one another against him (Muhammad SAW), then verily, Allah is his Maula (Lord, or Master, or Protector, etc.), and Jibrael (Gabriel), and the righteous among the believers, and furthermore, the angels are his helpers. 5. It may be if he divorced you (all) that his Lord will give him instead of you, wives better than you, Muslims (who submit to Allah), believers, obedient to Allah, turning to Allah in repentance, worshipping Allah sincerely, fasting or emigrants (for Allah's sake), previously married and virgins.
Komentar: Walaupun Muhamad berjanji pada Hafsa agar tidak melakukan hubungan sex dengan pembantunya, ia tidak dapat menahan godaan nafsu. Apalagi setelah ia bersumpah tidak akan tidur dengan semua isterinya selama sebulan. Situasi memang benar2 sulit, namun tidak ada yang IMPOSSIBLE jika anda seorang rasulallah.
Dalam Surah Tahrim, Allah mengijinkan nabi kesayangannya itu untuk melanjutkan hubungan seksualnya dan mengacuhkan isteri2nya. Memang enak jadi rasulallah. Allah begitu mempedulikan kepuasan seksual Muhamad sampai Ia mengijin-kan SEMUA LELAKI agar melupakan janji/sumpah mereka. Subhanallah! Allah-nya islam memang benar2 AKBAR!
Perlu diperhatikan disini bahwa setelah Muhamad mengetahui dari Aisha bahwa Hafsa membongkar rahasianya kepada Aisha, Muhamad juga mem-bohongi Aisha dengan mengatakan bahwa Allah yang memberitahu Muhamad akan kelakuan Hafsa (membuka rahasia) itu. Padahal Aisha yg mem-beritahukannya kepada Muhamad. Luar biasa!
Aisha, yang muda, cantik, lagi pintar itu, bereaksi terhadap surah diatas. Ia dilaporkan sebagai me-ngatakan kepada Muhamad, "Allahmu memang selalu segera datang membantumu!"
Menjelaskan Surah Tahrim (66) diatas itu, Omar dilaporkan sebagai mengatakan:
Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648: Rasulullah tidak mendatangi isteri2nya karena rahasia yang diberitahu Hafsa kepada Aisha, dan ia mengatakan tidak akan mendatangi isteri2nya selama satu bulan karena ia marah pada mereka ketika Allah menegurnya. (The Prophet did not go to his wives because of the secret which Hafsa had disclosed to 'Aisha, and he said that he would not go to his wives for one month as he was angry with them when Allah admonished him (for his oath that he would not approach Mariyah).
Cerita ini pasti memalukan bagi pengikut Muhamad sehingga mereka membuat hadis2 lain untuk men-jelaskan surah yang sudah dijelaskan oleh Omar.
Sahih Muslim Book 009, Number 3496 & 3497: "Aisha meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) menghabiskan waktu dengan puteri Zainab dari Jahsh dan meminum madu dirumahnya. Aisha kemudian mengatakan: saya dan Hafsa setuju bahwa siapapun diantara kami yang dikunjungi Rasululah terlebih dahulu akan mengatakan kepadanya : mengapa kami mencium bau Maghafir (cairan pohon mimosa) dari tubuh anda.
Ketika Rasulullah mengunjungi salah satu dari mereka sang isteripun menanyakan hal tsb. Rasulullah menjawab : saya mencicipi madu di-rumah Zainab bint Jabsh dan tidak akan me-lakukannya lagi. "
Jadi maksud Sahih Muslim ini; bukannya SEKS yang dimaksudkan Allah dalam wahyu Surah 66:1 ("That which Allah had made lawful for you / Apa yang disahkan Allah bagimu") melainkan MADU!
Eksistensi hadis2 diatas dan perbedaannya dng riwayah Omar jelas menunjukkan fakta bahwa pengikut Muhamad siap berbohong (seperti banyak Muslim sekarang) demi menyelamatkan nama baik nabi. Sangat bodoh kalau kita menerima alasan meminum madu untuk membenarkan surah2 diatas. Madu tidak meninggalkan bau tidak enak. Juga aneh jika insiden kecil menyangkut bau madu sampai mengakibatkan keributan dalam rumah tangga nabi sampai ia tega mengancam mencerai-kan isteri2nya atau menghukum mereka dengan No-Sex selama sebulan.
Dan apakah insiden kecil dengan madu sampai harus menyusahkan sang Pencipta Alam Semesta sampai harus campur aduk dalam keributan per-kawinan nabinya dan mengancam isteri2nya dngan perceraian? Bukankah lebih pantas jika madu yang dimaksudkan adalah madu diantara paha Mariah?
Rendahnya standar moral dan etika Terdakwa bisa dibuktikan lagi dari cerita2 hidupnya. Seperti yang berikut ini : Bukhari Volume 7, Book 63, Number 182: Diriwayahkan Abu Usaid: Kami pergi dengan nabi ke sebuah taman yagn disebut dengan Ash-Shaut .... nabi memasuki taman tersebut. Wanita dari Bani Jaun sedang menginap dalam rumah milik Umaima bint An-Nu'man bin Sharahil di taman tersebut. Ketika nabi memasuki rumahnya ia mengatakan kepadanya "Serahkan dirimu kepada saya sebagai hadiah", katanya. Sang wanita mengatakan "Apakah seorang puteri raja dapat memberikan dirinya kepada orang biasa ?"
Nabi mengangkat tangannya dan menyentuhnya guna menenangkannya. Sang wanita mengatakan "Saya meminta Allah perlindungan dari dirimu." Kata nabi, "Kau telah mencari perlindungan kepada Ia yang memberikan perlindungan."
Lalu nabi datang kepada kami dan mengatakan, "O Abu Usaid! Berikan dirinya 2 gaun putih dan biarkan ia kembali kepada keluarganya."
Apakah Muhamad sudah tidak memiliki cukup wanita ? Apakah ia harus MENGGENJOTI setiap wanita cantik yang ia temui?
Perhatikan juga sifatnya. Suatu saat ia termakan nafsu dengan meminta pemilik rumah agar "menyerahkan dirinya sebagai hadiah", dan ketika ditolak ia menjadi kasar dan mengangkat tangannya untuk memukulinya. Dan setelah mengadu ke Allah, sang nabi gadungan itu sadar, merasa bersalah atas kelakuannya itu dan memberi kompensasi kepada korbannya dengan cara menyuapnya dengan hadiah. Inikah profil seseorang yang STABIL SECARA MENTAL?
SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI KEPADA PIHAK PEMBELA : Saya tidak menuduh Terdakwa karena menyukai wanita, saya menuduh Terdakwa karena melampiaskan nafsunya pada wanita menikah secara paksa, tidak patut dan tidak senonoh. Saya menuduh Terdakwa karena kesediaannya melakukan apapun demi pelampiasan nafsunya.
Satu lagi cerita skandal tentang nafsu dan imoraltias Muhamad seperti dilaporkan dalam Kitab al Tabaqat.
Diriwayatkan Muhammad Ibn Yahya Ibn Hayyan, "Rasulullah mendatangi rumah Zaid ... Zainab Binti Jahsh menghampirinya, mengenakan gaun rumah tipis, namun Rasulullah memalingkan muka darinya. Zainab mengatakan, 'Ia tidak disini, Rasulullah, tapi silahkan masuk ..." Rasulullah menolak.
Ketika Zaid pulang, Zainab melaporkan kedatangan Rasulullah. Zaid bertanya, 'Kau mengijinkanya masuk, bukan?' Zainab menjawab, 'Saya tawari namun ia menolak. Ia mengatakan, 'Ia tidak mengatakan apa2?' Zainab mengatakan, `Ketika ia pergi ia mengatakan sesuatu namun bagi saya kurang jelas. Katanya, "Terpujilah Allah yang mengarahkan hati manusia."
'Zaid pergi menemui Rasulullah dan mengatakan, 'O Rasulullah, saya mendengar anda pergi ke rumah saya. Mengapa anda tidak masuk? Mungkin anda menyukai Zainab. Saya bisa meninggalkannya.' Rasulullah mengatakan, 'Pertahankanlah isterimu.' Zaid mengatakan, 'O Rasulullah, saya akan meninggalkannya.' Rasulullah mengatakan, 'Tetaplah bersama isterimu.' Ketika Zaid meninggalkan Zainab, Zainab mengucilkan diri dan menghabiskan masa Iddah-nya. Sementara Rasulullah duduk dan bicara dengan Aisha, ia kesurupan (kemasukan wahyu) dan ketika sembuh ia tersenyum dan mengatakan, 'Siapa akan pergi ke Zainab dan memberikannya kabar baik bahwa Allah menikahkannya kepada saya di surga?' " (Tabaqat, 8:101-102).
Saudara sekalian, pada saat itu Muhamad SUDAH memiliki 4 isteri: Sawda, Aisha, Hafsa dan Umma Salama. Namun dengan meningkatnya kekuasaannya ia semakin yakin dan lihai mencuci otak pengikutnya agar menerima segala kelakuannya yang tidak patut sekalipun sehingga ia tidak lagi merasa harus mengendalikan diri. Namun tetap saja banyak orang Arab, termasuk pengikutnya, kaget dan mempertanyakan kelakuannya. Maududi menjelaskan:
Begitu perkawinan disetujui, terjadi propaganda besar2an melawan Rasulullah. Mereka menggunakan alasan perkawinan ini sebagai cara untuk mengakhiri superioritas moral nabi yang sebenarnya kunci kuasa dan kesuksesannya. Karena itu, dibuatlah cerita2 bahwa Muhamad jatuh cinta kepada isteri puteranya dan ketika puteranya tahu, ia menceraikan isterinya dan ayahnya kemudian menikahi bekas isterinya.
Seperti dapat dilihat oleh Jury, Muhamad BAHKAN MENARUH NAFSU PADA ISTERI PUTERANYA SENDIRI. Ia berpura2 mendapat wahyu dari Allah bahwa Ia sudah menikahkan mereka di surga, sehingga ia menguasai Zainab dalam sekejap. Riwayah ini menunjukkan bahwa motifnya tidak lain selain NAFSU.
`Aisha mengatakan, "saya mendengar banyak tentang kecantikannya dan bagaimana Allah menikahkannya dengan di surga. Dan saya katakan, 'Sudah pasti ia akan menyombogkan dirinya pada kita.'" ( Tabaqat, 8:101-102).
Nah, pada saat inilah surah yang terkenal dengan nama Tabir diturunkan. Q33:53
Diriwayahkan oleh Sulaiman Ibn Harb, mengutip Hammad Ibn Zaid, mengutip Ayyub Ibn Abi Qulaba bahwa Anas berkata, "Saya paling tahu surah tabir ini. Pada malam Zainab diberikan kepada Rasulullah, ia mengadakan jamuan dan mengundang orang. Nabi ingin agar orang segera pulang karena pikirannya ada pada sang pengantin. Ia berdiri untuk memberi tahu mereka, sehingga beberapa orang pergi. Sekali lagi ia berdiri, namun beberapa tetap duduk. Ia berdiri untuk ketiga kalinya, dan baru kesemuanya pergi. Jadi ia memasuki rumahnya [dimana pengantin menunggu] dan Anas mengikutinya, namun nabi menghalanginya dengan menurunkan tabir dan mengatakan,
"Hai kalian yang percaya! Jangan memasuki rumah2 nabi, kecuali diijinkan ... : namun jika kalain diundang, masuk dan setelah mendapatkan makan, segera pergi tanpa basa basi. Kelakuan ini membuat jengkel Nabi: ia malu mengusir a*na* namun Allah tidak malu mengatakan kebenaran. dan jika kalian meminta sesuatu dari wanita2 nabi, mintalah dari balik tabir: itu menjaga kebersihan hatimu dan hati mereka. Tidak pantas kalian membuat jengkel Rasulullah atau kalian menikahi janda2nya kapanpun setelah kematiannya. Sesungguhnya hal itu dimata Allah adalah dosa besar. "
Para tamu kemudian beranjak pergi dan ia menurunkan tabir. Lihat al-Simt al-thamin, p.110; al-Isti`ab, 40:1851; al-Isaba, 9:83.
Saya, Jaksa, mengajukan Surah 33.53 seperti dikutip diatas sebagai bukti bagaimana Terdakwa memanfaatkan Allah bagi kepuasan nafsunya dan keinginan egoistiknya.
Betapa bodohnya orang untuk percaya bahwa sang Pencipta Alam Semesta ini begitu khawatir tentang nabinya sampai menurunkan wahyu agar orang jangan memasuki rumahnya tanpa undangan atau agar orang segera meninggalkan rumahnya setelah menikmati santapan dan jangan sampai anda membuat jengkel nabi Saya karena SAYA, Pencipta Alam Semesta, mengatakan kepadamu bahwa nabi Saya malu2?
Sosok Terdakwa ini tukang tipu jitu. Ia menciptakan sebuah cult untuk membohongi orang. Namun ia bukan saja pembohong melainkan MONSTER. Dalam sejarah dunia sulit menemukan seseorang sebejat dirinya. Oleh karena itu saya memohon Jury agar menyatakan Terdakwa bersalah karena KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PATUT DAN melakukan HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN DILUAR PERKAWINAN.
Saya memohon agar saudara2 Muslim saya membuka mata mereka. Terdakwa BUKAN Rasulullah. Ia bohong. Bukti2 sangat kuat. Sangat bodoh bagi kita untuk percaya bahwa orang2 berkuasa tidak perlu mematuhi hukum. Mereka malah yang pertama yang harus mematuhi aturan moral dan etika. Tuhan tidak sebegitu sadis sampai mengirimkan orang dengan moralitas yang sedemikian rendah sebagai rasulNya. Terdakwa Muhamad tidak menunjukkan contoh baik. Ia bukan orang yang patut dihormati. Ia tidak memiliki moral ketuhanan.
Saya mendesak anda untuk mengutuk Mohamad, mengambil alih jiwa dan raga anda dari cengkramannya.
Jika Tuhan dan Setan memang ada, maka Allah tidak lain dari Setan dan Muhammad rasulnya. Tuhan asli tidak mungkin bersikap seperti Setan. Selamatkan ragamu kawan, dan sebarkan pesan ini keseluruh dunia sebelum Setan dan rasulnya, Muhamad, menghancurkannya. ---------------------------------------------------------- BAGIAN VIII MISOGYNY : Kebencian terhadap Perempuan <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> [Pihak Pembela sayangnya tidak memberi bantahan atas tuduhan Jaksa dalam bagian ini] Dalam sesi ini tuduhan Jaksa terhadap Terdakwa adalah misogyny. Jaksa menyatakan bahwa Terdakwa: <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->merendahkan derajat wanita, <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->dan bahwa kaum wanita, sebelum kekuasaan Terdakwa di tanah Arab dan di negara manapun yang jatuh dibawah kekuasaan Islam, menikmati jauh lebih banyak kebebasan dan hak daripada dalam masyarakat ciptaan Terdakwa. <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Tuduhan saya BUKAN bahwa Mr. Muhammad bin Abdallah (almarhum) tidak memberikan cukup banyak hak kepada wanita, namun bahwa ia MERAMPAS segala hak yang dimiliki wanita dan menjadikan mereka warga kelas dua, yang tergantung dan berada dibawah kekuasaan lelaki. <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Ia memberlakukan perbudakaan berdasarkan jenis kelamin dan merendahkan status mereka sejajar dengan harta benda dan binatang. Tidak ada satu masyarakatpun dalam sejarah bangsa apapun, wanita begitu terhina dan direndahkan seperti dalam sejarah Islam. Islam adalah agama misogynist par excellence. 1) Status Wanita Arab SEBELUM Islam lebih tinggi. Sayangnya kaum muslim tidak meninggalkan jejak literatur Arab masa pra-Islam. Mereka menganggap era ini sebagai era Jahilyah (era kegelapan) dan oleh karena itu membakar, menghancurkan setiap bukti sejarah. Oleh karena kami hanya tergantung dari sumber2 Islam. Namun dari sumber2 yang memberikan gambaran se-cuil-pun tentang era tsb kita sudah bisa menyimpulkan bahwa wanita sebelum Islam memiliki jauh lebih banyak hak.
Mari kita mulai dengan Khadijah isteri pertama Muhamad. Wanita ini janda, tidak memiliki suami namun tetap dikenal sebagai wanita kaya dan memiliki bisnis sukses dan bahkan mempekerjakan lelaki, termasuk Terdakwa. Ini saja menunjukkan bahwa pada jaman itu wanita memiliki bisnis sendiri dan kaum lelaki Quraysh tidak menganggap seorang boss wanita merendahkan kaum lelaki. Seperti dilaporkan hadis, adalah Khadijah yang melamar Muhammad, bukan sebaliknya.
Ini satu lagi bukti tingkat kebebasan yang dinikmati wanita Arab dalam masa pra-islam. Bedakan dengan masyarakat Islam sekarang, perempuan melamar lelaki dianggap taboo.
Contoh lain lagi : Hind , isteri Abu Sufyan, saudara dan musuh bebuyutan Muhammad. Dilaporkan bahwa dalam Pertempuran Uhud, Hind memimpin wanita Quraysh dengan membakar semangat kaum lelaki agar berjuang dan menghentikan agresi Muslim.
Pada saat menghangatnya pertempuran, para wanita Quraysh, dibawah pimpinan Hind, beramai2 menabuh gendang untuk mendukung para tentara. Salah satu anak buah Muhammad, Abu Dujanaj, mengatakan, "Saya melihat seseorang mendukung musuh dengan berteriak2 keras. Saya mendekatinya dan saat mengangkat pedang untuk membunuhnya, sekali lagi ia berteriak2 keras dan saya melihat bahwa ia seorang wanita; saya menghormati pedang Rasululah dan merasa mubazir untuk menggunakannya melawan wanita." Wanita itu adalah Hind. [1]
Contoh lain wanita memimpin lelaki dalam pertempuran adalah Aisha isteri termuda Muhammad yang setelah kematian Muhamad memimpin tentara muslim melawan Ali dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran Jamal (Camel).
Ada juga contoh Asma bt. Marwan, wanita Yahudi penulis sajak dari Medinah yang atas suruhan Terdakwa dibunuh karena menulis sajak2 menentang Terdakwa. Kenyataan bahwa Terdakwa khawatir akan pengaruh tulisan Asma kalau2 sampai menghancurkan karir Terdakwa sebagai rasulullah adalah satu lagi bukti bahwa dalam budaya pra-Islam, kaum Arab menghormati, mendengarkan nasehat dan membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh wanita. Wanita saat itu tidak dianggap bodoh atau kurang tingkat intelektualnya (deficient in intelligence) seperti kemudian ditetapkan Quran.
Contoh paling nyata akan status tinggi wanita sebelum Islam adalah fakta bahwa pada jaman Muhamad, bahkan ada wanita yang menyatakan diri sebagai nabi dan memiliki banyak pengikut. Sekarang, jangankan nabi, bahkan menjadi Imam-pun tidak mungkin bagi wanita. Tetapi anehnya justeru wanita Islam-lah yang merupakan apologis/pemaklum terbesar status rendah mereka dan sepenuhnya menerima penghinaan mereka oleh Islam.
Sebagai bukti (A) Jaksa menyampaikan hadis dimana disebutkan bahwa teman dekat Terdakwa Muhammad, Umar b. Khattab yang akhirnya menjadi khalif kedua, mengeluh bahwa perempuan Muslim mempelajari “kebiasaan buruk” emansipasi dan kebebasan dari kaum wanita Medinah dan bahwa Rasululah harus melakukan sesuatu.
Cerita ini terjadi pada saat Terdakwa sedang menjalani affairnya dengan Mariah, yang juga pembantu isterinya, Hafsa. Terdakwa ribut dengan semua isterinya karena mereka mengeluh akan kelakuannya yang tidur sana-sini dan Terdakwa mengancam akan menceraikan mereka semua.
Terdakwa sedang duduk dirumahnya ketika Umar mengunjunginya. Umar kemudian meriwayahkan: Kami, rakyat Quraish, dulunya memiliki kekuasaan atas wanita, namun setelah kami hidup dengan kaum Ansar [Muslimin dari Medina], kami melihat bahwa wanita Ansar memiliki kuasa atas kaum lelaki, sehingga wanita kami mulai mengikuti contoh mereka. Suatu hari saya berteriak kepada isteri saya dan ia malah membalas dengan membayar saya dengan uang logam dan saya tidak suka bahwa ia menyahuti saya. Isteri saya mengatakan, 'Mengapa kau tersinggung jika saya menegurmu? Demi Allah, para isteri Nabi menegurnya, dan akibatnya mereka bahkan tidak boleh berbicara padanya sehari penuh sampai malam.'
Apa yang dikatakannya, membuat saya takut dan saya mengatakan, 'Siapapun dari mereka yang berbuat demikian akan mengalami rugi besar.' Lalu saya pergi ke Hafsa dan bertanya, 'Apakah kalian membuat marah Rasulullah sepanjang hari sampai malam?' Ia menjawab iya. Saya mengatakan, 'Kau adalah orang yang kalah dan hancur (dan tidak pernah akan mendapat sukses)! Apakah kau tidak takut bahwa Allah akan membalas kemarahan rasulNya dan akibatnya kau akan dihancurkan? Jangan meminta terlalu banyak dari Rasulullah, dan jangan menegurnya ataupun mengacuhkannya. ... jangan tergoda untuk mengikuti contoh tetanggamu (Aisha) karena ia (Aisha) lebih cantik darimu dan lebih dicintai Rasulullah’.”
"Akhirnya, saya menghampiri nabi dan melihatnya berbaring diatas tikar ... Saya menyalaminya dan sambil berdiri mengatakan "Apakah anda menceraikan isteri2 anda?' Ia menjawab tidak. Saya kemudian berkata: "Dengarkanlah Hai Rasulullah! Kami, rakyat Quraish dulu memiliki kuasa atas wanita kami, dan setelah kami tinggal diantara mereka yang membiarkan wanita mereka menguasai mereka ..."
'Umar menceritakan seluruhnya tentang isterinya. "Kemudian Nabi tersenyum." 'Kata Umar kemudian, "Saya lalu mengatakan, 'Saya menemui Hafsa dan mengatakan kepadanya: Jangan mengikuti contoh temanmu ('Aisha) karena ia lebih cantik dan lebih dicintai Nabi.' Rasulullah tersenyum kembali.” [2]
Hadis diatas cukup jelas. Rakyat Mekah lebih picik dari orang2 Arab lainnya. Sering orang dalam komunitas agama lebih ekstrimis dan misoginis dari rakyat yang hidup di kota2 besar yang kurang religius. Namun nampaknya Umar dan Muhamad ini lebih picik dari orang Mekah pada umumnya. Dengan kata lain, mereka yang paling picik (maha picik) dari yang picik. Sementara kebanyakan orang Mekah tidak pusing mendengarkan ocehan wanita atau menerima otoritas boss wanita, kedua orang ini menganggap emansipasi wanita sebagai hal tidak pantas dan harus dihancurkan.
2) Hijab diusulkan Umar dan diterima Allah. Terdakwa yang berusia lanjut -- takut kalau2 lelaki muda lain menaksir isteri2nya yang muda dan cantik dan "menyentuh" mereka -- memerintahkan agar isteri2nya menutupi tubuh dan wajah mereka. Tentu dengan pertolongan wahyu berikut ini : 33.59 : “O Prophet! Tell thy wives and daughters, and the believing women, that they should cast their outer garments over their persons (when abroad): that is most convenient, that they should be known (as such) and not molested.”
Umar menjelaskan bagaiman surah diatas “turun" karena permintaannya. "Allah setuju dengan saya ('Umar) dalam 3 hal ... (2) dan mengenai penutupan tubuh wanita, saya mengatakan 'Wahai Rasululllah! Saya ingin anda memerintahkan isteri2 anda agar menutupi diri dari lelaki karena orang baik maupun buruk berbicara kepada mereka .' Akhirnya surah tudung bagi wanita diturunkan.” [3]
Tidakkah aneh bahwa Pencipta Alam Semesta menunggu usul salah satu ciptaannya untuk menurunkan peraturan bagi manusia? Umar dengan lugu menyombongkan diri bahwa Allah setuju dengannya. Namun, tidak semua teman Terdakwa sebodoh Umar. Abdullah ibn Sarh lebih pintar dari Muhamad. Ia meninggalkan Muhamad dan Islam setelah ia melihat bahwa Allah sering mengganti2 wahyuNya dan terus mengupayakan perbaikan surah. Namun ini topik lain. Yang penting bagi kita disini adalah fakta bahwa kaum wanita jaman pra-Islam tidak mengenakan tutup tubuh dan wajah seperti dipaksakan kepada wanita Islam sekarang. Tutup tubuh wanita ini timbul karena perasaan rendah diri Muhamad, karena sebagai orang berusia lanjut ia takut kalau2 haremnya, wanita2 cantik dan muda, dicuri lelaki lain.
Ketakutan orang tua ini tercermin dalam surah2 yang "katanya" datang dari mulut Allah. Q.33:30 = O Consorts of the Prophet! If any of you were guilty of evident unseemly conduct, the Punishment would be doubled to her, and that is easy for Allah. 31. But any of you that is devout in the service of Allah and His Messenger, and works righteousness,- to her shall We grant her reward twice: and We have prepared for her a generous Sustenance. [4]
Muhamad sering memperingatkan isteri2nya agar tidak menarik perhatian lelaki lain dan menutupi tubuh dan wajah mereka agar tidak menjadikan diri mereka obyek nafsu lelaki.
32. O Consorts of the Prophet! Ye are not like any of the (other) women: if ye do fear (Allah), be not too complacent of speech, lest one in whose heart is a disease should be moved with desire: but speak ye a speech (that is) just.
33. And stay quietly in your houses, and make not a dazzling display, like that of the former Times of Ignorance; and establish regular Prayer, and give regular Charity; and obey Allah and His Messenger. And Allah only wishes to remove all abomination from you, ye members of the Family, and to make you pure and spotless. [5]
Disini terlihat jelas bahwa wanita jaman pra-Islam dapat keluar rumah tanpa tutup tubuh atau wajah dan memamerkan diri. Sekarang, wanita muslim---menunjukkan rambut atau lengan dari dalam mobilnya sendiri bisa diseret keluar dan dihajar polisi moral Islam di negara2 seperti Iran dan Saudi Arabia seperti juga di Afghanistannya Taleban. Hanya sedikit negara2 Islam yang mengijinkan wanita keluar rumah, apalagi dengan "dazzling display”/memamerkan diri secara menyilaukan.
3) Lelaki adalah Pemelihara Wanita dan lebih Superior dari Wanita. Terdakwa tidak hanya merampas kebebasan wanita untuk berpakaian namun ia menaklukkan mereka dibawah lelaki dan tergantung lelaki. Ini katanya : ”Men are the maintainers of women because Allah has made some of them to excel others and because they spend out of their property; the good women are therefore obedient, guarding the unseen as Allah has guarded.” [6]
Surah diatas merendahkan wanita sejajar dengan binatan piaraan, memberikan lelaki kuasa untuk memeliharanya bak onta atau keledai. Anehnya, Terdakwa TIDAK SADAR, ketika ia masih miskin dulu, ADALAH ISTERINYA, SANG BUSINESS-WOMAN KHADIJAH, yang memeliharanya! Terdakwa juga lupa bahwa dulu ia hidup dari kocek Khadijah.
Dalam surah ini Muhamad secara tegas menunjukkan bahwa lelaki memiliki derajat kemampuan lebih tinggi dari wanita. ”And women shall have rights similar to the rights against them, according to what is equitable; but men have a degree (of advantage) over them.” [7]
Terdakwa berupaya sekeras mungkin agar membuat wanita takluk pada suami. Menurutnya, wanita yang tidak mematuhi suami akan ke neraka. Terdakwa mengatakan: ”I also saw the Hell-fire and I had never seen such a horrible sight. I saw that most of the inhabitants were women." The people asked, "O Allah's Apostle! Why is it so?" The Prophet replied, "Because of their ungratefulness." It was asked whether they are ungrateful to Allah. The Prophet said, "They are ungrateful to their companions of life (husbands) and ungrateful to good deeds. If you are benevolent to one of them throughout the life and if she sees anything (undesirable) in you, she will say, 'I have never had any good from you.' " [8]
4) Suami bisa MEMUKUL Isteri2 Terdakwa juga memerintahkan para suami agar memukuli isteri jika tidak patuh. ”and (as to) those on whose part you fear desertion, admonish them, and leave them alone in the sleeping-places and beat them; then if they obey you, do not seek a way against them; surely Allah is High, Great.” [9]
Diriyawahkan Mishkat al-Masabih : "surah diatas diturunkah sehubungan dengan seorang wanita yang mengeluh kepada Muhamad karena suaminya menamparinya di mukanya (yang masih ada bekas tamparannya). Pada mulanya, nabi mengatakan: 'Balaslah suamimu', namun kemudian menambahkan, 'TUNGGU! Saya mau berpkir dulu.' Setelah surah diatas diwahyukan, nabi mengatakan: 'Kami ingin satu hal namun Allah menginginkan lain, dan apa yang diinginkan Allah adalah yang terbaik.'" [10]
Mungkin sang nabi tadinya kasihan pada wanita tersebut tetapi mengingat isteri2nya sendiri yang suka mbalelo ia kemudian membuat Allah-nya mengumumkan surah yang tidak berperikemanusiaan ini, memberi lelaki hak untuk memukuli isterinya kalau membandel.
Jelas dari surah diatas, syarat seorang isteri dipukul, tidak perlu menunggu sampai si isteri tidak mematuhi suaminya. Cukup dengan adanya KEKKHAWATIRAN/KECURIGAAN suami bahwa isterinya tidak patuh, tangannya berhak melayang ke tubuh isteri.
Seperti dikatakan muslimah dan penulis Canada, Irshad Manji , dalam bukunya "The trouble with Islam (hal. 34 mengenai Q4:34) : "To deserve a beating, a woman doesn't have to disobey anybody, a man merely has to fear her disobedience. His insecurity becomes her problem" .
5) Wanita baik2 tidak mengeluh jika suami memukuli mereka: Book 11, Number 2141: Narrated Abdullah ibn AbuDhubab: Iyas ibn Abdullah ibn AbuDhubab melaporkan Rasulullah (saw) sebagai mengatakan : jangan memukuli wanita2 Allah, namun ketika Umar datang pada Rasulullah (saw) dan mengatakan : Perempuan menjadi lebih berani terhadap suami mereka, IA (RASULULLAH) MEMBERIKAN IJIN UNTUK MEMUKULI MEREKA. Lalu banyak wanita datang kepada keluarga Rasulullah mengeluh tentang suami mereka. Akhirnya Rasulullah mengatakan : Banyak wanita datang kepada keluarga saya mengeluh tentang suami mereka. Mereka bukanlah yang terbaik diantara kalian.
Sang suami bahkan tidak perlu menjelaskan alasan mengapa memukuli isterinya. Book 11, Number 2142: Diriwayahkan Umar ibn al-Khattab: Rasulullah (saw) mengatakan: Seorang lelaki tidak akan ditanya mengapa ia memukuli isterinya.
Terdakwa malah menuntut bahwa isteri bersujud dihadapan suaminya : Kalau ada orang yang saya perintahkan untuk bersujud maka saya akan memerintahkan WANITA untuk bersujud kepada suami mereka, karena hak khusus yang diberikan Allah kepada para suami. [11]
Muhamad sendiri memukuli isterinya. Dalam sebuah hadis, Aisha meriwayahkan bahwa suatu malam Muhamad meninggalkan rumah mereka setelah ia menyangka Aisha sudah tidur. Diam2 ia mengikuti Muhamad dan ketika Muhamad kembali ke rumah ia menemui Aisha kehabisan nafas. Muhamad curiga dan meminta pengakuan dari Aisha dengan mengatakan jika ia menyembunyikan sesuatu para hantu akan memberitahunya. Aisha mengatakan bahwa setelah ia mengaku, Ia memukuli saya di dada saya yang mengakibatkan sakit ... [Muslim4.2127 ]
6) Kekurangan Wanita Sebuah hadis melaporkan pertemuan Terdakwa dengan para wanita dimana ia menyebut mereka “deficient in intelligence and religion/kurang dalam hal intelektualitas dan agama”: ”Once Allah's Apostle went out to the Musalla (to offer the prayer) o 'Id-al-Adha or Al-Fitr prayer. Then he passed by the women and said, "O women! Give alms, [this money would go to him as the viceroy of God on Earth and he would distribute it to those whose favor he was seeking or to make the show of generosity] as I have seen that the majority of the dwellers of Hell-fire were you (women)." They asked, "Why is it so, O Allah's Apostle ?" He replied, "You curse frequently and are ungrateful to your husbands. I have not seen anyone more deficient in intelligence and religion than you. A cautious sensible man could be led astray by some of you." The women asked, "O Allah's Apostle! What is deficient in our intelligence and religion?" He said, "Is not the evidence of two women equal to the witness of one man?" They replied in the affirmative. He said, "This is the deficiency in her intelligence. Isn't it true that a woman can neither pray nor fast during her menses?" The women replied in the affirmative. He said, "This is the deficiency in her religion." [12]
Kasus diatas tersebut menunjukkan misogyny (kebencian terhadap wanita) dimana Terdakwa pertama2 merampas hak perempuan dan lalu mengutuk mereka karena tidak memiliki hak2 tersebut. Tidak puas dengan mengakibatkan sakit badan, Terdakwa juga menghina wanita dengan menyalahkan korban. Hadis diatas ini dilaporkan oleh berbagai narator dan juga dicatat dalam Sahih Muslim, hadis yang paling otoritatif tentang Terdakwa/Muhamad.
7) Perempuan diciptakan UNTUK Lelaki Dalam surah berikutnya Terdakwa mengatakan : "dan Ia memberikan tanda2 bahwa Ia menciptakan bagi mu, dari mu, isteri, sehingga kau dapat “repose in them”/mengasuh didalam mereka" [13]
Bahasa Arabnya menegaskan bahwa “bagi mu” menunjuk pada jenis kelamin lelaki dan "mereka" pada jenis kelamin wanita. Kenyataannya Allah dalam Quran tidak pernah berbicara langsung kepada perempuan. IA selalu berbicara kepada nabi atau para pengikut lelakiNya dan yang dimaksud dengan surah ini adalah : wanita diciptakan UNTUK lelaki, demi kesenangan lelaki.
Razi dalam At-Tafsir al-Kabir, mengomentari Q. 30:21 : "Perkataannya 'diciptakan bagi mu' adalah contoh bahwa wanita diciptakan seperti binatang dan tanaman, seperti juga Sang Pencipta mengatakan 'Ia menciptakan bagimu apa yang ada di bumi' dan ini membuat wanita TIDAK diciptakan bagi ibadah ataupun menyampaikan perintah2 Ilahi. Kami mengatakan 'menciptakan wanita' adalah salah satu karunia yang diberikan kepada kami dan juga memberikan mereka hak atas perintah Ilahi namun TIDAK SEBAGAIMANA LELAKI diberikan tanggung jawab tersebut. Karena wanita tidak diberikan hak memerintah seperti lelaki, karena PEREMPUAN LEMAH, DUNGU, SEPERTI ANAK KECIL dan hak memerintah tidak diberikan kepada anak kecil, namun kepada lelaki. Wanita harus di beri tanggung jawab agar mereka takut kepada siksaan hukuman dan mengikuti suaminya dan menjauhi apa yang dilarang, kalau tidak korupsi menjalar."
Hadi Sabzevari, seorang pemikir Islam ternama, dalam komentarnya terhadap seorang pemikir Islam ternama lainnya, Sadr al-Mote'alihin, menulis : Bahwa Sadr ad-Deen Shirazi mengklasifikasikan wanita sebagai binatang adalah penunjukkan halus kepada kenyataan bahwa wanita, mengingat kekurangan mereka dalam hal intelektualitas dan pengertian mengenai hal2 mendetail, dan mengingat kesenangan mereka atas perhiasan materi, memang tepat dan adil disejajarkan kepada binatang [al-haywanti al-sa^mita].
Mereka memiliki sifat binatang [ad-dawwa^b], namun mereka diberikan bentuk badan manusia sehingga lelaki tidak akan malu/jijik/enggan untuk berbicara kepada mereka dan mengadakan hubungan sex dengan mereka. Oleh karena itulah hukum sempurna kami [shar'ina al-mutahhar] berpihak kepada lelaki dan memberi mereka superioritas dalam segala hal termasuk perceraian, "nushuz," etc. [14]
Para pemikir diatas tidak membuat2 pernyataan merendahkan perempuan ini. Mereka Menginterpretasikan perkataan Muhamad, yang menurut mereka adalah rasul terhebat Allah yang contohnya harus diikuti. Malahan pernyataan "naqisatan 'aqlan wa dinan" (defisien dalam intelektualitas dan agama), sering digunakan orang2 Arab dan merupakan acuan kepada wanita dan berasal dari perkataan Muhamad.
Wanita yang menolak Sex akan Dikutuk Malaikat. Hadis berikut ini menjelaskan bahwa wanita diciptakan bagi lelaki, bagi kepuasan lelaki. Rasulullah mengatakan, "Jika seorang suami memanggil isteri ke tempat tidur dan ia menolak dan mengakibatkannya tidur selagi marah, para malaikat akan mengutuknya sampai keesokan hari." [15]
Membaca hadis diatas tersebut akan membuat orang terheran2, apakah Allah tidak memiliki urusan lain selain menyibukkan diri dengan kenikmatan seksual lelaki muslim?
Adalah tidak masuk akal bahwa Allah akan mengirimkan pasukan malaikatnya untuk nongkrong semalam suntuk dan mengutuk wanita yang enggan menghibur suami secara seksual. Mengutuk berarti mengundang dendam Ilahi. Mengapa Allah memerlukan begitu banyak malaikat kalau Ia sendiri cukup mampu menghukum para wanita itu?
Ternyata the Divine House of Allah itu mengandung banyak kekurangan dan mismanagement. Seperti presiden sebuah negara yang mengirimkan stafnya untuk me-lobby rencana2 yang akan dilakukannya. Ini tidak masuk akal. Lebih banyak lagi hadis menyentuh topik ini :
”Abu Huraira melaporkan Rasulullah sebagai mengatakan : ... jika seorang lelaki memanggil isterinya ke tempat tidur dan ia tidak menanggapi maka Sang Pencipta di Surga tidak akan suka dengannya kecuali suaminya kembali suka kepadanya.” [16]
Dan ”Nabi mengatakan, "Jika seorang wanita melewatkan malam mengacuhkan tempat tidur suaminya, maka malaikat akan mengutuknya sampai ia kembali ke suaminya." [17]
Sulit mencari alasan mengapa Terdakwa begitu mempersoalkan kebutuhan sex lelaki. Apakah Terdakwa hanya ingin menakut-nakuti isteri2nya yang masih remaja agar tidak menolak tuntutan seksualnya? Mungkin Terdakwa dalam usia lanjutnya bergigi keropos, bernafas tidak sedap dan mungkin juga impoten? Atau mungkin Allah pekerjaannya sebagai GIGOLO/"pimp" ?
Menurut nabi egois ini, nafsu seksual lelaki begitu darurat sampai sang wanita harus mengorbankan makanan dalam kompor. "Rasulullah mengatakan : Kalau seorang suami memanggil isterinya untuk memuaskan nafsunya, ia harus datang padanya walaupun ia sibuk didepan kompor." [18]
9) Wanita adalah Pudenda (Pudendum [Latin]: A thing to be ashamed of)?!! Muhamad tidak puas menghina wanita malah membandingkan mereka sebagai pudenda. "Ali melaporkan kata2 Rasulullah: 'Wanita memiliki 10 ('aurat). Jika ia menikah, suaminya menutupi satu, dan jika ia meninggal, kuburan akan menutupi ke 10."[19]
Apa yang dimaksud dengan AURAT? The Encyclopedia of Islam mendefinisikan 'aurat sebagai pudendum, yaitu "alat kelamin external, khususnya perempuan". [Arti "pudendum" dalam bahasa Latin adalah : hal yang memalukan, a thing to be ashamed of]"[20]
Dan menurut hadis berikut, wanita tidak hanya memliki 10 aurat, sang wanita itu sendiri dianggap aurat: "Wanita adalah aurat. Kalau ia beranjak keluar rumah, setan akan menyambutnya." [21]
Hadis berikut menunjukkan bahwa wanita tidak didorong untuk beranjak ke luar rumah, bahkan sembahyang di mesjid. "Wanita paling dekat dengan wajah Allah jika ia ditemukan di rumah. Dan ibadah wanita di rumah lebih baik daripada ibadahnya di mesjid."[22]
Ini jauh dari keadaan ketika kaum Arab menghormati wanita sebagai business-woman (Khadija), mengikuti perintah wanita sebagai pemimpin perang (Aisha), mendengarkan pemikiran wanita (Asma bt. Marwan), menerima dukungan dari mereka (Hind) dan mengikuti nabi wanita mereka. Secara bertahap, generasi baru diindoktrinasi dengan ajaran Muhamad, menjadi benci terhadap wanita dan pada akhirnya wanita Islam kehilangan hak dan kehormatan mereka.
10) Wanita kehilangan hak hukum/legal rights Defisiensi wanita dalam hal intelektualitas juga mempengaruhi hak mereka dalam hukum.
Qur'an, 2:282 "Dan panggilallah para saksi, dua saksi kalau lelaki; atau jika keduanya bukan lelaki, maka satu lelaki dan 2 wanita, jika salah satu wanita keliru maka yang lainnya akan memperingatinya. (And call in to witness two witnesses, men; or if the two be not men, then one man and two women, such witness as you approve of, that if one woman errs the other will remind her)."
Dengan kata lain, bukan hanya seorang wanita tidak bisa memberikan kesaksian, namun kalau tidak ada kehadiran saksi lelaki, maka kesaksian wanita itu tidak ada artinya. Jadi kalau seorang wanita diperkosa dan ia tidak dapat membawa saksi lelaki ia TIDAK dapat memberikan kesaksian melawan sang pemerkosa. Namun, kesaksiannya itu malah dianggap sebagai pengakuan seks tidak senonoh dan bisa digunakan untuk menghukum balik SANG WANITA! Apalagi jika sang korban perkosaan menjadi hamil, bukti hasil perkosaan, ia dapat dituduh dan dihukum rajam sampai mati.
Jury mudah2an masih mengingat kasus AMINA LAWAL yang oleh pengadilan syariah Nigeria dikenakan hukuman rajam pada saat bayinya tidak lagi perlu susu ibu.
11) Hak Waris Wanita lebih kecil Muslim apologists mengatakan bahwa sebelum Islam, wanita tidak memiliki hak sama sekali dan tidak menerima waris. Ini jelas tidak terbukti. KHADIJA MENERIMA KEKAYAANNYA LEWAT WARIS. Ketika Muhamad memutuskan bahwa hak waris wanita setengah dari hak waris saudara lelaki mereka, wanita tidak menerima ini dengan tangan terbuka.
4.11 - “Allah memberikan hak (waris) kepada anak2mu : kepada lelaki, jumlah bagian yang sama dengan 2 perempuan”.
Malah salah satu isterinya mengeluh bahwa peraturan ini tidak adil bagi wanita. Umma Salmah mengatakan: "Wahai Rasulullah ! Lelaki dapat melakukan Jihad, mengumpulkan hasil perang, sementara kami tidak dan menerima setengah dari warisan." (i.e. saudara lelaki menerima dua kali jumlah yang diterima saudara perempuan). Setelah itu surah "Dan kau tidak boleh iri .... 4.32." diturunkan.” [23]
4.32 - “And in no wise covet those things in which Allah Hath bestowed His gifts More freely on some of you than on others: To men is allotted what they earn, and to women what they earn.”
Ini menunjukkan bahwa wanita sebelum Islam memiliki hak waris lebh banyak dari yang diberikan dalam masa Islam.
12) Pendapat Muhamad tentang Wanita Terdakwa begitu rendah pandangannya terhadap wanita sampai ia membandingkan mereka dengan ladang perkebunan dan lelaki dapat memasukinya dari manapaun (ana she�tom).
2.223 - “Isteri2 mu adalah ladang pertanian bagimu: jadi dekatilah ladangmu ini kapan dan bagaimanapun kau inginkan..” (sering terjemahan dihaluskan/disanitasi.)
Memang tidak pantas untuk lebih deskriptif, namun jelas bahwa kata "ana she'tom" berarti lobang perempuan manapun yang bagi lelaki diijinkan untuk dimasuki! Ini tidak lain menganggap wanita tidak lebih dari sekedar alat permainan yang diciptakan untuk kepuasan lelaki.
"'Umar pernah berbicara ketika isterinya memotong kalimatnya, jadi ia mengatakan kepadanya: 'Kamu adalah mainan ("a toy"), jika kau diperlukan kami akan memanggilmu.'"[24]
Pemikir Islam ternama, Ghazali, mengatakan : "Berada diantara wanita, memandangi mereka dan bermain dengan mereka, jiwa kembali segar, hati beristirahat dan ibadah kepada Allah diperkuat ... itulah mengapa Allah mengatakan : 'Agar ia (lelaki) bisa beristirahat didalamnya (perempuan)/That he may rest in her.' (Q. 7:189)" [25]
Surah yang dimaksudkan Ghazali adalah:
Q 7.189 - “IA-lah yang menciptakanmu dari satu orang, dan menjadikan pasangannya dari alam agar kau dapat beristirahat didalamnya. / It is He Who created you from a single person, and made his mate of like nature, in order that he might dwell with her (rest in her).”
Jelas bahwa Muhamad tidak memiliki hormat bagi wanita. Rasulullah mengatakan, "Setelah saya, tidak ada yang mengakibatkan penderitaan yang lebih besar terhadap kaum lelaki ketimbang perempuan." ("After me I have not left any affliction more harmful to men than women") [26]
Terdakwa juga membandingkan wanita dengan tulang rusuk bengkok. Wanita seperti tulang rusuk. Kalau kaumencoba meluruskannya, kau akan mematahkannya. Jika kau mendiamkannya kau akan mendapatkan manfaat dan kebengkokannya akan tetap berada didalamnya. [27]
Hadis ini diklasifikasikan sebagai "disetuju bersama" karena dilaporkan oleh kolektor hadis lainnya. Dalam hadis lain ia mengatakan : ”Wanita datang dan pergi dalam bentuk setan, jadi jika kau melihat wantia, kau harus segera kembali ke isterimu, sehingga dapat mengusir perasaan yangn ada didalammu”. [28]
11) Wanita dalam posisi tinggi Sebelum Islam, dalam negara2 non-Arab, seperti di Persia dan Byzantine, wanita memiliki lebih banyak hak dari negara2 Arab. Malah, di Iran perempuan bisa menjadi Ratu dan pemimpin negara. Apa komentar Muhamad mengenai hal ini?
Ketika Nabi mendengar berita bahwa rakyat Persia membuat puteri Khosrau Ratu (pemimpin) mereka, ia mengatakan, "Tidak pernah sebuah bangsa akan sukses jika menjadikan wanita sebagai pemimpin." [29]
Pernah saya ditanya mengapa negara2 Islam seperti Bangladesh dan Pakistan memiliki perdana menteri wanita? Jawabannya adalah bahwa banyak muslim tidak tahu agama mereka dan secara tidak sadar mengikuti adat Jahiliyah pra-Islam. Jaheliah berarti kebodohan dan Muslimin sering melakukan hal2 yang tidak menurut Islam. Tetapi Taliban, di lain pihak mengerti betul Islam. Semakin Islam sebuah negara, semakin sempurna syariah yang diberlakukan, semakin berkurang hak wanita.
12) Penguburan hidup2 bayi perempuan. Sering Muslimin memberi bukti bahwa Muhamad membebaskan wanita dengan perintah Quran yang melarang penguburan hidup2 bayi perempuan. Mereka ingin agar kau percaya bahwa ini praktek umum bangsa Arab yang hanya dihentikan setelah Islam. Namun dongeng ini bisa dibantah dengan mudah. Jika praktek ini begitu umum, bagaimana kaum Arab memiliki begitu banyak isteri dan bagaimana bangsa Arab bisa melanjutkan keturunan?
Penguburan bayi perempuan hidup2 sekarang bahkan masih dipraktekkan di China dan India. Ini dilakukan oleh golongan yang paling rendah pendidikannya dan paling miskin. Praktek ini namun demikian dianggap melanggar hukum dan para pelakunya, jika ketahuan, akan dihukum. Tidak ada alasan bahwa hal ini berbeda di negara2 Arab. Sudah jelas orang Arab tidak menyukai tindakan ini karena melanggar kemanusiaan. Ketika Muhamad melarangnya, ia sekedar mengungkapkan perasaan mayoritas. Seperti pemimpin jaman sekarang yang melarang orang minum alkohol [mabuk] sambil mengendarai mobil. Namun apakah keputusan macam ini dianggap sebagai sesuatu yang lain daripada lain?
Seperti saudara Jury bisa menyimak, wanita di masa Islam kehilangan segala hak, termasuk hak untuk bepergian sendirian. [30]
13) Allah memiliki puteri? Alangkah merendahkan bagi Allah! Pandangan Muhamad terhadap wanita begitu rendah sampai ia merasa tidak pantas bagi Allah untuk memiliki puteri jika lelaki biasa saja bisa membanggakan putera2nya.
Dalam Surah 53.19-22, setelah membantah pernytaan bahwa Allah memiliki puteri2 seperti dulunya anggapan suku Quraysh, ia mengatakan : “APA! Bagi anda anak lelaki, dan bagi IA, perempuan? Lihatlah, hal itu merupakan pembagian yang AMAT TIDAK ADIL (a division most unfair) !”
Seandainya Allah hanya memiliki puteri dan bukan putera: mengapa memangnya keadaan ini dianggap begitu tidak adil? Apakah Allah malu tidak memiliki putera? IRONISNYA MALAH MUHAMAD YANG KETIBAN NASIB INI: semua puteranya mati ketika masih bayi dan ia hanya ditinggali anak2 perempuan. BETAPA MALUNYA IA ! Seseorang dengan ego kolosal tersebut HANYA memiliki anak perempuan, yang ia anggap "sangat UNFAIR".
Kenyataan bahwa kaum Arab memiliki dewi2 adalah bukti bahwa mereka cukup menghormati perempuan sampai memberikan mereka status dewi. Menurut Muhamad, semua anggota Rumah Allah, termasuk malaikat adalah lelaki. Satu2nya kaum wanita yang ada di surga adalah para "houris", prostitut surgawi yagn diciptakan khusus bagi kenikmatan lelaki/martir muslim. Malahan, tidak banyak wanita yang diijinkan masuk Surga. Seperti dikatakan Muhamad sendiri, kebanyakan dari mereka akan berakhir di NERAKA!
14) Komentar Terdakwa lainnya yang merendahkan Wanita. Dalam sebuah hadis Muhamad menyamakan wanita dengan anjing dan keledai: ”Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, wanita dan anjing hitam.” [31] Dalam hadis lainnya ia mengartikan mimpinya tentang seorang wanita hitam sebagai “epidemi”. [32] Ia juga mengatakan bahwa wanita mengakibatkan penderitaan yang paling besar kepada lelaki: "Setelah saya, tidak ada yang mengakibatkan penderitaan yang lebih besar terhadap lelaki ketimbang wanita. " [33]
15) Isteri yang baik Satu2nya kewajiban suami adalah untuk memilihara isteri. Ia harus menyediakan makanan, rumah dan pakaian. Namun kebutuhan emosional, psikologis maupun sexual ia tidak perlu ambil pusing. Menurut Islam, kebutuhan ini tidak ada karena perempuan bukanlah manusia. Muhamad bukan saja memiliki segudang perempuan dalam haremnya ketika berusia lanjut dan mungkin juga impoten, ia malah melarang isteri2nya yang muda itu untuk menikah kembali setelah ia mati. Terdakwa begitu posesif sampai tidak sudi isterinya disentuh lelaki lain, bahkan setelah kematiannya.
Ia mensahkan poligami dan mengijinkan lelaki menikahi 4 isteri (Q.4:3) dan budak2 perempuan sesukanya. Bahkan ada yang percaya bahwa surah ini tidak membatasi jumlah isteri namun surah, namun bahwa seorang lelaki bisa menikahi sejumlah isteri, 2, tiga, dst. [34]
Oleh karena itu lelaki boleh memiliki nafsu seksual terhadap wanita lain bahkan setelah menikahpun namun: ”Wanita saleh, adalah wanita yang jika suaminya memintanya, ia menurut; jika suaminya memandanginya, isteri menyenangkannya; jika suami bersumpah; isteri memenuhinya, dan jika suami absen, isteri akan menjaga diri dan harta bendanya."[35]
Bukankah ini cara menggambarkan anjing setia? Nah, apa lagi yang harus dimiliki seorang perempuan saleh? "Wanita paling baik adalah mereka yang memiliki wajah paling cantik DAN EMAS KAWIN PALING RENDAH."[36]
Satu lagi kualitas isteri baik : "Isteri yang baik adalah yang membantu suami memikirkan dunia akhirat. Ia melakukannya dengan melakukan kewajibannya di rumahnya(membebaskan suami dari urusan rumah tangga), dan dengan memuaskan suaminya secara seksual sehingga melindunginya dari godaan seksual." [37]
Jika seorang nabi begitu membenci wantia, begitu merendahkan kepercayaan mereka, begitu menghina intelektualitas mereka, merampas hak2 mereka, apa yang dapat kita harapkan dari pengikutnya? Wanita muslim tidak pernah akan emansipasi, selama mereka menganggap Muhamad sebagai pemimpin spiritual mereka.
Jika muslimin tidak percaya saya, percayalah nabi mereka yang mengatakan: Rasulullah mengatakan, "banyak dari antara lelaki mencapai kesempurnaan namun tidak ada diantara para wanita kecuali Asia, isteri Faraoh, dan Maria, puteri 'Imran.” [38]
KESIMPULAN:
Jaksa merasa memberikan bukti berlimpah akan kejahatan Terdakwa untuk menyatakannya bersalah dalam hal misogyny, pelecehan hak wanita dan merendahkan setengah jumlah umat manusia. [39] Karena kejahatannya ini (misogyny), wanita Muslim dilecehkan hak mereka dan tidak dapat mengembang-kan potensi penuh mereka. Sebaliknya mereka menjadi obyek hinaan, diskriminasi, perkosaan, honor killing dan macam2 pelecehan fisik, emosional dan sexual tanpa diberi hak untuk membela diri ataupun menuntut hak mereka. Hasilnya, seluruh dunia Muslim tertinggal dari penduduk dunia lain karena setengah jumlah penduduknya sendiri dihalangi dari emansipasi.
Wanita dihalangi dari pendidikan karena dianggap tidak perlu. Perempuan tidak berpendidikan ini menjadi terbelakang dan tidak memiliki percaya diri. Wanita2 macam inilah kemudian membesarkan anak2 lelaki dan mencerminkan kekurangan mereka terhadap anak2 mereka. Putera2 mereka ini mewarisi harga-diri rendah (low self-esteem) ibu mereka dan "membangun" dunia Islam secara tidak memadai, tanpa kemampuan untuk mengatasi kekurangan2 didalam diri mereka: rasa takut, rasa terhina dan kebanggaan yang terluka. Pada akhirnya seluruh dunia Islam terjun dalam kegelapan, kebodohan dan kediktatoran.
Dr. Mahathir, mantan PM Malaysia, pada pertemuan puncak ke-10 Organization of Islamic Conference, memberi gambaran tepat : “Kami semua Muslim. Kami semua tertekan. Kami semua dihina.”
Ini gambaran tepat tentang perasaan Muslimin pada umumnya. Dan perasaan inferioritas ini bukan karena kekuatan Zionis yang memiliki pengaruh atas Muslimin melalui alat pencet tombol jauh (remote control), kata Dr. Mahathir, namun akibat pelecehan hak wanita di semua negara2 Islam.
Ternyata ada juga orang dengan rasa kurang percaya diri yang sanggup mencapai puncak kekuasaan seperti Sadam Husein, Osama Bin Laden atau Hasan Sabbah. Namun merekapun memiliki inferiority-complex yang merusak jiwa mereka dan akibatnya mereka bertindak secara diktatorial, terlepas dari tinggi rendahnya status mereka dalam masyarakat. Lelaki muslim macam ini haus akan kuasa, perlu menunjukkan dirinya dan perlu membuktikan kepada dunia bahwa ia seseorang yang patut diperhitungkan. Ia haus akan pengakuan dan takut diacuhkan. Ia merasa diacuhkan, dihina, dikecilkan dan oleh karena itu mencari pelampiasan dendam. Ini juga disuarakan Dr. Mahathir yang menyerukan kepada Muslimin agar mendapatkan “guns and rockets, bombs and warplanes, tanks and warships” untuk merampas kembali hak mereka dari “detractors and enemies” mereka.
Mahathir memang betul! Lelaki Muslim tertekan dan terhina. Namun faktanya adalah, penghinaan mereka tidak ada hubungannya dengan Yahudi. Ini karena cara mereka dibesarkan oleh ibu mereka dan cara Islam memperlakukan wanita. Wanita yang tidak memiliki self-esteem (rendah harga dirinya) tidak dapat membesarkan putera2 dengan harga diri tinggi. Hasilnya adalah lelaki dengan ego terluka, yang mencari kekuasaan dan pengakuan untuk mengatasi inferiority complex mereka itu.
Tidaklah aneh bahwa ibu Osama bin Laden adalah isteri yang paling tidak disukai ayahnya yang memiliki lebih dari 10 isteri? Osama dibesarkan oleh seorang ibu yang rendah harga dirinya dan ia mewarisi sifat inferior sang ibu. Kini Osama berperang melawan dirinya sendiri itu dengan menjadi pahlawan muslimin yang mendukung tindakan terornya.
Lelaki dengan harga diri rendah sangat berbahaya. Lee Harvey Oswald membunuh J.F. Kennedy tanpa alasan lain selain membuktikan diri sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia penting dan sanggup melakukan hal besar. Semua lelaki terhina ini ingin membuktikan diri, bahkan sebagai pembunuh atau teroris. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan masal 9/11 dsb guna menjadi martyr, menderita karena diri yang direndahkan. Ide untuk menjadi pahlawan, pemaparan foto mereka diseluruh dunia adalah sangat menarik bagi lelaki yang merasa hidup mereka tidak berguna.
Nabi gadungan dari tanah Arab ini tidak pernah dapat membayangkan bahwa obsesinya mengontrol isteri2nya satu hari dapat membawa dunia kepada kehancuran.
Oleh karena itu Jaksa menuntut pengutukan total terhadap MUHAMAD BIN ABDULLAH karena merampas hak wanita, merendahkan mereka pada derajat binatang piaraan dan oleh karena itu melahirkan bangsa sakit yang terdiri dari lelaki yang luka secara emosional dengan ego luar biasa, tanpa kemampuan berfungsi dalam dunia yang menuntut persamaan hak. Mereka tidak sanggup menjadi bahagia, positif dan puas. Mereka gagal dalam hubungan mereka dengan isteri dan anak mereka kecuali sifatnya patriarchal. Mereka gagal dalam masyarakat kecuali masy itu diktatorial. <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> Mereka mengulangi lingkaran pelecehan, penghinaan dan kediktatoran AD INFINITUM (tanpa akhir). Lelaki tidak berarti yang luka jiwanya karena keperluan emosi mereka tidak dipenuhi oleh ibu2 mereka yang sama2 bodoh, picik dan kurang puas secara emosional, mengenakan topeng pengingkaran/denial dan grandiositas, menyembunyikan diri dibelakang ego mereka yang cepat tersinggung. Mereka merupakan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan seluruh dunia.
Dari semua kejahatan yang dilakukan Terdakwa ; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan pedophilia, perbudakan dan genocide, ini yang paling parah. Misogyny paling menghancurkan bagi muslimin. Walaupun target misogyny adalah wanita, kerusakan yang diakibatkan dirasakan oleh setiap pengikut Muhammad. Sebuah masyarakat sakit dikembangkan oleh lelaki yang memiliki mental korban namun sombong dan egosentris, menyukai kekerasan, penyebar kebencian dan perang.
Saya menyerukan Jury (anda sekalian para pembaca) agar mengutuk Terdakwa dengan suara bulat dan menyatakannya bersalah atas misogyny. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan! <!--[if !supportLineBreakNewLine]--> <!--[endif]--> References: [1] http://anwary-islam.com/battle/ghazwah_uhud.htm [2] Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648: [3] Bukhari, v1, bk 8, sunnah 395. [4] Quran, 33:30 [5] Quran, 33:32 [6] Qurna, 4:34 [7] Quran 2:228 [8] Bukhari Volume 2, Book 18, Number 161 [9] Quran.4:34 [10] Razi, At-tafsir al-Kabir, on Q. 4:34. [11] Muslim Book 11, Number 2135) [12] Bukhari Volume 1, Book 6, Number 301 [13] Quran: 30.21 [15] (Quoted in Soroush, Abdolkarim, _Farbehtar az ideoloji_, Sera^t, Tehran, 1373 A.H.S.). [A.H.S. = After the Hegira, in Solar years]. [14] Bukhari Volume 4, Book 54, Number 460. [16] Sahih Muslim Book 008, Number 3367: [17] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 122 [18] Mishkat al-Masabih, English translation, Book I, Section 'Duties of husband and wife', Hadith No. 61. [19] Kanz-el-'Ummal, Vol. 22, Hadith No. 858. See also Ihy'a [20] The World Book Dictionary 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65. [21] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith. [22] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith. [23] (Ibn Katheer vl.1, pg.498) [24] Al-Musanaf by Abu Bakr Ahmad Ibn 'Abd Allah Ibn Mousa Al-Kanadi who lived 557H., Vol. 1 Part 2, p. 263. See also Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al- Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 52. [25] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 34. [26] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33 [27] Sahih Muslim Book 008, Number 3466 [28] Book 008, Number 3240 [29] Volume 9, Book 88, Number 219 [30] (Sahih Bukhari 2.194) [31] Muslim Book 004, Number 1032 [32] Bukhari Volume 9, Book 87, Number 163 [33] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33 [34] Razi, At-tafsir al-kabir, commenting on Q. 4:3 [35] Mishkat al-Masabih, Book 1, duty towards children Hadith No. 43. [36] Ihya' 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, vol. II, Kitab Adab al-Nikah, p. 45. [37] Ibid., p. 35 [38] Bukhari Volume 4, Book 55, Number 623 [39] For further studies, read Abul Kasem’s book on women available online and an excellent essay written by M. Rafiqul-Haqq and P. Newton called The Place of Women in Pure Islam also available online.
---------------- t.h.e.*.e.n.d. ----------------- Copy dan Print artikel ini Dan sebarluaskan !  Muslims often complain of the popular "misconceptions" about their religion in the West. We took a hard look, however, and found that the most deeply held myths of Islam are the ones generated by Muslims and Western apologists. The only glaring exception to this is the misconception that all Muslims are alike (they aren't), but even Muslims fall into this trap as well, as evidenced by the various contrary factions insisting that they are the true Muslims, while others are either infidels, hijackers, or hypocrites. Don't be fooled! Hear the myths, but know the truth. Islam Means 'Peace' Islam respects Women as Equals Jihad Means 'Inner Struggle' Islam is a Religion of Peace Islam is Tolerant of Other Religions Islam Facilitated a 'Golden Age' of Scientific Discovery Islam is Opposed to Slavery Islam is Incompatible with Terrorism Islam is a Democracy Islam Means ‘Peace’  The Myth: Lesser educated Muslims sometimes claim that the root word of Islam is “al-Salaam,” which is “peace” in Arabic. The Truth: The root word for Islam is “al-Silm,” which means “submission” or “surrender.” There is no controversy about this among Islamic scholars. Submission and peace can be very different concepts, even if a form of peace is often brought about through forcing others into submission. In truth, the Qur’an not only calls Muslims to submit to Allah, it also commands them to subdue people of other religions until they are in a full state of submission to Islamic rule. This has inspired the aggressive history of Islam and its success in conquering other cultures. Islam Respects Women as Equals  The Myth: The Qur’an places men and women on equal foundation before Allah. Each person is judged according to his or her own deeds. Women have equal rights under Islamic law. The Truth: Merely stating that individuals will be judged as such by Allah does not mean that they have equal rights and roles, or that they are judged by the same standards. In fact, Sura 37:22-23 implies that women will be punished on Judgment Day for sins committed by their husbands. There is no ambiguity in the Qur’an, the life of Muhammad, or Islamic law as to the inferiority of women to men, despite the efforts of modern-day apologists to salvage Western-style feminism from scraps and fragments of verses that have historically held no such progressive interpretation. After military conquests, Muhammad would dole out captured women as war prizes to his men. In at least one case, he advocated that they be raped in front of their husbands. Captured women were made into sex slaves by the very men who killed their husbands and brothers. There are at least three Qur’anic verses in which Allah makes it clear that a Muslim master has full sexual access to his female slaves, yet there is not one that prohibits rape. The Qur’an gives Muslim men permission to beat their wives for disobedience. It plainly says that husbands are “a degree above” wives. The Hadith says that women are intellectually inferior, and that they comprise the majority of Hell’s occupants. Under Islamic law, a man may divorce his wife at the drop of a hat. If he wishes to remarry her, then she must first have sex with another man. Men are exempt from such degradations. Muslim women are not free to marry whomever they please, as are Muslim men. Their husband may bring other wives into the marriage bed. She must be sexually available to him at all times (as a field ready to be “tilled,” according to the holy book of Islam). Muslim women do not inherit property in equal portions to males. Their testimony in court is considered to be worth only half that of a man’s. Unlike a man, she must cover her head and often her face. If a woman wants to prove that she was raped, then there must be four male witnesses to corroborate her account. Otherwise she will be jailed or stoned to death for confessing to “adultery.” Given all of this, it is quite a stretch to say that men and women have “equality under Islam” based on obscure theological analogies or comparisons. This is an entirely new stratagem that is designed to appeal to modern tastes, but is in sharp disagreement with the reality of Islamic law and history. Further Reading from the Qur'an: Veils Women Worth Less than Men Proving Rape under Islamic Law Wife-Beating Divorce - A Man's Prerogative Remarriage Men in Charge of Women Polygamy Jihad Means 'Inner Struggle'  The Myth: Islam’s Western apologists sometimes claim that since the Arabic word, Jihad, literally means “fight” or “struggle,” it refers to an “inner struggle” rather than holy war. The Truth: This is extremely difficult to reconcile with the Qur’an, which, for example, exempted the disabled and elderly from Jihad. This would make no sense if the word is being used merely within the context of spiritual struggle. It is also unclear why Muhammad would use graphic language, such as smiting fingers and heads from the hands and necks of unbelievers if he were speaking merely of personal development. With this in mind, Muslims themselves usually admit that there are two meanings to the word, but insist that “inner struggle” is the “greater Jihad,” whereas “holy war” is the “lesser.” In fact, this misconception is based only on a tiny handful of extremely weak and unreliable Hadith. By contrast the most reliable of all Hadith is that of Bukhari. The word, Jihad, is mentioned over 200 times in reference to the words of Muhammad and each one is a clear connotation to holy war. By contrast, Bukhari does not contain a single reference to Jihad within the context of “personal struggle.” Further Reading: The Greater-Lesser Jihad Myth (from a Muslim Source) Islam is a Religion of Peace  The Myth: Muhammad was a peaceful man who taught his followers to be the same. Muslims lived peacefully for centuries, only fighting in self-defense when it was necessary. True Muslims would never act aggressively. The Truth: Muhammad organized 65 military campaigns in the last ten years of his life and personally led 27 of them. The more power that he attained, the smaller the excuse needed to go to battle, until finally he began attacking tribes merely because they were not part of his growing empire. After Muhammad’s death, his most faithful followers and even his own family turned on each other almost immediately. There were four Caliphs (leaders) in the first twenty-five years. Three of the four were murdered. The third Caliph was murdered by the son of the first. The fourth Caliph was murdered by the fifth, who left a 100-year dynasty that was ended in a gruesome, widespread bloodbath by descendents of Muhammad’s uncle. Muhammad’s own daughter, Fatima, and his son-in-law, Ali, who both survived the pagan hardship during the Meccan years safe and sound, did not survive Islam after the death of Muhammad. Fatima died of stress from persecution within three months, and Ali was later assassinated. Their son (Muhammad’s grandson) was killed in battle with the faction that became today’s Sunnis. His people became Shias. The relatives and personal friends of Muhammad were mixed into both warring groups, which then fractured further into hostile sub-divisions as Islam grew. Muhammad left his men with instructions to take the battle against the Christians, Persians and Jews. For the next four centuries, Muslim armies steamrolled over unsuspecting neighbors, plundering them of loot and slaves, and forcing the survivors to either convert or pay tribute at the point of a sword. Companions of Muhammad lived to see Islam declare war on every major religion in the world in just the first few decades following his death - pressing the Jihad against Hindus, Christians, Jews, Zoroastrians, and Buddhists. By the time of the Crusades (when the Europeans began fighting back), Muslims had conquered two-thirds of the Christian world by the sword, from Spain to Syria, and across North Africa. The Arab slave-trading routes would stay open for another 1300 years, until pressure from Christian-based countries forced Islamic nations to declare the practice illegal (in theory). Today, there is not another religion in the world that consistently produces terrorism in the name of religion as does Islam. The most dangerous Muslims are nearly always those who interpret the Qur’an most transparently. They are the fundamentalists or purists of the faith, and believe in Muhammad’s mandate to spread Islamic rule by the sword, putting to death those who will not submit. The holy texts of Islam are saturated with verses of violence and hatred toward those outside the faith. In sharp contrast to the Bible, which generally moves from relatively violent passages to far more peaceful ones, the Qur’an travels the exact opposite path. The handful of earlier verses that speak of tolerance are overwhelmed by an avalanche of later ones that carry a much different message. While Old Testament verses of blood and guts are generally bound by historical context within the text itself, Qur'anic imperatives to violence usually appear open-ended. By any objective measure, the "Religion of Peace" has been the harshest, bloodiest religion the world has ever known. Further Reading: The Life of Muhammad: An Inconvenient Truth Muslim Terror from 9/11 through 2003 Muslim Terror in 2004 Muslim Terror in 2005 Muslim Terror in 2006 Muslim Terror in 2007 In the Name of Allah Islam is Tolerant of Other Religions  The Myth: Religious minorities have flourished under Islam. Muslims are commanded to protect Jew and Christians (the People of the Book) and to do them no harm. The Truth: Religious minorities have not “flourished” under Islam. In fact, they have dwindled to mere shadows after centuries of persecution and discrimination. Some were converted from their native religion by brute force, others under the agonizing strain of dhimmitude. What Muslims call “tolerance,” others correctly identify as institutionalized discrimination. The consignment of Jews and Christians to dhimmis under Islamic rule means that they are not allowed the same religious rights and freedoms as Muslims. They cannot share their faith, for example, or build houses of worship without permission. Historically, dhimmis have often had to wear distinguishing clothing or cut their hair in a particular manner that indicates their position of inferiority and humiliation. They do not share the same legal rights as Muslims, and must even pay a poll tax (the jizya). They are to be killed or have their children taken from them if they cannot satisfy the tax collector’s requirements. For hundreds of years, the Christian population in occupied Europe had their sons taken away and forcibly converted into Muslim warriors (known as Jannisaries) by the Ottoman Turks. It is under this burden of discrimination and third-class status that so many converted to Islam over the centuries. Those who didn’t often faced economic and social hardships that persist to this day and are appalling by Western standards of true religious tolerance and pluralism. For those who are not “the People of the Book,” such as Hindus and atheists, there is very little tolerance to be found once Islam establishes political superiority. The Qur’an tells Muslims to “fight in the way of Allah” until “religion is only for Allah.” The conquered populations face death if they do not establish regular prayer and charity in the Islamic tradition (ie. the pillars of Islam). Tamerlane and other Muslim warriors slaughtered hundreds of thousands of Hindus and Buddhists, as well as displacing or forcibly converting millions more over the last thousand years. At best, Islam has a dual personality toward other religions. In some places they are explicitly cursed by Allah, in others there appears to be a measure of tolerance shown. There are about 500 verses in the Qur’an that speak of Allah’s hatred for non-Muslims and the punishment that he has prepared for their unbelief. There is also a tiny handful that say otherwise, but these are mostly earlier verses that many scholars consider to be abrogated by the later, more violent ones. If tolerance simply means discouraging the mass slaughter of those of a different faith, then today's Islam generally meets this standard more often than not. But, if tolerance means allowing people of other faiths the same religious liberties that Muslims enjoy, then Islam is fundamentally the most intolerant religion under the sun. Islam and the “Golden Age” of Scientific Discovery  The Myth: Muslims often claim that their religion fostered a rich heritage of scientific discovery, “paving the way” for modern advances in technology and medicine. On this topic, they usually refer to the period between the 7th and 13th centuries, when Europe was experiencing its “Dark Ages” and the Muslim world was conquering new populations and culture. The Truth: Although there is no arguing that the Muslim world was more advanced during this period than the “Christian” world, the reasons for this have absolutely nothing to do with the Islamic religion (other than its mandate for military expansion). In fact, the religion actively discourages knowledge outside of itself, which is why the greatest Muslim scholars throughout history tend to be students of religion rather than science. First, the Muslim world benefited greatly from the Greek sciences, which were translated for them by Christians and Jews. To their credit, Muslims did a better job of preserving Greek text than did the Europeans of the time, and this became the foundation for their own knowledge. (One large reason for this, however, was that access by Christians to this part of their world was cut off by the Muslim slave ships and coastal raids that dominated the Mediterranean during this period). Secondly, many of the scientific advances credited to Islam were actually “borrowed” from other cultures conquered by the Muslims. The algebraic concept of “zero”, for example, is erroneously attributed to Islam, but it was, in fact, created by the Hindus and merely introduced to the West by Muslims - along with the products of other cultures that were found to be useful to their new rulers. In fact, conquered populations contributed greatly to the history of “Muslim science” until gradually being decimated by conversion to Islam (under the pressures of dhimmitude). The Muslim concentration within a population is directly proportional to the decline of scientific achievement. It is no accident that the Muslim world has had little to show for itself in the last 600 years or so, since running out of new civilizations to cannibalize. Third, even the great Muslim scientists and icons were often considered heretics in their time, sometimes for good reason. One of the greatest achievers to come out of the Muslim world was the Iranian scientist and philosopher, al-Razi. His impressive works are often held up today as “proof” of Muslim accomplishment. But what the apologists often leave out is that al-Razi was denounced as a blasphemer, since he followed his own religious beliefs – which were in obvious contradiction to traditional Islam. Fourth, even the contributions that are attributed to Islam (often inaccurately) are not terribly dramatic. There is the invention of certain words, such as alchemy and elixir, but not much else that survives in modern technology that is of any practical significance. Neither is there any reason to believe that such discoveries would not have easily been made by the West following the cultural awakening triggered by the Reformation. As an example of this, consider that Muslims claim credit for coffee, since the beans were discovered in Africa (at the time, an important source for Islamic slave trading) and first processed in the Middle East. While this is true, it is also true that the red dye used in many food products, from cranberry juice to candy, comes from the abdomen of a particular female beetle found in South America. It is extremely unlikely that the West would not have stumbled across coffee by now (although, to be fair, coffee probably expedited subsequent discoveries). In fact, the litany of “Muslim” achievement often takes the form of rhapsody, in which the true origins of these discoveries are omitted - along with their comparative significance to Western achievement. Scientific, medical and technological accomplishments are not something over which Muslim apologists want to get into a pissing contest with the Christian world. Today’s Islamic innovators are known merely for turning Western technology, such as cell phones and airplanes, into instruments of mass murder. To sum up, although the Islamic religion is not entirely hostile to science, neither should it be confused as a facilitator. The great achievements that are said to have come out of the Islamic world were made either by non-Muslims who happened to be under Islamic rule, or by heretics who usually had little interest in Islam. Scientific discovery tapers off dramatically as Islam asserts dominance, until it eventually peters out altogether. Islam is Opposed to Slavery  The Myth: Islam is intolerant of enslaving human beings. The religion eradicated the institution of slavery thanks to the principles set in motion by Muhammad, who was an abolitionist. The Truth: There is not the least bit of intolerance for slavery anywhere in the Qur’an. In fact, the “holy” book of Islam explicitly gives slave-owners the freedom to sexually exploit their slaves – not just in one place, but in at least four separate Suras. Islamic law is littered with rules concerning the treatment of slaves, some of which are relatively humane, but none that prohibit the actual practice by any stretch. The very presence of these rules (along with the fact that Muhammad owned and traded slaves) condones and legitimizes the institution of slavery. As such, this deeply dehumanizing horror has been a ubiquitous tradition of Islam since the days of Muhammad to the current plight of non-Muslims in the Sudan, Mali, Niger and Mauritania, as well as other parts of the Muslim world. There has never been an abolitionary movement within Islam (just as the religion produces no organized resistance to present-day enslavement). The abolition of slavery was imposed on the Islamic world by European countries, along with other political pressures that were entirely unrelated to Islamic law. Although horrible abuses of slaves in the Muslim world were recorded, there has been little inclination toward the documentation and earnest contrition that one finds in the West. The absence of a guilty conscience often leads to the mistaken impression that slavery was not as bad under Islam... when it is actually indicative of the tolerance that the religion has for the practice So narcissistic is the effect of Islam on the devoted, that to this day many Muslims believe in their hearts that the women and children carried off in battle, and their surviving men folk, were actually done a favor by the Muslim warriors who plucked them from their fields and homes and relegated them to lives of demeaning servitude. Shame and apology, no matter how appropriate, are almost never to be found in Dar al-Islam. Caliphs, the religious equivalent of popes, maintained harems of hundreds, sometimes thousands of young girls and women captured from lands as far away as Europe and consigned to sexual slavery. Hungarians were hunted like animals by the Turks, who carried 3 million into slavery over a 150 year period. African slaves were often castrated by their Muslim masters. Few survived to reproduce, which is why there are not many people of African descent living in the Middle East, even though more slaves were taken out of Africa in the 1300 years of Arab slave trading than in the 300 years of European slavery. The 400,000 slaves brought to America, for example, have now become a community of 30 million, with a much higher standard of living than their African peers. There is no William Wilberforce or Bartoleme de las Casas in Islamic history as there is in Christianity. When asked to produce the name of a Muslim abolitionist, apologists sometimes meekly suggest Muhammad himself. But, if a slave owner and trader, who commanded the capture and sexual exploitation of slaves, and left a 13-century legacy of religiously-based slavery, is the best that Islam can offer, then no amount of sophistry will be enough to convince any but the most ignorant. Further Reading: Slavery in Islam Islam is Completely Incompatible with Terrorism  The Myth: Islam is completely incompatible with acts of terrorism. It is against Islam to kill innocent people. The Truth: Even though many Muslims earnestly believe that their religion prohibits the killing of innocent people by acts of terrorism, the truth is certainly more complicated. This is why the Jihadis and their detractors are both able to point fingers at the other, while confidently insisting that they are the true Muslims. In fact, the definition of an “innocent person” is far more ambiguous in Islam than Muslim apologists will lead others to believe. So, also, is the definition of terrorism. First, consider that anyone who rejects Muhammad is not considered to be innocent under Islamic law. The most protected and respected of all non-Muslims are the dhimma, the “people of the book.” These would specifically be Jews and Christians who agree to Islamic rule and pay the jizya (tribute to Muslims). Yet, the word “dhimmi” comes from the Arabic root meaning “guilt” or "blame." ["...the dhimmi parent and sister words mean both 'to blame' as well as safeguards that can be extended to protect the blameworthy" Amitav Ghosh, In an Antique Land] So, if even the dhimma have a measure of guilt attached to their status (by virtue of having rejected Allah’s full truth), then how can non-Muslims who oppose Islamic rule or refuse to pay the jizya be considered “innocent?” Within the Islamic community itself there is a category of Muslims who are also said to bear guilt – greater even than the average non-believer. These are the hypocrites, or “Munafiqin,” whom Muhammad referred to in the most derogatory terms. A hypocrite is considered to be a Muslim in name only. They are distinguished either by an unwillingness to wage holy war or by an intention to corrupt the community of believers. When Muslims kill Muslims in the name of Allah (which occurs quite frequently), they usually do so believing that their victims are Munafiqin or kafir (unbelievers). This is actually a part of Islamic Law known as takfir, in which Muslims are declared apostates and then executed. (A true Muslim would go to paradise anyway, in which case he or she could hardly be expected to nurse a grudge amidst the orgy of sex and wine). In addition to the murky definition of innocence, there is also the problem of distinguishing terrorism from holy war. Islamic terrorists never refer to themselves as terrorists, but always as holy warriors (Mujahideen, Shahid, or Fedayeen). They consider their acts to be a form of Jihad. Holy war is something that Muhammad commanded in the Qur’an and Hadith. In Sura 9:29, he establishes the principle that unbelievers should be fought until they either convert to Islam or accept a state of humiliation under Islamic subjugation. This is confirmed in the Hadith by both Sahih Muslim and Bukhari. In many places, the prophet of Islam says that Jihad is the ideal path for a Muslim, and that believers should “fight in the way of Allah.” There are dozens of open-ended passages in the Qur’an that exhort killing and fighting – far more than ones of peace and tolerance. It is somewhat naïve to think that their inclusion in this "eternal discourse between God and Man" was of historical value only and not intended to be relevant to present-day believers, particularly when there is little to nothing within the text that distinguishes them in such fashion. Combine the Qur’anic exhortation to holy war with the ambiguity of innocence, and a monumental problem develops that cannot be covered over by mere semantics. Not only is there a deep tolerance for violence in Islam, but also a sharp disagreement and lack of clarity over the conditions that justify this violence... and just whom the targets may be. Even many Muslims who claim to be against terrorism still support the “insurgency” in Iraq, for example, and often entertain the allegation that there is a broader “war against Islam.” Although the Americans in Iraq are trying to protect innocent life and help the country rebuild, Muslims around the world and in the West believe that it is legitimate for Sunnis to try and kill them. Enjoying the sanction of holy war, the Mujahid reasons that it is permissible to attack fellow Iraqis – the ones helping the Americans… even if they are part of a democratically-elected Iraqi government. These non-combatants and combatants alike are believed to be the “Munafiqin” assisting the enemy “Crusaders.” Although we use Iraq as an example here, this is the same rationale that is ultimately behind all Islamic terror, from the Philippines to Thailand. Wherever the religion of Islam is a minority, there are always radicals who believe that violence is justified in bringing it to dominance - just as Muhammad taught by example in places like Mecca and the land of al-Hirath. And what of the so-called “innocents” who suffer from the bombings and shootings? Even in Muhammad’s time they were unavoidable. The much-touted hadith in which Muhammad forbade the killing of women also indicates that there were such casualties in his conflicts. If there is any doubt that he believed that the forbidden is sometimes necessary, it should be put to rest by an incident in which Muhammad's men warned him that a planned night raid against an enemy camp would mean that women and children would be killed. He merely replied “they are of them,” meaning the men. This is the slippery slope that is opened by the sanction of holy war. What starts out as the perception of a noble cause of self-defense against a supposed threat gradually devolves into a "let Allah sort them out" campaign through a series of logical steps that are ultimately justified by the sublime goal of Islamic rule. Islam is not intended to co-exist as an equal with other religions. It is to be the dominant religion, with Sharia as the supreme law. Islamic rule is to be extended to the ends of the earth, and resistance is to be dealt with by any means necessary. Apologists in the West often shrug off the Qur'an's many verses of violence by saying that they are only relevant in a “time of war.” To this, Islamic terrorists would agree. They are at war. Islam is a Democracy  The Myth: Islam is compatible with democratic principles. The religion itself is a democracy. The Truth: A democracy is a system in which all people are judged as equals before the law, regardless of race, religion or gender. The vote of every individual counts as much as the vote of any other. The collective will of the people then determines the rules of society. Under Islamic law, only Muslim males enjoy full rights. The standing of a woman is often half that of a man's - sometimes even less. Non-Muslims have no standing with a Muslim. The Islamic state is guided by Islamic law, derived from the Qur'an and Sunnah. A body of clerics interprets the law and applies it to all circumstances social, cultural and political. The people are never to be placed above the Qur'an and Sunnah any more than man should be above Allah. It is somewhat debatable as to whether there are any states in the Muslim world that qualify as actual democracies. There is no denying, however, that the tiny handful that are often held up as democratic nations are ones in which deep tension exists between the government and religious leaders, as the later often complain that it is an idolatrous system imposed on them. Islam does not facilitate democracy. Further Reading: Democracy and Islam Loyalty to a Non-Muslim Government
Pornografi yang merupakan sebuah bentuk eksploitasi berlebihan atas seksualitas â melalui majalah, buku, film dan sebagainya â tentu saja harus kita tolak dengan tegas. Tapi, sangatlah keliru bila ada yang berpikir bahwa untuk mencegah dan menghentikan pornografi, kita dapat melakukannya lewat sebuah undang-undang yang hendak mengatur moral dan akhlak manusia Indonesia secara pukul rata, seperti yang tertera dalam Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi atau âRUU PORNOâ. Kalau mau hentikan pornografi, maka seharusnya Negara mengatur âpenyebaranâ barang-barang pornografi â dan bukannya mengatur soal moral dan etika manusia Indonesia. Bukankah soal pengaturan moral dan etika itu lebih merupakan wewenang lembaga agama dan budaya? RUU Porno harus kita tolak karena⦠Pertama, RUU PORNO tak mengakui âkebhinekaanâ masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama. RUU PORNO ini dibuat berdasarkan asumsi bahwa Negara, melalui undang-undang, dapat mengatur etika dan moralitas masyarakat, terutama lewat cara berpakaian. Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara beragam yang dikenal dengan semboyan âBhinneka Tunggal Ikaâ, yang juga punya pandangan beragam tentang nilai-nilai moral. Bukanlah Negara, tetapi lembaga agama dan adat yang harus diberi kesempatan mengatur nilai-nilai moral serta tatasusila di negeri ini. Negara justru harus melindungi perbedaan nilai yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakatnya. Negara hanya bisa turut campur, lewat hukum dan penegakan hukum, bila terjadi pelanggaran terhadap hak-hak dasar (hak-hak asasi manusia) setiap warga negaranya â termasuk bila ada yang hendak âmemaksakanâ nilai-nilai moralnya kepada masyarakat dari agama atau adat-istiadat yang berbeda. Kedua, RUU PORNO mengatur moral dan etika umum berdasarkan satu pandangan agama atau budaya tertentu. Dengan mencoba mengatur moral dan etika umum, disadari atau tidak, Negara telah âterjebakâ mengadopsi nilai-nilai partikular dari agama atau budaya tertentu untuk diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pandang bulu. Hal ini berarti bahwa Negara kembali tidak menempatkan diri sebagai pelindung âkebhinekaanâ masyarakat Indonesia. Lebih buruk dari itu, Negara telah mengkhianati amanat universal dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara '45 yang menjadi dasar pijakan bagi demokrasi kita â yang jelas berbeda dari teokrasi, yang berdasarkan pada satu agama dan budaya tertentu saja. Sehingga, berpotensi menciptakan perpecahan atau disintegrasi bangsa. Ketiga, RUU PORNO menyudutkan perempuan dengan menempatkannya sebagai penyebab utama maraknya pornografi dan kebejatan moral. RUU PORNO dibuat berdasarkan asumsi bahwa kalau tidak ingin terjadi kebejatan moral dan maraknya pornografi, maka kaum perempuan harus menutup rapat-rapat seluruh tubuhnya dari pandangan kaum laki-laki. Jelas bahwa RUU PORNO ini tidak mau mengakui kenyataan bahwa nafsu tak terkendali dari orang yang memandang â baik laki-laki maupun perempuan â adalah salah satu faktor dominan terjadinya kebejatan moral atau maraknya distribusi pornografi. Pada saat yang sama, RUU PORNO pun melecehkan kaum laki-laki di Indonesia secara umum, karena menganggap bahwa mereka tak mampu mengkontrol nafsu birahinya â sebagaimana kaum laki-laki pada jaman jahiliyah di Timur Tengah. Keempat, RUU PORNO mengatur privasi atau wilayah privat dari anggota masyarakat dan bukannya melindunginya. Dengan mengatur moral dan etika umum, maka RUU PORNO telah pula mengatur hak-hak yang sangat pribadi anggota masyarakat terhadap tubuhnya â termasuk dalam hal melakukan masturbasi atau onani â dan terhadap pakaian yang hendak dikenakannya. Bukanlah urusan Negara untuk mengatur masturbasi, onani maupun kepantasan dalam berpakaian. Sekali lagi, Negara semestinya melindungi wilayah privat anggota masyarakatnya dan bukannya melakukan pengaturan secara berlebihan. Kalau tindakan perorangan ini menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak orang lain, maka hal itu seharusnya diatur melalui Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan bukannya melalui RUU PORNO. Kelima, RUU PORNO melakukan pengaturan moral atau etika umum berdasarkan dugaan yang pembuktiannya sangatlah bergantung pada âpenafsiran yang subyektif.â Dalam melakukan pengaturan moral dan etika umum, RUU PORNO telah terlalu jauh menafsirkan bahwa gambar-gambar maupun gerakan-gerakan serta desahan-desahan tertentu adalah bukti yang dengan sendirinya telah menunjukkan terjadinya tindakan yang mengarah pada âpornoaksiâ dan pornografi. Padahal, sangat mungkin, misalnya, bahwa gambar-gambar tersebut adalah karya seni, dan gerakan-gerakan atau desahan-desahan yang terjadi adalah karena sedang melakukan âkegiatan olahragaâ atau pun sedang âmengerang kesakitanâ. RUU yang penuh penafsiran seperti ini tentu tidak layak dijadikan Undang-Undang. Atas nama akal sehat, demokrasi, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan Undang- Undang Dasar '45, mari kita sama-sama tolak RUU PORNO ini Kita Tolak Pornografi Kita Tolak pula RUU Porno ini! Saya Menolak RUU APP (Rancangan Undang - Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) Tulisannya panjang sekali, tapi tetap saja tak bisa menyembunyikan "agenda hitam" di kalangan pendukung RUU APP
1. Tak bisa dipungkiri; para pendukung pengesahan RUU APP adalah Islam fundamentalis-Taliban yang ke-Arab-araban yang ingin mengubah Pancasila menjadi negara Islam, merusak kebhinekaan adat-istiadat dan budaya, memaksakan penerapan hukum Islam, secara halus maupun kasar.
2. Kampanye pendukung RUU APP selama ini cenderung tidak elegant, dan tidak cerdas, karena disertasi intimidasi dan ancaman, seperti dilakukan oleh ormas-ormas sangar seperti FPI, MMI, dan makian-makian kotor seperti orang-orang FBR di jalanan, dan pentolannya di Metro TV yang menyebut penentang RUU APP "perempuan iblis"-"perempuan bejat".
3. Pendukung Kampanye RUU APP memanipulasi fakta mewakili Islam mayoritas. Mayoritas yang mana? Islam mayoritas adalah Islam yang 40 tahun terakhir ini memenangkan pemilu lewat Golkar, PDIP, Partai Demokrat, dan PAN, bukan Islam fundamentalis yang mencoblos parta-partai gurem seperti PPP, PBB dan PKS!
4. Karena minimnya pendidikan dan wawasan, kampanye Pendukung RUU APP cenderung tidak nyaman bukan hanya bagi non muslim tapi juga Islam moderat dan abangan nasionalis.
5. Tuduhan bahwa RUU APP ditolak oleh industriawan seks adalah tuduhan keji. Karena aftifis-aktifis persamaan hak perempuan lah yang berada di garis depan, seperti Rieke Diah Pitaloka, Gadis Arivia, dan Husna yang dalam penampilannya sehari-hari sama sekali tidak pernah memperlihatkan daya tarik seks, sebaliknya memberikan argumen cerdas yang menimbulkan kepanikan dan mempermalukan penentangnya.
6. Senyatanya Alm. R. Basoeki Abdullah, Alm. Affandi, banyak melukis perempuan telanjang. Bugil. Tapi tak ada kritisi senirupa satu pun di dunia ini yang menyebut mereka sebagai "pelukis porno". Tapi dengan RUU APP - yang dibabackingi ulama-ulama dan aktifis Islam yang picik, segala yang berbau ketelanjangan berarti porno, dan itu menyesatkan.
7. Indonesia akan maju kalau mau mengikuti jejak Macan-macan Asia lain seperti Taiwan, Thailand, Hong Kong, Korea, Jepang, dan China, bukannya mengikuti Arab Saudi, Pakistan, dan Afganistan!
8. Pornografi tidak dilarang sama sekali di negara-negara "Macan Asia" itu, dan dunia global tidak pernah ada yang menyebut Jepang, Taiwan, Hong Kong, sebagai "negara porno". 9. Sedangkan Afganistan, selain negara produsen opium terbesar di dunia, juga dikenal sebagai negara yang menistakan perempuan atas nama agama. Selengkapnya lihatlah film "Osama". DVD-nya sudah beredar di Jakarta.
10. Sampai sekarang, perempuan di Arab tidak boleh menyetir mobil sendiri, menganggap pegawai sebagi budak, sehingga TKW-TKW dari Indonesia yang sudah berjilbab masih juga diperkosa, dan dianiaya. Perempuan di Arab baru masuk sekolah setelah tahun 1970-an, setelah rajanya mendapat bisikan dari menteri sendiri. "Bagaimana pun harus ada perempuan-perempuan Arab Saudi yang jadi dokter, agar istri-istri kita tidak dijamah tangan kafir". Kalah jauh dengan perempuan Indonesia. Lha kok sekarang perempuan Idonesia di-Arab-Arabkan?! 11. Di Iran, perempuan belum boleh nonton bola. Kata Presidennya yang baru ke sini, perempuan dimuliakan. Lho kok..ambivalen?
12. Bagaimana pun gagasan untuk "meng-agama-kan" negara harus ditolak, karena merupakan langkah mundur. Set-back. Produk pikiran panik. Krisis ide. Tidak ada contoh kongkrit dengan agama negara maju, dan disegani dunia. Arab Saudi menjadi negara petro dollar dan kaya raya karena mengundang dan bekerjasama dengan "kafir sekuler" Amerika. Kalau tidak, mereka masih tinggal di tenda-tenda gurun pasir.
13. Aib Kristen di abad pertengahan dengan mendirikan negara Agama di Eropa hendaknya menjadi pelajaran mahal dan jangan ditiru apalagi diulang di zaman sekarang. Oleh agama mana pun.
14. Hentikan impian kosong pemerintah agama membawa kesejahteraan. Para pemimpin agama bisa sama kejam, haus darah, dan sama totaliternya dengan rejim militer di masa Orba. Hal itu sudah diperlihatkan oleh Ormas-ormasnya.
15. Masa depan dunia ada di sekularime. Makin sekuler pemerintahan, makin maju. Agama harus membatasi diri agar tidak menjadi beban.
16. Dunia makin demokratis, dan makin sekuler. Hanya negara-negara yang memisahkan urusan agama dan negara saja yang bisa maju dan sejahtera.
17. Tak bisa disangkal, para pendukung RUU APP kaum sektarian, kaum pembeo, fanatik buta, dan tidak gaul. Berbeda dengan penentang RUU APP yang cerdas, berwawasan, modern, dan sadar hidup di abad 20 di dunia global. Bukan di gurun pasir di abad ke-7!
Wassalam United We Stand It's not supposed to be a clever slogan or a fancy title. This is way bigger than that. it's a statement, and it's a call to action for us. All over this big old planet we temporarily call home there is a generation rising up and joining in....living lives that declare the prasises of GOD, and are passionate about bringing hope and answer to a lost and broken humanity. It's a stand that goes beyond the four walls of our church buildings, and an understanding that there's no time to waste...wherever life and circumstances find us; day after day after da... It's time to stand up.... Breaking down religion and standing for TRUTH, LOVE and JUSTICE - that's what we're all about. It's happening all across the earth... and it's getting louder. It's time for us to stand... United in our love for GOD and Our Love for all the people..Not just in Intention...But in Our Action..... Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
Sometimes people come into your life and you know right away that they were meant to be there, they serve some sort of purpose, teach you a lesson or help figure out who you are or who you want to become. You never know who these people may be; your roommate, your neighbor, professor, long lost friend, lover or even a complete stranger who, when you lock eyes with them, you know that very moment that they will affect your life in some profound way. And sometimes things happen to you and at the time they seem horrible, painful and unfair, but in reflection you realize that without overcoming those obstacles you would never have realized your potential, strength, will power of heart. Everything happens for a reason. Nothing happens by chance or by means of good or bad luck. Illness, injury, love, lost moments or true greatness and sheer stupidity all occur to test the limits of the soul. Without these small tests, if they be events, illnesses or relationships, life would be like a smooth paved, straight, flat road to nowhere. Safe and comfortable but dull and utterly pointless. The people you meet who affect your life and successes and downfalls you experience, they are the ones who create who you are. Even the bad experience can be learned from... Those lessons are the hardest and probably the most important ones. If someone hurts you, betrays you, or breaks your heart... forgive them, for they have helped you learn about trust and the importance of being cautious to whom you open your heart. If someone loves you, love them back unconditionally, not only because they love you, but because they are teaching you to love and opening your heart and eyes to things you would have never seen or felt without them. Make every day count. Appreciate every moment and take from it everything that you possibly can, for you may never be able to experience it again. Talk to people you have never talked to before, and actually listen, let yourself fall in love, break free and set your sights high. You can make of your life anything you wish. Create your own life and then go out and live it. I wish you all the best in your endeavors as well as struggles in life. Have a fighting spirit and never hesitate to get back in the struggle! *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, Communication and English Literature Department Daryl Production is a a trademark of Daryl Hidayat Publisher, INC. and is registered in the U.S Patent and Trademark Office and Australia Patent Office. daryl zhe sheng ming jiu gai wan zheng de guo,guo zuo luan ruo cong lai bu shu yu wo United We Stand It's not supposed to be a clever slogan or a fancy title. This is way bigger that that. it's a statement, and it's a call to action for us. All over this big old planet we temporarily call home there is a generation rising up and joining in....living lives that declare the prasises of GOD, and are passionate about bringing hope and answer to a lost and broken humanity. It's a stand that goes beyond the four walls of our church buildings, and an understanding that there's no time to waste...wherever life and circumstances find us; day after day after da... It's time to stand up.... Breaking down religion and standing for TRUTH,LOVE and JUSTICE- that's what we're all about. It's happening all across the earth... and it's getting louder. It's time for us to stand... United in our love for GOD and Our Love for all the people..Not just in Intention...But in Out Action..... GURU KENCING BERDIRI, MURID LARI TERKENCING-KENCING Seluruh isi email ini merupakan isi kepala dari Daryl sendiri, jadi boleh aja kalo mau disebarluaskan, dibikin poster, di jadiin selebaran gelap, atau mau dijadiin bungkus kacang. Segala celaan, cemoohan, hinaan, hujatan, makian, dsb terhadap isi, artikel, puisi, pantun, prosa, dll bisa langsung dikirim ke http://mail.yahoo.com/config/login?/ym/Compose?To%3ddarylcom2380@yahoo.com%27%29;" target=_blank>darylcom2380@yahoo.com kalo ada pujian, decak kagum, parcel, angpao atau apapun juga bisa di kirim ke http://mail.yahoo.com/config/login?/ym/Compose?To%3ddarylcom2380@yahoo.com%27%29;" target=_blank>darylcom2380@yahoo.com I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. Orang yang besar adalah orang yang mampu menertawakan kebodohannya sediri, sambil belajar dari kebodohan-kebodohan yang pernah dilakukannya di masa lalu dan memperbaikinya di masa depan. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama) Mari Kita belajar untuk tidak menanam kangkung tetapi belajar juga menanam pohon jati untuk masa depan yang lebih baik dari yang sekarang untuk kita, bangsa dan Negara Indonesia. CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** Kemarin (29/1), masyarakat China merayakan Tahun Baru Imlek 2557. Dua hari setelah itu, umat Islam merayakan Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1427 (31/1). Ada makna penting di balik perayaan kedua tahun baru itu, yaitu hubungan erat Islam-China sebagai sebuah peradaban dan kebudayaan dalam konteks dunia dan Indonesia. Jalur ke China Ketika Islam lahir sebagai sebuah agama pada paruh pertama abad VII Masehi, China sudah lebih dulu menguasai berbagai aspek penting dunia, mulai perdagangan hingga kekuasaan politik yang membentang. Islam mulai berhubungan dengan China saat Islam berangsur menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang patut diperhitungkan. Harus dikatakan, hubungan Islam-China terjalin cepat karena sebelumnya telah ada hubungan dengan pedagang Arab. Saat Islam berkembang, kemungkinan, para pedagang Arab yang telah masuk Islam melanjutkan aktivitas ekonomi dengan China. Inilah yang membuka celah bagi perkembangan Islam di China dan membuat hubungan keduanya berlanjut (Broomhall, 1905). Hubungan Islam-China kian erat berkat dua kekuasaan politik besar: Khilafah Umayyah (661-750) dan Khilafah Abbasiyyah (750-1258) di Barat mewakili Islam dan Dinasti Tâang (618-907) dan Dinasti Tsung (960-1280) di Timur mewakili China. Pada massa Umayyah, perdagangan ke China dilakukan melalui darat. Perang antara kaum Muslimin, China dengan suku Tibet membuat jalur darat terputus. Hal ini menjadikan jalur laut menjadi alternatif untuk mencapai China. Sejak masa Abbasiyyah, perdagangan jalur laut meningkat pesat (Tibbets, 1957). Para pedagang Muslim yang menggunakan jalur laut menuju China, mau tidak mau, harus melewati Nusantara: dari laut Nusantara di Aceh, selat Melaka yang membelah Pulau Sumatra dan semenanjung Melayu hingga menuju China. Berkat jalur laut inilah Islam tersebar di Nusantara yang kala itu masih menganut animisme, Hindu, dan Buddha. Perjalanan para pedagang Muslim menuju China membuat Islam sebagai agama masuk secara perlahan di Nusantara. China-Islam Nusantara Hubungan China dengan Nusantara sudah ada sebelum Islam masuk. Sumber-sumber China menyebutkan, tahun 1275 kaisar China tidak lagi menerima upeti dari San-Fo-Tsi (Sriwijaya), tetapi dari Sa-Wen-Ta-La (Samudera) (Ambary, 1990). Hal ini dipertegas kesaksian Marco Polo yang pada tahun 1292 berkunjung ke Samudera Pasai. Ia mengatakan, raja Samudera Pasai tunduk pada kekuasaan China, namun tidak dapat bayar upeti karena jauhnya jarak untuk sampai ke China (edisi Prancis: 1865&1989). Kedekatan hubungan China-Nusantara berlanjut saat orang-orang Arab yang ada di China dan orang-orang China yang masuk Islam datang menyebarkan Islam di Nusantara. Karena itu, salah satu teori yang berkembang hingga kini, China memainkan peran penting dalam proses Islamisasi Nusantara. Peran âjalur Chinaâ amat besar dalam proses masuknya Islam ke Trengganu pada abad XIV, dan ke Jawa pada abad XV. Islam di kedua daerah ini dianggap datang dari China melalui Champa (kini Kamboja). China menunjukkan peran yang kian penting saat kaisar Ming mengirim Laksamana Cheng-Ho dan penerjemahnya, Ma Huanâkeduanya beragama Islamâdalam ekspedisi ke Nusantara beberapa kali sepanjang abad XIV untuk menjalin hubungan politik dan ekonomi. Profesor Rahmat Mulyana (1968) memaparkan jasa Laksamana Cheng-Ho dalam Islamisasi di tanah Jawa. Bahkan, beberapa masjid didirikan atas perintah Cheng-Ho. Karena itu, tak heran jika ada akulturasi arsitek Islam-China sebuah masjid, misalnya masjid di Semarang bekas peninggalan Cheng-Ho. Tetapi, yang membuat geger tahun 1970-an di Indonesia ialah tulisan Mulyana yang menyatakan Wali Songo adalah keturunan China. Hal ini perlu dikaji lagi. Tetapi paling tidak, dalam sejarah tercatat, istri Sunan Ampel adalah putri Champa yang masih saudara istri Brawijaya V, ibu dari Raden Fattah. Salah satu istri Sunan Gunung Djati adalah putri China yang hingga kini kuburannya di Cirebon menjadi tempat ziarah masyarakat China. Daniel Perret (2005) menjelaskan, menara dan masjid Agung Banten merupakan hasil seorang arsitek China. Ini menunjukkan peran penting China dalam proses Islamisasi Nusantara. Sejarah perekat Kedekatan Islam-China dari dulu hingga kini harus membuat umat Islam dan masyarakat China di Indonesia menghilangkan rasa curiga dan sikap rasis yang kadang muncul dan membuat hubungan keduanya tegang. Dengan tahun baru Imlek 2557 dan Hijriah 1427, kita buka lembaran baru dan menghilangkan pandangan dikotomis pribumi-China, serta membuang perasaan dan sikap anti-China dan anti-Pribumi (Islam). Dengan kesadaran sejarah ini semoga dapat lebih mempererat jalinan dan untaian kebangsaan kita. Gong Xi Fa Cai dan Marhaban Ya Sanah Jadîdah! *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, History and Indonesian Literature Department Manusia Terbaik Di Dunia Adalah Seorang PENJAHAT Seluruh isi email ini merupakan isi kepala dari Daryl sendiri, jadi boleh aja kalo mau disebarluaskan, dibikin poster, di jadiin selebaran gelap, atau mau dijadiin bungkus kacang. Segala celaan, cemoohan, hinaan, hujatan, makian, dsb terhadap isi, artikel, puisi, pantun, prosa, dll bisa langsung dikirim ke darylcom2380@yahoo.com kalo ada pujian, decak kagum, parcel, angpao atau apapun juga bisa di kirim ke darylcom2380@yahoo.com I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER
Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEHKARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** Imlek di Indonesia dari tahun ke tahun kian meriah. Di pusat perbelanjaan, televisi, reklame, koran, majalah, ornamen oriental, dan kaligrafi, Gong Xi Fa Chai bertebaran. Suasana Imlek sering dijadikan salah satu ukuran guna menilai âkebangkitan etnis Tionghoaâ. Penilaian itu beragam, dari âkemenanganâ hingga âkebablasanâ, bahkan âresinifikasiâ. Imlek dijadikan salah satu strategi esensialisme (essentialism), di mana simbol-simbol identitas Tionghoa kembali dihadirkan dalam proses politik pengakuan (politics of recognition). Politik pengakuan Charles Taylor (1992) menjelaskan, dinamika identitas tidak terlepas dari politik pengakuan yang memiliki karakter dialogis (dialogical). Identitas individu terbentuk melalui proses dialog antara individu itu dan individu atau kelompok lain. Di tataran publik, wacana pengakuan dan identitas merupakan titik keseimbangan antara dua elemen. Pertama, politik universalisme (universalism), sebuah pendirian di mana semua individu memiliki harga diri setara (equal dignity). Elemen ini lahir akibat runtuhnya hierarki sosial masyarakat lama. Kedua, politik keberagaman (difference), di mana keunikan identitas diakui. Elemen ini lahir dari peningkatan pemahaman terhadap kompleksitas kondisi sosial manusia seiring perkembangan zaman. Saat titik berat berpindah ke universalisme, esensialisme menjadi salah satu strategi untuk menandingi badai penyeragaman. Strategi ini memakai simbol-simbol lama atau menciptakan simbol baru yang dianggap mengandung esensi identitas kelompok tertindas, guna mengembalikan martabat kelompok tertindas itu. Esensialisme sendiri belum tentu merupakan strategi terbaik. Karena, kecenderungan untuk asyik dengan simbol sering menepiskan substansi. Pertarungan konsep asimilasi dengan integrasi di era 1960-an adalah contoh proses dialogis dalam mencapai titik keseimbangan. Peralihan konsep asimilasi menjadi kebijakan politik menggeser ekuilibrium dan menghasilkan politik asimilasi yang mencoba mengikis simbol-simbol identitas Tionghoa. Ketika Soeharto jatuh, esensialisme mengemuka atas dasar tuntutan persamaan hak maupun pengakuan atas keunikan identitas Tionghoa. Di sisi lain, pemanfaatan simbol sebagai komoditas komersial membantu sebaran strategi ini secara lebih agresif. Imlek yang mengalami pergeseran statusâdari ritual di ruang privat, menjadi libur fakultatif, lalu libur nasionalâmenjadi klimaks tahunan esensialisme ini. Jika âkebangkitan etnis Tionghoaâ hanya diukur berdasar merah-meriahnya Imlek, rasanya belum pas. Kekhawatiran berlebihan atas proses resinifikasi seperti terperangkap dalam pemahaman identitas yang dikotomis dan kaku ketimbang pemahaman identitas yang berganda, cair, dan kontekstual. Simplifikasi itu mengesampingkan dinamika interaksi masyarakat yang terjadi antara Imlek yang satu dan Imlek berikut. Padahal, politik pengakuan adalah proses dialogis proaktif yang terus terjadi. Dampak lain, bagi komunitas Tionghoa, sikap puas diri atas kemenangan setengah matang atau kejayaan seremonial amat disayangkan. Taylor menekankan pentingnya mencoba mengenal/mempelajari lebih jauh situasi kelompok lain. Kehormatan hanya akan dicapai dalam proses politik pengakuan dengan adanya kemauan untuk melihat secara komparatif identitas yang ada di sebuah masyarakat yang plural. Hanya arogansi, menurut Taylor, yang bisa merampas kehormatan. Seharusnya perhatian yang sama intensnya harus diberikan kepada aneka kegiatan yang tidak tersorot selama seremoni Imlek. Sebagai contoh, beberapa minggu menjelang Imlek, di tataran legislasi, komunitas Tionghoa berupaya mengadvokasi beberapa RUU di DPR yang memiliki relevansi dengan persoalan identitas dan kebangsaan (antara lain RUU Kewarganegaraan, Antidiskriminasi Ras, dan Etnis). Dari situ tampak perbedaan persepsi maupun pendekatan yang mengindikasikan karakter heterogen komunitas ini. Secara umum, upaya menyinkronkan wacana kelompok dan wacana arus utama melalui pemahaman prinsip dasar kewarganegaraan dan hak sosial politik berjalan baik. Dengan kata lain, ada upaya dari komunitas Tionghoa (meski belum optimal) bersama komunitas lain (dalam konteks RUU Kewarganegaraan, misalnya, bersama kelompok perempuan pernikahan campur, kelompok adat, dan lainnya) mengangkat soal kewarganegaraan sebagai wacana bersama. Persamaan hak sebagai warga negara diperjuangkan bersama, sambil mengusung keunikan masing-masing kelompok yang diakui setara. Sayang, dari segi sumber daya manusia, jumlah dan kapasitas teknik advokasi komunitas Tionghoa masih amat terbatas. Sebagaimana situasi partisipasi pada Pemilu 2004, peran generasi muda dan perempuan di advokasi legislasi masih minim. Satu hal paling penting dilakukan dalam konteks ini adalah perlunya memahami substansi RUU yang diadvokasikan, selain menggalang peningkatan kapasitas. Jika tidak, mungkin terjadi penyempitan kualitas partisipasi Tionghoa sendiri. Wacana partisipasi maupun isu yang diangkat (kewarganegaraan atau lainnya) tidak terolah matang dalam lingkup komunitas Tionghoa yang begitu heterogen sehingga komunitas Tionghoa bisa jadi kian tertinggal dari aneka wacana yang telah berkembang di komunitas arus-utama. Mencari bentuk Komunitas Tionghoa masih mencari bentuk optimal guna mendorong pengembangan wacana dan program. Kelambanan ini patut disayangkan saat gerakan nasional kebijakan partisipatif telah menjamin hak masyarakat untuk berpartisipasi di proses legislasi nasional dan sedang gencar menjangkau daerah. Imlek serasa membuai. Masyarakat seperti terpana dengan merah meriah Imlek tanpa ada pengembangan pemahaman lebih mendalam tentang partisipasi Tionghoa. Imlek di Indonesia memang kian merah meriah. Hanya seperti itukah arti identitas Tionghoa bagi Indonesia? *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, History and Indonesian Literature Department Manusia Terbaik Di Dunia Adalah Seorang PENJAHAT Seluruh isi email ini merupakan isi kepala dari Daryl sendiri, jadi boleh aja kalo mau disebarluaskan, dibikin poster, di jadiin selebaran gelap, atau mau dijadiin bungkus kacang. Segala celaan, cemoohan, hinaan, hujatan, makian, dsb terhadap isi, artikel, puisi, pantun, prosa, dll bisa langsung dikirim ke darylcom2380@yahoo.com kalo ada pujian, decak kagum, parcel, angpao atau apapun juga bisa di kirim ke darylcom2380@yahoo.com I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER
Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEHKARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** Membahagiakan. Tahun Baru Imlek 2006 berdekatan dengan Tahun Baru Hijriah. Hari Minggu (29/1/2006) dirayakan sebagai Tahun Baru China atau Imlek, memasuki 1 Cia Gwee 2557 Tahun Anjing. Hari Selasa (31/1/2006) diperingati sebagai Tahun Baru Hijriah, 1 Muharam 1427. Semula Imlek adalah hari untuk memperingati pergantian musim bagi petani di China. Sistem penanggalan Imlek sudah dibuat 2.700 tahun sebelum Masehi. Mengingat di Tiongkok kuno banyak pemeluk Konghucu, Tao, atau Buddha, lalu Imlek kental dengan nuansa keagamaan. Bagi pemeluk Konghucu, Imlek merupakan hari raya keagamaan, memperingati kelahiran Konfusius, sering disebut Gong Zi. Namun, Imlek sebenarnya bukan milik umat beragama tertentu. Dengan demikian, tiap etnis Tionghoa yang beragama apa pun, dari strata sosial kaya atau miskin, berasal dari nenek moyang atau marga apa pun, semua bebas merayakan Imlek. Selang sehari dirayakan Tahun Baru Hijriah. Perayaan ini menjadi penting karena pada momen itu peradaban Islam muncul. Pesan apa yang bisa ditimba dari dua tahun baru berdekatan ini? Menurut Robertson Smith, salah satu fungsi sosial hari-hari keagamaan adalah untuk merekatkan kebersamaan dalam masyarakat. Ini senada dengan silaturahim ke orangtua dan kerabat yang biasanya mewarnai Imlek. Semangat silaturahim juga mendapat aksentuasi penting dalam ajaran Islam. Harmoni dan sinergi Jika silaturahim sudah memudar dan disepelekan dalam waktu lama, bisa berdampak kurang baik. Ujung-ujungnya relasi antarwarga mengendur dan memudahkan munculnya bahasa prasangka. Bahkan, kadang bisa meledak sebuah konflik atau kerusuhan sosial. Sejarah negeri ini tidak pernah sepi dari konflik atau kerusuhan sosial. Etnis Tionghoa dijadikan kambing hitam sekaligus korban. Di sisi lain, umat Islam sering digambarkan tidak akrab atau memusuhi etnis Tionghoa. Ini, misalnya, tampak dari beredarnya SMS gelap yang beberapa waktu lalu sempat meneror warga Tionghoa. Padahal, jika kita tidak gamang dalam menatap sejarah masa lampau negeri, seperti diimbau oleh Presiden SBY beberapa waktu lalu, antara Islam dan Tionghoa justru pernah terjadi sinergi dan akulturasi budaya yang saling memberi dan menghormati (âBelajar Menghargai Perbedaanâ, Kompas, 13/8/2005). Karena itu, rasanya kita perlu melihat kembali sejarah untuk belajar, sikap saling menghargai dan menghormati serta kerja sama tetap lebih baik daripada 1.001 bahasa prasangka, konflik, dan benturan peradaban. Apalagi jika mencermati tren global yang berkembang akhir-akhir ini, kita masih dihantui ancaman bangkitnya kembali politik identitas yang menonjolkan superioritas agama atau etnis tertentu. Karena itu, kita perlu menengok kembali sejarah, khususnya sejarah interaksi dan relasi Islam-Tionghoa di negeri ini, untuk dijadikan cermin. Dari sejarah diketahui, sebelum Belanda menjajah negeri ini, sebenarnya tidak pernah muncul konflik Tionghoa-Islam. Jadi, pada abad ke-16 atau ke-17, hanya ada harmoni dan sinergi antara Islam dan Tionghoa di Nusantara. Bahkan, etnis Tionghoa diakui perannya ikut menyebarkan Islam. Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah di Demak, dengan raja pertama Raden Patah atau Jin Bun, anak Brawijaya, dan istrinya yang Tionghoa. Di masjid Demak atau beberapa klenteng di pantai utara Jawa masih bisa dilihat sisa-sisa akulturasi budaya Islam dan Tionghoa. Bukan hanya dalam level agama saja ada hibriditas atau ketercampuran budaya yang saling memperkaya Tionghoa dan kultur setempat di Nusantara, tetapi juga dalam pertanian, makanan, pakaian, dan aspek budaya lain. Bukti lebih banyak bisa disimak buku Dennis Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya. Politik segregasi Namun, setelah Belanda menjajah, mulai terjadi adu domba dan konflik Islam- Tionghoa. Belanda melakukan politik segregasi, memisahkan orang-orang Tionghoa dari penduduk setempat (bumiputera). Aksi kejahatan anti-Tionghoa pertama di Nusantara adalah pembunuhan warga Tionghoa tahun 1740 di Batavia. Lebih dari 10.000 orang Tionghoa dibantai oleh pasukan VOC dan ratusan rumah dijarah dan dibakar semena-mena. Darah dan mayat korban pembunuhan itu memenuhi sungai yang hingga kini dinamakan kali Angke. Setelah peristiwa 1740, berbagai konflik dan kerusuhan anti-Tionghoa meledak di berbagai kawasan di negeri ini. Puncaknya Tragedi Mei 1998, yang merupakan noda paling hitam sejarah masa lalu negeri ini. Ernest Renan pernah mengingatkan, âbangsa bukanlah sesuatu yang kekal, mereka akan muncul dan akan lenyapâ. Kita tidak menginginkan lenyapnya bangsa Indonesia. Karena itu, mau tidak mau kita harus bisa belajar dari sejarah, jika antarwarga bangsa bisa membangun sikap saling menghargai, hal ini akan memudahkan membangun sinergi atau kerja sama menuju kejayaan bangsa. Namun, jika bahasa prasangka diberi tempat dan tiap kali diberi âbensinâ, bangsa ini akan selalu terjebak konflik yang membosankan dan melelahkan. Sibuk berkonflik internal membuat kita kian tertinggal dari negara-negara tetangga. Kita sudah memilih demokrasi untuk kehidupan bersama, termasuk dalam relasi antaretnis dan agama. Dalam demokrasi, semua etnis, semua agama, mendapat tempat terhormat. Karena dalam demokrasi diterapkan prinsip toleransi sebagai penghormatan perbedaan di antara warganya. Jika ada konflik, coba diselesaikan dengan cara-cara beradab, seperti dialog atau musyawarah. Segala fanatisme agama atau rivalitas etnis atau superioritas ras tidak ada tempatnya dalam demokrasi. Karena, semua perbedaan harus dihargai. Kiranya Imlek dan Tahun Baru Hijriah kali ini bisa dijadikan momentum untuk saling menyadari dan merayakan keragaman. Siapa tahu dari sini muncul kerinduan untuk makin terpanggil mengimplementasikan semangat keragaman itu dalam kehidupan di hari-hari mendatang. *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, History and Indonesian Literature Department Manusia Terbaik Di Dunia Adalah Seorang PENJAHAT I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER
Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEHKARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** DIHAPUSNYA sejumlah peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maupun penetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, boleh dikata sebagai suatu kebangkitan yang diperjuangkan oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia. Bayangkan, selama lebih 700 tahun kehadiran etnis Tionghoa di Tanah Air, mereka selalu menjadi kambing hitam dan mendapat perlakuan tidak adil atau diskriminatif. ''Saya berharap tahun baru Imlek dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen dan komponen bangsa ini, khususnya masyarakat etnis Tionghoa, untuk membangun habitus baru. Dengan membuang egoisme dan mengarahkan seluruh perilaku yang berbasis pada hati nurani, moral, budi pekerti, dan etika yang luhur, sehingga seluruh penyakit sosial dan kriminal dapat dihindari. Dan tahun baru Imlek dapat menjadi kemenangan etnis Tionghoa Indonesia,'' ujar Ketua Komisi Hubungan Antar Agama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Benny Susetio Pr kepada Eko Budi Harsono di Jakarta, Selasa (24/1). Menurut Romo Benny, gereja Katolik sangat menghargai dan menghormati kebudayaan masyarakat yang juga merupakan hasil akal serta budi pekerti manusia untuk menjaga tatanan kehidupan dan peradaban. ''Sesuai dengan semangat inkulturasi, gereja melihat budaya merupakan salah satu anugerah Allah kepada manusia. Gereja menghargai seluruh bentuk manifestasi serta pernak-pernik kebudayaan yang ditampilkan selama pesta Tahun Baru Imlek, sehingga menjadi lebih semarak,'' katanya. Perlakuan Tidak Adil Hal senada diungkapkan Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa DKI Jakarta, Benny G Setiono, yang menilai Imlek boleh dibilang sebagai bentuk kemenangan etnis Tionghoa Indonesia dari segala bentuk diskriminasi dan perlakuan tidak adil yang sebelumnya sempat dialami. ''Peristiwa 13-14 Mei 1998 yang telah meluluhlantakkan ribuan ruko, toko, rumah tinggal, pusat pertokoan, bengkel, apartemen, supermarket, kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua, bahkan juga perkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa di Jakarta dan Solo, merupakan puncak kehancuran martabat dan jati diri etnis Tionghoa di Indonesia,'' ujar Benny mengenang peristiwa yang menandai berakhirnya rezim Orde Baru tujuh tahun silam. Selama pemerintahan Orde Baru, secara terus-menerus terjadi kerusuhan anarkis anti- Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 seakan adalah puncak dari aksi kerusuhan tersebut. Banyak orang sebelumnya berpendapat bahwa kerusuhan anti-Tionghoa tidak mungkin terjadi di Jakarta. Tetapi ternyata, menjelang keruntuhan rezim Orde Baru, puncak kerusuhan tersebut justru dibiarkan berlangsung oleh aparat keamanan di ibu kota. Dengan kasat mata seluruh dunia dapat menyaksikan bagaimana kerusuhan yang berlangsung selama dua hari penuh, dibiarkan aparat keamanan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Jadi terbukti apa yang selama ini dikhawatirkan, etnis Tionghoa memang dijadikan bumper dan tumbal keruntuhan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Sungguh menyedihkan melihat etnis Tionghoa demikian tidak berdaya menghadapi segala penindasan terhadap dirinya. Yang bisa dilakukan hanya menyelamatkan diri untuk sementara waktu ke luar negeri, atau ke Bali dan Kalimantan Barat bagi mereka yang masih mempunyai uang. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mempunyai uang, sudah tentu hanya bisa pasrah atas semua kekerasan dan penderitaan yang menimpa diri dan keluarganya. Etnis Tionghoa yang semasa pemerintahan rezim Orde Baru tampak seolah-olah demikian ''gagah'', ternyata hanya dalam waktu sekejap dapat dibuat tidak berdaya. Ini yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka selama ini terlampau dininabobokan, seolah-olah rezim Orde Baru adalah segala-galanya, yang memberikan kemakmuran, keamanan, dan kemapanan atas dirinya. Mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik, seolah-olah politik adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka tidak menyadari bahwa tanpa turut berpartisipasi di wilayah politik, sebesar apapun kekuatan mereka di bidang ekonomi, akan dengan mudah dibuat tidak berdaya. Memang oleh rezim Orde Baru, peluang etnis Tionghoa untuk terjun ke wilayah politik sangat dibatasi, terutama dengan melekatkan stigma Badan Permusyawatan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), yang hasilnya terbukti sungguh-sungguh sangat ampuh. Sebaliknya segelintir etnis Tionghoa ''dirayu'' agar mau menjadi kroni untuk menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), yang sangat menyengsarakan rakyat, dan akibatnya kita tanggung sampai saat ini. ''Sebagai perantau yang mencari kehidupan baru di Indonesia, selama ratusan tahun, etnis Tionghoa selalu menjadi pelengkap penderita. Walaupun kedatangan mereka di negara- negara yang menjadi pilihannya semata-mata bertujuan mencari kehidupan baru atau memajukan perdagangan, tanpa sedikit pun melakukan kekerasan, apalagi dengan tujuan- tujuan untuk menjajah, seperti yang dilakukan bangsa-bangsa kulit putih,'' ujar Benny G Setiono. Tumbuhnya Kesadaran Setelah Presiden Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998 dan Indonesia memasuki era reformasi, tumbuh kesadaran di kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan mereka sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran ini membangkitkan keberanian mereka untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan membela keadilan. Dengan segera berbagai organisasi dideklarasikan oleh orang-orang peranakan yang peduli pada keadaan tersebut, antara lain Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid dan majalah, antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi, Suara Baru serta sejumlah lainnya bermunculan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, beberapa organisasi tersebut berguguran, dan beberapa media cetak telah hilang dari peredaran. Masalah utama yang dihadapi organisasi-organisasi tersebut adalah masalah klasik, tidak adanya program yang jelas, semangat yang mengendur, dan terjadinya perpecahan di kalangan pemimpinnya. Masalah yang dihadapi media cetak yang pada umumnya dikelola golongan peranakan adalah masalah finansial dan sumber daya manusia. Hampir tidak ada dukungan dari masyarakat Tionghoa akan kelangsungan hidup media cetak tersebut. Hasil-hasil apakah yang diperoleh dengan berdirinya organisasi-organisasi yang menghimpun etnis Tionghoa baik peranakan maupun totok? Walaupun sangat lamban, kesadaran politik mereka mulai tampak meningkat. Namun trauma masa lalu dan stigma Baperki masih menghantui sebagian besar etnis Tionghoa, sehingga mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik. Meski demikian, perjuangan organisasi-organisasi peranakan dalam membela hak-hak etnis Tionghoa dan menuntut penghapusan peraturan-peraturan yang diskriminatif telah banyak menunjukkan kemajuan. Dihapusnya segala peraturan-peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh Presiden Abdurrahman Wahid maupun Tahun Baru Imlek yang dijadikan hari libur nasional oleh Presiden Megawati merupakan suatu kemenangan yang diperjuangkan oleh seluruh organisasi Tionghoa tersebut. *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, History and Indonesian Literature Department Manusia Terbaik Di Dunia Adalah Seorang PENJAHAT Seluruh isi email ini merupakan isi kepala dari Daryl sendiri, jadi boleh aja kalo mau disebarluaskan, dibikin poster, di jadiin selebaran gelap, atau mau dijadiin bungkus kacang. Segala celaan, cemoohan, hinaan, hujatan, makian, dsb terhadap isi, artikel, puisi, pantun, prosa, dll bisa langsung dikirim ke darylcom2380@yahoo.com kalo ada pujian, decak kagum, parcel, angpao atau apapun juga bisa di kirim ke darylcom2380@yahoo.com I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER
Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEHKARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** MINGGU, 29 Januari 2006, merupakan hari libur nasional dalam rangka memperingati Tahun Baru Cina, Imlek. Setiap kali Imlek tiba, pembahasan mengenai salah satu golongan anak bangsa, yakni etnis Ti-onghoa, selalu mengemuka. Hal itu tidak terlepas dari fakta sejarah, bahwa kehadiran etnis Tionghoa yang sudah ratusan tahun di bumi pertiwi ini, tak lepas dari gunjingan politik. Selama bertahun-tahun, status peranakan Tionghoa di Indonesia, selalu dianggap berbeda dengan anak bangsa lain, meski sama-sama nonpribumi. Kesenjangan status itulah yang menciptakan api dalam sekam. Terbukti beberapa kali terjadi peristiwa rasialis yang melibatkan warga pribumi dan etnis Tionghoa, yang puncaknya adalah tragedi Mei 1998. Proses asimilasi (pembauran), terutama dari aspek politik dan sosial, tak pernah berjalan mulus. Mereka masih dianggap sebagai ''orang lain'', meski terkadang sikap dan perilakunya lebih nasionalis daripada warga pribumi. Melalui momentum Tahun Baru Imlek kali ini, Eko Budi Harsono mengulas potret relasi sosial, politik, dan ekonomi dari etnis Tionghoa, yang ingin dianggap sebagai warga negara Indonesia seutuhnya. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- KELENTENG Hok Tek Bio di Cibinong, Jawa Barat, semarak oleh warna merah dan emas. Sekelompok anak muda dengan gembira menabuh tambur dan simbal. ''Pe ceng, pe ceng, ceng taw, ceng taw'', begitu suara yang keluar dari alat musik pengiring barongsai menari dan beratraksi. ''Suara pe ceng itu kadang diartikan kasih cepe (seratus), akan mendapat seceng (seribu). Sedang ceng taw itu berarti kasih seceng mendapat setauw (sejuta). Itulah sebabnya saat barongsai keluar selalu mendapat angpau, karena kita percaya dengan memberi angpau kepada Barongsai, maka kita juga akan dapat berkat,'' ujar David Wijaya, pengelola kelenteng kepada pengelola kelenteng kepada Eko Budi Harsono di Cibinong, belum lama ini Dalam perayaan Imlek tahun ini, para pengurus kelenteng yang dibangun sejak tahun 1938 itu ingin menegaskan, bahwa warga etnis Tionghoa merupakan warga Indonesia, dan 100 persen cinta Indonesia. ''Kami ini 100 persen Indonesia. Jiwa dan raga kami sama seperti orang Jawa, Sumatera, atau orang Sulawesi,'' ujar David. Sikap nasionalis etnis Tionghoa seperti ini, sangat didukung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang tidak ingin lagi ada diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. ''Saya kira ada dua sumber masalah besar terkait dengan keberagaman atau multikulurisme di Indonesia. Pertama hubungan Kristen dan Islam yang kurang harmonis, dan kedua hubungan Islam dan etnis Tionghoa. Keduanya ini harus segera diselesaikan oleh pemerintah dan juga komponen masyarakat lainnya. Dalam momentum Imlek ini saya ingin menegaskan bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari Indonesia,'' ujar Din. Sedangkan Didi Kwartanada, sejarawan peranakan Tionghoa yang sedang mengambil program doktoral di National University of Singapore, menilai, hubungan antara orang Tionghoa dengan pribumi itu merupakan hubungan yang sifatnya love and hate relation, atau hubungan cinta dan benci. Karena itu, perayaan Imlek merupakan momentum untuk menegaskan bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari Indonesia. Dia lantas memberi contoh, kalau warga Indonesia beretnis Tionghoa mengharumkan nama bangsa dan negara di bidang olahraga, mereka dipuji. Tetapi kalau ada berita tentang orang Tionghoa yang melakukan penyelewengan di bidang ekonomi, misalnya, mereka akan dimaki-maki. Didi juga memberi contoh lain, hubungan antara cinta dan benci ini terbukti dari sejumlah artikel yang judulnya provokatif. Misalnya, ''Siluman Cina Ingin Jadi Presiden'' dan ''Ekonomi Umat Islam Dicengkeram Yahudi dan Cina kafir''. ''Lantas apa ada hubungan antara Cina dan Yahudi? Namun di sisi lain media itu juga memuji orang Tionghoa yang masuk agama tertentu. Di sini tampak bahwa love and hate relation sudah menjadi us, atau kita dan mereka,'' ujarnya. Orang Tionghoa Lantas siapakah orang Tionghoa itu? ''Orang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tionghoa apabila mempunyai darah Tionghoa, walaupun sudah tidak murni atau banyak bercampur, dan mempunyai nama Tionghoa,'' tutur sejarawan Didi Kwartanada. Oleh karena itu, warga etnis Tionghoa di Indonesia tidak homogen, tetapi heterogen. Perbedaan mereka, misalnya, berdasarkan dialek dan agama. Ada yang beragama Konghucu, Kristen, Katolik, atau Islam. Ada yang berdialek Hokian, Hakka dan lain-lain. Selain itu ada lagi per-bedaan menjadi Tionghoa totok dan Tionghoa per- anakan. Kebanyakan orang Tionghoa peranakan tidak bisa lagi berbahasa Mandarin. Sebaliknya orang totok masih bisa berbahasa Mandarin. Tionghoa peranakan Indonesia biasanya lebih mapan ketimbang Tionghoa totok. Oleh karena itu Tionghoa totok lebih nekat dalam berbisnis. Ironisnya, kedua kelompok itu suka saling merendahkan. Misalnya, orang Tionghoa keturunan (peranakan) suka menuduh orang Tionghoa totok pelit. Sebaliknya Tionghoa totok gemar merendahkan Tionghoa peranakan karena tidak bisa berbahasa Mandarin. Karena bermacam ragam itulah, persatuan di kalangan orang Tionghoa sulit terwujud. ''Ironisnya, hanya sekali dalam sejarah persatuan itu terwujud, yakni semasa Jepang,'' ungkapnya. Jepang memaksa orang Tionghoa bersatu dalam satu organisasi. ''Hal ini sangat ironis, karena persatuannya disponsori oleh musuh,'' tuturnya. Sejarah Imlek Berbicara soal Imlek, perayaan yang sering disebut sebagai perayaan tahun baru musim semi ini, dari sudut etimologi (sejarah kata) terdiri dari dua kata, yaitu im yang berarti bulan, dan lek yang berarti penanggalan. Dengan demikian, Imlek berarti penanggalan yang dihitung berdasarkan peredaran bulan. Tentu ini berbeda dengan perhitungan penanggalan Yanglek/Masehi, yang dihitung berdasarkan peredaran matahari (yang berarti matahari). Perayaan Imlek/Yin Li/Anno Confuciani, menurut sejarah secara umum dan kenegaraan, dimulai pada zaman Dinasti Han (206 SM-220 M), di mana kaisar pertamanya yang bernama Han Wu Di. Kaisar Han berasal dari keturunan Liu Bang, yaitu orang yang menumbangkan tirani Dinasti Qin (221 SM-207 SM). Han Wu Di merupakan seorang Confucianist sejati, dan memakainya dalam menjalankan pemerintahan. Ternyata jalan yang diambilnya tidak salah. Sebab Dinasti Han-lah yang paling sukses dan berhasil dalam sejarah dinasti di Cina. Penanggalan Imlek yang dihitung berdasarkan perhitungan lunar atau bulan, ditetapkan oleh Han Wu Di berdasarkan tahun kelahiran Confucius/Khonghucu, pada tahun 551 SM. Tahun 2006, Imlek sudah mencapai tahun yang ke-2557. Perhitungan tersebut didapat dari penjumlahan tahun kelahiran Confucius (551 SM) dan angka tahun Masehi (2006). Thank's for Eko Budi Harsono *************************************************************************************************************** ©2006 Daryl Hidayat Production⢠section Social Science, History and Indonesian Literature Department Manusia Terbaik Di Dunia Adalah Seorang PENJAHAT I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world. One Heritage, One INDONESIA
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!" TOGETHER WE END POVERTY BY 2025.... AND CHANGE THE WORLD FOREVER
Iblis minta pensiun muda. Tuhan bertanya: 'Wahai Iblis, kenapa kau kembali kepada-Ku, padahal engkau sendiri yang minta untuk menggoda manusia? ' Iblis menjawab: 'Hamba yang ahli agama mencuri dana umat, Mahkamah Agung yang seharusnya adil dan bijak malah memeras, terima sogok.Hamba khawatir justru kami yang tergoda oleh manusia.Maka kami minta pensiun dini saja'.'' Ya ampun Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEHKARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority" *************************************************************************************************************** Kepada Yth. Pendiri, Pengurus, dan Pendukung AGAP Yth. Kapolda Jawa Barat di manapun berada
Dengan segala hormat,
Membaca jawaban-jawaban anda selama wawancara denganTEMPO 11 September 2005 di bawah ini, saya tidak mengerti apa sebenarnya dasar spiritual maupun hukum dari gerakan AGAP.
Kalau memang benar dalam beberapa tahun terakhir ada 10 ribu umat Islam di Jawa Barat yang murtad beralih ke agama Kristen, sementara di negara ini menjamin kebebasan beragama, lalu apa sebenarnya yang menjadi masalah?
Kalau memang benar sepuluh ribu orang tadi MURTAD dan berdosa, siapakah yang paling berhak memberi azab kepada yang murtad dan yang menyebabkan murtad?
Kalau Sang Maha Pencipta sendiri memberi kebebasan kepada ummatNya untuk beribadah kepadaNya di mana saja, sholat jamaah di mana saja, di rumah maupun di mesjid; pemerintah juga tidak melarang kaum muslim mengadakan pengajian dan yasinan di rumah pribadi - sama-sama ummat ciptaan Sang Maha Pencipta, mengapa anda harus merasa terganggu dengan pemeluk agama Kristen yang beribadah secara berjamaah di rumah pribadi?
Kalau memang benar anda muslim yang percaya kepada ALLAH Swt sebagai Hakim Tertinggi di dunia dan akhirat, Sang Maha Pembalas, bukankah gerakan anda "yang kalau perlu harus menggunakan kekerasan itu" justru melanggar Hak Sang Maha Pembalas? Kalau sekarang anda mengatakan bahwa gerakan anda ini demi membela hukum Allah, lalu hukum Allah yang mana yang anda pegang? Allah yang mana yang anda sembah dan jadikan pegangan hidup? Apakah Allah yang main kuasa dan main babat terhadap manusia?
Ada banyak penjahat dan manusia berdosa, bukan hanya sekedar murtad berpindah agama -- bahkan semua manusia berdosa dihadapan Sang Maha Pencipta -- Apakah memang demikian juga perlakuan Sang Maha Kuasa main babat kepada yang berdosa kepadaNya? Yang nota bene jauh lebih tinggi dan berkuasa dibanding jabatan kapolda dan pemimpin agama seperti anda?
Kalau cara yang mengatasi Sang Maha Kuasa seperti itu anda sebut sebagai cara untuk membela Islam, bukankah justru cara itu mempermalukan Islam sendiri sebagai agama yang mengajarkan kasih sayang, pengampunan, kedamaian, kerukunan, kesucian, dan kerendahanhati, saling menghormati kepada sesama manusia karena menghormati Penciptanya? Anda mungkin tidak sadar justru gerakan anda ini seolah-olah sebagai muslim anda lebih berkuasa dibanding pemerintah dan Allah SWT.
Saya tidak sedang membela umat Islam, Kristen dan agama apapun. Saya hanya melihat dari sisi pandang manusia biasa di hapadan Yang Maha Kuasa. Siapakah anda dengan jabatan dan predikat anda sehingga anda merasa berhak melakukan segala cara untuk melakukan pembalasan melebihi Sang Maha Pembalas?
Kalau Abdurrahman Wahid mengatakan AGAP melanggar hak asasi manusia, saya mengatakan AGAP mempermalukan Islam dengan main kuasa melebihi Sang Maha Kuasa, melanggar hak pembalasan Sang Maha Pembalas! Jangan-jangan justru arogansi anda yang mengatasnamakan Islam inilah yang mejadi salah satu penyebab terjadinya banyak pemurtadan seperti anda sendiri sudah katakan kepada TEMPO.
Kalau anda betul-betul ingin menegakkan Islam melalui gerakan anti pemurtadan, mestinya bukan dengan cara dan sikap yang justru berlawanan dengan kepribadian junjungan umat Islam: Nabi Muhammad saw. Arogansi dan sikap anda justru mencoreng nama besar Rasullulah dan Islam. Jangan-jangan AGAP lah yang sebenarnya menjadi salah satu pihak yang bertanggungjawab sehingga banyak umat murtad dari Islam, tidak ada bedanya dengan pihak-pihak yang telah melakukan pengrusakan dan pembinasaan umat manusia dengan mengatasnamakan Islam.
Sekian, semoga hari ini juga Yang Maha Pencipta menerangi hati anda dan menyadarkan anda ke jalan yang benar-benar diridhoiNya.
Kitri Dewi Kurniati Surabaya, Indonesia © 2005 Daryl Hidayat Production ⢠section Religion and Current Affairs Department
I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!"
Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority"
Muhammad Mu'min, 40tahun, jadi sorotan: April 2005 lalu ia mendirikan Aliansi Gerakan Anti-Pemurtadan (AGAP). Organisasiyang didukung 27 organisasi massa Islam itu - antara lain Front Pembela Islam, Barisan Pemuda Persis, Jamaah Tabligh,dan Hizbut Tahrir -- menggerebek sejumlah gereja di Jawa Barat. Hasilnya,"Kami sudah menutup 23 gereja liar," kata Muhammad Mu'min."Masih banyak lagi gereja yang akan kami tutup," katanya lagi.
Aksi AGAP menuai kecaman. Bekas presiden Abdurrahman Wahid menilai penutupan gereja melanggar hak asasi manusia. "Mereka orang Islam yang kebablasan," kata Abdurrahman. Tapi dukungan terhadap aksi AGAP tak sedikit. Bahkan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Edi Darnadi, menilai aktivitas AGAP tak melanggar hukum. "Tak ada gereja yang ditutup," kata Edi Darnadi. "Yang ada hanya penutupan rumah yang dijadikan gereja".
Untuk mengetahui aktivitas AGAP, wartawan Tempo Setiyardi dan Rana Akbari Fitriawan mewawancarai Muhammad Mu'min, Komandan AGAP sekaligus dosen di sebuah sekolah tinggi ekonomi di Bandung.
Mengapa Anda mendirikan AGAP ?
Kami merespons munculnya gereja liar yang subur di Indonesia.Mereka melakukan pemurtadan dengan iming-iming uang atau bantuan lain. Menurut catatan kami, beberapa tahun terakhir sudah lebih dari 10 ribu orang Islam di Jawa Barat yang pindah ke Nasrani. Ini harus dilawan.
Berapa kekuatan AGAP ?
Kami didukung 27 ormas Islam yang tersebar antara lain di Bandung, Purwakarta, Garut, dan Sumedang. Jumlah anggotanya mencapai 50 ribu laskar. Kami siap berjihad menegakkan hukum Allah. Wallahi (demi Allah), kami juga siap melakukan Perang Salib jilid II.
Siapa yang membiayai Anda ?
Sumbangan datang dari Ikatan Mahasiswa Masjid Jawa Barat dan iuran dari kantong masing-masing. Kami tak mendapat bantuan dari pihak yang punya agenda tertentu. Saya beberapa kali menolak uang dari bandar judi dan bandar minuman keras. Kami tak memerlukan biaya yang besar. Biaya operasional terbesar hanya untuk menyewa truk yang mengangkut laskar, membeli nasi bungkus dan air mineral. Itu pun tak seberapa. Selain itu, laskar AGAP adalah orang-orang yang rela berjuang di jalan Allah. Ketika menutup gereja di Garut, misalnya, selama dua hari pasukan AGAP hanya makan dengan jengkol dan garam. Satu bungkus nasi dibagi dua orang. Tapi kami melakukannya dengan ikhlas.
Mengapa AGAP menutup gereja dengan kekerasan ?
Orang yang membuat gereja tanpa izinlah yang melakukan kekerasan. Mereka jelas-jelas melanggar surat keputusan bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tahun 1969 soal pendirian rumah ibadah. Lagi pula, AGAP tak asal main tutup. Prosedur tetap (protap) selalu kami taati. Ada tiga tahap yang harus di dahului dengan persiapan dan investigasi. Awalnya, kami mengumpulkan data dan fakta di lapangan. Nah, tahap pertama, kami mengirim 10 orang untuk meminta mereka secara baik-baik menutup gerejanya. Bila tak bisa, kami masuk tahap kedua dengan mengirim 10 orang yang lain sebagai negosiator. Kondisi ini sudah win-lose.Jadi, kami harus menang dan mereka kalah. Kalau gagal juga, kami masuk tahap ketiga dengan mengirim pasukan AGAP. Kalau ada kekerasan, itu karena kami membela diri.
Bagaimana bila pihak gereja berkukuh tak menutup gerejanya ?
Akan kami babat.
Apakah Anda mendapat back up aparat keamanan ?
Biasanya polisi bersikap netral. Lagi pula kami justru membantu tugas polisi dalam menegakkan hukum. Waktu menutup gereja di Dayeuh Kolot, Bandung, tentara yang markasnya di depan gereja juga tak melarang aktivitas kami. Tetapi, kalaupun kami mendapat tantangan, kami siap melawan siapapun. Kami rela mati demi menegakkan hukum Allah.
Bagaimana hasil kerja pasukan Anda ?
Sudah 23 gereja di Jawa Barat yang kami tutup. Tapi ini belum apa-apa. Masih ribuan gereja liar di Indonesia. Dalam waktu dekat, kami akan menutup dua gereja di sebuah kabupaten di Jawa Barat (Mu'min menyebut lokasi gereja, tapi minta off the record - Red). Orang asing yang menjadi pendeta di gereja tersebut akan kami sandera.
Mengapa Anda melarang orang menyebarkan agama ? Bukankah setiap agama punya hak untuk menyampaikan kebenaran ?
Ya, kami sadar hal itu. Islam juga mengenal konsep syiar. Tapi aturan hukum di Indonesia melarang menyebarkan agama kepada orang lain yang sudah beragama. Kalau aturan itu dicabut, kami siap: kami akan berdakwah di depan pintu gereja-gereja untuk menyampaikan Al-Quran.
Pemerintah akan mengevaluasi SKB soal pendirian rumah ibadah. Bagaimana ?
Saya berharap orang yang mau mendirikan rumah ibadah tetap harus meminta ijin warga dan tokoh masyarakat setempat. Kalau ulama menolak, kita harus ikut mereka. Itu justru untuk menjaga ketenangan masyarakat.
Anda sempat dipanggil aparat keamanan karena menutup gereja ?
Sejauh ini, saya baik-baik saja. Saya tak pernah dipanggil atau diperiksa polis karena menutup gereja. Saya akan terus berjuang hingga semua gereja liar di Indonesia ditutup.
Source: Tempo © 2005 Daryl Hidayat Production ⢠section Religion and Current Affairs Department
I have found a desire within myself that no experience in this world can satisfy; the most probable explanation is that I was made for another world
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!!!!
Satu tangan tak kuasa menjebol penjara. Dua tangan tak mampu merobohkannya. Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu, kita akan berkata, "Kami mampu!"
Tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah berkat kekuatan pilar utama pluralisme. Pluralisme adalah sesuatu yang given, yang memang ada, disukai atau tidak disukai, mau atau tidak mau. Pluralisme tidak membutuhkan persetujuan, tetapi pengakuan, dan kemampuan untuk menyikapinya sehingga kita tidak terjebak di dalam konflik-konflik sosial.
Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" and MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama)
CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
"Law, in democracy, means the protection of the rights and liberties of the minority"
KEBIJAKAN Pemerintah China untuk menyesuaikan kembali nilai tukar (revaluasi) mata uangnya, yuan, terhadap dolar Amerika Serikat, disambut baik banyak kalangan dan negara di dunia. Kebijakan tersebut membuat China dipuji banyak negara dan dinilai itu sebagai langkah yang sangat positif. Dunia menyebut kebijakan baru tersebut sebagai langkah besar yang teramat penting, yang menunjukkan kepedulian dan partisipasi China terhadap perekonomian global. Selain menaikkan nilai tukar yuan sebesar 2 persen, Beijing juga mulai meninggalkan rezim nilai tukar tetap menjadi mengambang, dengan memberi batas toleransi fluktuasi yuan dalam rentang 0,3 persen per hari dari nilai yang dipatok saat ini. Untuk mengetahui lebih banyak masalah revaluasi yuan dan dampaknya bagi perekonomian Indonesia, terlebih dalam pekan ini Presiden Yudhoyono akan berkunjung ke China. PUJIAN untuk Pemerintah China datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, setelah mereka memutuskan meninggalkan sistem nilai tukar tetap untuk mata uangnya, yuan (renminbi), terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sistem lama tersebut oleh banyak mitra dagang Cina, dituding mengesankan seolah-olah yuan lemah, sehingga memberi keuntungan harga secara tidak fair. Dari Tokyo dan Sydney, hingga Paris dan Washington, pemerintah dan pelaku bisnis, sebagian besar menyambut positif langkah China pada Kamis (21/7) lalu, yang menyesuaikan kembali nilai tukar (merevaluasi) yuan terhadap greenback (dolar AS). Dunia menyebut kebijakan baru tersebut sebagai langkah besar yang teramat penting, yang menunjukkan kepedulian dan partisipasi China terhadap perekonomian global. Pada Kamis lalu, nilai tukar yang selama sekitar 10 tahun dipatok di posisi 8,28 yuan per dolar AS, direvaluasi menjadi 8,11 per dolar AS. Selain menaikkan nilai tukar yuan sebesar 2 persen, Beijing juga mulai meninggalkan rezim nilai tukar tetap menjadi mengambang, dengan memberi batas toleransi fluktuasi yuan dalam rentang 0,3 persen per hari dari nilai yang dipatok saat ini. Keputusan tersebut tidak lepas dari tekanan yang terus-menerus dilancarkan negara-negara industri maju, terutama AS. Mereka menuding China sengaja membiarkan nilai tukar yuan berada di bawah nilai yang sesungguhnya (undervalued) selama bertahun-tahun, dengan tujuan memperkuat daya saing ekspornya di pasar dunia. Sebagai bentuk tekanannya, AS bahkan mengancam akan memberlakukan bea masuk (tarif) terhadap produk China, apabila Beijing tak segera merevaluasi yuan. Saat Tepat Apa yang sebenarnya mendorong China bersedia merevaluasi mata uangnya? Bank Sentral China menegaskan, sekarang adalah saat yang tepat untuk melepaskan diri dari sistem nilai tukar tetap terhadap dolar AS, oleh karena sejumlah perkembangan signifikan dalam reformasi sistem finansial mereka. Di samping itu, keberanian untuk merevaluasi yuan juga didorong kestabilan pertumbuhan ekonomi dunia. Perkembangan dalam reformasi sistem finansial, di antaranya ditandai oleh upaya untuk menetapkan suku bunga atas dasar mekanisme pasar dan penataan manajemen nilai tukar valuta asing. "Jadi, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah mekanisme nilai tukar yuan," ujar seorang pejabat People's Bank of China (PBoC). Secara umum, tujuan dari reformasi nilai tukar tersebut adalah untuk menciptakan manajemen atau mekanisme nilai tukar mengambang, yang didasarkan pada suplai dan permintaan yang terjadi di pasar, guna menjaga stabilitas yuan pada titik ekuilibrium (keseimbangan) yang lebih logis. Dengan reformasi tersebut, yuan kini tidak lagi dipatok (pegged) pada satu mata uang (asing) tunggal. Nilai tukar yuan selanjutnya akan disesuaikan dengan menggunakan referensi basket currency, maksudnya dengan mempertimbangkan pula pergerakan nilai tukar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, seperti euro dan yen. Menurut PboC, reformasi nilai tukar yuan itu diarahkan untuk meredakan ketidakseimbangan dalam perdagangan luar negeri, mendorong permintaan (konsumsi) dalam negeri, meningkatkan daya saing perusahaan-perusahaan domestik, serta mempercepat reformasi negeri tirai bambu itu menuju keterbukaan. Pertimbangan lainnya adalah kenyataan bahwa China kini membukukan cadangan devisa yang sangat besar, yakni mencapai 711 miliar dolar AS (bandingkan dengan Indonesia yang hanya 35 miliar dolar AS). Kemampuan meraup cadangan sebesar itu didorong oleh surplus neraca perdagangan luar negeri. Hal itu ditopang oleh masih adanya kebijakan kontrol devisa, bahwa pengusaha tidak diperkenankan menyimpan seluruh devisa yang diperolehnya sekehendak dirinya, namun sebagian besar akan harus ditempatkan di dalam negeri guna memperkuat cadangan devisa. Dampak Di belahan Eropa dan Amerika, keputusan merevaluasi yuan pada Kamis lalu dinilai sebagai langkah yang memungkinkan yuan untuk menguat (terapresiasi) secara perlahan-lahan. Hal itu diharapkan dapat mengurangi keluhan para pedagang eceran dan produsen barang-barang konsumsi, setelah sebelumnya mereka harus menghadapi membanjirnya produk ekspor China yang murah. Sementara di Asia, langkah Beijing diharapkan dapat memberi stimulasi pada perdagangan, sekaligus menjaga stabilitas pasar uang. Langkah revaluasi tersebut akan menyebabkan harga produk China lebih mahal, dan di sisi lain menyebabkan China juga mengimpor dengan harga lebih murah daripada sebelumnya. Dengan kata lain, keputusan Kamis lalu memberi napas bagi perusahaan-perusahaan asing untuk bersaing dengan produk-produk Cina. Secara umum, kebijakan China tersebut menguntungkan bagi semua pihak. Rezim nilai tukar yang lebih fleksibel memungkinkan perusahaan-perusahaan China menyesuaikan diri dengan gejolak harga, sekaligus dapat meningkatkan keuntungan eksportir China meski volume penjualannya menurun. Kenyataan tersebut tentu sangat membantu mewujudkan keseimbangan dalam arus perdagangan China. Hal itu pada gilirannya akan mengurangi ketegangan antara China dengan mitra-mitra dagang utamanya, yang selama ini disulut rendahnya nilai tukar yuan. Bagi China, penguatan yuan membawa dampak yang positif guna mendorong konsumsi dalam negeri. Dengan demikian negeri itu tidak lagi menggantungkan pertumbuhan ekonominya hanya dari pertumbuhan ekspor. Sebagai gambaran, berdasarkan statistik dari Departemen Perdagangan AS, dari Januari hingga Juli 2001, impor barang dan jasa tumbuh 0,4 persen, dan khusus impor dari China tumbuh 2,2 persen. Hal itu mencerminkan betapa permintaan dari konsumen AS terhadap produk dan jasa dari China terus meningkat. Ekspor China ke Uni Eropa (UE) juga meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada 2003 ekspor ke UE tumbuh 50 persen, dan 2004 tumbuh 37 persen. UE telah menjadi negara tujuan ekspor China terbesar tahun lalu, menggeser posisi Jepang. Pemerintah China bukannya tidak menyadari kondisi timpang tersebut. Dalam laporannya yang dirilis April lalu, disebutkan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada permintaan luar negeri (ekspor). Sementara konsumsi dalam negeri melemah. Oleh karenanya direkomendasikan agar pemerintah mengendalikan ekspansi ekspor. Revaluasi yuan, di sisi lain juga menguntungkan para investor China yang hendak menanamkan modalnya di luar negeri, atau mengakuisisi aset asing yang berdenominasi dolar AS. Karena dengan menguatnya yuan, nilai investasi mereka dalam dolar AS menjadi lebih murah. Sebagai contoh, saat BUMN migas China, yakni China National Offshore Oil Corp (CNOOC) belum lama ini berniat mengakuisisi perusahaan minyak AS, Unocal, senilai 18,2 miliar dolar AS, tentu nilai investasi itu bila dikonversi dalam yuan menjadi lebih murah pascarevaluasi. Terlalu Kecil Meski demikian, tidak sedikit negara di Asia yang pesimistis bahwa apresiasi nilai tukar mata yuan bakal memberi dampak positif yang signifikan terhadap ekspor Asia. "Keputusan China kemungkinan akan membawa dampak positif dan negatif bagi perekonomian Jepang. Namun secara umum, hal itu positif, yang menunjukkan langkah China mengikuti aturan-aturan di pasar uang internasional," kata Menteri Perdagangan dan Industri Jepang, Shoichi Nakagawa. Nada kekhawatiran setidaknya tercermin dari pernyataan bahwa revaluasi 2 persen, hanya memberi dampak yang kecil terhadap daya saing ekspor negara- negara Asia non-Cina. "Revaluasi yang relatif kecil itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap kinerja ekspor Korea," ujar Deputi Perdana Menteri yang sekaligus Menteri Keuangan dan Ekonomi Korea, Han Duck-soo. Tak kurang Menko Perekonomian Aburizal Bakrie pun menilai, revaluasi yuan yang hanya 2 persen tidak berarti apa-apa. Pernyataan itu mencerminkan ekspor Indonesia tidak serta-merta menguat hanya karena faktor yuan. Revaluasi yuan ternyata masih dianggap terlampau kecil, atau tidak signifikan untuk menaikkan harga produk ekspor China. Dengan demikian produk ekspor Asia lainnya, masih belum mampu menyaingi harga produk China, meskipun harganya sudah naik. Pengamat ekonomi dan bisnis Asia dari Universitas Tarumanegara, Jakarta, Bob Widyahartono menilai, dengan perhitungan banyak pengamat yang mengasumsikan yuan, sejak dipatok nilai tukarnya pada 1996, sebenarnya telah undervalued hingga 10 persen, maka nilai yang pantas apabila yuan direvaluasi adalah 7,48 hingga 7,50 yuan per dolar AS. Terlepas dari segala optimisme dan pesimisme yang merebak, langkah Cina tersebut justru menunjukkan kredibilitasnya sebagai kekuatan ekonomi baru di perekonomian global. Menyadari kiprah perekenomiannya kini sangat diperhitungkan dan dinantikan oleh banyak negara, China tampil sebagai kekuatan yang tak mudah tunduk pada dominasi kapitalisme AS dan Eropa. China malah membuat AS dan Eropa frustrasi dengan sikapnya yang tak kunjung mengakomodasi tekanan untuk merevaluasi yuan. Pada akhirnya, kesediaan China mereformasi sistem nilai tukarnya, mencerminkan keterbukaan dan kesadaran akan kontribusinya menjadi kekuatan penyeimbang. Daryl - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Monday, the first day of school. Students from elementary school to high school enter a new environment. They meet new teachers and make new friends. They become acquainted with each other without prejudice; devoid of bias or preconceptions. Adults have something to relearn from the young. Time slowly detaches us from our youthful innocence. Instead of wisdom we adopt harmful predispositions. The very tenets of humanity that we teach our children become, among adults, social partitions that split a nation into exclusive biases of creed or wealth. The mainstream monopolizes the entitlements of truth. A tyranny of the majority, as nonconforming minorities become errant -- marginalized simply due to a lack of numbers. How many more times will our nation repeat its mistakes? Condemn people on the basis of their beliefs. In the 1970s and 1980s the nation hunted communists. In the 1990s the "devils" were antinationalists. Now, in this new millennium it is religious revisionists and heretics. Reformasi has brought great changes in our political vista. Though it seems to have done little in teaching us respect for the opinions and beliefs of those who "dare" to veer from our own. Travesties of justice continue to prevail on a mass basis. A man in this country can be jailed for conducting prayers in his own language. While the nation's highest clerical body can look the other way as a mob attacks a group that has an alternative interpretation of a religion. The recent attack on the Indonesian Ahmadiyah Congregation (JAI) by a swarm of brutes calling themselves the Indonesian Muslim Solidarity is a despicable act of bigotry. The attackers are an embarrassment to civil decency and tarnish the very religion they claim to defend. Their behavior was more ungodly than any charge against the JAI members they were attacking. These people are the kind who give Islam a bad name. They create erroneous misperceptions that spur a "Western" simplification on Islam and terrorism. Thankfully, no life was lost in Friday's attack at the JAI compound in Parung, West Java. Ahmadiyah is an extremely marginal denomination of Islam, whose followers believe Ghulam Ahmad Khan, and not Muhammad, was God's final prophet. The validity of their faith is not for us to question -- just as it is the right of Christians to place conviction in the Holy Trinity, for Hindus to worship multiple deities or Buddhists to believe in the tenets of Sidharta. True Muslims will always remember their own scripture: "to you your religion, and to me mine". Respect for other's opinions, faiths and creeds is a bedrock for this nation that keeps it great. Despite our differing ethnicities, religions and races, Indonesians have always set aside their contradictions and turned their homeland's diversity into a strength. We do not believe that the events in Parung were reflective of the behavior of the majority of Muslims and Indonesians. It was an act of recklessness, spurred by political motives to undermine potential threats to the established power of the pacesetters of organized religion -- people who look for God high up, not in the human heart. Respect for freedom of faith is not simply the independence to practice what one accepts as divine. It is in effect the nucleus of a democracy: Personal liberty to determine one's highest conviction -- an act that precedes freedom of expression or voting. Our faith shapes our social values. How can we ever be free to truly express ourselves in public or through the vote when our faith -- a primary determinant of our political persuasion -- is restrained? Religion is supposed to liberate; it is not mind control. One should beware of false prophets, but their deceit will never be exposed if they are not allowed the chance to speak. Physical attacks only sanctify a religion that may have only been an excursion into radicalism to begin with. While our new democratic system helps provide political accountability and install good governance in the country, the very survival of the nation depends on the ability to harmoniously maintain the patchwork that is Indonesia. That is the best way to serve the nation and God. "True servants of God are those who walk on earth in humility, and when the ignorant address them they reply: Peace" Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
Islam is not a monolithic religion; it is a religion of multiple interpretations. Although Islam may appear to be monolithic, its form and expression vary from one individual to another and from group to group. Thus, there is no single interpretation for the Koran, as the source of Islam. In addition, there is no concept of "church" in Islam and no one authority can issue a religious edict and expect it to be accepted universally by all Muslims. So how is Islam, especially sharia here to be understood? There are a number of factors that can influence the outcome of an individual Muslim's understanding of sharia. In hermeneutics, we know that reading text is not straightforward. The text will disclose its meaning in interactive ways. Text means or produces meaning in many and different ways. In addition insight and enlightenment are provided in various contexts and by various peoples. Thus, everybody has a right to understand the words he/she hears or reads. He/she has his/her own reflection on the texts. In this case, different intellectual inclinations also influence the effort to understand sharia and thus lead to different interpretations of a particular doctrine. Thus, no single scriptural trajectory of any teaching should be absolutized. The evolutionary process of interpretation that makes up the texts must continue today in the same manner in which it took place then, in continuity with what went before, preserving the past without embalming it, faithful to the past without being limited by it. We should be aware of the historical context in which Islam grew up, for us to take into consideration when interpreting the doctrine. Sharia, unlike the Koran, is not devoid of human opinion. Correct knowledge of the history of Islam also indicates that sharia developed centuries ago, and that, due to social and political circumstances, its stipulations have not been amended in accordance with new social conditions. It is for this reason that there are various schools of jurisprudence, which differ from each other on many questions. Sharia is also not unchangeable. Many of its rules and regulations are no longer applicable to present social problems. Earlier Islamic thinkers, like Ibn Taymiyah, had recognized the necessity for change in view of changing circumstances, and it is for this reason that he came out with a doctrine that religious edicts can change according to changing times. The above perspective is based on the fact that the Koran was revealed to the Prophet over a period of 23 years. Some verses, therefore, refer to specific events like the campaign at the time of the battle Badr, and specific acts of the Prophet, such as his marriage to Zaynab bint Jahsh. (Q 33: 36). Moreover, various Koranic prescriptions relate to the practices of pre-Islamic society and were in response to the social circumstances prevalent then, and these practices no longer have the same social implications. Over the centuries Muslims societies have changed and now have new problems, which need new sharia legislation. Today contradictions within Islam are more fatal; it is a bomb, not an ass, which extremist ideologues may be riding into the future. The extremist' single-minded hubris has transformed a regional problem into a global crisis. And we have been deeply troubled by the devastating effects of theological intolerance, which sapped the community's ability to accommodate plausible theological differences. If Muslims are not able to accept doctrinal differences among themselves, how will they live in a globalized world, in which cultural and religious differences are norms? Thus, to make sense of a pluralistic world, an authentic Islamic theology of difference is needed. This theology has to be based on the understanding that religious diversity reflects the will of God and that Islam allows different paths to an understanding of divine will. For this new theology to arise a hermeneutical space is required in which critical thinking can take place. In fact, this effort has been done by Muslim thinker al-Ghazaly (1058-1111). His book entitled Faysal al-tafriqa bayna al-Islam wa al-zandaqa (the Decisive Criterion for Distinguishing Islam from Heresy) was written to refute the tendency of Muslim scholars in his time who condemned their opponents as nonbelievers or heretics. In his book al-Ghazali defined the boundaries within which competing theologies can coexist in mutual recognition of each other, i.e., as "orthodox," in the sense of passing theological muster. In other words, it is not to decide, who among the theological school is "right", but rather to demonstrate the folly and unfairness of the practice of condemning a doctrine as heresy simply because it goes against one's own theology. Furthermore, al-Ghazali insists even where a doctrine can be justifiably deemed "wrong" or heretical, this does not necessarily constitute nonbelief. According to al-Ghazali, sacred texts such as the Koran and Hadith are open to interpretation on five different levels: Ontological-existential (dhati), experiential (hissi), conceptual (khayali), intellectual (aqli), and metaphorical (shabahi or majazi). Nevertheless, it does not mean that all interpretations of a sacred text are of equal value. Some may be misguided or even completely wrong. However, wrong interpretations should not be suppressed as heresy. An interpretation is heretical only if it denies the truth of a sacred text on all the above hermeneutical levels. Epistemologically, the exegesis of a sacred text constitutes informed opinion (zann) and not absolute truth (haqq), thus no one may claim an exclusive right of interpretation and no single interpretation is definitive. This approach helps preserve alternative voices that keep the process of interpretation open-ended and its spirit conforms to the liberal ideal of freedom of speech by granting to jurists and theologians the right to be wrong. In conclusion we can say that the denial of ijtihad (individual interpretation) means nothing less than the denial of Allah's continuing, living solicitude and the mission of the Prophet to bring mercy to the world. Unfortunately, Muslim reformers who wish to reform their societies by making sharia the basis of their legal system often forget that the duty of mercy applies to each and every obligation that is enjoined upon human beings in the Koran. What this means in practice is that when the performance of an obligation calls for severity, it is the duty of Muslims to temper severity with mercy. Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
In the 1990s, Western media such as Newsweek and Time cautiously recognized Islam in Southeast Asia, particularly in Indonesia, as Islam with a friendly face. There was a line of distinction between "Islam" practiced in the region and that of the Middle East -- the repression of which was infamous. However, the Sept. 11 terrorist attacks have turned the tables; and the subsequent attacks in our country have all confirmed the Western suspicion that "terror theology" is actually embedded in the religion of Islam, regardless of the different cultures and traditions that Muslims may adhere to. As a result, the previously friendly face of Islam in Indonesia has turned into a frightening one. What pushed the emergence of this "terror theology"? Is it really "embedded" in Islam? Some argue that the double standards of the U.S. in the Middle East such as toward the Israeli-Palestinian conflict and Iraq as well as other Third World countries in general, for example, is what has angered Muslims. Consequently, the American "invitation" to embrace democracy was considered hypocritical as the country is regarded to have displayed an inconsistent attitude. Because they have lost their trust in the present establishment, they founded organizations to take over formal authority from the states in order to achieve their goal to establish an Islamic state. The case of Ikhwanul Muslimin established by Hassan al-Bana and Sayyid Qutb in Egypt is a vivid example. Its establishment was not only social but also political to subvert the administration of President Gamal Abdul Nasser whose policy was considered repressive against Muslims. This has inspired Muslim organizations worldwide such as Jamaah Islamiyah in Pakistan headed by Abdul A'la al-Maududi, Hizb Tahrir al-Islamiy by Taqiyuddin an-Nabhani, the Taliban in Afghanistan, Laskar Jihad in Indonesia and the most feared al-Qaeda led by Osama bin Laden. The education system in al-Qaeda, for example, has been profoundly inspired by Ikhwanul Muslimin, notably a strategic combination between religious and military training for Muslim youth who are eager to return to the "golden age" of Islam. Although different groups might pursue different strategies and tactics, they all aspire to the same goal: The establishment of an Islamic state. They regard themselves as the most correct, and others who have a "non-Islamic" approach -- even their fellow Muslims who choose not to become their members -- are considered infidels or hypocrites. They have extreme interpretations of Islam. The case of the Taliban is obvious: televisions, radios and other modern equipment were destroyed, and a campaign was staged to get rid of non-Muslims such as Hindus and Christians and even fellow Syiah Muslims. Although it is unlikely that their terror theology will become mainstream in the Muslim world, their movement has been supported by sophisticated networks. As evident, their brutal activities have been increasingly disturbing the majority of Muslims and the world. So, while no religion campaigns for violence, including Islam, we have to examine ourselves critically. What are our societies lacking so far? Strong civil society, enlightening education, social-economic justice and decisive law enforcement are a must to halt the theology of terror. By committing ourselves to those, we can liberate ourselves from a rigid scriptural interpretation of Islam, and the extremists' chance to persuade youths to join their ranks, provoke people and take the law into their hands own will be steadily limited. The basic teaching in Islam to tackle disputes -- such as in religious interpretation -- through dialog and to enhance peace and social justice among Muslim communities and between Muslims and non-Muslims through both dialog and social action should be both contextually conceptualized and systematically pursued. Instead of being an "enemy", the state can play the role of a facilitator to make this happen. The recent attack on Ahmadiyah followers only confirmed that some Muslims are willing to resort to violence -- not dialog -- to resolve problems, even within Muslim communities. Indeed, the West somehow also needs to modify its orientation toward the Muslim world. This means emphasizing dialog and social empowerment rather than "acquiring" or "invading" in political and economic terms -- both covertly and overtly. By so doing, the West would eventually be able to win the hearts and minds of Muslims and to eloquently prove that its campaign of democracy and human rights is sincere and genuine. In due course would come a mutual understanding among believers and a peaceful world. Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you
The government's announcement of a new regulation that all foreigners must pass a test of their competence in Bahasa Indonesia before being granted a work permit, is arousing controversy. A consequence of this will be that many teachers of English will be excluded. They will not come here. They will go instead to other countries where they are welcome and don't need to pass such a test. And where there is government support for programs to teach and learn English. Many Indonesians want to learn English. The English language is a gateway to many education and employment opportunities, both in Indonesia and elsewhere. Even some tertiary teaching here, such as in medicine and management, is already being conducted in English. Not all parents can afford to send their children abroad to acquire competence in English; and many of them would prefer to keep them at home, in their families, if there were equal education opportunities here, especially to learn good Standard English. Most students identify lack of opportunity to speak English as their main disadvantage in learning the language. More speakers and teachers of good English here would increase their opportunities. Whilst it is a good idea that foreigners who work here should learn to speak Bahasa Indonesia, perhaps the test should be applied after one year, before renewal of their work permits. However, it seems unreasonable that teachers of English from English speaking countries should be able to speak, and perhaps also read and write, Indonesian before coming here. No indications have yet been given about the types and degree of competence that will be required, adding to the uncertainty about the meaning of the regulation and its effects. Perhaps the announcement of the new regulation has preceded such considerations. The quality and level of competence in teaching and using Standard English in Indonesia is generally very poor. Access of well educated speakers, writers and teachers of Standard English to work in Indonesia should not be discouraged by the requirement that they be already competent in Bahasa Indonesia before they are permitted to teach English here. Such a requirement will retard Indonesia's economic and intellectual development, and restrict the education and employment opportunities of its citizens. The governments of many countries now have policies and programs to extend competence in English, to enhance their competitive trading and intellectual positions in the new global economy. Will Indonesia, yet again, fall behind in the stakes, because of ill-conceived language policies? Or perhaps, because of the lack of any policy! Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Seorang teman mengirimkan SMS kepada saya. Isinya, âYang amat vital tapi kurang perhatian setelah kemerdekaan adalah pajak. APBN mestinya Rp 660 triliun, pajak Rp 515 triliun. Dengan begitu, kita bisa menganggarkan Rp 50 triliun untuk pendidikan, Rp 35 triliun untuk kesehatan, Rp 50 triliun untuk pertahanan, Rp 10 triliun untuk yudikatif, Rp 40 triliun untuk energi. Gaji pegawai negeri sipil minimum Rp 2 juta. Ini pangkal Indonesia makmur.â Angka-angka di atas mungkin tak dilandasi pemikiran ilmiah dan model perhitungan yang canggih. Namun, kita bisa menangkap semangat yang melatarbelakanginya. Pajak senilai Rp 515 triliun di atas menghasilkan nisbah pajak (tax ratio) sebesar 19,6 persen, yang berarti hampir sama dengan target pemerintah pada tahun 2009. Jika dibandingkan dengan nisbah pajak pada APBN 2005 yang baru saja disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebesar 12,6 persen, tampak perbedaan yang sangat besar. Lebih ironis lagi, nisbah pajak tahun 2005 justru mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2004 yang besarnya 14,1 persen. Memang basis perhitungan untuk kedua tahun ini berbeda, yang mana untuk nisbah pajak 2004 masih menggunakan produk domestik bruto (PDB) versi lama (tahun dasar 1993). Nisbah pajak 2005 telah menggunakan PDB versi baru (tahun dasar 2000). Namun, bukankah penerimaan pajak setidaknya naik secara proporsional dengan peningkatan basis pajak, yang dalam hal ini ialah PDB versi terkini? Konsistensi penting Konsistensi dalam menganalisis penerimaan pajak ini sangat penting karena pemerintah dan DPR juga telah sepenuhnya menggunakan basis PDB 2000. Dengan demikian, hal itu menghasilkan angka laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jangan sampai penguasa mau enaknya saja: yang menguntungkan dipakai, sedangkan yang menuntut kerja ekstra minta permakluman. Jika pemerintah betul-betul memiliki komitmen yang kuat untuk bekerja keras, sepatutnya nisbah pajak tak sekadar sama dengan tahun 2004, tetapi harus dinaikkan, misalnya menjadi 15 persen. Berarti penerimaan pajak akan menjadi Rp 394 triliun, atau naik Rp 62 triliun dari yang tertera pada APBN 2005 versi terakhir. Dengan tambahan ini ancaman peningkatan defisit APBN karena melonjaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan sirna. Satu masalah besar yang menghadang penguatan stabilitas makro-ekonomi terselesaikan sehingga pertumbuhan yang lebih tinggi bisa terus diupayakan. Kesinambungan percepatan pertumbuhan ekonomi akan lebih terjamin lagi seandainya pemerintah berani menaikkan harga BBM secara gradual. DPR dan pemerintah harus menyadari bahwa membiarkan disparitas harga BBM yang semakin lebar akan menimbulkan beragam masalah baru yang semakin rumit sehingga sama saja dengan menciptakan bom waktu. Kita mafhum bahwa daya dukung perekonomian sudah sangat terbatas untuk memikul beban kenaikan harga BBM yang drastis. Namun, membiarkan harga BBM pada tingkat yang sekarang berlaku bukanlah sikap yang bijak. Yang dibutuhkan adalah kembali pada mekanisme penyesuaian harga BBM yang telah diperkenalkan oleh pemerintahan terdahulu, tentunya dengan sejumlah modifikasi. Kewajiban pemerintah dan DPR adalah mampu membuat sejumlah langkah nyata yang terukur untuk memerangi praktik-praktik ekonomi biaya tinggi dan segala hambatan dalam berusaha. Harus pula dipastikan bahwa langkah-langkah ini memiliki skala prioritas yang tajam. Salah satu faktor terpenting yang akan membawa pendulum pada perubahan mendasar dalam kebijakan ekonomi ialah kepemimpinan yang di dalam dirinya melekat kepercayaan (trust). Lemahnya faktor ini sangat terasa, bahkan cenderung mengalami erosi. Serangkaian langkah yang sedang dipersiapkan pemerintah berkenaan dengan pembenahan di sektor perpajakan merupakan bukti nyata yang sulit terbantahkan. Pertama, rancangan undang-undang perpajakan yang baru membedakan perlakuan terhadap pembayar pajak dengan nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan tanpa NPWP. Ketentuan seperti itu memberikan pembenaran bagi seseorang untuk tidak memiliki NPWP. Orang tersebut niscaya tak akan mau memiliki NPWP jika dengan begitu ia lebih leluasa mengamankan pendapatan dan harta kekayaannya dari jerat pajak. Khalayak pantas curiga bahwa selama ini Ditjen Pajak membiarkan, bahkan memelihara, sejumlah orang dan perusahaan tanpa NPWP agar lebih mudah untuk âdimanfaatkanâ. Keberadaan mereka itulah yang diduga menimbulkan fenomena âtsunamiâ pajak. Fenomena di mana pada bulan-bulan tertentu penerimaan pajak tiba-tiba naik berlipat ganda untuk memenuhi target penerimaan. Kedua, sanksi hukuman penjara dan sanksi bagi siapa pun yang dengan sengaja menghambat atau tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh Ditjen Pajak. Tanpa terlebih dahulu melakukan pembenahan dan pembersihan besar-besaran di jajaran Ditjen Pajak, yang dimulai dari pucuk pimpinannya. Kedua langkah di atas justru memperluas manuver aparat pajak melakukan kongkalikong dengan pembayar pajak. Harapan menaikkan nisbah pajak akan semakin jauh dari kenyataan. Tidak produktif Pembenahan perpajakan tanpa visi yang tajam dan tanpa strategi pembangunan yang jelas akan membuat pemerintah menempuh kebijakan-kebijakan yang tidak produktif dan absurd. Model gasak âkiri-kananâ yang terkesan kalap terlihat dari rencana pemerintah menaikkan bea masuk dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) produk otomotif. Menurut beberapa pejabat, langkah ini ditempuh untuk menekan peningkatan konsumsi BBM akibat meningkatnya volume penjualan kendaraan baru. Sementara itu, Wakil Presiden mengatakan, pemerintah berharap memperoleh tambahan peningkatan pendapatan yang besar dengan dinaikkannya PPnBM tersebut. Dengan optimistis Ketua BKPM menimpali, langkah pemerintah ini tak akan berpengaruh terhadap investasi di sektor otomotif. Sebaliknya, Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian bersikap, harap-harap cemas pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan yang dramatis bagi industri otomotif. Hal itu bisa mengganggu komitmen investasi. Kecemasan serupa diungkapkan Menteri Perdagangan. Ia menegaskan, menaikkan tarif bea masuk untuk otomotif bertentangan dengan komitmen dalam kerangka Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA). Ia pun berkeyakinan, kebijakan ini tidak akan berdampak signifikan untuk penghematan BBM. Tentang kenaikan PPnBM, Menteri Perdagangan menegaskan, diperlukan simulasi terlebih dahulu untuk mengetahui efektivitasnya terhadap pengurangan konsumsi BBM. Keraguan dilontarkan pula oleh kalangan pengamat otomotif dan lembaga-lembaga riset. Betapa banyak pejabat yang bicara berbeda-beda tentang satu persoalan. Entah apa yang mereka bahas dalam sidang-sidang kabinet yang semakin sering itu. Tak jelas lagi mana persoalan BBM dan mana persoalan perpajakan. Jangan ditanya dampaknya terhadap kegiatan ekonomi lainnya, kesempatan kerja, daya saing, dan sebagainya. Para pelaku bisnis pasti bertambah bingung dan dihadapkan pada semakin banyak ketidakpastian. Masyarakat bertambah apatis. Hal ini tercermin dari indeks tendensi bisnis dan indeks tendensi konsumen yang terus melorot hingga ke tingkat di bawah 100 (Badan Pusat Statistik, 2005). Inilah akibat dari pemerintah tak kunjung mau menukik ke akar masalah. Mengapa perpajakan tak kunjung dibenahi dengan tuntas. Jangan-jangan justru salah satu sumber masalah pajak ada pada kalangan elite kekuasaan. Lihat saja daftar pembayar pajak terbesar tahun lalu. Di situ tak muncul para saudagar yang sedang bertengger di dalam kekuasaan. Tak ada pula seorang konglomerat besar yang dikenal dekat dengan penguasa. Juga tak ada sejumlah pengusaha yang imperium bisnisnya menggelembung yang berafiliasi dengan partai-partai, yang beberapa di antaranya sedang tersandung kasus di Kejaksaan Agung. Sebaliknya, seorang pejabat tinggi yang sejatinya tak berbisnis justru muncul di dalam daftar, walau yang paling buncit. Saatnya memutus konspirasi di antara orang-orang jahat yang saling menutupi kebobrokannya. Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Ketika penulis ingin mengungkapkan isi hati dan pikiran melalui tulisan ini dengan judul di atas, seorang kawan yang pernah menjadi Ketua Iluni FISIP UI mengirim pesan singkat (SMS). âEmang masih ada Lampu Kuning di Negeri Aca-Kadut ini...? Ibarat traffic light aja, tiangnya udah bablas (lenyap)...lampunya udah koit (mati) gak kuat bayar PLN, PLN gak kuat bayar BBM (karena diutangin BUMN), Pertamina gak kuat impor minyak (karena duit subsidi BBM tak kunjung datang), dan seterusnya. Di negeri ini, semua pemimpin jalan sendiri-sendiri aja, sambil tengok kanan-kiri, cari selamet masing-masing!â Seorang kolega yang birokrat mengatakan, âSebetulnya indikasi state failure sudah ada, ukurannya adalah APBN yang tidak realistis. Maksudnya, komponen anggaran yang ada hanya untuk mempertahankan eksistensi negara, bukan untuk melangkah maju.â Ada lagi teman yang berkomentar dengan bahasa intelektual. Katanya, âPengambilan keputusan di negeri ini bersifat dadakan atau kecelakaan (by accident) dan bukan atas dasar perencanaan (by design). Pernyataan-pernyataan petinggi republik ini keluar begitu saja, bersifat mendadak dan bukan atas pertimbangan atau perencanaan yang matang.â Kedaulatan di ujung tanduk Apa yang diungkapkan teman- teman itu ada benarnya. Mari kita simak apa yang terjadi di negeri kita ini. Ketika peristiwa gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, sehari kemudian di Provinsi Papua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan directives yang berisi 12 butir. Ketika bencana busung lapar mulai terungkap di Nusa Tenggara Barat yang kemudian ternyata terjadi juga di daerah-daerah lain, termasuk di pinggiran Jakarta, Presiden SBY mengungkapkan di depan para gubernur betapa perlunya Badan Koordinasi Intelijen Daerah (Bakorinda) dibentuk kembali. Bakorinda dinilai relevan lagi menyusul peledakan bom di Pasar Tentena. Entah apa lagi yang akan dibentuk ketika bahaya flu burung melanda beberapa daerah dan sudah merenggut tiga nyawa di Tangerang. Ketika berhadapan dengan sekelompok petani di Jawa Barat pertengahan Juni lalu dan para petani menanyakan kepada Presiden SBY mengenai bagaimana berkomunikasi langsung dengan beliau, secara mendadak Presiden mengatakan, âCatat saja nomor HP saya dan kirimkan pesan Anda melalui SMS.â Apa yang terjadi kemudian adalah... tulalit, tulalit, tulalit. Ketika pada awal Juli BBM langka di mana-mana, rapat-rapat kabinet dilakukan, termasuk yang berlangsung lebih dari 10 jam, berita yang muncul kemudian, âPemerintah maupun Pertamina minta maaf.â Anehnya, meski harga minyak mentah sudah mencapai 60 dollar AS per barrel, APBN-Perubahan masih mematok angka 45 dollar AS per barrel. Presiden pun bimbang, mau menaikkan harga BBM atau penghematan. Pilihan yang diambil pun penghematan. Ibu kota Jakarta jadi gelap gulita, semua stasiun TV harus stop siaran dari pukul 01.00 sampai dengan pukul 05.00, dan kantor- kantor pemerintah pun harus berhemat. Entah berapa triliun lagi yang harus dikeluarkan pemerintah untuk subsidi BBM, apalagi kalau harga minyak mencapai 100 dollar AS per barrel! Anehnya lagi, pembangunan monorel di Jakarta tak kunjung jelas penyelesaiannya, sementara di Bangkok dan Kuala Lumpur sudah ada. Semua itu untuk hemat energi dan mencegah bertambahnya polusi kota. Apa pemerintah takut kepada para agen tunggal pemegang merek mobil, khususnya dari Jepang, yang akan hengkang dari Indonesia jika monorel dan MRT dibangun? Kedaulatan kita benar-benar berada di ujung tanduk. Kini, setelah pasokan BBM lancar kembali, Presiden pun akan melanglang buana kembali, terutama ke China, karena Pertamina sudah janji tanggal 26 Juli adalah deadline normalnya kembali pasokan BBM. Namun, pantaskah seorang Menko Perekonomian sebelumnya melawat ke Beijing dengan pesawat pribadi yang menimbulkan cemooh di negeri China, âKatanya Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi, kok menterinya bisa ke Beijing dengan pesawat pribadi?â Alih-alih memikirkan nasib rakyat, para anggota DPR malah meminta kenaikan tunjangan 69-104 persen, tetap jalan-jalan ke luar negeri untuk studi banding di kala parlemen di negeri Paman Sam dan Napoleon sedang libur musim panas. Hebatnya lagi, partai-partai yang punya kursi di DPR mendapatkan âsalam tempel politikâ Rp 21 juta per kursi per tahun dari pemerintah! Kita hanya bisa mengurut dada. Situasi âungovernableâ Apa yang terjadi sejak terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu sembilan bulan lalu ialah negeri kita tampaknya sedang menjurus ke situasi ungovernable, di mana terasa seolah-olah kita tidak memiliki pemerintahan lagi. Jika tidak cepat diatasi, bukan mustahil negeri ini akan menuju kepada failed state, negara yang bangkrut dan gagal. Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2005-2009 yang jauh lebih tebal dari GBHN itu tampaknya masih sekadar pajangan. Adalah suatu ironi bahwa presiden dan wakil presiden yang dipilih langsung oleh rakyat bukan memenuhi janjinya mengenai âBersama Kita Bisaâ, melainkan justru mengesankan ke arah âBersama Kita Sengsaraâ, kalau tidak dapat dikatakan âBersama Kita Binasaâ. Situasi yang ibarat lampu kuning ini hanya mungkin menjadi lampu hijau jika konsep good governance benar-benar berlangsung di negeri ini dan kita berani menentukan ke mana negeri ini akan melangkah, bukan tunduk kepada kemauan asing. Daryl - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Pada suatu ketika nan jauh di sana, ada sebuah pulau dimana semua Perasaan, Gembira, Kesedihan, Pengetahuan dan lain semuanya tinggal bersama sama, termasuk Cinta. Suatu hari, pengumuman untuk semua perasaan di pulau itu bahwa di pulau itu akan terkena banjir, jadi semua perasaan bersiap siap ke kapalnya masing-masing untuk berangkat. Hanya Cinta seorang yang tinggal di pulau itu,dia berusaha untuk bertahan di saat terakhir. Karena dia tidak mempunyai apa. Ketika pulau itu hampir seluruhnya di telan banjir,Cinta memutuskan untuk pergi. Cinta melihat lihat di sekelilingnya siapakah yang sudi untuk menolong dia yang malang ini. Lalu,Kekayaan melewati Cinta dengan kapal besar nan indah, lalu cinta dengan memohon dan berkata, âKekayaan, bolehkah saya ikut denganmu,Kekayaan?â Kekayaan menjawab, âMaaf Cinta, tapi disini sudah terisi dengan banyak perak dan emas dan tidak ada lagi kamar untuk kamu dimanapun di sisi kapal ini.â Lalu cinta memutuskan untuk memohon kepada Kecantikan yang juga melewatinya, dengan memohon dan menangis, Cinta berkata, âKecantikan, tolong saya, bawakan saya bersama kamu, please.â âSaya tidak bisa menolong kamuâ, Kecantikan menjawab dan berkata lagi, âKamu sangat basah dan kotor, kamu akan merusak Kecantikan dan mengotori kapal saya.â Lalu, cinta melihat Kesedihan, teman dari pulau yang sama sedang melewatinya, Cinta juga memohon, âKesedihan, please biarkan saya ikut dengan kamu.â âCinta, saya minta maaf, tapi saya ingin menyendiri pada saat iniâ, ucap Kesedihan. Lalu, Cinta melihat Kegembiraan. Cinta dengan menangis dan berkata, âKegembiraan, tolong bawa saya bersamamu, tidak ada lagi yang membantu saya, hanya kamu Kegembiraan.â Tapi Kegembiraan terlalu menikmati sehingga dia tidak mendengarkan suara Cinta yang memanggilnya dengan penuh harapan. Cinta mulai menangis dan putus asa, lalu, tiba-tiba Cinta mendengar suara dan berkata, âMari Cinta, saya akan membawamu bersama denganku.â Adalah seseorang yang dewasa yang membawa Cinta. Cinta merasakan sangat diberkati dan terlalu senang dan lupa untuk menanyakan siapakah nama sang penyelamat. Lalu mereka pun tiba di sebuah pulau yang di bawakan oleh sang penyelamat. Cinta menyadari betapa besar hutang pada sang penyelamat yang telah menyelamatkan jiwanya dari kematian. Lalu Cinta bertemu dengan Pengetahuan dan bertanya, âsiapakah yang menolong saya, Pengetahuan?â âDia adalah Waktuâ, Pengetahuan menjawab. Tapi kenapa hanya Waktu yang menolong saya ketika semua orang tidak ada yang ingin menolong saya? Cinta bertanya. Pengetahuan tersenyum, dan dengan Pengetahuan yang dalam dan merendah menjawab, âKarena hanya Waktu yang bisa membuat seseorang mengerti dan menyadari betapa besarnya arti Cinta.â Kenyataan dalam hidup ini: (Dimulai dari kata Tahukah kamu.....) 1. Paling sedikit 5 orang di dunia ini sangat mencintai kamu dan mereka rela mati demi kamu. 2. Paling sedikit 15 orang di dunia ini mencintai dengan kamu dengan beberapa jalan yang berbeda. 3. Alasan yang utama semua orang yang membenci kamu karena mereka ingin menjadi seperti kamu. 4. Senyuman dari kamu bisa membawa kegembiraan kepada orang yang mencintai kamu, juga kepada mereka yang tidak menyukai kamu. 5. Setiap malam SESEORANG di sana selalu memikirkan kamu sebelum mereka bersiap siap untuk tidur. 6. Kamu mengartikan dunia ini untuk seseorang. 7. Tanpa kamu, seseorang mungkin tidak akan hidup. 8. Kamu sangat special dan istimewa di hati dan pikiran saya. 9. Seseorang yang tidak mengenal perasaan dan hati kamu dengan jelas, mencintai kamu. 10. Ketika kamu membuat kesalahan yang sangat besar, sesuatu yang baik akan datang kesalahan yang kamu perbuat. 11. Ketika kamu berpikir bahwa dunia telah membenci dan berpaling dari kamu, lihatlah kembali dunia itu, kamulah sebenarnya yang telah membenci dan berpaling dari dunia. 12. Ketika kamu berpikir tidak ada kesempatan untuk mendapatkan yang kamu inginkan, Kamu mungkin tidak akan mendapatkannya, tetapi bila kamu percaya pada diri kamu sendiri, kamu mungkin cepat atau lambat akan mendapatkannya. 13. Selalu ingat anugrah yang kamu dapatkan, lupakan semua kekasaran yang kamu pernah dapatkan. 14. Selalu memberitahukan apa perasaan yang kamu rasakan kepadanya. Kamu akan merasakan lebih baik bila dia mengetahuinya. 15. Jika kamu mempunyai teman baik, ambilah sesaat dari waktu kamu bahwa mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik. Simpan dan cobalah mengerti makna dari cerita diatas, bahwa Cinta itu tidak akan mudah di mengerti hanya dalam waktu satu hari. Cinta itu membutuhkan waktu untuk menyadarinya. Bagi teman yang saling mencintai, cobalah untuk menghargai cinta dan jangan menyia-nyiakan orang yang mencintai kamu, sebab Cinta itu sangat agung dan suci. Kirimlah pesan ini ke seluruh teman anda dan biarlah seluruh dunia ini tahu bahwa Cinta itu sangat indah dan perlu waktu untuk di mengerti. What's called truelove is ...the time when you still care and cry for her... the time when she even don't care bout you... and you still waiting for her... patiently.. And the time when she starts to love someone else... And u still can smile... then say... I'm also happy for you still try and try again, never stopping believing, trying again, Cinta sejati adalah waktu dimana kamu masih perhatian dan menangis untuk dia....walaupun ketika dia tidak perhatian akan kamu... dan dimana kamu masih menunggu dia... Dengan sabar... dan waktu dimana dia mencintai seseorang... kamu masih bisa tersenyum dan berkata... aku gembira untuk kamu.... give up on to give your heart to that person you love him/her. Kirimlah ke semua teman yang anda sayangi. Buktikan bahwa anda mengerti dan akan tetap mencoba âtuk mencintai. Daryl - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian Ironis bila kau dapat mengirim ribuan "lelucon" melalui email dan lelucon tersebut menyebar cepat bagaikan kebakaran,tapi bila kau mulai mengirimkan pesan tentang TUHAN,orang - orang berpikir dua kali untuk men - sharingkannya. Ironis pula bila kau mengirimkan artikel ini,banyak diantara daftar nama yang kau miliki tak menerimanya karena kau tidak yakin mereka juga akan mempercayainya. Ironis...? Menyedihkan dan menyebalkan... Semoga TUHAN memberi kekuatan, keberanian untuk mengirimkan artikel ini... Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Bacalah dengan perlahan & pahamilah ....Ini adalah pelajaran yang sangat bermanfaat bagi Anda..... Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil...yang menggelar lomba lari..... Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta... Perlombaan dimulai... Secara jujur...... Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara. Terdengar suara:"Oh, jalannya terlalu sulitttt!!Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak." atau: "Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!! Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu............. Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi....... Penonton terus bersorak "Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!" Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah... ...Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi...Dia tak akan menyerah! Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak! SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya? Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata...Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!! Pelajaran yang kita dapat dari katak ini: "Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis..." "â¦â¦â¦karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu." Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada.Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu! Karena itu..... Tetaplah selalu.... !P.O.S.I.T.I.V.E! Dan yang terpenting:Berlakulah "TULI" jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu! Selalu berpikirlah:"I Can Do This!" Kirim pesan ini kepada semua teman Anda....Karena teman yang baik tidak pernah mencela temannya sewaktu temannya gagal/terjatuh....... melainkan menopang dan memberinya semangat. Teman yang baik adalah teman yang bisa saling memberi motivasi satu sama lain.Teman yang baik selalu memberikan pelajaran-pelajaran yang baik tentang kehidupan ini.... Bukankah aku teman yang baik?Kalau ya, maka sebarkanlah artikel ini dan beri tahukan kepada semua teman-teman Anda tentang pelajaran hidup ini.... Daryl - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian Ironis bila kau dapat mengirim ribuan "lelucon" melalui email dan lelucon tersebut menyebar cepat bagaikan kebakaran,tapi bila kau mulai mengirimkan pesan tentang TUHAN,orang - orang berpikir dua kali untuk men - sharingkannya. Ironis pula bila kau mengirimkan artikel ini,banyak diantara daftar nama yang kau miliki tak menerimanya karena kau tidak yakin mereka juga akan mempercayainya. Ironis...? Menyedihkan dan menyebalkan... Semoga TUHAN memberi kekuatan, keberanian untuk mengirimkan artikel ini... Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
@ Cinta adalah kebahagiaan yang bergetar
@ Cinta. Terkadang aku pura-pura tidak melihatnya ketika aku memejam hendak menghindar darinya.
@ Pernikahan tidak memberi seseorang hak untuk memiliki orang lain, kecuali hak dan kebebasan yang diberikan orang lain pada kita.
@ Puisi merupakan nyala api dalam hati, sedangkan retorika adalah serpihan salju. Bagaimana nyala api dan salju dapat di gabung bersama?
@ Cinta yang berkobar-kobar adalah dahaga yang tak terpuaskan.
@ Andaikata tidak tampak dan tidak terdengar, cahaya dan suara tidak punya arti apa-apa selain berupa kekaburan dan getaran di angkasa. Demikian pula, apabila cinta tak terasa dalam hati, yang ada hanya debu yang tertiup dan terberai oleh angin.
@ Jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang. Tapi aku berkata, jika ada yang mencintai orang lain, ia dapat mempelajari sesuatu tentang dirinya sendiri.
@ Derita yang menyertai cinta, penciptaan dan tanggung jawab, juga mendatangkan kegembiraan.
@ Cinta sebagaimana ajal, mengubah segala-galanya.
@ Musuh berkata padaku, "cintailah musuhmu". Dan aku mematuhinya serta mencintai diriku.
@ Keindahan adalah apa yang menarik jiwa, kepadanya cinta diberikan dan bukan diminta.
@ Puisi bukan ungkapan pikir. Dia adalah nyanyian, yang lahir dari kepedihan luka atau senyuman bibir.
@ Seorang penyanyi tak akan dapat menyenangkan orang lain jika dia tidak senang menyanyikannya.
@ Puisi adalah kilatan cahaya, dan hanya dapat dinikmati ketika terangkai dalam kata.
@ Cinta yang tidak memperbaharui dirinya. Setiap hari akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi perbudakan.
@ Cinta berlalu didepan kita, berbalut kerendahan hati; tetapi kita lari darinya dalam ketakutan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.
@ Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokkan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.
@ Setiap benih adalah kerinduan.
@ Syair bukanlah opini yang dinyatakan. IA adalah lagu yang muncul dari luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.
@ Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyadari keabadiannya.
@ Cinta adalah tabir antara pencinta dengan pencinta.
@ Kecantikkan bersinar lebih terang dalam hati orang yang merindukannya daripada di mata yang melihatnya.
@ Ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih di hadapanmu, kamu memandang ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata, "Aku cinta kamu." Tetapi sebenarnya kamu mencintai dirimu dalam diriku.
@apa yang kita rindukan dan tidak bisa kita peroleh lebih kita sayangi daripada apa yang sudah jkita peroleh.
@keraslah kehidupan dia yang menginginkan kematian tetapi terus hidup demi mereka yang dicintainya.
@cinta tak menyadari kedalamanya saMPAI SAAT PERPISAHAN.
@suatu bentuk pemanjaan diri yang aneh! ada saat-saat aku tertipu dan dijahati; namun aku dapat tertawa agar mereka menira aku tak tahu bahwa aku tertipu dan dijahati.
@cinta yang dibasuh oleh air mata, akan tetap indah dan suci selamanya.
@manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.
@cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa banuan musim-musim.
@cinta adalah membagi, memahami, memberi kebebasan, menjawab panggilan dan cinta adalah kehidupan.
Daryl - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian Ironis bila kau dapat mengirim ribuan "lelucon" melalui email dan lelucon tersebut menyebar cepat bagaikan kebakaran,tapi bila kau mulai mengirimkan pesan tentang TUHAN,orang - orang berpikir dua kali untuk men - sharingkannya. Ironis pula bila kau mengirimkan artikel ini,banyak diantara daftar nama yang kau miliki tak menerimanya karena kau tidak yakin mereka juga akan mempercayainya. Ironis...? Menyedihkan dan menyebalkan... Semoga TUHAN memberi kekuatan, keberanian untuk mengirimkan artikel ini... Tulisan ini hanya pendapat pribadi kalo mau protes silakan tapi jangan angkuh Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy-Making" CONFIDENTIAL NOTE: The information contained in this Bulletin Board is intended only for the use of the individual or entity named above and may contain information that is privileged, confidential and exempt from disclosure under applicable law. If the reader of this message is not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution or copying of this communication is strictly prohibited. If you have received this message in error, please immediately notify the sender and delete the mail. Thank you "AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN"
Kemiskinan seolah menjadi fakta tak terbantah. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara berpenduduk termiskin di dunia, sekitar 39,05 juta jiwa versi Badan Pusat Statistik atau lebih dari 100 juta jiwa versi Bank Dunia. Jika ambang batas kemiskinan (poverty threshold) diukur dari kegagalan pemenuhan hak-hak dasar (basic rights) atau dengan skala pendapatan di bawah 1-2 dollar AS per hari, kita sulit mengelak. Kegagalan menangani bencana, rentetan wabah penyakit, dan tragedi busung lapar melengkapi potret buram itu. Kemasyhuran zamrud khatulistiwa dan lautan kolam susu kian diragukan. Bagaimana mungkin negeri yang kaya sumber alam dan bertanah subur justru menjadi ladang persemaian tragedi kemiskinan? Sebuah paradoks Namun, mari kita gunakan logika terbalik. Selama ini, diagnosis problem kemiskinan cenderung mengabaikan kekayaan bangsa —yang kasatmata— dan orang-orang kaya di republik sebagai faktor determinan. Di tengah kemiskinan yang menjerat, ada manusia-manusia superkaya kelas dunia. Majalah Forbes Asia (18/9/2006) merilis daftar 40 orang superkaya Indonesia, dengan total kekayaan 22,27 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 200 triliun. Celakanya, di antara daftar taipan superkaya itu bercokol pemain lama, termasuk pembobol uang negara yang mengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini tahun lalu juga tidak kalah heboh. Menurut kedua perusahaan jasa keuangan internasional itu, sepertiga jumlah miliarder di Singapura adalah warga Indonesia. Sepertiga dari total aset 55.000 orang terkaya di Singapura, sebesar 260 miliar dollar AS, adalah milik warga Indonesia (WNI) yang punya izin tinggal tetap di sana. Dari 55.000 orang terkaya itu, 18.000 orang adalah WNI yang berdomisili di Singapura dengan kekayaan 87 miliar dollar AS (sekitar Rp 800 triliun). Belum lagi jika ditambah kekayaan WNI yang disimpan dan diinvestasikan di negara lain. Padahal, RAPBN 2007 saja hanya berkisar Rp 713,44 triliun. Pada masa kolonial, darah dan keringat rakyat serta kekayaan alam Nusantara dikuras Belanda. Kini, kekayaan Indonesia menjadi tulang punggung negara lain. Bukan rahasia lagi, Singapura merupakan negara yang tergantung uang gelap dari Indonesia dan China. Ironisnya, para miliarder yang bermukim di sana tetap memiliki perusahaan yang beroperasi di Indonesia dengan mengandalkan pasar Indonesia. Kendati para miliarder tinggal di Singapura, mereka masih mencari untung dengan mengeruk kekayaan Indonesia. Dominasi pemodal asing Lantas, seberapa besar kekayaan bangsa yang dapat dinikmati rakyatnya? Globalisasi ditandai pergerakan modal secara bebas, melampaui batas-batas negara- bangsa. Indonesia ternyata menjadi surga bagi pemodal asing yang bergiat menguasai sumber daya yang vital. Investor asing melihat Indonesia sebagai penyedia bahan baku yang murah dan melimpah serta penduduknya sebagai pangsa pasar yang potensial. Kita pun cenderung salah kaprah memaknai investasi asing sebagai suntikan dana segar dari pemodal. Padahal, aliran modal asing itu sejatinya menjadi parasit yang mengisap. Mereka beternak uang dengan menumpang mencari makan di republik ini. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah selalu menjadi incaran. Nama-nama besar Freeport, ExxonMobile, Newmon, dan Inco yang menguasai sumber-sumber kekayaan alam potensial seperti emas, nikel, gas, dan minyak bumi jelas bukan hal baru. Untuk air minum berlabel Aqua, berasal dari mata air dan dikemas di republik ini, harus kita beli dari Danone dengan harga yang tidak murah. Yang diuntungkan pun para pemodal. Sektor finansial, terutama perbankan, juga tak lepas dari cengkeraman pemodal asing. Jangankan bank-bank papan atas seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Niaga, Bank Danamon, Bank Internasional Indonesia (BII), Bank Lippo, Bank Bumiputera, NISP, Permatabank, bank-bank kecil pun dilirik investor asing. Belakangan, penjualan bank swasta kepada investor asing kian gencar. Celakanya, kebanyakan bank swasta yang dimiliki asing itu lebih menggantungkan perolehan keuntungan dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang tak lain adalah uang negara. Laba triliunan rupiah yang didapat dari uang rakyat itu kembali ke kantong para investornya. Dominasi pemodal asing di bidang perbankan tak lepas dari aturan yang membolehkan batas kepemilikan saham asing hingga 99 persen. Batas kepemilikan bank oleh pihak asing di Indonesia jauh lebih liberal dibanding negara lain. Amerika Serikat, negara dedengkot kapitalisme, hanya memberi kepemilikan asing 30 persen. Filipina membatasi kepemilikan asing 51 persen. Thailand dan India sebesar 49 persen. Malaysia, China, dan Vietnam membatasi hingga 30 persen. Sektor-sektor vital lain pun tak lepas dari serbuan investor asing. Industri telekomunikasi pelan tapi pasti juga dikuasai modal asing. Sektor ritel dan sektor lainnya pun terus digempur pemain asing, sementara para pemain lokal kelabakan. Kibaran bendera modal asing menggerogoti ruang gerak sektor usaha putra-putra bangsa. Ironis, saat kekayaan republik ini bisa menghidupi orang asing, anak-anak negeri sendiri justru telantar. Jumlah penduduk Indonesia yang besar sejatinya merupakan sumber tenaga kerja yang berlimpah. China dan India menjadi raksasa ekonomi dengan memanfaatkan penduduknya sebagai tenaga kerja yang produktif. Jika republik ini dikelola dengan tegas dan saksama, dikawal penegakan hukum, penciptaan lapangan kerja, redistribusi keadilan sosial dengan mengutamakan kepentingan rakyat, Indonesia tidak pantas menjadi negara miskin. Sebaliknya, Indonesia bak raksasa yang sedang tidur. Jika bangun, ia bisa menggegerkan dunia! Yang Dibutuhkan Indonesia Bukanlah DEMOKRASI ataupun DICTATORSHIP, Tetapi KEDISIPLINAN reply 4 replies share You Must Hear This So NiceOct 14, '06 5:42 AM for everyone http://rapidshare.de/files/36682820/tw_youth_-_Breathe.rar Mixed Nice Praise and Worship enjoy it http://rapidshare.de/files/36604879/03_Allah_Perkasa.mp3 http://rapidshare.de/files/36604878/02_Awesome_God.mp3 http://rapidshare.de/files/36604876/01_Opening.mp3 http://rapidshare.de/files/36604875/06_MATA_HARI_BERSINAR_TERANG_-_06_MATA_HARI_BERSINAR_TERANG.mp3 http://rapidshare.de/files/36604874/04_BURUNG_PIPIT_-_04_BURUNG_PIPIT.mp3 http://rapidshare.de/files/36603470/The_Best_Is_Yet_To_Come_-_02_-_Hebat.mp3 http://rapidshare.de/files/36603469/The_Best_Is_Yet_To_Come_-_01_-_Opening.mp3 http://rapidshare.de/files/36603468/01.Giving_My_Best_-_Tiba_Saatnya.mp3 http://rapidshare.de/files/36603467/07.One_Way_-_kasih.mp3 http://rapidshare.de/files/36603465/09.One_Way_-_persahabatan.mp3 http://rapidshare.de/files/36601482/02._Karena_Kau_Setia.mp3 http://rapidshare.de/files/36601355/09_-_Rentang_Masa_Depan.mp3 http://rapidshare.de/files/36601230/02._Edwar_Chen_feats_BobbyOW_-_Bentuklah_AKu.mp3 http://rapidshare.de/files/36600998/01._Edward_Chen_feats_Hans_Sebastian_-_Tetap_Cinta_Yesus.mp3 http://rapidshare.de/files/36600571/11_Every_Move_I_Make__Japanese_Version_.mp3 http://rapidshare.de/files/36600426/10_In_The_Secret__Japanese_Version_.mp3 http://rapidshare.de/files/36600198/Mighty_To_Save_-_01_-_Take_It_All_-_Hillsong_Church.mp3 http://rapidshare.de/files/36599793/03_-_Hold_Me_Close.mp3 http://rapidshare.de/files/36599416/02_-_Free.mp3 http://rapidshare.de/files/36599038/02_-_Regina_-_Mujizat_itu_Nyata.mp3 http://rapidshare.de/files/36598680/Lawatan_KudusMu_-_01_-_Anugrah.mp3 http://rapidshare.de/files/36598026/08_Kubri_yang_terbaik.mp3 http://rapidshare.de/files/36597527/01.Planetshakers_-_Running_After_You.mp3 http://rapidshare.de/files/36597145/02_Teriak.mp3 http://rapidshare.de/files/36596751/01_Yang_Terbaik.mp3 reply share Suara Hati Anak Bangsa Yang Sedang GelisahJul 25, '06 5:33 AM for everyone Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun utang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli dikirimkan, akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan "character and nation building". ejak jatuhnya Orde Baru, perekonomian Indonesia masih terpuruk dan bergantung pada CGI. Kehidupan politik, budaya dan ideologi bangsa juga sedang mengalami krisis. Kesatuan wilayah dan hati bangsa Indonesia makin terpecah belah setelah era reformasi. Upaya perbaikan nasib rakyat bukan makin baik tapi makin menyedihkan. Lalu apa yang di perlukan oleh bangsa Indonesia untuk keluar dari krisis? Utang lebih banyak pada negara CGI seperti yang dilakukan tim ekonomi Indonesia dari Soeharto hingga Yudhoyono. Membuka pasar lebar-lebar kepada investor asing untuk menguras tambang di Freeport dan blok Cepu dengan harapan akan mendatangkan devisa? Lalu kalau investor didatangkan, apakah perlu dipertaruhkan nasib buruh dan petani sebagai tumbal bangsa demi mencapai pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional? Apakah datangnya investor dan pinjaman utang baru mampu mengakhiri krisis Indonesia bangsa yang multi dimensi? Memang untuk membangun ekonomi Indonesia membutuhkan investor dan sumber daya manusia dari luar. Tapi mendatangkan investor dan utang lebih banyak tak akan banyak menolong kalau karakter bangsa tidak diperbaiki. Krisis utama bangsa Indonesia bukan sekadar krisis ekonomi dan negara kesatuan tapi juga krisis kebangsaan khususnya karakter bangsa. Kebanggaan yang Sirna Bagi banyak orang yang pernah hidup dalam tahun lima puluhan sampai tahun enam puluh lima, betapa bangsa Indonesia memiliki kebanggaan ketika Indonesia berhasil menyelenggarakan konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Disusul kemudian berbagai konferensi seperti konferensi wartawan Asia-Afrika, penulis Asia Afrika dan Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika. Semua orang Indonesia tak peduli dia itu Batak atau Jawa, keturunan Tionghoa atau India, Kristen maupun Islam merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Semua merasa dilindungi dan bebas dari dianaktirikan karena agama dan sukunya. Tidak ada pertikaian dan kekerasan yang berarti di antara suku dan agama yang berbeda. Indonesia melalui kepemimpinan Bung Karno bisa menjadi obor yang memberikan harapan tidak hanya kepada bangsa Indonesia tapi juga bangsa yang masih di bawah belenggu penjajahan. Nama Bung Karno cukup hidup di benak hati rakyat di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Salah satu yang dilakukan Bung Karno pada waktu itu dan yang tidak dilakukan oleh Soeharto dan penggantinya adalah melakukan "character and nation building". Siapa tak bangga pada waktu itu memiliki Presiden Indonesia Bung Karno? Pembangunan karakter bangsa adalah fondasi untuk memperbaiki krisis bangsa. Kalau karakter bangsa sudah rusak maka bangsa itu akan menjadi cemooh bangsa lain, diejek dan diremehkan oleh kekuatan asing. Pembangunan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan memerlukan pembangunan karakter bangsa. Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun utang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli dikirimkan akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan "character and nation building". Yang ada setelah enam puluh tahun merdeka, utang makin membumbung, korupsi makin merajalela, pejabat bisa dibeli, rasa persatuan sebagai bangsa mulai luntur, ke- kerasan antarsuku dan antaragama menjamur. Bangsa Indonesia diremehkan dalam percaturan global. Peran Agama dan Pendidikan Agama dan pendidikan seyogianya menjadi pilar dalam pembangunan karakter bangsa. Tapi sayang banyak pihak telah menyalahgunakan peran agama dan pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang lebih mengutamakan simbol, ritual, dan kekuasaan daripada hikmah dan makna agama dalam membangun karakter bangsa. Munculnya beberapa Perda atau Rancangan Undang-Undang yang bernuansa keagamaan dan golongan telah mengkhawatirkan banyak tokoh kebangsaan di tanah air. Rupanya negara kebangsaan mulai diabaikan oleh beberapa pemimpin politik dan agama. Mereka lebih mengutamakan simbol dan syariah agama sebagai agenda politik dari pada memajukan bangsa dan negara Indonesia. Simbol dan syariah agama dianggap lampu Aladin yang mampu menyulap karakter dan kemajuan bangsa. Banyak yang khawatir bahwa Indonesia di atas kertas masih mengakui negara kebangsaan tapi dalam praktek sedang menuju menjadi negara yang berorientasi keagamaan. Kemajemukan suku dan agama mulai diabaikan dan beberapa pemimpin mulai menonjolkan dikotomi mayoritas dan minoritas berdasarkan keagamaan atau suku. Kemayoritasan agama membuat sekelompok pemimpin agama dan politik menuntut agar pemerintah ikut campur tangan dalam menegakkan syariah agama bagi pemeluknya melalui seperangkat peraturan daerah. Ketika bencana alam terjadi di Aceh, Nias, dan Yogyakarta solidaritas sebagai anak bangsa dan manusia dinomorduakan dan yang muncul adalah prasangka keagamaan dan golongan. Dalam kehidupan berbangsa orang tak lagi melihat lagi apakah seseorang itu mampu menunaikan tugas dan kewajiban negara tapi pertanyaannya menjadi apakah seseorang itu seagama dengan dirinya. Jabatan publik sering sulit diberikan atau dipersoalkan ketika seseorang bukan merupakan bagian mayoritas agama di negeri ini. Ketika ada pengusutan terhadap pelaku korupsi dan kejahatan maka solidaritas golongan dan keagamaan dimunculkan sehingga kasus kejahatan dan korupsi harus dipetieskan dan mandeg di tengah jalan. Untuk mengatasi krisis karakter bangsa memang tak mudah. Tak bisa diselesaikan dalam sekejap mata. Di sinilah peranan pemimpin bangsa, agama, masyarakat, dan pendidikan sangat menentukan. Sejauh ini pemimpin agama dan pemerintah gagal membangun karakter bangsa karena para pemimpinnya lebih menonjolkan kepentingan partai, agama, dan golongan. Selain itu, lembaga agama dan pendidikan yang seyogianya menjadi tumpuan untuk menjadi kawah candra di muka gagal melaksanakan peran dan tugas mereka dalam membangun karakter dan kemajuan bangsa. Dibutuhkan terobosan untuk membangun Indonesia dari keterpurukan kalau bangsa Indonesia berkehendak disegani dan dihormati oleh bangsa di dunia. reply 4 replies share UNITED WE PLAY, UNITED WE WIN! Jul 19, '06 10:31 PM for everyone Demikian slogan tim AS di Piala Dunia 2006. Meski dalam pertandingan AS melawan Italia harus diwarnai tiga kartu merah, dua di antaranya diterima oleh pemain AS, Mastroeni dan Eddie Pope. Kemudian wasit asal Uruguay, Jorge Larrionda, juga mengganjar dengan kartu yang sama terhadap pemain Italia, Daniele de Rossi. Partai yang menurut para pengamat, bisa mencederai keagungan sepakbola PD 2006. Pasti pertandingan itu juga disaksikan oleh jutaan bahkan miliar pasang mata penonton di seluruh penjuru dunia, terutama di Italia dan AS sendiri. Adegan AS vs Italia sepertinya biasa-biasa saja, dengan bandingannya adalah pertandingan kompetisi LI, Liga Indonesia. Menjadi tidak biasa karena para gibol, penggila bola menganggap bahwa PD adalah arena sakral. Tontonan untuk manusia beradab, lebih-lebih jika yang nonton para gibol Indonesia. Bayangkan, menjelang maupun tengah berlangsungnya PD sekarang ini, banyak tulisan-tulisan dari berbagai pakar adalah pujian setinggi langit kepada sepakbola. Seolah-olah permainan para dewa-dewa, tak terpikirkan bahwa dewa-dewa juga bisa bermain kasar dan keras. Para bonek Indonesia pasti pada tertawa sinis melihat aduan AS- Italia itu. “ Lha, ternyata, ya, sami mawon, sama saja dengan kita,” demikian kira-kira. Sekedar illustrasi, bagaimana pandangan begitu sakralnya PD dibandingkan dengan persepakbolaan Indonesia, seperti yang ditulis oleh seorang pembaca SK Kompas. Sebenarnya unsur yang dibutuhkan PSSI agar ditakuti timnas negara lain sudah komplet. Ketua umumnya napi, supporternya bonek, pemainnya bisa tinju dan taekwondo. Lalu jika FIFA keberatan dengan status ketua umumnya, PSSI bisa mengerahkan ormas tertentu atau organisasi preman agar mendemo pejabat FIFA. Bahkan mengusirnya dari Jakarta dan Indonesia. Demikian kata Rizqiani dari Parung, Bogor. Maka sepakbola juga bisa seperti demokrasi. Bisa dimainkan secara cantik atau kasar bahkan kekerasan, tergantung siapa pemainnya? Sepakbola PD, bagi yang memandang sakral, dimainkan oleh orang-orang yang terpilih. Dalam arti terpelajar, cerdas, dan bijak, maka cantiklah permainan untuk dilihat. Sayangnya, sepakbola ini milik bersama, persis seperti demokrasi. Oknum maupun ormas-ormas preman tak ada larangan main sepakbola maupun berdemokrasi. Nah, yang terakhir ini yang bikin kacau persepakbolaan Indonesia, terutama akhir-akhir ini. Bak sejarah sepakbola Indonesia tak pernah mengalami atau mencatat kebaikan. Padahal ketika Ir. Soeratin mendirikan PSSI tahun 1930, tak terbayangkan bahwa organisasi yang mempunyai nilai-nilai luhur ini akan dipimpin oleh seorang napi. PSSI semula juga sebagai wadah perjuangan bangsa. Masyarakat atau orang lupa, bahwa Indonesia pernah ikut serta PD tahun 1938 di Perancis, sekalipun dengan nama Dutch East Indies, Hindia Belanda. Pemain pribuminya sudah mencerminkan kebinekaan. Masih ingat, tidak? seperti Hong Jien, Moheng, Anwar Sutan, Nawir, Soedarmadji, dan Isaak Pattiwael. PD pertama dan ternyata juga terakhir? Sepakbola multi demensi, bagaimana cara memandangnya saja? Bisa dipandang sebagai simbol kapitalisme global, yang menyerang ke seluruh penjuru dunia dengan imbas demam massal. Katakan AS sendiri, yang sejarahnya bahwa sepakbola adalah olahraga yang paling tidak disukai di negeri itu. Bahkan rakyatnya menghujat dengan gampangnya, bak seperti sekarang ini di Indonesia, bahwa yang berbau Barat itu, haram. Namun dalam perkembangan, AS malahan menjadi tuan rumah PD 1994. Berarti AS menjadi korban globalisasi. Sementara persepsi di Indonesia, khususnya kelompok tertentu, bahwa AS itu adalah setan globalisasi. Jadi setan termakan setan. Asumsinya, globalisasi itu setan beneran. Sepakbola ternyata bagian dari globalisasi, yang merambah sampai ujung-ujung tanah, Tanah Air Indonesia. Mudah-mudahan tidak ada Peraturan Daerah, perda, yang melarang sepakbola. Terlepas dari setan menyetan, slogan yang dipakai oleh timnas AS, United We Play, United We Win sungguh cerdas. Penduduk AS adalah campuran dari berbagai bangsa, terutama turunan para imigran, yang kemudian menyatu menjadi satu nation, Amerika Serikat. Slogan itu mencerminkan kekuatan dan simbol persatuan dan kesatuan. Bermain bersama, menang bersama. Sungguh slogan yang indah, meski sebenarnya Bhineka Tunggal Ika lebih indah. AS bisa menciptakan slogan itu yang memang cerminan sebuah nation dengan segala implementasinya. Jujur saja, setiap warga negara AS merasa terlindungi oleh negara dan bangsanya yang tercermin dalam pemerintahannya, siapa saja yang lagi berkuasa. Sementara kita, bapak-bapak bangsa memelopori agar Indonesia nanti menjadi rumah yang aman untuk dihuni oleh semua warga negara. Tanpa kecuali etnis, agama dan kepercayaan, golongan apa pun juga kelak. Tercermin dengan adanya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI. Meski sudah berjalan hampir 61 tahun, belum tercapai. Justru kita sekarang, Devided We Play, Devided We Win! Dan suburlah ormas-ormas preman di mana-mana. Sampai PSSI pun punya ketua umum narapidana!!!! Jangan sampai, RI mempunyai presiden preman? (ketok bumi Indonesia dengan pukulan tangan tiga kali) Tags: must read! reply share Piala Dunia 2006 Pemersatu, Pancasila?Jul 18, '06 11:38 PM for everyone Piala Dunia Sepakbola 2006 di Jerman segera dimulai (9/6/06) dengan pembukaan di Stadion Alianz, Muenchen, dan final di Berlin (10/7/06) yang berarti sebulan kita akan dimanjakan sebuah tontonan, yang namanya pertandingan sepakbola. Bukan sembarangan tontonan, tetapi atraksi suguhan permainan manusia-manusia terpilih yang mewakili bangsa dan negara di dunia ini. Demam PD 2006 sudah dimulai setahun sebelum hari H, dan terlebih-lebih satu bulan belakangan ini. Semua media, baik cetak maupun elektronik berlomba-lomba membuat laporan menyongsong peristiwa bersejarah ini. Terutama jika mencuplik sejarah PD, bukan Perang Dunia, semua sudah tersusun secara rapi. Tidak saja dokumentasi media-media Indonesia sendiri, terlebih-lebih media asing. Sebuah fakta sejarah tanpa rekayasa, sejarah yang benar-benar valid. Jika Anda berminat menulis tentang Brasil misalnya, sang favorit setiap kali PD atau negara-negara lain yang kini masuk dalam 32 besar dunia PD 2006. Anda akan menghadapi sejarah yang sama dan sebuah fakta yang akurat. Jika Anda keliru menulis tentang sejarah PD ini, meski hanya keliru menulis tahun sekali pun, atau sebuah nama, hampir semua orang tahu akan kekeliruan itu. Anda bisa menjadi bahan tertawaan, lebih-lebih yang menertawakan anak-anak sekolah SMP/SMU. Sepakbola PD seperti membius setiap orang, sekali sepakbola PD, bukan sepakbola atau persepakbolaan Indonesia? Banyak pakar filsafat menuliskan jiwa dan semangat di dalam sepakbola PD ini. Terlebih-lebih jika dihubungkan dengan sistim masyarakat yang terbuka, pluralistis, demokratis, egaliter. Seperti kata Richard D. Mendell, seorang sosiolog agama, sepakbola mengutamakan merito demokrasi, dan atas pencapaian prestasi yang teruji. Ada rasa membebaskan, mengilhami, dan secara moral juga indah dan suatu permainan yang adil. Di berbagai negara, terlebih-lebih di benua Amerika Latin, sepakbola ibarat civil religion, dan terus menjalar ke Eropa dan kini bahkan seantero dunia. Sepakbola mempunyai tata cara ritual. Olahraga paling kosmopolitan, dan ditegaskan pula oleh Mendell, bahwa prinsip masyarakat demokratis adalah adanya kesempatan berjuang semaksimal mungkin, untuk mencapai prestasi terbaik. Hal itu bisa dicapai karena masyarakat yang terbuka, artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. Terlebih-lebih kalau dikaitkan dengan kita, di Indonesia. Coba lihat, logo PD 2006 yang sudah diluncurkan empat tahun silam, tepatnya tanggal 20 November 2002 di Stadion Gelsenkirchen, kandang klub Schalke 04 oleh President OC PD 2006, Franz Beckenbauer. Sebuah logo gambar bola tertawa, celebrating Faces of Football, dengan slogan Die Welt zu Gast bei Freunden, atau Friends Invite The World, intinya Jerman akan menyambut tamunya dengan senyum dan kehangatan. Apakah logo itu dibuat oleh orang Jerman? Ternyata bukan, melainkan oleh White Stone, orang Inggeris, yang tentu juga bekerjasama dengan sebuah biro iklan Jerman, Abold di Muenchen. Sebuah logo yang tidak biasa, karena biasanya PD-PD dahulu mengambil maskot-maskot negara tuan rumah, apakah itu dari unsur flora maupun fauna. Sebuah logo lucu dan tidak emosional dengan pesan, semua emosi bisa diciptakan oleh sepakbola. Benar-benar ide kreatif. PD 2006 dimulai Juni, bertepatan dengan Bulan Pancasila di Indonesia. Hari lahirnya tanggal 1 Juni dan HUT penemu sekaligus penggalinya, Bung Karno, tanggal 6 Juni. Ini sebuah fakta sejarah. Namun dalam perjalanannya, Pancasila bisa dimanipulir, dengan mengenyampingkan penemunya dahulu. Menurut sejarawan Orde Baru, almarhum Noegroho Notosusanto, katanya, penemu Pancasila adalah Muh. Yamin, bukan Soekarno. Disusul dengan penyusunan sejarah Nasional Indonesia, revisi Orba, yang memutarbalikkan fakta. Sejarah Nasional Indonesia versi Orba ini berlangsung 32 tahun, dan dikoreksi kembali sesudah masa Reformasi sejak 1998. Coba simak tulisan sejarawan LIPI, DR. Asvi Warman Adam, ketika mengoreksi sejarah nasional versi Noegroho yang sangat mengagung-agungkan militer di bawah Soeharto. Semua peranan bapak-bapak bangsa dikebiri dan dikecilkan. Sejarawan tulen yang semula diajak Noegroho untuk menyusun sejarah versi Orba, semua mengundurkan diri. Jadilah Noegroho menyusun timnya sendiri untuk diajak mengelabui anak bangsa (KOMPAS 28/9/04 ). Maka, tak heran, jangankan uang, sejarah pun dimanipulasi!!!!. Terlebih-lebih sejarah Orba sendiri yang berhubungan dengan HAM. Tak tertulis, karena bukti-bukti kekejamannya pun dilenyapkan, semua memang dipersiapkan secara rapi yang nantinya bisa disangkal jika ada yang mengungkit-ungkit. Padahal menyangkal tragedi kemanusiaan, bisa membuat suatu bangsa terjerambab kepada amnesia sejarah. Menjadi bangsa yang mudah lupa ingatan ! Jujur saja kita akui, memang, sekarang ini kita menjadi bangsa yang pelupa. Sekaligus menjadi bangsa yang pemarah. Persatuan dan Kesatuan, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, emang gue pikirin! Tags: must read!! reply share Budaya Malu dan Di Luar Gelanggang Piala Dunia 2006Jul 18, '06 11:28 PM for everyone Piala Dunia Sepakbola 2006 sudang berlangsung dan menjadi riuh rendah di Jerman berkat kemajuan teknologi informasi. Tak ketinggalan suasana itu juga mengimbas di Indonesia, yang kini masih dirundung duka, terutama duka gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selain juga ancaman gunung Merapi, Jateng, maupun luapan lumpur panas yang kini tengah menggenangi daerah Sidoardjo, Jatim. Selama tiga hari sejak pembukaan PD 2006, para gibol, penggila bola Tanah Air juga dibuat riuh rendah dengan keluarnya seorang presenter PD di stasiun TV SCTV, yang memegang hak siar tunggal PD 2006 di Indonesia. Siapa dia? Adalah Titiek Soeharto, yang sebelumnya telah muncul bak sinterklas. Bagi-bagi uang di daerah susah, Rp 100 juta untuk pengungsi Merapi di Magelang. Kemudian Rp 1 milyar untuk korban gempa Yogyakarta di Bantul. Para gibol yang berkumpul di sekitar pesawat TV sewaktu pembukaan PD 2006, menyongsong pertandingan pertama PD antara Jerman VS Kosta Rika, begitu kaget melihat wajah putri penguasa Orba itu. Tidak main-main menjadi presenter utama PD 2006, didampingi Dali Taher dan Danurwindo. Meski sepakbola sudah menjadi milik rakyat, dan menjadi pengetahuan umum hampir semua lapisan masyarakat. Namun menjadi presenter olahraga terutama PD butuh kriteria tertentu. Para gibol boleh dongkol, tetapi coba simak siapa pemodal SCTV? yang kini di bawah kendali PT Surya Citra Media Terbuka. Di mana modal terbesar dimiliki oleh PT Abhimata Mediatama milik Titiek Soeharto, anak ke-4 Soeharto. Meski sebuah penampilan yang dipaksakan, tetapi unsur paksaan dibantah habis oleh Humas SCTV. Titik adalah simbol ibu-ibu yang mencintai sepakbola dan untuk menggairahkan cinta ibu-ibu kepada sepakbola, kata sang Humas. Secara harafiah bisa benar. Jangankan Titiek, bakul jamu, mbok-mbok jamu gendong yang setiap sore beredar di perumahan di mana saya tinggal, juga bola maniak. “Niku lho, mas, Totti, lhak nggih leres to namine. Wah, kulo kedanan tenan niku kalih Totti. ” Begitu ungkapan kesengsemannya sama Fransisco Totti, pemain AS Roma yang kini memperkuat Italia. Sayangnya mbok jamu tak punya modal yang ditanam di stasiun TV. Bisa jadi presenter dia? Alasan apapun, kehadiran Titiek yang “bau sponsor” seperti tak terbantah. Sehingga suasana PD 2006 di Indonesia semakin “panas”, tak ketinggalan suara pro dan kontra, bahkan di dalam BOLA sendiri. Bagi yang pro, dengan alasan demokrasi adalah sah-sah saja. Bagi yang kontra, kok, budaya malu sepertinya sudah menjadi barang langka. Atau nggak mau rugi? Siapa yang nduiti, perlu tampil diri, bagaimana kalau tidak ada aku? Kau-kau, tak akan dapat melihat Totti di layar TV. Coba simak lagi tutur bahasa Humas SCTV, Agung Nugraha, “Kami telah mempersiapkan kejutan dalam penyuguhan acara PD. Termasuk figur Ibu Titiek.” Yooi! memang kita benar-benar terkejut. Tidak terkejut bagi mereka yang mempunyai latar belakang komunikasi, terutama politik. Di mana fenomena-fenomena utama kalau bisa akan dijadikan “ kuda tunggangan” promosi. Tujuannya macam-macam. Kita urut saja sejak isyu mengadili Soeharto merebak. Opini dikuasai oleh pro adili Soeharto. Cendana tidak tinggal diam antara lain bagi-bagi uang kepada orang susah. Kroni-kroninya (memang jaringannya masih kuat) melancarkan promosi Soeharto sebagai bapak pembangunan dan sekaligus pembunuh komunis di Indonesia. Kini, anti komunis lagi digerakkan kembali sebagai isyu nasional oleh kelompok tentara. Semuanya menuju satu muara “ kebangkitan kembali Cendana “ Apalagi putra-putrinya menguasai jaringan stasiun-stasiun TV. SCTV di bawah kendali Titiek, Bambang Trihatmodjo dengan RCTI, Global TV, MNC, dan Tutut di TPI. Media TV sudah membuktikan sebagai sarana informasi yang mengena dan menusuk, terlebih-lebih jika masuk di “akar rumput”, grass root yang sebagian besar memang pemirsa TV-TV kita. Tinggal bagaimana pandai-pandainya memilih acara sebagai “kuda tunggangan”. Persaingan stasiun TV di Indonesia sudah memasuki bisnis saling beli jurus-jurus pukulan yang berdarah-darah. Saling bajak SDM, mengingat SDM TV jumlahnya masih terbatas terutama manusia kreatifnya. Dunia bajak membajak SDM juga tidak mendongkrak masing-masing stasiun TV, karena mereka masih membawa kreativitas lama ke tempat yang baru. Jadi program baru dan mengejutkan itu bentuknya seperti apa? Ya, mungkin bentuk Titik sebagai presenter OR itu. Weleh, weleh! Dunia TV bak dunia sinetron, dunia imitatif yang dalam sekian detik bisa menyulap seseorang menjadi selebritis. Bukan dunia realitas karena dibentuk tidak sesuai gambaran yang otentik. Lha, coba pemunculan Titiek sebagai presenter olah raga, citranya ibarat ditinggikan secara paksa, akibatnya malah menyesatkan bahkan sebuah kejatuhan bagi yang bersangkutan. Benar dan sah SCTV sebagai pemegang tunggal hak siar PD 2006, boleh melakukan apa saja. Namun pemirsa, terutama gibol, juga merasa keberatan (meski tidak ada iuran SCTV) karena acara kegemarannya “dilukai “, sehingga tayangan PD 2006 SCTV ini sebagai tayangan pembodohan. Janganlah menganggap semua orang bodoh seperti di jaman Orba dahulu, sehingga mereka yang berkuasa bisa berlaku seenaknya. Justru kini peranan media lah yang harus membuat bangsa ini selain cerah, cerdas, berakal dan berbudi. Justru SCTV mengambil langkah mundur. Selamat menikmati Piala Dunia 2006 yang sudah lewat dan nantikan Piala Dunia 2010 Di Afrika Selatan. Ini, kan sebuah intermezzo! Tags: must read! reply share Buat Orang-Orang yang suka mengkritik saya dan menganggap saya gila!!!!!!!!!!Jul 17, '06 8:42 AM for everyone Kini, manusia Indonesia dan di dunia lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar berdimensi pikir, sedangkan benar berdimensi nurani. Berbagai penghargaan diberikan kepada orang-orang pintar, orang-orang benar salah lahir di dunia orang pintar. Sebenarnya pintar itu kultur, kerja mental. Sedangkan benar adalah natur, terbawa sejak lahir. Dunia modern adalah dunia orang pintar. Siapa yang pintar akan benar. Kebenaran orang pintar adalah konstruksi pikiran. Semuanya akan benar jika bangunan pikirannya tersusun rapi, koheren-menyatu, sesuai hukum logika. Kebenaran orang pintar adalah kebenaran eksklusif dan isolatif karena hanya benar dalam bangunannya sendiri. Orang pintar hanya benar di lingkungan yang bangunan pikirannya sama atau mirip. Apakah kebenaran itu? Apa yang dinilai benar selalu mendatangkan perdebatan karena kebenaran selalu dilihat dari segi kepintaran. Benar dan tidak benar dinilai dari alam kesadaran, yakni pikiran. Sedangkan kebenaran atau benar adalah soal kehadiran, penghayatan, pengalaman, realitas obyektif. Manusia sejak zaman balita telah belajar mengenali apa yang benar dan tidak benar. Benar itu terasa, cocok, pas, gathuk, dengan penghayatan manusia itu sendiri. Benar itu amat nyata, hadir, terindra. Semua orang mampu melihat kebenaran itu. Kebenaran yang diperdebatkan senantiasa ada pikiran yang masuk ke dalamnya. Kanak-kanak adalah manusia paling peka dalam mengendus hadirnya kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang kanak-kanak dijamin akan masuk surga. Kekacauan antarmanusia dimulai dengan kata-kata, alat pikirannya. Kosakata kebenaran itu terbatas dan universal, yakni ah, o, ih, hu, hm. Ungkapan ah, oh, hm adalah tanda, yang dilihat dan didengarnya benar. Sedangkan ungkapan hu dan hm tanda yang dilihat, didengar, dan dialami tidak benar. Itulah bahasa kanak-kanak, bahasa penghayatan, bahasa kebenaran. Bahasa spontan, bahasa spiritual. Bahasa tanpa pikiran. Bahasa hati nurani. Kini kian banyak orang pintar di televisi, radio, penerbitan, mimbar, dan panggung. Mereka pandai bersilat lidah. Mereka setiap hari memproduksi kosakata baru. Udara dipenuhi kata-kata. Manusia percaya pada kata-kata. Manusia menggantungkan diri dari kata-kata. Perdebatan kian merobek. Kekacauan menggila. Semua terjadi karena manusia mendewakan kata-kata, alat pikiran manusia pintar itu. Manusia kian buta melihat kebenaran. Kebenaran tidak pernah dihayati, dialami. Dirasakan, dimasukkan dalam kata hati. Kebenaran hanya dilihat dalam kepintaran berkata-kata. Kebenaran yang nyata hadir secara konkret di depan mata itu pun dapat diingkari oleh kepintaran. Dunia ini dapat dijungkir balik oleh kepintaran. Yang benar itu salah, yang salah itu benar. Di mana nuranimu manusia? Di mana kanak-kanakmu? Manusia yang benar kini dinilai sebagai manusia bodoh. Lebih baik menjadi orang benar meski tidak pintar. Tentu lebih baik lagi jika orang benar itu juga orang pintar, daripada menjadi orang pintar tetapi tidak benar. Dan kenyataannya di Indonesia dan dunia ini kian banyak orang tidak benar sekaligus tidak pintar. Itulah tragedi bangsa dan bumi ini, banyak orang pintar tidak benar dan banyak orang tidak benar yang tidak pintar. Buta kebenaran Kepekaan terhadap hadirnya kebenaran itulah yang kini mulai menipis di Indonesia dan di dunia ini. Mudah-mudahan bangsa dan dunia ini belum buta kebenaran. Buta kepintaran masih lebih baik daripada buta kebenaran. Tanpa kepintaran, manusia masih dapat hidup. Tanpa kebenaran, manusia akan musnah. Benar lebih bernilai daripada pintar. Pintar menuntun manusia menuju kemakmuran duniawi. Benar menuntun manusia menuju keselamatan. Kombinasi pintar dan benar menuju masyarakat yang adil dan makmur. Apa gunanya makmur tanpa keadilan dan kebenaran? Tanpa kebenaran, sebuah bangsa akan musnah. Bukan benar dalam arti ideal-rasional, tetapi benar dalam arti kualitas kebenaran itu sendiri, yang obyektif terwujud dan dirasakan, dialami, dihayati secara sama oleh semua orang. Yang benar itu tidak menipu jika dirasakan cocok dan gathuk dengan nurani manusia di mana pun dan kapan pun. Yang benar itu hadir secara nyata, gamblang, dan terang. Bagaimana pun orang mau memutarbalikkan yang benar secara rasional. Yang benar itu tetap akan benar. Namun kini orang tak malu-malu lagi untuk memutarbalikkan kebenaran dengan nilai lidah kepintarannya. Tidak benar itu wajar-wajar saja di Indonesia. Si terhukum tak malu mengaku telah menyogok jaksa yang tidak memberi imbalan jasa atas sogokannya. Korupsi itu bukan lagi tidak benar. Korupsi itu kewajaran di Indonesia. Bahkan korupsi itu semacam hak istimewa karena tidak setiap orang diberi kesempatan korup. Orang bisa bangga di depan hakim, di depan umum, dirinya seorang koruptor kakap, bukan koruptor teri. Koruptor kakap lebih bangga karena menunjukkan dirinya lebih pintar mengorup uang negara. Koruptor teri itu bodoh. Sudah korupnya recehan, ketahuan lagi. Sedang saya ini koruptor mahakakap selama puluhan tahun dan baru ketahuan sekarang. Kenyataan ini menunjukkan betapa lihainya memutar orang agar korupsi saya tak ketahuan. Tangisan pujangga Jawa, Ronggowarsito, masih berlangsung hingga kini. Ia mengatakan, dalam Zaman Edan negara memiliki menteri-menterinya yang cerdik pandai, namun mereka tak mampu menepis pejabat negara yang sudah edan, tidak ingat dan waspada terhadap kebenaran. Berbahagialah, di zaman edan ini, manusia yang peka, selalu ingat dan waspada, terhadap Yang Benar. reply 6 replies share 10 Tanda Penting Si Dia Naksir Berat,..(masukan bwat cewek nih...) Jul 15, '06 1:05 AM for everyone Pria selalu menunjukkan tanda-tanda alam jika dia tertarik pada lawan jenis. Bisa jadi tanda itu ‘terkirim’ tanpa disadarinya. Nah, mau tahu apakah pria incaran menunjukkan minat pada Anda atau tidak, ini dia tanda-tandanya: 1. Si dia menaikkan alis mata Saat bertemu seseorang yang menarik hati, secara tak sadar alis mata kita terangkat, tak membedakan ras, usia atau bahkan kelas sosial. Kejadian ini berlangsung dalam hitungan detik, jadi cermati baik-baik. Jika Anda juga tertarik padanya, berikan respon yang sama disertai seulas senyum manis 2. Bibirnya menyunggingkan senyum Saat pria menyukai sebuah obyek, bibirnya akan ‘bicara’ sendiri. Hampir bertepatan dengan momen alis yang terangkat itu 3. Cuping hidung mengembang, wajahnya cerah Pokoknya wajahnya menunjukkan persahabatan yang tulus dan ramah deh. Tujuannya agar anda tak lari menjauh tuh. 4. Dia mencoba menarik minat Anda Pokoknya dia berusaha menarik perhatian Anda dengan segala cara, mulai bersikap hingga cara bertutur kata yang dibuat semanis mungkin dan menarik hati. Berusaha tampil berbeda dari kelompoknya, jika dia dating beramai-ramai 5. Dia bolak-balik membetulkan letak dasinya, atau kerah bajunya Dasi pria itu ibarat lipstik wanita. Saat bertemu orang yang ditaksir, kita ingin selalu tampil sempurna ‘kan? 6. Dia bolak-balik merapikan atau bahkan mengacak-acak rambut Soal sikap mana yang diambil bergantung pada potongan rambutnya, dan apa yang harus dilakukan agar melihatnya lebih memukau. Pria melakukan itu secara sukarela dan lebih sering ketimbang yang anda sangka lho 7. Alis matanya tetap naik tipis sembari Anda berbincang Pokoknya, pria yang terpesona secara tidak sadar akan menunjukkannya deh. Malahan, bisa jadi dia tak sadar kalau alis matanya terangkat sedikit saat menatap Anda berbicara 8. Semuanya menegang Eh, stop, jangan ngeres dulu. Yang dimaksud adalah pria itu akan berusaha menunjukkan badannya yang kokoh, mungkin bahunya yang bidang atau kakinya yang berotot? Dia hanya berusaha tampil sesempurna mungkin di hadapan Anda! 9. Dia membuka kedua kakinya saat duduk berhadapan Percaya atau tidak, konon pria bersikap seperti itu untuk memamerkan ‘asetnya’ kepada wanita yang diincarnya! Ih, untung saja dia masih berpakaian lengkap ya 10. Dia sibuk memainkan kancing baju Padahal tak ada yang salah dengan kancingnya. Ini karena Anda membuatnya sedikit gelisah, makanya dia jadi agak salah tingkah begitu. Atau dia malah siap-siap mau menunjukkan dada bidangnya? Hmmm, tak tahulah. Selanjutnya hanya berdua yang tahu kelanjutannya ‘kan… hehehehehe.............gw bacanya tawa ndiri.....jayus bgt ga seeh??? sekali lg...bener ga bener itu ada dlm penilaian loe2 semua deh.. Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making", MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama), The Wahid Institute "Seeding Plural and Peaceful Islam", JAKAR (Jaringan Kafir Liberal), dan Aliansi Mawar Putih. reply share Undang Undang Kewarganegaraan Indonesia yang BaruJul 13, '06 11:00 PM for everyone Lepas dari berbagai keberatan seperti dimuat di media (seperti RUU Kewarganegaraan belum lindungi perempuan, Kompas, 10/7), pengesahan RUU Kewarganegaraan menjadi UU Kewarganegaraan di DPR (11/7) layak diapresiasi. Penulis sepakat pengesahan UU ini memang revolusioner karena di antaranya mengakhiri polemik tentang siapakah warga negara Indonesia asli. Harus diakui, dari 17/8/1945 hingga 11/7/2006, kata-kata asli itu sering menyita energi. Bahkan dalam perjalanan kita, banyak nyawa menjadi korban dalam kerusuhan rasial dengan korban warga keturunan yang sering dianggap orang "asing" atau sekadar second class people atau warga kelas dua. Ironisnya, selama ini diskriminasi diberi landasan hukum, seperti UU Kewarganegaraan Nomor 62 Tahun 1958 dan UU lain yang mewajibkan orang membuktikan diri sebagai WNI dengan selembar surat bernama Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Padahal, terkait etnis atau asal-usul, kita tidak bisa meminta kepada Sang Pencipta agar dilahirkan sebagai etnis tertentu. Betapa memilukan, ketika orang sudah bertahun-tahun lahir dan hidup di negeri ini, tetapi secara hukum dinyatakan atau diolok-olok sebagai bukan orang Indonesia. Coba tanyakan bagaimana perasaan Ivana Lie atau Susi Susanti atau orang lain yang sudah membela merah putih di dunia internasional, pernah mentok dan dinyatakan secara hukum sebagai bukan warga negara Indonesia karena tidak punya SBKRI? Karena itu, dengan disahkannya UU Kewarganegaraan yang baru, apresiasi layak diberikan kepada Pansus RUU Kewarganegaraan, juga kepada Prof Eko Sugitario, Pakar Hukum Tata Negara Ubaya dan aktivis multietnis di Surabaya, yang sejak 2002 terus menggodok dan mengupayakan legal drafting UU ini. Baru langkah awal Meski begitu, pengesahan UU ini baru merupakan langkah awal untuk mengakhiri segala praktik diskriminasi. Apalagi setelah pengesahan UU ini penulis mendapat berondongan pertanyaan bagaimana petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya atau singkatnya implementasi UU ini di lapangan. Bagaimana nasib ratusan ribu warga keturunan, seperti warga China Benteng yang selama ini tidak memiliki KTP atau akta kelahiran tetapi sudah bergenerasi tinggal di Indonesia? Otomatiskah mereka menjadi WNI? Bagaimana pula mereka akan mengurus hal lain, tetapi terganjal tidak memiliki KTP atau akta kelahiran, apa solusinya? Karena itu, sebagai follow up UU Kewarganegaraan mendesak dibuat peraturan pemerintah sebagai implementasi UU ini. Sekali lagi, pengesahan UU ini baru langkah awal dari upaya menghapus praktik diskriminasi. Mengapa? Dengan pengesahan UU ini, negara atau pemerintah berupaya mencabut produk hukum yang diskriminatif yang selama ini diterapkan. Dengan kata lain, orang-orang yang selama ini tidak termasuk kategori WNI asli, hendak dirangkul dan diakui eksistensinya oleh negara atau pemerintah sebagai bagian sah bangsa atau negeri ini. Bahkan UU ini menjamin dan menegaskan para pejabat negara yang berani melakukan praktik diskriminasi, seperti birokrat di imigrasi yang meminta SBKRI, bisa dikenai sanksi hukum satu tahun penjara. Jelas ini membanggakan karena selama ini oknum-oknum yang mengharuskan SBKRI itu tega berdiri di atas penderitaan orang lain. Ratusan ribu bahkan jutaan orang sudah menjadi korban penerapan SBKRI. Menghargai keragaman Melalui UU Kewarganegaraan yang baru disahkan, hukum kita telah mengupayakan jaminan, siapa pun dari latar belakang etnis apa pun bisa menjadi bagian integral bangsa ini atau menjadi warga negara Indonesia asal dilahirkan di Indonesia dan sejak kelahirannya tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri (Pasal 2). Spirit pasal itu amat dalam karena keragaman yang selama ini de facto ada, secara de iure atau secara hukum diakui keabsahannya oleh negara atau pemerintah. Dengan ini diharapkan keragaman dan perbedaan yang selama ini ada (seperti etnis) bisa menjadi potensi positif untuk membangun bangsa ke depan menuju bangsa besar yang menghargai keragaman dan perbedaan. Bukan sebaliknya, perbedaan menjadi modal untuk menghancurkan masa depan bangsa. Lagi, UU Kewarganegaraan ini masih merupakan langkah awal. Lewat UU ini negara menjamin diakhirinya diskriminasi. Bagaimana praktiknya nanti? Ini adalah pekerjaan rumah bagi segenap elemen dan tiap anak bangsa. Sebab apalah artinya sebuah payung hukum bernama UU Kewarganegaraan yang menjamin diakhirinya diskriminasi, tetapi jika di alam nyata praktik berbangsa dan bernegara, diskriminasi, masih bercokol di dalam hati? Apalah arti bahasa hukum, tidak ada lagi pemisahan pribumi dan nonpribumi, tidak ada asli atau bukan, tetapi di alam nyata orang suka menunjuk hidung atau berbisik menunjukkan etnis dengan nada sinis? Karena itu setelah UU Kewarganegaraan ini disahkan, menjadi PR bagi kita untuk bisa menerima perbedaan (seperti etnis) dengan keikhlasan dan tanpa prasangka. Semoga dengan diresmikannya UU ini, ruang kebersamaan kita bukan kian menyempit, justru makin luas dan lapang, sehingga kita bisa berbuat sesuatu yang lebih bermakna bagi bangsa daripada harus berpolemik atau berkonflik etnis yang hanya membuang energi. Negeri ini akan jaya jika perbedaan dan potensi tiap warganya bisa diakomodasi dan diakui. Tags: must read reply share Bangsa indonesia TIDAK Lulus UJIAN KESOPANANJul 3, '06 5:41 AM for everyone ajalah Reader's Digest belum lama ini menggelar survei tes kesopanan (courtesy test). Dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Penduduk Jakarta menempati peringkat ke-28 dari 35 negara yang disurvei. Hasil yang sama diperoleh rata-rata penduduk di Asia, hingga secara keseluruhan disimpulkan penduduk Asia menempati peringkat terbawah dalam tes kesopanan sedunia tersebut. Survei yang dilakukan atas 2.000 orang di 35 negara di dunia tersebut ditujukan untuk melihat secara langsung perilaku masyarakat dari masing-masing negara. Reader's Digest telah menyebarkan reporter dari setiap edisi untuk menjalankan tes kesopanan di kota dengan penduduk terbanyak di setiap negara. Dari survei itu, peringkat pertama masyarakat yang memiliki derajat kesopanan di dunia adalah masyarakat Kota New York, Amerika Serikat, disusul pada urutan kedua masyarakat Kota Zurich (Swiss), ketiga Toronto (Kanada), dan ranking keempat ditempati masyarakat tiga kota yaitu Berlin (Jerman), Sao Paolo (Brasil), serta Zagreb (Kroasia). Sedangkan peringkat empat terbawah masing-masing ditempati masyarakat Kota Seoul (Korea Selatan) pada peringkat 32, Kuala Lumpur-Malaysia (33), Bucharest-Romania (34), serta yang terbawah Mumbai-India (35). Metode atau cara kerja survei ini dilakukan dengan mengetes perilaku masyarakat perkotaan melalui tiga indikator perilaku. Pertama, tes apakah orang akan menahan pintu untuk orang lain yang berdiri di belakangnya. Kedua apakah seorang penjual akan mengucapkan terima kasih setiap kali seseorang membeli barang dagangannya. Ketiga apakah seseorang akan membantu orang lain bila orang lain itu menjatuhkan map berisi kertas-kertas di jalanan yang sibuk. Pertanyaan menarik muncul, bagaimana mungkin mengukur sopan santun masyarakat hanya dengan tiga indikator perilaku itu? Redaksi Reader's Digest Asia, menyatakan ketiga tes itu dirancang untuk mengetahui cara orang berinteraksi dan kepedulian terhadap orang didekatnya. Kebanyakan orang Asia ternyata tidak menganggap menahan pintu sebagai bagian dari sopan santun. Tidak Menolong Menyangkut sopan santun warga Jakarta, survei memperlihatkan penduduk Jakarta menempati peringkat ke-27 untuk tes memungut kertas (80 persen responden tidak bersedia menolong memungut kertas-kertas yang jatuh). Jangan berharap orang lain akan menahan pintu untuk Anda, karena 70 persen responden Jakarta membiarkan pintu terbanting. Survei tersebut menempatkan warga Jakarta pada peringkat ke-29 dalam tes menahan pintu. Tapi 80 persen pelayan toko mengucapkan terima kasih kepada orang yang berbelanja di tokonya. Di Jakarta survei diadakan di kawasan sibuk yaitu Jalan Sudirman Jakarta Pusat dan Kuningan Jakarta Selatan. Hasil survei tersebut setidaknya membuka mata kita. Bangsa kita yang selama ini dikenal sebagai salah satu bangsa teramah di dunia (entah siapa yang pertama melabeli hal itu pada penduduk Indonesia), dimana ketika berhadapan dengan orang yang tak dikenal atau asing, orang Indonesia melayani setiap pembicaraan dengan ramah dan sopan, semua citra tersebut seolah rontok ketika berhadapan dengan hasil survei tersebut. Kita pun jadi bertanya, apakah yang salah dengan bangsa ini? Mungkin selama ini kita terlalu berlebihan menilai keramahan masyarakat kita atau memang telah banyak yang berubah dari bangsa ini? Karena tatkala kita mencoba memotret kehidupan sehari-hari, sebagai contoh kasus kita ambil Jakarta sebagai jantungnya negeri ini, rasanya untuk bersikap ramah membutuhkan usaha yang luar biasa. Mungkin kita seperti tidak memiliki energi yang cukup untuk tersenyum dan beramah-tamah kepada setiap orang. Apalagi saat berbagai deadline pekerjaan mengejar, jangankan kepada orang- orang asing yang berpapasan di lift, menegur teman sendiri saja rasanya seperti menghamburkan tenaga besar secara percuma. Kita pun jadi ingin bertanya, bagaimana dengan Bali dan Yogyakarta yang selama ini sering mendapat acungan jempol dari para turis asing lantaran keramahan, kepedulian dan kesopanan mereka? Saat berkunjung ke kota- kota wisata tersebut, umumnya pengunjung dijamu penuh rasa kekeluargaan, sopan santun yang mengesankan. Rela Mengantar Amat jarang terdengar kisah pengunjung baru yang sengaja disesatkan. Kalau seorang wisatawan menghadapi kesulitan mencari alamat yang dituju, tak perlu ragu bertanya pada siapa sa ja di sekitarnya. Hampir dapat dipastikan, yang ditanya akan dengan ramah menunjukkannya sejauh yang ia tahu. Bahkan, tidak jarang ia rela mengantarkan pengunjung yang kebingungan, tanpa berharap imbalan. Sungguhkah di kedua kota tersebut terjadi proses penghalusan budi di sana? Atau keramahan terhadap para tamu hanya sekadar kiat menggaet dolar dari para wisatawan? Barangkali selama ini kita pun sering menuding bahwa orang Barat itu tidak peduli. Mereka individualistis, mementingkan dirinya sendiri. Buktinya masalah pribadi, privacy, merupakan masalah terbesar bagi mereka. Akan tetapi tak salah jika kita mencoba belajar dari mereka tentang kepedulian terhadap orang lain (masalah publik). Bisa jadi itu salah satu landasan kesuksesan dan ketertiban di dunia Barat sana, yakni kepedulian. Kepedulian bisa dimulai dari tingkatan individu dalam bentuk kegiatan sehari-hari yang tidak harus dikoordinir. Ini menjadi kebiasaan kita saja. Jika kita melihat paku di jalan, maka ambil paku itu dan buang di tempat yang aman agar kendaraan melewati jalan tersebut tidak bocor bannya. Ini peduli, meskipun kita tidak punya kendaraan bermotor. Ketika melihat air tetap mengucur dari keran air di tempat umum, di restoran, di kereta api, atau di mana saja, tutup keran air tersebut. Kita hemat air bersih. Ketika kita memakan permen dan ada bungkus permen yang ingin kita buang akan tetapi di dekat kita tidak ada tempat sampah, maka simpan dulu bungkus permen itu dalam saku kita sampai ada tempat sampah. Buang di tempat sampah. Ketika kita melewati pintu (perkantoran, swalayan, dan lain-lain), dan di belakang kita ada orang, maka tahanlah pintu untuk memberikan jalan bagi orang tersebut. Kesemua di atas termasuk peduli yang bisa kita biasakan untuk dilakukan sehari-hari. Jika New York yang selama ini penduduknya terkenal keang- kuhannya, berhasil mematahkan anggapan tersebut dengan sikap ramah, sopan dan pedulinya hingga berhasil mendudukkan mere-ka pada ranking tertinggi dari 35 kota di dunia, maka apakah ini juga berarti patahnya pandangan orang (asing) terhadap Indone- sia (yang diwakili Jakarta) bah- wa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan sopan? Jika demikian, tamatlah sejarah bangsa ini. reply 8 replies share Ujian Nasional Bukanlah Jawaban!!!!Jun 28, '06 11:50 PM for everyone Inilah berita hangat dari dunia pendidikan. Para peserta didik yang tidak lulus ujian nasional berjuang agar Depdiknas menyelenggarakan ulangan seperti terjadi pada tahun ajaran 2004-2005. Kemauan mereka didukung orangtua/wali, bahkan DPR pun ikut mendesak agar mereka yang tidak lulus diberi kesempatan menempuh ujian nasional (UN) ulangan (Kompas, 21/6/2006). Konon ada pimpinan sekolah yang mendukung diadakan UN ulangan. Di antara mereka yang tidak berhasil melewati angka kelulusan 4,25 ada beberapa yang nekat bunuh diri (Kompas, 22/6/2006), dan ada pula yang melampiaskan kekesalan dengan membakar sekolah sendiri. Berita lain, SMK Negeri I Cilegon diharuskan mengulang UN karena ditemukan bukti ada jockey UN (Kompas, 20/6/2006). Peserta didik berupaya melukai gurunya (Kompas, 25/6/2006). Mengapa semua itu terjadi? Pemicunya adalah tidak relevan. Harus ada UN Berbicara mengenai UN, sebenarnya tidak ada manfaatnya sama sekali, apalagi membicarakan perlu/tidak atau ada/tidaknya. Hampir seluruh argumentasi pro-kontra diarahkan pada kesimpulan, UN harus terus diadakan. Simaklah sebuah kesimpulan yang ditarik tanpa dasar pedagogis. Hasil UN tahun ajaran 2005-2006 lebih bagus dari tahun sebelumnya karena jumlah kelulusan lebih banyak (SMA: 92,5 dari 80,76 persen; MA: 90,82 dari 80,73 persen; SMK: 91,00 dari 78,29 persen). Padahal, tuntutan atau angka standar kelulusan tahun ini (angka 4,26) lebih tinggi daripada tahun sebelumnya (angka 4,25) dan dengan angka rata-rata 4,50; jadi mutu pendidikan kita meningkat. Karena itu UN harus dilaksanakan terus. Persis di situlah terjadinya kenyataan yang terbalik, yakni kemunduran pendidikan. Bagaimana mungkin angka dan jumlah kelulusan menjadi ukuran mutu pendidikan? Apakah pendidikan kita mau dibawa ke arah itu? UN tidak relevan sama sekali. Bisa diduga, landasan argumentasi pragmatis yang akan terus dikemukakan demi keberlangsungan UN adalah, pokoknya, jika anak diberi tantangan atau dituntut dengan syarat angka kelulusan yang dinaikkan tiap tahun, otomatis anak akan belajar. Argumentasi itu mesti dikembangkan dengan pertanyaan, "Anak-anak akan belajar apa dan bagaimana?" Yang terjadi adalah mereka akan berusaha sekeras mungkin (dengan menghalalkan segala cara?) agar soal-soal tiga mata pelajaran yang di-UN-kan dapat dijawab dengan benar. Bagi pengkritik, UN tiga mata pelajaran tidak cukup untuk menentukan pandai/tidaknya peserta didik atau penentu kelulusan. Nah, mengangalah lubang besar bagi pencinta UN (yang tidak jelas argumentasinya), yaitu lubang usulan sekaligus keputusan bahwa di tahun mendatang semua mata pelajaran harus di-UN- kan di semua jenjang (dari SD hingga SMTA). Itu demi meningkatnya mutu pendidikan? Benarkah arah pendidikan kita adalah demi mahirnya peserta didik menjawab soal-soal ujian? Benarkah itu sejalan dengan tujuan pendidikan? UN tidak relevan. Bunuh diri Peserta didik yang tak lulus UN berniat bunuh diri, mencoba membakar sekolah, pendidik berupaya menjadi jockey ujian, wakil rakyat dan orangtua berjuang agar UN ulangan diselenggarakan. Dan pengambil kebijakan menjawab, "tunggu hingga hasil UN SMTP diumumkan", dan "mengulang UN berarti bertindak tidak adil kepada yang lulus UN". Apa hubungan itu semua? Apakah ini tidak membuktikan UN tidak relevan? Apa sih tujuan pendidikan kita? Secara singkat, tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan peserta didik dan mendampingi mereka agar menjadi pribadi yang baik. Menjadi cerdas dan baik. Tujuan pendidikan amat jelas, bukan demi kepandaian menjawab soal-soal yang diajukan guru atau UN. Tujuan pendidikan Namun, hal inilah yang justru menghangatkan pembicaraan setiap kali kita menghadapi masalah pendidikan. UN dijadikan parameter dan alat untuk memajukan mutu pendidikan, terjadi "salah kaprah". Bukankah setiap tahun yang diperdebatkan hal itu? Membosankan, tidak pernah ada pemikiran baru. Cerdas artinya mampu menggunakan akal budi untuk menghadapi dan menjawab persoalan secara kreatif. Jadi, tidak hanya demi untuk menjawab soal-soal ulangan atau ujian. Sedangkan baik artinya mempunyai karakter, tahu nilai-nilai (value) dan mampu mewujudkannya dalam tingkah laku sehari-hari. Dalam usaha memajukan mutu pendidikan, hal ini jarang sekali dibicarakan dan dijadikan program operasional. Padahal, tujuan pendidikan itulah yang harus diperjuangkan untuk diraih oleh siapa pun yang berkiprah dalam dunia pendidikan. Lihatlah, mengapa seorang anak nekat bunuh diri? Bukankah karena dia tidak pernah disiapkan untuk menghadapi tantangan/ persoalan hidup? Apakah dia pernah disiapkan untuk mengolah kegagalan? Cermatilah, mengapa seorang anak berani mencoba membakar sekolah sendiri? Mengapa dia tidak bangga dengan sekolahnya? Mengapa seorang anak tidak mampu menguasai kekesalannya? Apakah dia pernah dilatih untuk menguasai diri di sekolah dan di keluarga? Amatilah, mengapa seorang pendidik menjadi jockey UN? Mengapa dia tidak menyadari perannya sebagai pendidik? Apakah dia bangga sebagai guru? Paradigma pendidikan manakah yang diyakini dan dikembangkan? Adakah program pelatihan dan pendampingan personal yang kontinu untuk menginternalisasikan paradigma pendidikan? Renungkanlah, mengapa peserta didik berani melukai gurunya sendiri? Kepada pendidiknya, mengapa mereka bertindak kasar? Adakah program pendidikan yang mengarah ke penajaman nurani (conscience) peserta didik sehingga mereka terbiasa menggunakan dan dapat membedakan yang benar/salah dalam setiap tindakannya? Semua pertanyaan itu dapat diajukan kepada siapa saja yang terlibat pendidikan. Pastilah jawaban yang tepat bukan terletak pada dan melalui UN. UN tidak relevan sama sekali. Ada tiga ranah dalam kurikulum yang sedang berlaku, yaitu pengetahuan (cognitive), sikap (attitude), dan praktik (skill). Dalam kenyataan yang didewakan adalah ranah pengetahuan, biaya dan tenaga dihabiskan di situ. Pemutlakan pengetahuan atau angka hasil ulangan/ujian/rapor dan pengabaian karakter serta kecerdasan akan memundurkan mutu pendidikan. Kebijakan pedagogis akan lebih bermanfaat bila didahulukan daripada keputusan yang dipaksakan karena kekuasaan. Saya Mendukung Ujian Nasional ulangan bagi siswa-siswi yang tidak lulus. Sekali lagi pemerintah jangan buat kebijakan yang blunder reply share Generasi Penjual RujakJun 28, '06 11:38 PM for everyone Sari tidak lulus ujian nasional atau UN tingkat SMA tahun lalu. Nilai Bahasa Inggris jatuh. Tiga bulan ia ikut kursus persiapan ujian perbaikan. Setelah lulus, ia ingin mencari pekerjaan untuk membantu keluarga. Namun apa daya, ijazah tidak dapat segera diterima. Sari lalu berjualan rujak. Inilah kisah tragis anak bangsa yang menjadi korban UN. Sari tidak sendirian sebab tahun lalu banyak temannya yang tidak lulus. Kata pemerintah, UN dipakai untuk proses standardisasi dan perbaikan mutu pendidikan. Namun apa yang telah diperbuat pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah Sari? Apakah pemerintah membantu menyediakan sarana pendidikan, berupa tape recorder, misalnya, sebab sekolahnya tidak memiliki lab bahasa, karena itu, saat ujian Bahasa Inggris banyak siswa tidak lulus? Atau, pemerintah telah berusaha membantu meningkatkan kualitas guru Bahasa Inggris dengan memberi pelatihan tambahan? Cukup sudah Data-data hasil UN tahun-tahun sebelumnya sebenarnya dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah untuk memetakan kualitas pendidikan secara nasional. Karena itu cukup sudah dengan UN. Kini saatnya pemerintah bekerja. Anggaran dana pendidikan yang rencananya akan ditingkatkan semestinya dipakai untuk program perbaikan kualitas ini. Mengingat adanya disparitas kualitas pendidikan antardaerah, program peningkatan mutu pendidikan semestinya mendasarkan diri pada prinsip-prinsip keadilan. Dalam kerangka ini, prinsip keadilan yang ditawarkan John Rawls masih relevan (Rawls, 1993). Prinsip pertama yang diajukan Rawls adalah tiap orang memiliki klaim yang sama atas hak-hak dasar dan kebebasan. Konstitusi kita mengekspresikan salah satu hak dasar ini dengan kalimat, "mencerdaskan kehidupan bangsa" dan "menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pengajaran". Terbukanya akses pendidikan bagi semua warga negara merupakan conditio sine qua non dihargainya nilai kebebasan dan keadilan. Dengannya, meminjam istilah Rawls, kebebasan politik dan kebebasan tiap orang untuk bergerak dari tingkat sosial satu ke tingkat yang lain dapat dijamin secara fair. Selama masih ada warga negara yang tidak dapat memperoleh akses pendidikan, meski di tingkat paling dasar, negara merupakan instansi yang paling bertanggung jawab atas ketidakadilan ini. Tanpa dijaminnya kebutuhan dasar ini, partisipasi warga dalam iklim demokrasi yang memungkinkan terjadinya pergerakan sosial ke atas kian jauh dari harapan. Yang miskin akan semakin miskin, yang tak berdaya akan semakin teperdaya. Dalam masyarakat demokratis, politik merupakan ekspresi kepercayaan publik, berupa amanah untuk menyejahterakan warganya, termasuk peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan civil society (terbukanya peluang yang sama bagi tiap warga untuk aktif secara politis). Tanpa usaha ini, politik berubah menjadi wahana penguasaan sumber-sumber alam dan sosial bagi kepentingan segelintir orang. Karena itu, akses pendidikan bagi semua warga merupakan prioritas dasar sebab dengannya dijamin persamaan. Persamaan dalam mengenyam pendidikan memungkinkan tiap warga menghayati kebebasannya sehingga mereka mampu aktif berperan serta dalam kehidupan demokratif yang kian mengukuhkan martabat mereka sebagai manusia. Bukan pukul rata Klaim atas persamaan, lanjut Rawls, bukan berarti semua dipukul rata. Model kebijakan pukul rata seperti ini alih-alih menjadi dalih keadilan malah menutup mata atas realitas ketidakadilan lain, yaitu kenyataan tentang perbedaan akses atas sumber-sumber alam dan sosial yang diterima dari setiap orang sejak lahir. Kenyataan adanya perbedaan akses atas sumber alam dan sosial membuat Rawls mengajukan prinsip keadilan kedua, yaitu perbedaan sosial dan ekonomi dapat diterima sejauh kebijakan itu memenuhi dua syarat. Pertama, terbuka peluang bagi setiap orang untuk maju. Kedua, perbedaan perlakuan diizinkan sejauh demi kemaslahatan pihak-pihak yang paling tidak diuntungkan dalam masyarakat (the least advantaged members of society) karena keterbatasan sumber-sumber alam dan sosial yang mereka terima secara alamiah. Kebijakan pukul rata dalam dunia pendidikan, seperti bantuan operasional sekolah (BOS), standardisasi nilai kelulusan lewat perangkat ujian nasional, sudah semestinya ditinggalkan sebab kebijakan ini selain melukai nilai keadilan, juga menutup mata terhadap realitas adanya perbedaan akses natural-sosial setiap orang. Prioritas pendidikan Di tengah amukan bencana alam, rapuhnya bangunan sekolah, kian banyak orang miskin yang tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, pemerintah ditantang membuat prioritas, bukan hanya membangun kembali sekolah-sekolah yang telah roboh (Aceh, Nias, Waghete, Bantul, Yogyakarta, Klaten, dan lainnya), namun juga menjadikan dunia pendidikan sebagai keprihatinan utama dalam setiap kebijakan politisnya. Uang rakyat jangan dipakai untuk proyek sia-sia yang melukai keadilan. Perbaikan mutu pendidikan seharusnya mempertimbangkan nilai-nilai keadilan yang melindungi pihak paling lemah di masyarakat (anak-anak miskin, korban bencana, anak cacat, yatim piatu, dan lainnya). Bagi mereka, pemerintah semestinya memberikan hati dan tenaganya. Kisah Sari tak boleh terulang lagi pada siswa lain. Kita tidak ingin disebut bangsa yang hanya bisa menghasilkan generasi penjual rujak. Kita tidak ingin para pemimpin mengkhianati cita-cita pendiri bangsa. Saya Mendukung Ujian Nasional ulangan bagi untuk siswa-siswi yang tidak lulus. Sekali lagi pemerintah jangan buat kebijakan yang blunder reply share Belajar Kembali BernegaraJun 11, '06 6:50 AM for everyone Kita tampaknya harus kembali belajar bernegara. Beberapa peristiwa nasional akhir-akhir ini membuktikan betapa sebagian kelompok Islam di negeri ini gagal memahami falsafah dasar negara kita. Pernyataan dan tindakan mereka sudah jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Indonesia. Kita tampaknya harus kembali belajar bernegara. Beberapa peristiwa nasional akhir-akhir ini membuktikan betapa sebagian kelompok Islam di negeri ini gagal memahami falsafah dasar negara kita. Pernyataan dan tindakan mereka sudah jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Indonesia. Contohnya adalah perilaku Majelis Ulama Indonesia dan organisasi Islam yang mendukung fatwanya tentang Ahmadiyah. Fatwa tentang Ahmadiyah yang disusul serangkaian tindak kekerasan itu telah menunjukkan kalau tokoh-tokoh MUI lebih mendahulukan pemahaman sempit yang dianutnya ketimbang kebersamaan dalam bernegara. Konstitusi kita jelas-jelas menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” (UUD 1945: Pasal 29, Ayat 2). Tapi, para tokoh MUI justru melecehkan rumusan itu dengan mengintimidasi Ahmadiyah lewat fatwa-fatwa. Kita juga prihatin melihat tokoh Islam di lembaga lain. Pimpinan Departemen Agama (Depag) yang harusnya menjadi contoh pengayom semua agama malah tampil menjadi tokoh antagonis. Permusuhan yang diperlihatkannya terhadap Ahmadiyah jelas menunjukkan bahwa ia lebih mementingkan keyakinan sempit ketimbang arti bernegara yang baik. Beberapa tokoh Islam organisasi besar seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah juga memperlihatkan gejala serupa. Mereka gagal memahami Konstitusi kita dan lebih senang mengutamakan pemikiran keagamaan yang sempit. Dalam isu-isu hubungan agama dan negara, mereka tampaknya lebih suka “mengarab” ketimbang “mengindonesia.” Para tokoh Islam di dua lembaga itu juga bersemangat mendukung setiap rancangan undang-undang (RUU) yang berbau Islam, sembari mengabaikan konteks keindonesiaan yang majemuk. Kacamata yang mereka gunakan bukanlah Indonesia yang majemuk dan beragam, tapi kacamata dari Timur Tengah yang bernuansa doktrin-doktrin wahabisme. Kita kaum muslim agaknya memang harus belajar lagi tentang Indonesia kita, tentang bagaimana membangun sebuah negara modern. Para pendiri republik ini, sejak dulu sudah sepakat membangun Indonesia sebagai negara modern yang dilandasi semangat kebersamaan dan kerukunan. Mereka tak pernah menginginkan negara agama, apalagi negara Islam. Para pendahulu kita itu juga sudah lelah berdiskusi soal dasar negara. Kini, kita juga lelah melayani hasrat-hasrat ideologis kaum Islamis yang mungkin akan lebih mengakibatkan perpecahan ketimbang memajukan negeri ini. Sebuah negara modern, dalam konsensus ilmuwan politik dan umat manusia kini, tidak bisa lagi dibangun atas dasar ideologi keagamaan tertentu, apalagi yang sendi-sendinya diambil dari abad pertengahan. Negara modern membutuhkan aturan dan perundang-undangan yang dibuat serasional mungkin dengan memperhatikan semua elemen penghuninya. Setelah lebih setengah abad merdeka, kita layak berharap para pemimpin Islam Indonesia makin matang dan lebih dewasa dalam menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan isu agama dan negara. Jika bersedia menerima bentuk dan dasar negara Indonesia, mereka harusnya juga bersedia menerima segala konsekuensinya. Yang saya maksud “segala konsekuensinya” itu adalah: setiap upaya pembangunan negara haruslah sejalan dengan semangat konstitusi kita. Jika para pemimpin Islam negeri ini bersedia menerima Pancasila sebagai falsafah dasar negara, mereka harusnya juga bersedia menerima konsekuensi dari asas itu. Negara Pancasila bukanlah negara agama, bukan pula negara Islam. Karenanya, setiap upaya untuk menggolkan peraturan yang potensial memicu perpecahan dan diskriminasi, secara otomatis telah bertentangan dengan Pancasila. Sejak merdeka, para pemimpin Islam memang tampak tertarih-tatih untuk menerima konsep Indonesia modern yang majemuk. Di tahun 1950-an, lewat partai-partai Islam, mereka berupaya mendesakkan agenda yang ingin mengubah asas Pancasila menjadi asas Islam. Keinginan itu gagal, karena partai-partai Islam kalah Pemilu 1955. Tak patah arang dengan kegagalan itu, mereka kembali mencobanya lewat debat-debat konstituante (1957-1959). Tapi, usaha inipun kembali gagal. Di masa Soeharto yang represif, para pemimpin Islam yang cenderung ideologis memang tak memiliki tempat. Suara mereka dibungkam dan dipaksa menerima asas tunggal Pancasila. Tapi, keinginan untuk “mengislamkan” Indonesia tak pernah padam. Sejak reformasi, muncul lagi suara-suara yang berusaha untuk ke arah itu, baik lewat partai-partai Islam, organisasi massa, lembaga pemerintah, dan cara-cara lain yang mungkin. Sebagian gagal dan sebagian berhasil. Karena itu, saya berpendapat bahwa carut-marutnya kehidupan bernegara kita akhir-akhir ini, khususnya soal hubungan agama dan negara, sebagian juga merupakan cerminan kegagapan banyak kaum muslim dalam memahami konsep Indonesia kita. Obsesi yang terus hidup untuk “mengislamkan” Indonesia telah menjadi semacam ranjau yang terus-menerus mengancam keutuhan negeri ini. Energi yang seharusnya disalurkan untuk proyek-proyek pembangunan negara, terkuras untuk mengurusi agama yang lazimnya menjadi soal pribadi setiap warga negara. Fatwa, RUU, dan Perda yang seharusnya diabdikan untuk membantu pembangunan negara, berbalik jadi penghambat kemajuan dan proses modernisasi negeri ini. Kita sebagai kaum muslim agaknya memang harus benar-benar kembali belajar bernegara dan mencari cara yang tepat dalam membangun negeri ini. reply share Masak Cowok yang ngaceng kok perempuan yang disalahkan?Jun 11, '06 6:23 AM for everyone Sungguh RUU APP menghina saya sebagai lelaki. Masak soal mengatur shahwat harus minta bantuan negara? Masak cowok sampean yang ngaceng kok perempuan yang disalahkan? Indonesia bukan Arab Saudi. Jangan samakan shahwat orang Indonesia dengan Arab Saudi. Karena itu harus ditentang penyeragaman budaya, apalagi penjajahan budaya Arab di Indonesia. Coba bayangkan berapa TKW kita yang diperkosa di Arab Saudi meski mereka memakai baju tertutup. Bandingkan dengan para TKW di Hongkong yang tak memakai pakaian tertutup seperti di Arab Saudi. Jadi bukan karena TKW kita yang kegenitan, tetapi memang shahwat para majikan mereka kelewatan! Sungguh bangsa Indonesia sedang menghadapi ancaman besar yaitu Talibanisme. Ancaman itu sungguh berbahaya karena akan membawa bangsa ini kepada apa yang dimaksud zero culture. Sebuah masyarakat tanpa kebudayaan, sebab senua diseragamkan. Pakaian perempuan harus seragam agar para mullah tak ngaceng (Burung Lelaki) kalau sedang berjalan-jalan. Para lelaki harus memakai jenggot. Permainan layang-layang diharamkan entah apa penjelasan akal sehatnya, patung-patung bersejarah peninggalan zaman dulu mungkin harus dimusnahkan termasuk patung Rara Jonggrang yang tak pakai beha. Sekali lagi. Pecinta Indonesia yang berbhinneka harus melawan setiap usaha negara untuk menyeragamkan pikiran dan tingkah laku. Ancaman itu ada di depan mata yaitu RUU Porno. Kita tak ingin Indonesia terpuruk menjadi sebuah negara atau tatanan masyarakat seperti Taliban di Afghanistan atau di Arab Saudi. Daryl Hidayat now A Member Of Center For World Conscience "Bringing Moral Clarity To Policy Making", MADIA Indonesia Centre (Masyarakat Dialog Antar Agama), The Wahid Institute "Seeding Plural and Peaceful Islam", JAKAR (Jaringan Kafir Liberal), dan Aliansi Mawar Putih. reply 3 replies share Saya Menolak RUU Anti Pornografi and PornoaksiJun 8, '06 1:14 PM for everyone Indonesia adalah taman bunga peradaban. Di dalamnya mekar beragam tradisi. Indonesia adalah pelangi kebudayaan. Di dalamnya berpendar beragam adat. Indonesia adalah lahan subur kesenian. Di dalamnya tumbuh beragam kreasi. Indonesia adalah ruang semua agama. Di dalamnya bergema beragam doa. Kini, keragaman itu sedang terancam oleh RUU APP. Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi melarang kita menikmati kekayan budaya kita. Kita dilarang berpakaian menurut adat kita. Kita dilarang mengungkapkan kasih sayang pada orang yang kita cintai. Kita dilarang mengekspresikan keindahan tubuh dan tari-tarian kita. Kita dilarang mengungkapkan kekayaan seni dan sastra kita. Kita dilarang untuk menjadi diri kita sendiri. RUU APP bukan melarang pornografi, melainkan membenci tubuh manusia, mendiskriminasi kaum perempuan. RUU APP terlalu jauh memasuki wilayah pribadi manusia, yaitu tempat setiap orang memelihara keunikannya. Setiap orang memiliki ukuran moral yang berbeda. Setiap orang memiliki persepsi sensualitas yang berbeda. Setiap orang memiliki daya imajinasi yang berbeda. Tentu, kita ingin lindungi anak-anak kita. Karena itu pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang perlindungan anak. Tentu, kita ingin media massa tumbuh sebagai alat komunikasi yang santun dan cerdas. Karena itu masalah pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang penyiaran. Bahkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sudah jelas mengatur masalah pelanggaran kesusilaan. Jadi, Cukup! Jangan merusak keragaman Indonesia dengan RUU APP yang keliru itu. Indonesia adalah keragaman untuk semua. Indonesia adalah kebebasan untu semua. Indonesia adalah kesetaraan untuk semua. Indonesia adalah kedamaian untu semua reply 3 replies share Media Hancurkan Persepsi Tubuh Perempuan Jun 8, '06 12:43 PM for everyone Sesungguhnya kehidupan diawali oleh tubuh perempuan. Bayangkan bila seorang bayi tidak menyusu. Dari mana lagi ia harus mengenal kehidupan? Sejarah payudara, sejarah tubuh perempuan adalah sejarah umat manusia. Tetapi kemudian kehidupan telah memenjarakannya ke dalam dua dunia yang berbeda, dan celakanya keduanya sama-sama tidak menguntungkan, yaitu dunia profan dan dunia sakral. Dunia sakral atau ‘kesucian’ menjerat perempuan pada proteksi terhadap tubuh karenanya harus ditutupi setiap bagiannya agar tidak tersentuh agar tetap menjadi bersih. Dunia sakral atau kesucian begitu mengagungkan ‘keperawanan’, sebuah tanda mati lambang kejujuran perempuan lajang dalam memasuki perkawinan dan hanya dengan selaput tipis itu para suami mengukur dan menilai kejujuran sang istri. Dunia profan atau kebejatan sebaliknya, mengadili tubuh perempuan sebagai godaan sekaligus hinaan, oleh karena itu bila tubuhnya telihat begitu indah, ia harus ditangkap. Karena dari payudaranya ia meracuni kesusilaan, dari kedua pahanya dan selangkangannya ia membuat lelaki tergiur memperkosa, dan dari tatapan serta bibirnya ia membuat jantung lelaki berdebar keras dan segera meninggalkan istri-istri mereka. Tubuh perempuan yang melahirkan kehidupan itu, ternyata membuatnya bermasalah dimana-mana. Jeratan profan dan sakral itu membuat tubuh perempuan tidak menjadi tubuhnya sendiri. Ia ditangkap dalam kamera, bagian-bagian tubuhnya diabadikan untuk masturbasi para lelaki gila, ia dikejar-kejar kamera, ia ‘ditelanjangi’ oleh berita, ia dipajang di kota-kota, ia menjadi bahan dasar ekonomi libido, dan semua adalah disusun dan dirancang sedemikian rupa dalam dunia yang bukan miliknya, melainkan dunia milik lelaki. Kamera dengan mata lelaki dan berita dengan lidah lelaki. Kemudian tubuh-tubuh perempuan itu diciptakan dalam bentuk-bentuk yang tidak proposional, payudara dan pantat yang besar atau badan yang kurus dan rambut yang lurus, dan kulit-kulit yang harus putih serta hidung-hidung yang mancung. Tetapi di saat yang sama, tubuh-tubuh itu dipenjara dengan persepsi dalam dua kubu, profan dan sakral, dibuka sama sekali, atau ditutup sama sekali. Dan milik siapakah tubuh-tubuh itu? Tidak pernah menjadi milik mereka sendiri! Imaji Media, Imaji Laki-laki Persepsi terhadap tubuh-tubuh perempuan salah satunya adalah dibangun oleh media. Persepsi apakah yang dibangun? Inilah persoalannya, tubuh perempuan yang diasosiasikan dengan alam: reproduksi dan pengasuhan, terus bergeser menjadi kebutuhan ekonomi libido laki-laki, dilihat dalam kapasitas permintaan yang besar dari konsumen media-media porno, dan kebutuhan atas dunia imaji seperti tubuh ‘super ideal’ sesuai dengan kebutuhan laki-laki dalam reklame-reklame, sampai pada sumber persoalan moral yang kontroversial: disatu sisi dicerca habis-habisan dan di sisi lain laku untuk ditonton, seperti tayangan kriminal yang dari kameranya fokus hanya mengejar pelacur-pelacur yang ketakutan dan clos up- clos up bagian-bagian tubuh penari-penari di pub-pub malam. Tubuh-tubuh yang bersalah tetapi boleh juga memupuk kekayaan imaji seksual laki-laki. Tubuh-tubuh putih dan coklat dan sumber dari segala pemberitaan yang kontraversial. Sekali lagi, persepsi apakah yang dibangun oleh kebanyakan media? Bukan tubuh seorang manusia berjenis kelamin perempuan secara natural, seperti ibu-ibu yang mandi di sungai, atau perempuan-perempuan muda yang telanjang dada di menyusui bayinya. Tetapi tubuh itu lebih laku untuk imaji untuk memperkaya khazanah seksual fantasi laki-laki. Ekonomi libido yang memang menggiurkan. Para lelaki, meskipun di kamar tidurnya sudah ada istri-istri yang tidur seranjang dengan mereka setiap malam, dan tubuh-tubuh perempuan dari perempuan yang telah mereka nikahi, masih kurang saja imajinasi seksual yang mereka khayalkan. Para lelaki rupanya masih membutuhkan ‘tubuh-tubuh’ buatan media, tubuh-tubuh telanjang yang tak proposional dan tidak lebih baik dari istri-istri mereka, atau suara-suara histeria pelacur-pelacur yang tertangkap, dan bokong-bokong mereka serta belahan-belahan dada mereka yang tak sengaja tersingkap lalu di situpula kamera segera menikamnya, dan bahasa-bahasa yang membuat kegiatan perkosaan menjadi nikmat buat seorang kakek, serta seorang nenek yang berjalan sendirian menjadi nikmat diperkosa oleh belasan lelaki muda. Sungguh, kekerasan serta pelecehan seksual menjadi persepsi baru yang diciptakan media yang seluruhnya diciptakan dari, oleh dan untuk dunia laki-laki. Dunia ini memang milik laki-laki ketika mereka keluar dari rahim-rahim dan vagina-vagina menganga perempuan serta selaput-selaput dara yang bisu, dan air ketuban yang pecah, tumpah meriah di seprai putih rumah sakit serta darah-darah kental yang melumuri plasenta mereka yang lahir, serta teriak tangis bocah laki-laki yang masih tertutup matanya, dan bibir-bibir mungil mereka yang menghisap air susu ibu dengan rakusnya. Ikut Serta Membangun Persepsi Kecabulan Tubuh perempuan abad kini, dipenuhi oleh persepsi kecabulan! Sekalipun ia hanya tersingkap, sekalipun atas keinginan si yang punya tubuh. Tangtop, tropis, matahari, udara panas, perempuan-perempuan itu mengenakannya dengan rasa nyaman. Tetapi tidak! Itu melanggar kesusilaan. Jangan sekali-kali perempuan memperlihatkan tubuhnya sekalipun itu hanya lengan, karena semua laki-laki akan berhak memperkosa mereka, juga karena malam hari akan segera menangkap mereka. Begitulah media pada akhirnya menjadi suara terbanyak mengerangkeng perempuan dari kehidupannya, dan menambah jurang bagi kehidupan perempuan sendiri. Karena yang tadinya tidak cabul menjadi imaji kecabulan, lalu perempuan menjadi sasaran empuk kesalahan, sebagaimana rasa sakit mereka ketika menstruasi dan melahirkan anak. Melalui seksualitasnya, ia tidak pernah menjadi berangkat dari dirinya sendiri. Tubuh perempuan seperti instrumen musik yang selalu dimainkan media (baca: laki-laki), dan karena laki-laki diberi kehendak seks yang lebih, maka adalah wajar bila eksploitasi bersamaan dengan pengerangkengan perempuan itu ditindaklanjuti. Seperti kata-kata ‘perempuan nakal’ yang tidak lebih baik daripada ‘hidung belang’ lalu perempuan harus pasif dan tabu untuk mengatakan hasrat tubuhnya karena bila ia aktif dan agresif, perempuan akan dihukum secara sosial! Ciptaan masyarakat dan kultur terhadap kehidupan perempuan memang sangat skizofrenik! Hanya ruang-ruang penderitaan yang harus diisi perempuan, ruang-ruang sadomasokis, ditinggikan lalu dijatuhkan sedalam-dalamnya, lalu ditinggikan lagi, dan dijatuhkan lagi sedalam-dalamnya, begitulah saya katakan di sini media melakukan persepsi yang mendehumanisasi perempuan, lalu melalui media ini perempuan diterjemahkan yang jelas bukan atas diri perempuan sendiri, melainkan atas sebuah konstruksi berupa simbol-simbol, tanda-tanda, pesan-pesan yang ‘diinginkan dunia laki-laki’. Media akhirnya membuat simbol-simbol perempuan seperti apa, seperti masalah pelacuran bahwa pelacur-lah agen persoalannya, tanpa melihat si hidung belang dan dengan tanpa mau benar-benar si hidung belang itu di shoot sedekat mungkin dan dikatakan bahwa mereka itu adalah penjahat kelamin, membeli tubuh manusia, tubuh perempuan dengan uangnya, dan perempuan menjualnya karena untuk susu anak-anaknya, sedangkan si hidung belang untuk menghambur-hamburkan spermanya sama dengan caranya menghambur-hamburkan uang, atau sekadar mengukur kejantanannya melalui tubuh-tubuh perempuan-perempuan itu. Lalu libido laki-laki menjadi sesuatu yang alamiah, dan kebutuhan lelaki atas banyak perempuan dan tubuh-tubuh perempuan yang dikotori mereka adalah juga alamiah, dan itu tercover dalam berita-berita kriminal dan perempuan-perempuan menderita lalu laki-laki hanya dipenjara sekian jam dan perempuan terpenjara seumur hidupnya akibat perbuatan laki-laki atas tubuh mereka. Media macam apa yang perempuan inginkan? Ketika tubuh menjadi persepsi yang manusiawi, yang menjadi tidak cabul, yang menjadi milik perempuan sendiri, yang dengan tubuhnya perempuan tidak merasa hina dan tidak pula merasa suci. Dan dari tubuh itu perempuan adalah juga pikiran dan jiwanya. Perempuan menggambarkan tubuhnya merupakan suatu keputusan perempuan, tetapi ingat bahwa hal itu digunakan untuk mejelaskan pikiran perempuan, dimana seorang perempuan tidak merasa paling suci, tidak juga merasa takut atau hina atas tubuhnya baik dalam hal psikologis maupun seksnya. (Virgina Woolf) reply 3 replies share Habis Gelap..., Tak Kunjung Terang?Jun 6, '06 8:14 AM for everyone "..Door nacht tot licht, Door storm tot rust, Door strijd tot eer Door, leed tot lust".. Pada tahun 1985, seorang feminis kelahiran Calcutta, India, Gayatri Spivak, melontarkan sebuah pertanyaan kritis, "apakah 'subaltern' dapat berbicara - juga dalam wacana kebebasan?" Dari pertanyaan ini, kita bisa memahami sebuah pernyataan bahwa kaum feminis 'juga sebagai kaum subaltern, sering mengkritik sejarah dominan, yang terfokus pada peranan laki-laki, sehingga pantas disebut his-story. Sebagai anti-tesisnya, mereka ajukan sejarah dari kacamata perempuan, yang mereka sebut her-story (Al-Hibri 1982; Umar 2002: 115). Dua kalimat dalam bahasa Belanda di sub judul tulisan ini adalah rangkaian sajak seorang kaum subaltern juga, seorang perempuan, RA. Kartini, (yang berarti, "Habis malam datanglah siang, Habis topan datanglah reda, Habis perang datanglah menang, Habis duka datanglah suka."). Seperti kita ketahui, pada tahun 1911 telah terbit antologi surat-surat Kartini dalam format buku yang disusun oleh J.H. Abendanon, berjudul 'Door Duisternis tot Licht', dan kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai 'Habis Gelap Terbitlah Terang'(terbit di tahun 1951). Abendanon sendiri sebetulnya adalah seorang direktur pada departemen pendidikan, industri dan agama pemerintah Hindia-Belanda di awal abad ke-20. Ia seorang pendukung 'Gerakan Ethis' waktu itu, yang berencana mendirikan sekolah di tanah jajahan secara besar-besaran. Lewat penerbitan buku itu, Abendanon sebenarnya ingin berbicara tentang suatu transformasi positif, dengan Kartini sebagai pembawa obor pencerahan. Singkatnya, bahwa transformasi dari 'gelap' ke 'terang' berarti suatu proyek kebebasan: pencerahan dari 'kebodohan' ke 'kecerdasan'. Kata 'pencerahan' memang beberapa kali memang muncul dalam korespondensi Kartini (misalnya dalam surat kepada Steela Zeehandelar 12 Januari 1900). Sudah barang tentu, seperti tersebut dalam beberapa surat Kartini yang lain, 'pencerahan' juga ada hubungannya pula dengan emansipasi, khususnya berkenaan dengan posisi perempuan bumiputera. "Kemerdekaan perempuan akan merupakan buah dari penderitaan dan kepedihan kami', tulis Kartini dalam sepucuk surat bertanggal 1 Agustus 1903. Stella Zeehandellar sendiri adalah seorang sosialis yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis di Belanda dan memiliki jaringan dengan orang-orang Belanda yang berpengaruh. Tulisan ini ingin memaparkan bahwa wacana kebebasan juga bisa muncul dari kaum subaltern (baca: perempuan) di tengah segala konteks pergulatan zamannya. Tulisan saya ini sendiri mendapat banyak rujukan dari artikel Goenawan Muhammad, "Habis Gelap - Terbitlah Aufklarung", (Utan Kayu, 2004). Dia dan Agama Bicara soal pemahaman iman Kartini terhadap Kitab Suci, '...dulu saya tak hendak belajar lebih lanjut dari Kitab Suci, yang mengutarakan kalimat dalam sebuah bahasa yang ganjil, yang artinya tak saya pahami dan mungkin guru saya sendiri tak memahaminya....[Tapi} saya keliru. Kitab dari semua Kitab itu terlampau suci untuk ditangkap oleh kecerdasan kita yang papa..." Tambahnya pula: "...Hanya Tuhan yang memahami teka-teki dunia. Dialah yang mempertautkan jalan-jalan yang tadinya terpisah jauh untuk membentuk arah-arah yang baru...." Dalam sepucuk surat, yang ditulisnya dua hari kemudian, 17 Agustus 1902, ia menegaskan jalan kembalinya ke agama itu dengan menulis: "Kami berpegang teguh pada tangan-Nya, dan gelap pun 'kan menjadi cahaya'. Kartini juga mengutip kata-kata seorang perempuan tua yang menyuruhnya berpuasa: 'Melalui menahan diri dan tafakur, kita pergi menuju terang'. Baginya, 'berpuasa adalah cara mengatasi yang jasmani oleh yang rohani; kesendirian adalah sekolah untuk tafakur". Kita tak tahu persis apa yang mendorong Kartini kembali ke agama. Dalam surat yang dikutip di atas ia menyebut 'seorang perempuan tua' yang tak putus-putusnya memberinya 'bertangkai-tangkai kembang dari hati'. Mungkin saja yang dimaksudkannya adalah ibu kandungnya sendiri, Ngasirah, yang berasal dari kalangan pesantren, bukan dari kalangan ningrat, seorang yang hampir tak pernah disebut hadirnya. Dia dan Ibunya Pada tanggal 15 Agustus 1902, dalam sepucuk surat kepada Abendanon. ia berbicara banyak tentang puisi dan gamelan Jawa. Di satu bagian, ia mengutip ucapan seorang anak kepada ibunya: 'Ibu, kupinta setangkai melati yang mekar di pusat hati.' la tampaknya terpesona dengan kalimat itu, yang dalam bahasa Jawa memang terdengar puitis: 'Nyuwun sekar melati ingkang mekar ing panjering ati' (Bdk:Letters of a Javanese Princess, Raden Adjeng Kartini - terjemahan Agnes Louise Symmers, New York: The Norton Library, W.W. Norton & Company, 1964, hal 181-183). Betapapun sekedar disebut di latar belakang, kehadiran sosok ibu Ngasirah, perempuan tua itu, banyak menentukan sikap Kartini. Perempuan itu saksi hidup, bahwa ayahnya, bupati Jepara, adalah seorang laki-laki yang progresif tapi berpoligami. Seorang ayah yang dicintai anaknya penuh dan akrab, tapi membawa ke dalam hidup anak itu seorang ibu lain yang tak akrab. Ngasirah menandai apa yang disebut Kartini sebagai 'luka yang pedih' dalam sepucuk surat, tanggal 21 Desember 1900 buat Rosa Abendanon. Dari sinilah, menurut confession-nya sendiri, Kartini dengan hati berkobar-kobar merindukan saat ketika ia 'mampu mengubah dunia Bumiputera yang merupakan sebuah tempat yang begitu pahit bagi perempuan'. Mungkin sekali karena hubungannya dengan seorang ibu yang bersedia 'memberi begitu banyak', tapi yang berada di 'tempat yang begitu pahit bagi perempuan', Kartini menemukan dalam diri Ngasirah sesuatu yang sangat berharga. Dan, sebetulnya kalimat 'habis gelap terbitlah terang';, yang dalam bahasa Arab disebut minazh-zhulumaati ilan-nuur, juga sebuah kiasan yang ada dalam Qur'an, tepatnya di Surah Al Baqarah. Dia dan Jiwa Pemberontak Sebagai perempuan muda yang penuh idealisme, Kartini datang dengan gagasan yang bebas serta mandiri dari tatanan adat lama. Bahkan tak hanya mandiri, tapi juga memberontak, setidaknya dalam hati. 'Kami', tulis Kartini tentang diri dan adik-adiknya, yang melihat perannya sebagai perintis kemandirian itu, 'memiliki pikiran yang memberontak dalam belantara ini, di tanah jauh yang gelap ini...'. Pernah ada suatu saat ketika Kartini menampik, memberontak terhadap titah khas kultur Jawa, 'sendiko dhawuh gusti!'. Dalam surat bertanggal 6 Nopember 1899, pemberontakan itu bahkan ditandai dengan sikap kritisnya yang menampik agama yang diwariskan orang tuanya. Baginya, 'orang dapat jadi baik tanpa menjadi saleh,' dan ia ragu adakah agama merupakan rahmat bagi manusia, "...Terkadang aku ingin tak pernah ada agama, sebab hal yang seharusnya menyatukan umat manusia ke dalam persaudaraan bersama itu selama berabad-abad telah jadi satu sebab pergulatan, sengketa dan pertumpahan darah...." Dalam masa pemberontakan iman itu, bagi Kartini, seperti tertulis dalam surat 15 Agustus 1902, "..Tuhan kami adalah nurani kami, neraka dan surga kami adalah juga nurani kami". Kesendirian tampaknya juga penting dalam iman Kartini: ia melihat 'cahaya' dan 'terang' dalam imannya yang justru pribadi. Dia dan Perjuangannya Menyitir Gadis Arivia, terdapat lima perjuangan dan pemikiran feminis Kartini. Pertama, tentu tidak dapat disangkal bahwa Kartini dalam pemikirannya banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang Kolonial: "...Orang mudah sekali lupa kalau 'negeri kera yang miskin ini'telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria, setelah beberapa lama saja tinggal disini ...." Kartini juga jelas mendambakan sosok perempuan yang independen, dalam suratnya Jepara, 25 Mei 1899, ia menulis bahwa, "Aku sungguh ingin mengenal seseorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, cerai dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya...". Kedua, Kartini sangat dipengaruhi oleh pemikiran liberal tentang hak-hak individu dan hak pendidikan yang setara. Suratnya, tertanggal 13 Januari 1900 berbunyi, "...Aku tidak pernah membiarkan perempuan-perempuan yang lebih tua dariku, meski status sosialnya lebih rendah dariku, untuk memberi hormat sesuai dengan gelarku...hatiku teriris, saat melihat orang-orang, yang usianya lebih tua dariku, berjalan merangkak berlumur debu untukku..." Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mempermasalahkan hal ini, "...Yang pertama dan utama, aku akan menghapus adat kebiasaan buruk yang lebih memihak anak laki-laki daripada anak perempuan. Kita tidak seharusnya terkejut akan sifat laki-laki yang memikirkan diri sendiri saat kita menyadari bagaimana, sejak kecil dia sudah dimenangkan dari perempuan, adiknya..." Keempat, Kartini menyikapi perkawinan dengan sinis, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mengungkapkan, "Tuhan menciptakan perempuan sebagai teman laki-laki, dan takdir hidupnya adalah untuk menikah. Baik, hal ini tidak harus diingkari dan aku mengakuinya dengan senang hati, meski berabad-abad yang akan datang, kebahagiaan tertinggi bagi perempuan terus akan hidup sederajat dengan laki-laki! Tapi kini, siapa yang bisa hidup dalam persatuan yang harmonis jika hukum perkawinan seperti yang sudah aku gambarkan ini? Tidak wajarkah jika aku sendiri membenci, memandang rendah perkawinan jika hasilnya merendahkan martabat perempun dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan?" Kelima, Kartini menyatakan 'perang'terhadap poligami, dalam surat tahun 1900, "....Untungnya tidak semua Muslim mempunyai empat orang isteri, tapi setiap perempuan yang sudah menikah di belahan dunia, kami sadar bahwa dia mungkin bukan istri satu-satunya dan cepat atau lambat, suami yang dicintainya itu bisa saja membawa seorang teman untuknya, yang mempunyai hak sama atas suaminya: menurut hukum Islam, perempuan itu sudah menjadi istri sah...." Di zamannya, di Indonesia awal abad ke-20, Kartini memang tidak mengemukakan pelbagai gagasannya itu ke depan umum. la menghindar untuk menulis di surat kabar, meskipun kesempatan itu tersedia: '...aku ingin [menulis di surat kabar] tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal...di Hindia ini, karena jika seseorang mendengar tentang artikel-artikel yang ditulis perempuan Jawa, mereka akan segera tahu siapa menulis tulisan itu', demikian lugas dikatakannya dalam surat bertanggal 14 Maret 1902. Bisa jadi, Kartini gamang karena ia sadar akan posisinya sebagai 'perempuan Jawa' dalam masyarakat kolonial di Jawa tengah waktu itu. Justru kemampuan teknologi informasi media untuk mengungkap dirinya itu, menyebabkan otonomi Kartini sempat menciut. Syukurlah, ia akhirnya jeli memilih korespondensi sebagai mediumnya. Lewat medium korespondensi itu, tampak pengertian kemerdekaan sendiri, bagi Kartini, tak datang dari ide dan buku. Hasrat kemerdekaan datang dari hidupnya sebagai perempuan di sebuah masyarakat yang menindasnya. Kemerdekaan di sini terkesan sebagai inner voice: dorongan kodrati manusia. Kartini benar ketika, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon ia. menggambarkan dirinya sendiri dan adik-adiknya bukan cuma kutu buku yang menerima kedatangan ide-ide dari jauh: "....Orang menyalahkan buku yang 'penuh omong-kosong'; yang datang dari Barat dan merasuk dalam ke pulau ini, ke wilayah yang tenang dan damai di pantai Jawa yang selalu hijau,...Bukan hanya buku yang membuatnya memberontak...Rasa rindu kepada kemerdekaan, kemandirian dan emansipasi bukannya lahir baru kemarin, tapi sudah sejak masa mudanya yang awal, ketika kata 'emansipasi' belum lagi dikenalnya. [Sesungguhnya] keadaan di cakrawala yang jauh dan dekat itulah yang telah menghidupkan hasrat itu.." Dia, Tuhan dan Kebahagiaan. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, tiga tahun sebelum ia masuk ke dalam iman yang menyendiri, Kartini mengatakan, 'orang bisa menjadi baik tanpa menjadi salih'. Agama adalah sesuatu yang berlebih. Di sini, kebebasan bagi Kartini justru berkaitan dengan Tuhan. 'Mereka yang melayani Tuhan itu bebas', demikian tulisnya dalam surat kepada Nyonya Van Kol, yang agaknya telah mendorongnya kembali ke agama, sebab 'mereka tak terikat kepada manusia'. Tapi kebebasan itu, dalam berhubungan dengan Tuhan, tertanam dalam sebuah interior yang bukan wilayah yang bisa dan biasa ditempuh orang ramai. Dalam surat bertanggal 20 Agustus 1902 itu perempuan muda ini juga menulis: "..Di mana kebahagiaan sejati? Tak jauh, tapi sukar untuk menemukan jalan ke sana, kita tak bisa berangkat dengan trem, dengan kuda atau perahu, dan tak ada emas yang dapat membayar bea perjalanan itu. Jalan itu susah ditemukan, dan kita harus membayar ongkosnya dengan airmata dan darah di jantung serta meditasi. Di mana jalan itu? Dia ada dalam diri kita sendiri". Memang ada yang klise dalam paragraf itu jika kita baca sekarang, namun jelas: Tuhan bagi Kartini bukanlah jalan lempang dan terang yang dibangun oleh akal budi melulu. Jalan itu tak henti-hentinya harus dicari kembali, oleh masing-masing diri. Dalam perspektif ini, Tuhan bukanlah hanya keniscayaan dari dorongan ethis, sang Otoritas Moral, yang menjadi acuan nilai-nilai universal. Tuhan adalah sebuah pengalaman batin yang unik bagi tiap saat, bagi tiap tempat dan tiap manusia. William James, yang merekam berbagai pengalaman religius, menyebut pengalaman dengan Tuhan itu sebagai 'the individual pinch of destiny'. Dia dan Akhir Hidup Pada akhirnya Kartini, yang kemudian menikah, hidup dengan seorang suami yang berkedudukan tinggi, seorang laki-laki terpelajar yang mencintainya dan setia mendukung ide-idenya. Dkl: ia mengambil jalan seperti kebanyakan orang yang terlibat dalam proyek 'pencerahan': "sebuah kerja harus dilakukan, seraya Tuhan sudah rapi tersimpan dalam iman, sebuah iman yang dapat dipergunakan bagaikan sebuah peta". Dan, wajar juga bahwa surat terakhir Kartini beberapa minggu sebelum ia meninggal memang hanya menyentuh soal-soal yang dihadapi seorang ibu muda sehari-hari: rok untuk bayi yang belum bisa dikenakan, tempat tidur yang baru datang, parfum beraroma buah, basa-basi persahabatan, dan pelbagai hal remeh temeh lainnya. Sebuah Pencerahan: Cherchez la femme! "Kebebasan berarti tanggung jawab. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang takut kepadanya" George Bernard Shaw (1856-1950) Kartini jelas adalah seorang perempuan. Kata perempuan sendiri mempunyai akar katanya, 'empu', arti idealnya yakni seorang guru kehidupan. Tapi realnya, banyak orang mengidentikkan kaum per-empu-an melulu dengan stereotif 3 m (macak/dandan, masak, manak/melahirkan), 3 ur (dapur, sumur dan kasur), 4 wa (wadah, wadi, waduk, wadon) serta 5 ah, yaitu: tunggu omah, olah-olah, momong bocah, asah-asah, mlumah (jaga rumah, masak, asuh anak, menyuci, melayani suami). Kalau begitu adanya, bagaimana dengan pepatah lama, surga ada di bawah telapak kaki ibu? Di sini nyata adanya 'gender inequalities culture'-- budaya ketidakadilan gender yang sudah mentradisi. Di lain matra, sebetulnya ada perbedaan mencolok antara kekuasan lelaki dan perempuan. Kekuasaan pria itu power over, sifatnya merusak-menindas, sedangkan kekuasaan perempuan itu power to, membagi dan konstruktif. Idealnya, seorang perempuan mempunyai tempat dalam masyarakat, bukan melulu karena keperempuannya yang demikian khas, tapi karena kepribadiannya sebagai seorang manusia dan warga masyarakat, dan lebih penting lagi karena nilai dari tugas-tugas bermanfaat yang berhasil diselesaikannya, begitulah ujaran seorang tokoh feminis Rusia, Aleksandra Mikhailovna. Esensi perempuan juga, menurut Romo Mangun, ada pada rahim dan sikap serta cita rasanya menghadapi suami, anak-anak dan kehidupannya. Kerahiman perempuan adalah salah satu lambang religiositas, karena rahim itu mengemban dan menumbuhkan benih kehidupan. Jelas, bahwa kaum perempuan adalah roh pengemban kehidupan. Maka, kalau dulu, ada sebuah slogan khas Perancis, Cherchez la femme: carilah perempuan! Di mana, perempuan dicari untuk menjadi (dijadikan) biang keladi-semacam kambing hitam bagi setiap konflik dalam masyarakat patriarkal. Tapi kini, paling tidak lewat membaca kembali surat-surat Kartini dan zamannya, kita diajak lagi untuk bersama-sama berkata, Cherchez la femme ! Kita mencari perempuan bukan lagi sebagai problem maker, tapi karena para perempuan itu sungguh bisa menjadi problem solver, bahkan menjadi sebuah obor pencerahan (baca: kebebasan). Tulisan ini saya tutup dengan syair terkenal dari Matthew Henry, Woman was created, from the rib of man. Not from his head: To be above him. Not his feet: To walked upon. But from his side: To be equal. Near his arm: Tobe protected. And close to his heart: To beloved. reply 1 reply share INI DIA RUU APP YANG KONTROVERSIALMay 30, '06 1:46 AM for everyone DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ______________________________________ RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR .........TAHUN......... TENTANG ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berlandaskan Pancasila yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi; bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang serasi dan harmonis dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/ kelompok, diperlukan adanya sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; bahwa meningkatnya pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi dan perbuatan serta penyelenggaraan pornoaksi dalam masyarakat saat ini sangat memprihatinkan dan dapat mengancam kelestarian tatanan kehidupan masyarakat yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa; bahwa peraturan perundang-undangan yang ada sampai saat ini belum secara tegas mengatur definisi dan pernberian sanksi serta halhal lain yang berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi sebagai pedoman dalam upaya penegakan hukum untuk tujuan melestarikan tatanan kehidupan masyarakat; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi; Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 F, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI. BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Undang Undang ini yang dimaksudkan dengan : Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika. Pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di'muka umum. Media massa cetak adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan secara visual kepada masyarakat luas berupa barang-barang cetakan massal antara lain buku, suratkabar, majalah, dan tabloid. Media massa elektronik adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan secara audio dan/atau visual kepada masyarakat luas antara lain berupa radio, televisi, film, dan yang dipersamakan dengan film. Alat komunikasi medio adalah sarana penyampaian informasi dan pesan-pesan secara audio dan/atau visual kepada satu orang dan/atau sejumlah orang tertentu antara lain berupa telepon, Short Message Service, Multimedia Messaging Service, surat, pamflet, leaflet, booklet, selebaran, poster, dan media elektronik baru yang berbasis komputer seperti internet dan intranet. Barang pornografi adalah semua benda yang materinya mengandung sifat pornografi antara lain dalam bentuk buku, suratkabar, majalah, tabloid dan media cetak sejenisnya, film, dan/atau yang dipersamakan dengan film, video, Video Compact Disc, Digital Video Disc, Compact Disc, Personal Computer-Compact Disc Read Only Memory, dan kaset. Jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang diperoleh antara lain melalui telepon, televisi kabel, internet, dan komunikasi elekronik lainnya, dengan cara memesan atau berlangganan barang-barang pornografi yang dapat diperoleh secara langsung dengan cara menyewa, meminjam, atau membeli. Membuat adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memproduksi materi media massa cetak, media massa elektronik, media komunikasi lainnya, dan barangbarang pornografi. Menyebarluaskan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan mengedarkan materi media massa cetak, media massa elektronik, media-media komunikasi lainnya, dan mengedarkan barang-barang yang mengandung sifat pornografi dengan cara memperdagangkan, memperlihatkan, memperdengarkan, mempertontonkan, mempertunjukan, menyiarkan, menempelkan, dan/atau menuliskan. Menggunakan adalah kegiatan memakai materi media massa cetak, media massa elektronik, alat komunikasi medio, dan barang dan/atau jasa pornografi. Pengguna adalah setiap orang yang dengan sengaja menonton/ menyaksikanpornografi dan/atau pornoaksi. Setiap orang adalah orang perseorangan, perusahaan, atau distributor sebagai kumpulan orang baik berupa badan hukum maupun bukan badan hukum. Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Presiden. Mengeksploitasi adalah kegiatan memanfaatkan perbuatan pornoaksi untuk tujuanmendapatkan keuntungan materi atau non materi bagi diri sendiri dan/atau orang lain. Hubungan seks adalah kegiatan hubungan perkelaminan balk yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri maupun pasangan lainnya yang bersifat heteroseksual, homoseks atau Iesbi an. Anak-anak adalah seseorang yang belum berusia 2 (dua b elas) tahun Dewasa adalah seseorang yang telah berusia 12 (dua betas) tahun keatas. Jasa pornoaksi adalah segala jenis layanan pornoaksi yang dapat diperoleh secaralangsung atau melalul perantara, baik perseorangan maupun perusahaan. Perusahaan adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi, balkberupa badan hukum maupun bukan badan hukum. Orang lain adalah orang selain suami atau istri yang sah berdasarkan peraturan perundang -undangan yang berlaku. Bagian Kedua Asas dan Tujuan Pasal 2 Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi serta perbuatan dan penyelenggaraan pornoaksi berasaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memperhatikan nilai-nilai budaya, susila, dan moral, keadilan, perundungan hukum, dan kepastian hukum. Pasal 3 Anti pornografi dan pornoaksi bertujuan; Menegakkan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang beriman dan bertakwa dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur kepadaTuhan Yang Maha Esa., Memberikan perlind `ungan, pembinaan, dan pendidikan moral dan akhlak masyarakat BAB II LARANGAN Bagian Pertama Pornografi Pasal 4 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual darf orang dewasa. Pasal 5 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh orang dewasa. Pasal 6 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh .atau .bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis. . Pasal 7 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tank aktivitas orang yang berciuman bibir. Pasal 8 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani --->absurd sekali Pasal 9 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis. Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan sejenis. Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia. Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan----> kok hubungan seks aja harus diatur ama pemerintah yah? Pasal 10 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik orang berhubungan seks dalam acara pesta seks. Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam pertunjukan seks. Pasal 11 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak yang melakukan masturbasi, onani dan atau hubungan seks. Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan hubungan seks atau aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak. Pasal 12 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 13 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 14 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 15 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang berciuman bibir melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 16 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 17 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah padahubungan seks dengan pasangan sejenis melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. . Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 18 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam acara pesta seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam pertunjukan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 19 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi,.gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam melakukan masturbasi atau onani melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak dalam berhubungan seks melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks dengan anak-anak melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak dengan cara sadis, kejam, pemukulan, sodomi, perkosaan, dan cara-cara kekerasan lainnya melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio. Pasal 20 Setiap orang dilarang menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai model atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tank bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa, ketelanjangan tubuh dan/atau daya tank tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis, aktivitas orang yang berciuman bibir, aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani, orang yang berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis, pasangan sejenis, orang yang telah meninggal dunia dan/atau dengan hewan.----> pasal yang secara kasat mata aneh menurut hati dan pikiran Pasal 21 Setiap orang dilarang menyuruh atau memaksa. anak-anak menjadi model atau obyek pembuatan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas anak-anak untuk melakukan masturbasi, onani, dan/atau hubungan seks. Pasal 22 Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat komunikasi medio, dan yang berada di tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan karya seni. Pasal 23 Setiap orang dilarang membeli barang pornografi dan/atau jasa pornografi tanpa alasan yang dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini.---> bisa merusak sendi2 perekonomian nih Pasal 24 Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23. Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23. Setiap orang dilarang menyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornografi dan/atau pameran pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23. Bagian Kedua Pornoaksi Pasal 25 Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual. Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual. Pasal 26 Setiap orang dewasa dilarang dengan sengaja telanjang di muka umum. Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk telanjang di muka umum. Pasal 27 Setiap orang dilarang berciuman bibir di muka umum paling lama 5 menit.--->gila!!! Setiap orang dilarang rnenyuruh orang lain berciuman bibir di muka umum paling lama adalah 5 menit.---->gila!!!! Pasal 28 Setiap orang dilarang menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum. Setiap orang dilarang Fmenyuruh orang lain untuk menari erotis atau bergoyang erotis di muka umum. Pasal 29 Setiap orang dilarang melakukan masturbasi, onani atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum---> sapa jg yang mau lakuin yah? Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan masturbasi, onani, ataugerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani di muka umum. Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan masturbasi, onani,atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan masturbasi atau onani. Pasal 30 Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum. Setiap orang dilarang menyuruh orang lain untuk melakukan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks di muka umum. Setiap orang dilarang melakukan hubungan seks dengan anak -anak. Setiap orang dilarang menyuruh anak-anak untuk melakukan kegiatan hubungan seks atau gerakan tubuh yang menyerupai kegiatan hubungan seks. ---> jadi nanti jongkok nih bisa kena RUU APP nih nantinya Pasal 31 Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks. Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pertunjukan seks dengan melibatkan anak-anak. Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks. Setiap orang dilarang menyelenggarakan acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak. Pasal 32 Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks. Setiap orang dilarang menonton acara pertunjukan seks dengan melibatkan anakanak. Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks. Setiap orang dilarang menonton acara pesta seks dengan melibatkan anak-anak. Pasal 33 Setiap orang dilarang menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32. Setiap orang dilarang menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasai 32. Setiap orang dilarang rnenyediakan peralatan dan/atau perlengkapan bagi orang lain untuk melakukan kegiatan pornoaksi, acara pertunjukan seks, atau acara pesta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 32. BAB III PENGECUALIAN DAN PERIZINAN Bagian Pertama Pengecualian Pasal 34 Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 23 dikecualikan untuk tujuan pendidikan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dalam batas yang diperlukan. Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada lembaga riset atau lembaga pendidikan yang bidang keilmuannya bertujuan untuk pengembangan pengetahuan. Pasal 35 Penggunaan barang pornografi dapat dilakukan untuk keperluan pengobatan gangguan kesehatan. Penggunaan barang pornografi untuk keperluan gangguan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter, rumah sakit dan/atau lembaga kesehatan yang mendapatkan ijin dari Pemerintah. Pasal 36 Pelarangan pornoaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, atau Pasal 32, dikecualikan untuk: cara berbusana dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat-istiadat dan/atau budaya kesukuan, sepanjang berkaitan dengan pelaksanaanritus keagamaan atau kepercayaan; kegiatan seni; kegiatan olahraga; atautujuan pendidikan dalam bidang kesehatan. Kegiatan seni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilaksanakan di tempat khusus pertunjukan seni. Kegiatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c hanya dapat dilaksanakan di tempat khusus olahraga. . Bagian Kedua Perizinan Pasal 37 Tempat khusus pertunjukan seni sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) harus mendapatkan izin dari Pemerintah. Tempat khusus olahraga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3) harus mendapatkan izin dari Pemerintah. Pasal 38 Pemerintah dapat memberikan izin kepada setiap orang untuk memproduksi, mengimpor dan menyebarluaskan barang pornografi dalam media cetak dan/atau media elektronik untuk keperluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35. Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi dalam media cetak dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan dengan memenuhi syarat: penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan ,oleh badan-badan usaha yang memiliki izin khusus; penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung hanya dilakukan di tempat-tempat tertentu dengan tanda khusus; penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat dengan kemasan bertanda khusus dan segel tertutup; barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri yang Ietaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia dibawah 18 (delapan betas) tahun; Pasal 39 Izin dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 dan Pasal 38 selanjutnya diatur dengän Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengatur pemberian izin dan syarat-syarat secara umum dan pengaturan selanjutnya secara khusus diserahkan kepada daerah seuai dengan kondisi, adat istiadat dan budaya daerah masing-masing. BAB IV BADAN ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI NASIONAL Bagian Pertama Nama dan Kedudukan Pasal 40 Untuk mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan pornoaksi dalam masyarakat dibentuk Badan Anti Pornografi dan Pornoaksi Nasional, yang selanjutnya disingkat menjadi BAPPN. BAPPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga non-struktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Pasal 41 BAPPN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. Bagian Kedua Fungsi dan Tugas Pasal 42 BAPPN mempunyai fungsi: pengkoordinasian instansi pemerintah dan badan lain terkait dalam penyiapan dan penyusunan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi; pengkoordinasian instansi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi; pengkoordinasian instansi pemerintah dalam mengatur pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan barang pornografi dan jasa pornografi untuk tujuan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan; pengoperasian satuan tugas yang terdiri dari unsur pemerintah terkait sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing; pembangunan dan pengembangan sistem komunikasi, informasi dan edukasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi. pemutusan jaringan pembuatan, dan penyebarluasan barang pornografi, jasa pornografi, dan jasa pornoaksi; pelaksanaan kerjasama nasional, regional, dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi; Pasal 43 Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf a, BAPPN mempunyai tugas : Meminta informasi tentang upaya pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi kepada instansi dan/atau badan terkait; melakukan pengkajian dan penelitian terhadap peraturan perundang -undangan yang berkaitan dengan masalah pornografi dan/atau pornoaksi; Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf b, BAPPN mempunyai tugas : Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi dan/atau badan terkait; Meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi. Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf c, BAPPN mempunyai tugas memantau dan melakukan penilaian terhadap sikap dan prilaku masyarakat terhadap pornografi dan/atau pornoaksi. Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf d, BAPPN mempunyai tugas melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi dan badan yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan ponografi dan pornoaksi. Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf e, BAPPN mempunyai tugas memberi komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi kepada masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi masalah pornografi dan/atau pornoaksi. Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf f, BAPPN mempunyai tugas : mendorong berkembangnya partisifasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi; menerima laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi. Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 huruf g, BAPPN mempunyai tugas : meneruskan laporan masyarakat yang berkaitan dengan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi; menjadi saksi ahli pada proses pemeriksaan tersangka/terdakwa dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan; mengkoordinasikan pertemuan dengan instansi dan badan lain terkait baik dalam tingkat nasional maupun tingkat internasional yang tugas dan wewenangnya mencegah dan menanggulangi pornografi dan/atau pornoaksi. Bagian Ketiga Susunan Organisasi dan Keanggotaan Pasal 44 BAPPN terdiri atas seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Wakil Ketua merangkap Anggota, serta sekurang-kurangnya 11 (sebelas) orang Anggota yang terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat. Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BAPPN adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Ketua dan Wakil Ketua BAPPN dipilih dari dan oleh Anggota. Pasal 45 Sebelum memangku jabatannya, Anggota BAPPN mengucapkan sumpah/janji menurut agama dan kepercayaannya masing -masing di hadapan Presiden Republik Indonesia. Lafal sumpah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut : "Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh -sungguh bahwa saya, untuk memangku jabatan saya ini langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga." "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung 'atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian." "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, dasar dan ideologi negara, Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Tahun 1945 dan segala undang -undang yang berlaku bagi Negara Republik Indonesia." "Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, seksama, dan tidak membeda -bedakan orang dalam melaksanakan kewajiban saya." Pasal 46 Persyaratan keanggotaan BAPPN adalah : warga negara Indonesia; sehat jasmani dan rohani; berkelakuan baik; memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pornografi dan pornoaksi; dan berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. Pasal 47 Keanggotaan BAPPN berhenti atau diberhentikan karena : meninggal dunia; mengundurkan diri atas permintaan sendiri; bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia; sakit secara terus menerus; melanggar sumpah/janji; berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, karena melakukan tindak pidana kejahatan. . Pasal 48 BAPPN dibantu oleh Sekretariat. Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang Sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh BAPPN. Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam keputusan BAPPN. Pasal 49 Pembiayaan untuk pelpksanaan tugas BAPPN dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 50 Ketentuan lebih lanjut mengenai BAPPN diatur dengan Peraturan Presiden. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 51 Setiap warga masyarakat berhak untuk berperan serta dalam pencegahan dan penanggulangan pornografi dan/atau pornoaksi berupa: hak untuk mendapatkan komunikasi, informasi, edukasi, dan advokasi; menyampaikan keberatan kepada BAPPN terhadap pengedaran barang dan/atau penyediaan jasa pornografi dan/atau pornoaksi; melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap seseorang, sekelompok orang, dan/atau badan yang diduga melakukan tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi; gugatan perwakilan sebagaimana dimaksud pada huruf b dilakukan oleh dan/atau melalui lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada masalah pornografi dan/atau pornoaksi. Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk : melakukan pembinaan moral, mental spiritual, dan akhlak masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian luhur, berakhlaq mulia, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; membantu kegiatan advokasi, rehabilitasi, dan edukasi dalam penanggulangan masalah pornografi dan/atau pornoaksi. Setiap warga masyarakat berkewajiban untuk melaporkan kepada pejabat yang berwenang apabila melihat dan/atau mengetahui adanya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi. BAB VI PERAN PEMERINTAH Pasal 52 Pemerintah berwenang melakukan kerjasama bilateral, regional, dan multilateral dengan negara lain dalam upaya menanggulangi dan memberantas masalah pornografi dan/atau pornoaksi sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara. Pasal 53 Pemerintah wajib memberikan jaminan hukum dan keamanan kepada pelapor terjadinya tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi: Pasal 54 Penyidik wajib menindaklanjuti laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (7) huruf a. Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak menindaklanjuti laporan terjadinya pornoaksi dikenakan sanksi administratif, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VII PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN Pasal 55 Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan terhadap tindak pidana pornografi dan/atau pornoaksi dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VIII PEMUSNAHAN Pasal 56 Pemusnahan barang pornografi dilakukan terhadap hasil penyitaan dan perampasan barang yang tidak berijin berdasarkan putusan pengadilan. Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh penuntut umum bekerja sama dengan BAPPN. Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh penuntut umum bekerjasama dengan BAPPN dengan membuat berita acara yang sekurang-kurangnya memuat : nama media apabila barang disebarluaskan melalui media massa cetak dan/atau media massa elektronik; nama dan jenis serta jumlah barang yang dimusnahkan; hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan; keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang yang dimusnahkan; dan tanda tangan dan identitas Iengkap para pelaksana dan pejabat yang melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan. BAB IX KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 57 Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2) diancam dengan sanksi administratif berupa pencabutan ijin usaha; Setiap orang yang telah dicabut ijin usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat mengajukan kembali ijin usaha sejenis. Bagian Kedua Ketentuan Pidana Pasal 58 Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,-(lima ratus juta rupiah). Pasal 59 Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,-(seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 60 Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Pasal 61 Setiap orang yang dengan sengaja membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang berciuman bibir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000,-(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Pasal 62 Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasi atau onani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 63 Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan orang yang telah meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda .paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan hewan sebagaimana dimaksud dalam (Pasal 9 Ayat 4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 . (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Pasal 64 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik orang berhubungan seks dalam acara pasta seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam pertunjukan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Pasal 65 Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas anak-anak yang melakukan masturbasi, onani dan/atau hubungan seks sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan hubungan seks atau aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Pasal 66 Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik danlatau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua betas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah). Pasal 67 Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah). Pasal 68 Setiap orang yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui media mass |